NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:580
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Rave Mulai Curiga

Perubahan itu tidak datang dengan suara yang bisa ditangkap dengan jelas. Tidak ada satu kejadian besar yang membuat semuanya langsung terasa berbeda, tidak ada juga momen yang bisa ditunjuk sebagai awal dari pergeseran itu. Namun bagi orang yang cukup peka, hal-hal kecil mulai terlihat, bergerak perlahan seperti bayangan yang berubah arah tanpa disadari.

Raveon Arkhalis termasuk salah satu yang menangkap perubahan itu lebih dulu. Ia bukan tipe yang memperhatikan detail kecil tanpa alasan, namun kali ini, sesuatu terasa cukup jelas untuk membuatnya tidak bisa mengabaikan begitu saja. Bukan karena mencolok, melainkan karena perbedaan itu muncul dari seseorang yang selama ini selalu konsisten.

Siang itu, kantin kampus tidak terlalu padat, hanya beberapa meja yang terisi dan suara percakapan yang terdengar tidak terlalu ramai. Udara terasa sedikit hangat, bercampur dengan aroma makanan yang samar, sementara cahaya matahari masuk dari sisi terbuka dan membentuk bayangan panjang di lantai.

Rave duduk di tempat yang biasa ia pilih, di sudut yang tidak terlalu mencolok. Segelas minuman dingin berada di depannya, namun es di dalamnya sudah mulai mencair tanpa banyak berkurang. Tangannya sesekali menyentuh gelas itu, namun perhatiannya tidak benar-benar di sana.

Matanya beberapa kali terangkat dari ponsel.

Dan setiap kali itu terjadi, arah pandangnya selalu kembali ke titik yang sama.

Airel Virellia.

Ia duduk tidak jauh dari sana, berhadapan dengan Kalista seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda, karena ia tetap berbicara dengan nada pelan dan mendengarkan dengan sikap yang tenang. Gerakannya tidak berlebihan, ekspresinya tetap sederhana, dan tidak ada perubahan yang langsung terlihat jika hanya dilihat sekilas.

Namun jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang tidak sama.

Cara ia merespon percakapan terasa sedikit lebih hidup. Matanya tidak lagi datar seperti sebelumnya, ada pergerakan kecil di dalamnya yang sulit dijelaskan. Bahkan senyumnya, meski masih tipis, kini muncul dengan waktu yang tidak selalu bisa ditebak.

Rave memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya. Ia tidak berniat ikut campur, namun perubahan itu cukup jelas untuk membuatnya bertanya-tanya. Ia mencoba mengingat bagaimana Airel beberapa waktu lalu, dan perbedaan itu terasa semakin nyata saat dibandingkan.

“Lo dari tadi ngeliatin terus.”

Suara dari samping membuat Rave sedikit menoleh. Temannya duduk santai, menyeringai kecil seolah sudah memperhatikan cukup lama.

Rave mengangkat bahu. “Enggak.”

Temannya terkekeh pelan, tidak benar-benar percaya. “Santai aja kali.”

Rave tidak menanggapi lagi. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah yang sama, seolah percakapan tadi tidak cukup penting untuk dipikirkan lebih jauh.

Di meja seberang, Kalista sedang berbicara cukup aktif, tangannya sesekali bergerak mengikuti cerita yang ia sampaikan. Airel mendengarkan seperti biasa, namun ada satu momen ketika ia tiba-tiba terdiam.

Bukan diam yang sekadar jeda.

Lebih seperti pikirannya sedang pergi ke tempat lain.

Tatapannya tidak lagi tertuju pada Kalista, melainkan mengarah ke ruang kosong di depannya. Dalam beberapa detik itu, sudut bibirnya bergerak sedikit, membentuk sesuatu yang hampir seperti senyum namun tidak sepenuhnya jelas.

Rave mengernyit pelan.

Itu bukan ekspresi yang biasa ia lihat dari Airel.

Beberapa detik kemudian, Airel kembali ke percakapan, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menjawab dengan nada yang sama, mengangguk di waktu yang tepat, dan kembali terlihat seperti dirinya yang biasa.

Namun bagi Rave, momen singkat itu sudah cukup untuk memastikan satu hal.

Ada sesuatu yang berubah.

Ia akhirnya berdiri dari tempat duduknya, membawa gelas yang masih setengah penuh. Langkahnya santai, tidak tergesa, namun terarah ke meja yang ia perhatikan sejak tadi.

Kalista menyadarinya lebih dulu.

“Eh, Rave,” katanya ringan. “Duduk sini.”

Rave menarik kursi tanpa banyak komentar, lalu duduk di seberang Airel. Ia tidak langsung bicara, hanya meletakkan gelasnya di meja dan bersandar sedikit ke belakang.

“Apa kabar?” tanya Kalista.

“Gitu-gitu aja,” jawab Rave singkat.

Kalista mengangguk, lalu kembali melanjutkan ceritanya tanpa merasa ada yang aneh. Suasana tetap santai, namun perhatian Rave tidak benar-benar berada dalam percakapan itu.

Ia mengamati.

Cara Airel memegang gelas.

Cara ia menarik napas kecil sebelum berbicara.

Cara matanya sesekali kehilangan fokus, lalu kembali lagi dengan cepat.

