Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat tinggal Baru
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Arumi dan Elang akhirnya sampai di sebuah bangunan memanjang. Itu adalah kos-kosan atau lebih tepatnya rumah kontrakan petak.
"Alhamdulillah,kita sudah sampai ." Elang menghentikan sepeda motornya ."
Arumi turun,matanya menyapu bangunan panjang di depanya
"Mas tinggal disini?" Tanya Arumi,matanya terus memperhatikan rumah dan lingkungan sekitarnya .
"Iya,dan Inilah tempat tinggalku. Masuklah dulu," kata Elang. "Aku akan ke pemilik kos untuk melaporkan keberadaanmu dan status kita, supaya tidak ada kesalahpahaman dengan penghuni lain."
Arumi menatap kearah Elang dengan tatapan heran dan juga rasa khawatir
"Tapi ini sudah hampir tengah malam, Mas. Apa tidak mengganggu?" tanya Arumi ragu
"Memang sudah malam, tapi biasanya Bapak Kos masih begadang main catur. Aku takut kalau tidak melapor sekarang, nanti kita dikira kumpul kebo. Bisa-bisa kita diarak warga, kita juga yang malu nanti," jelas Elang masuk akal.
Arumi mengangguk patuh. "Iya, Mas."
"Oh ya, Mas ... kalau boleh, aku minta satu permintaan?" sela Arumi sebelum Elang melangkah pergi.
Elang langsung membalikkan badan, menatap Arumi heran. "Permintaan?"
"Begini Mas ... pernikahan kita kan sangat mendadak. Kalau boleh, untuk sementara, kita sembunyikan dulu status pernikahan kita dari orang luar. Hanya untuk sementara saja, karena aku belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan orang," pinta Arumi dengan nada memohon.
"Belum siap? Kalau belum siap, kenapa tadi mengajakku menikah?" tanya Elang dengan nada tidak suka, namun suaranya tetap lembut.
"Maaf Mas, tadi aku sangat kalut. Ayah memaksaku menikah dengan Pak Dirga.Aku tidak mau masa depanku hancur dan menjadi istri ke empatnya. Terima kasih banyak Mas sudah mau membantuku keluar dari situasi itu."
"Iya, sama-sama. Aku melakukannya ikhlas. Mengenai permintaanmu .. nanti akan aku pikirkan. Sekarang masuklah, pintunya sudah tidak dikunci. Aku ke depan sebentar."
****
Di Teras Pemilik Kos
Elang berjalan menuju rumah pemilik kos yang terletak di bagian depan. Benar dugaannya, Pak Hadi, sang pemilik kos, sedang asyik bermain catur dengan seorang penghuni lainnya.
"Assalamualaikum," sapa Elang sopan dan senyum ramah diwajahnya
"Waalaikumsalam! Eh, Nak Elang. Tumben malam-malam begini kemari? Biasanya pulang dagang langsung masuk gua," seloroh Pak Hadi tanpa mengalihkan pandangan dari papan catur.
Para penghuni di sini mengenal Elang sebagai penjual bakso bakar yang tekun. Namun, tak satu pun dari mereka tahu apa pekerjaan Elang di siang hari. Bagi mereka, Elang hanyalah pemuda sederhana yang ramah namun tertutup soal urusan pribadi.
"Iya Pak, ini baru selesai jualan. Saya kemari karena ingin melapor ada penghuni baru di kamar saya," ujar Elang langsung pada intinya.
"Penghuni baru? Maksudnya bagaimana, Mas Elang?Apa teman mas Elang itu ikut tinggal bersama Mas elang?" Pak Hadi mendongak, alisnya bertaut.
"Bisa dikatakan seperti itu pak ,tapi teman saya yang lain,dan Mulai malam ini, ada yang tinggal bersama saya, Pak.Seorang perempuan."Dengan berhati - hati Elang mencoba berbicara,dia berharap pemilik kontrakan tidak marah,apalagi mengusirnya dari kontrakannya .
Pak Hadi menegang setelah mendengar kata perempuan,Pak Hadi dan temannya serentak menghentikan permainan catur mereka. Suasana yang tadinya santai berubah menjadi sedikit tegang.
"Perempuan? Siapa dia, Nak Elang? Saudara dari desa?" tanya Pak Hadi menyelidik.
