Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bangku yang Berpindah dan Kabar dari Seberang
Langkah mereka terhenti tepat di ambang pintu kelas sepuluh. Keriuhan siswa yang tengah bersiap menyambut jam pelajaran pertama perlahan mereda tatkala melihat siapa yang berdiri mengantar Sinaca Tina pagi itu. Pasang mata yang mencuri pandang dari balik jendela tak membuat Jenawa gentar, meski ia tahu, mulai hari ini namannya akan dibicarakan dengan konotasi yang jauh berbeda.
"Kita telah sampai di wilayahmu, Sinaca," ucap Jenawa dengan senyum tipis yang menenangkan. Ia memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku celana, sebuah gestur santai untuk menutupi kecanggungan yang mungkin timbul.
Sinaca membalikkan badan, menatap pemuda bertubuh tegap di hadapannya. "Terima kasih untuk pengawalanmu pagi ini, Jenawa. Pastikan kau juga mengikuti pelajaran dengan saksama. Jangan jadikan kekosongan takhtamu sebagai alasan untuk membolos di jam terakhir."
Jenawa terkekeh pelan. Teguran baku bernada formal itu selalu berhasil menghangatkan dadanya. "Aku berjanji akan menjadi siswa teladan hari ini. Belajarlah dengan tenang. Jika lonceng istirahat berbunyi, kau tahu di mana bisa menemukanku."
"Di antara rak buku sejarah, menjauhi kebisingan kantin?" tebak Sinaca, alisnya sedikit terangkat.
"Tepat sekali. Selamat pagi, Sinaca."
Gadis itu mengangguk, mengukir seulas senyum sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kelas. Jenawa berdiri sejenak, memastikan presensi Sinaca telah aman di bangkunya, lantas membalikkan badan menuju lantai dua.
Namun, kedamaian yang ia rasakan di depan kelas Sinaca menguap tak berbekas begitu kakinya melangkah masuk ke ruang kelas dua belas.
Udara di dalam kelas terasa membeku. Bangku kayu di sebelah Jenawa yang selama hampir tiga tahun ini selalu diduduki oleh Seno, kini kosong melompong. Kawan karibnya itu telah memindahkan tas dan dudukannya ke sudut ruangan yang lain, berkumpul dengan Bimo dan beberapa anak barisan depan. Tak ada sapaan "Pagi, Wa" yang biasanya menyambut kedatangannya. Tak ada tawaran untuk membolos atau sekadar berbagi korek api.
Jenawa berjalan menyusuri lorong antar meja dengan raut wajah datar. Ia menarik kursinya sendiri, duduk, dan meletakkan tasnya. Keterasingan ini adalah sebuah harga mutlak yang telah ia perhitungkan semalam. Mengundurkan diri dari kursi panglima berarti menanggalkan seluruh privilese dan persaudaraan buta yang selama ini mengikat mereka.
Dari sudut matanya, Jenawa bisa melihat Seno menatapnya dengan raut penuh permusuhan, sebelum akhirnya kawan karibnya itu membuang muka dan kembali berbisik-bisik dengan Bimo.
Hari itu, jam-jam pelajaran berlalu layaknya putaran roda pedati yang ditarik paksa di jalanan menanjak. Lambat dan teramat menyiksa. Lonceng istirahat pertama akhirnya bergaung, memecah kesunyian yang mencekik.
Tanpa menoleh ke arah rombongan Seno yang bergegas menuju kantin, Jenawa melangkah keluar. Tujuannya mutlak: perpustakaan.
Aroma kertas usang dan kayu jati tua menyambutnya, memberikan keteduhan yang ia rindukan. Jenawa melangkah menuju sudut dekat jendela besar, tempat di mana cahaya matahari pagi menembus celah dedaunan. Namun, kali ini bukan hanya dirinya yang mencari ketenangan. Di bangku seberang, Sinaca telah duduk menanti, dengan sebuah buku bersampul cokelat di hadapannya dan sebuah kotak bekal kecil berwarna biru muda.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraanku," sapa Jenawa, menarik kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu.
"Pelajaran Biologi selesai lebih awal," jawab Sinaca seraya menggeser kotak bekal kecil itu ke tengah meja. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan beberapa potong roti lapis selai yang tertata rapi. "Aku membuat sarapan sedikit berlebih pagi ini. Mengingat kau tak lagi memiliki barisan kawan untuk berbagi makanan di kantin, aku berasumsi kau mungkin membutuhkan ini."
Dada Jenawa berdesir hebat. Perhatian kecil yang dibungkus dengan kalimat logis dan kaku itu terasa jauh lebih mewah dibandingkan traktiran makan besar dari seluruh anggota gengnya di masa lampau.
"Kau benar-benar tahu bagaimana cara menyelamatkan seorang mantan panglima dari kelaparan dan kesepian, Sinaca," Jenawa tersenyum lebar, mengambil sepotong roti lapis tersebut dengan penuh rasa terima kasih.
"Makanlah dalam diam. Ini perpustakaan," tegur Sinaca dengan rona tipis di pipinya, berusaha mengalihkan salah tingkahnya dengan kembali membuka halaman buku.
Mereka menikmati keheningan yang nyaman itu selama beberapa belas menit. Hanya ada suara kunyahan pelan dan gemerisik halaman buku yang dibalik. Namun, ketenangan itu mendadak terusik kala pintu perpustakaan didorong dengan sedikit tergesa.
Seorang siswa kelas dua belas—salah satu anak dari barisan Bangsa yang biasanya netral—berjalan cepat menghampiri meja Jenawa. Napasnya sedikit tersengal, dan wajahnya memancarkan kepanikan.
"Bang Jenawa... maaf mengganggumu," bisiknya tertahan, melirik ke arah Sinaca dengan canggung.
Jenawa meletakkan sisa roti lapisnya. Insting jalanannya, yang belum sepenuhnya mati, kembali menegang. "Bicaralah."
"Ini tentang Seno dan Agam," lapor siswa itu dengan suara bergetar. "Kabar bahwa kau mundur dari posisi panglima sudah bocor ke telinga anak-anak Pelita. Agam... meski ia masih babak belur, ia menyebarkan bualan bahwa SMA Bangsa kini tak lebih dari kumpulan domba tanpa gembala."
Rahang Jenawa mengeras. "Lalu?"
"Seno tak terima," lanjutnya. "Seno baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin baru di kantin. Dan ia... ia mengirimkan utusan balik ke SMA Pelita. Seno menantang komplotan Agam untuk tawuran terbuka di simpang tiga esok petang. Tanpa aturan. Tanpa batasan senjata."
Udara di ruang baca itu seakan tersedot habis. Jenawa terdiam kaku. Ia telah menanggalkan takhtanya demi memadamkan api, namun Seno yang dibutakan oleh ego dan amarah justru menyiramkan bensin ke atas bara yang belum sepenuhnya padam.
Sinaca, yang mendengar seluruh penuturan tersebut, perlahan menutup bukunya. Gadis itu menatap Jenawa dengan sorot mata yang diselimuti oleh kekhawatiran yang teramat pekat. Sebuah ujian baru saja dijatuhkan dari langit. Ujian yang akan menentukan apakah Sang Panglima benar-benar telah mati, atau ia harus kembali bangkit untuk menyelamatkan kawan-kawannya dari jurang kehancuran.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