Semua itu tidak berisik, namun cukup jelas jika dilihat dengan teliti.

Rave tidak terburu-buru membuka pembicaraan. Ia membiarkan waktu berjalan, menunggu momen yang tepat tanpa memaksakan.

Dan momen itu datang saat Kalista berdiri.

“Aku ke toilet dulu,” katanya santai.

Airel mengangguk.

Kalista pergi, meninggalkan mereka berdua dalam ruang yang tiba-tiba terasa lebih tenang. Suara kantin masih ada, namun tidak lagi terasa mengganggu.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Rave memutar gelasnya pelan di atas meja, memperhatikan pergerakan es yang tersisa. Lalu akhirnya ia mengangkat pandangan.

“Kamu beda.”

Kalimat itu keluar tanpa banyak pertimbangan.

Airel menoleh.

“Beda gimana?”

Rave mengangkat bahu sedikit. “Lebih hidup.”

Airel tidak langsung menjawab. Ekspresinya tidak berubah drastis, namun ada jeda kecil sebelum ia benar-benar merespon. Seolah ia mencoba memahami maksud dari kalimat itu sebelum memutuskan bagaimana harus menanggapinya.

Rave bersandar lebih santai.

“Biasanya kamu jalan aja,” lanjutnya. “Sekarang kelihatan kayak lagi mikirin sesuatu terus.”

Airel menunduk sedikit, tangannya menyentuh ujung gelas. Gerakan itu kecil, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya menyangkal.

“Semua orang mikir sesuatu,” katanya pelan.

Rave mengangguk. “Iya. Tapi kamu beda.”

Kali ini, Airel tidak langsung menjawab. Ia menghela napas kecil, matanya tidak lagi sepenuhnya fokus pada Rave. Ada sesuatu yang berputar di pikirannya, sesuatu yang belum sepenuhnya bisa ia susun.

Rave menatapnya beberapa detik, lalu berkata lebih ringan.

“Kamu ketemu dia?”

Pertanyaan itu langsung mengenai inti.

Airel terdiam.

Ia tidak terlihat terkejut, namun jelas tidak siap. Tatapannya sedikit berubah, dan untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa.

Rave tidak mendesak. Ia hanya menunggu, seperti biasa, memberi ruang tanpa menekan.

Airel menelan pelan.

Pikirannya kembali ke beberapa hari terakhir, ke halte itu, ke sosok yang berjalan melewatinya, ke momen yang terasa lebih lama dari seharusnya. Semua itu muncul dengan jelas, tanpa perlu dipanggil.

“Aku…” ia berhenti sejenak.

Kata-kata terasa berat.

“Aku ketemu seseorang,” lanjutnya akhirnya. “Tapi…”

Kalimat itu menggantung.

Rave tidak memotong.

“Tapi bukan seperti yang aku bayangin,” sambung Airel.

Rave mengernyit sedikit. “Bukan orang yang sama?”

Airel tidak langsung menjawab. Ia menunduk, jari-jarinya menggenggam gelas lebih erat.

“Namanya beda,” katanya pelan.

Rave mengulang dalam pikirannya.

“Siapa?”

Airel menarik napas pelan.

“Zevarion Hale.”

Nama itu terdengar jelas di antara mereka.

Rave mengangguk kecil, mencoba menempatkan informasi itu. Ia tidak langsung menyimpulkan, karena ekspresi Airel sudah cukup menjelaskan bahwa ini bukan hal sederhana.

“Dan kamu ngerasa itu dia?” tanyanya.

Airel menggeleng kecil.

“Enggak tahu.”

Jawaban itu sama, namun kali ini terasa lebih dalam. Bukan sekadar ragu, melainkan benar-benar tidak memiliki kepastian.

Rave menghela napas pelan, lalu bertanya lagi.

“Perasaan kamu gimana?”

Airel terdiam lebih lama kali ini. Ia mencoba mencari kata yang tepat, namun yang ia rasakan tidak mudah dijelaskan dengan sederhana.

“Aneh,” katanya akhirnya.

Rave menunggu.

“Kayak kenal,” lanjut Airel pelan. “Tapi enggak bisa bilang itu dia.”

Rave mengangguk perlahan. Ia tidak langsung memberi saran atau opini, karena ia tahu ini bukan soal benar atau salah yang bisa ditentukan dengan cepat.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Suara kantin kembali terasa, namun tidak benar-benar mengganggu percakapan mereka.

“Jadi sekarang?” tanya Rave.

Airel mengangkat wajahnya. Matanya tidak lagi sekosong sebelumnya. Ada sesuatu yang bergerak di sana, belum sepenuhnya jelas, namun cukup kuat untuk terlihat.

“Aku mau tahu,” katanya.

Rave menatapnya lebih lama, lalu mengangguk kecil.

“Kalau gitu cari tahu.”

Airel tidak menjawab, namun anggukannya cukup sebagai respon.

Percakapan itu tidak panjang, namun meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar kata. Ada perubahan arah yang mulai terasa, meski belum sepenuhnya jelas ke mana akan membawa.

Rave menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengalihkan pandangan ke sekitar. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sedikit terangkat, bukan karena ia tahu jawabannya, melainkan karena ia melihat sesuatu yang jarang terjadi.

Airel Virellia tidak lagi diam di tempat.

Dan perubahan itu baru saja dimulai.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!