Elang sempat terdiam. Ia teringat permintaan Arumi untuk menyembunyikan status mereka. Namun, ia juga tahu aturan di sini sangat ketat. Jika ia berbohong dan ketahuan, risikonya jauh lebih besar.
"Bukan saudara, Pak," jawab Elang tegas.
"Bukan saudara? Kalau pacar, maaf saja Mas Elang, saya tidak mengizinkan. Daerah sini sangat kental tata kramanya. Saya tidak mau kontrakan ini jadi tempat yang tidak benar," tegas Pak Hadi,Elang merasa tegang ,dia takut kalau Arumi sampai di usir,dan hari sudah malam ia akan tinggal dimana?
Teman Pak Hadi ikut menimpali, "Betul itu. Nak Elang Kita semua tidak mau lingkungan ini tercemar,Apalagi kalian tidak ada hubungan darah ,dosa besar." kembali ia memainkan caturnya .
("Aduh,Aku harus berkata apa? Apa aku harus berkata sesungguhnya hubungan aku dengan Arumi? Tapi kalau dia marah bagaimana? Dia tadi sudah berpesan jangan membuka status pernikahan kami?") Elang merasa bingung dia harus memberi alasan apa supaya Ia bisa tinggal bersama Arumi,setelah sesaat berfikir,ahirnya ia mengambil satu keputusan yaitu JUJUR
Elang menarik napas panjang.Ia harus mengambil keputusan cepat.Ia tidak mungkin membiarkan Arumi dianggap sebagai wanita tidak benar.
"Dia bukan saudara saya, dan bukan juga pacar saya. Dia adalah istri saya," ucap Elang lantang
"Brak!!
Beberapa bidak catur jatuh ke lantai karena tersenggol tangan Pak Hadi yang terkejut.
"Apa?! Istri?" teriak kedua orang tua itu hampir bersamaan.
Suara teriakan itu rupanya cukup keras hingga membangunkan istri Pak Hadi dari dalam rumah. Wanita paruh baya itu keluar dengan wajah mengantuk yang seketika berubah menjadi penuh rasa ingin tahu.
"Ada apa sih, Pak? Teriak-teriak malam begini?" omel sang istri pak Hadi ,dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ini, Bu! Mas Elang bilang dia sudah punya istri dan istrinya ada di kamar sekarang!" seru Pak Hadi pada istrinya.
Istri Pak Hadi melotot. "Lho, bukannya Nak Elang ini masih lajang? Sejak kapan menikahnya?"
"Baru saja, Bu. Malam ini kami resmi menikah," jelas Elang dengan tenang meski hatinya sedikit berdebar.
"Hah! Malam ini?!" Ketiga orang di depan Elang itu kini berteriak kompak.
"Sstt! Tolong jangan keras-keras, Pak, Bu. Saya mohon dengan sangat, untuk saat ini tolong jangan sebarkan berita ini ke penghuni lain atau warga sekitar," pinta Elang serius.
"Kenapa harus disembunyikan? Bukannya berita pernikahan itu kabar bahagia?" tanya Ibu Kos heran.
"Pernikahan kami bersifat mendadak. Secara mental, istri saya belum siap untuk mempublikasikannya. Kami menikah malam ini juga untuk menghindari masalah keluarga yang mendesak. Jadi saya mohon kerja samanya agar Bapak dan Ibu bisa membantu menjaga privasi kami."
Mendengar penjelasan Elang yang tampak sangat tulus dan penuh permohonan, Pak Hadi akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau memang itu alasannya. Yang penting bagi saya, status kalian sudah halal. Saya tidak mau ada fitnah di rumah saya sendiri. Tapi ingat ya, urusan administrasi tetap harus segera diurus."
"Tentu, Pak. Terima kasih banyak atas pengertiannya," ujar Elang lega.
Setelah berpamitan, Elang berjalan kembali menuju kamarnya. Ia tahu, mulai malam ini hidupnya tidak akan lagi sama. Ada tanggung jawab besar di balik pintu kamar nomor tujuh itu. Ada Arumi, wanita yang kini menjadi belahan jiwanya di bawah sumpah suci, meski raga mereka masih terasa berjarak ribuan mil.