NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Luka di Balik Senyuman

Long Chen akhirnya bangkit dari tempat tidurnya, menyingkirkan selimut dengan gerakan pelan namun pasti, lalu duduk sejenak di tepi ranjang untuk menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi bayangan mimpi tadi. Ia sudah terbiasa dengan ini, setiap kali mimpi buruk datang, ia tahu apa yang harus dilakukan agar pikirannya tidak semakin tenggelam dalam kegelisahan. Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri dan berjalan keluar kamar, langkahnya tenang namun membawa sisa beban yang belum sepenuhnya hilang.

Begitu keluar dari rumah, ia tiba di halaman yang sunyi, di mana angin malam berhembus pelan menyapu wajahnya, membawa hawa dingin yang perlahan menenangkan. Cahaya bulan jatuh lembut di tanah, menerangi halaman dengan sinar redup yang membuat suasana terasa damai, sangat kontras dengan kegelisahan di dalam dirinya. Ia berdiri di sana sejenak, menatap ke arah langit, membiarkan angin dan keheningan malam meredakan pikirannya yang masih bergejolak.

Namun keheningan malam itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba terdengar suara pelan yang memecah suasana, sreet… sreet… suara ayunan pedang yang berulang, teratur, dan cukup jelas di antara desiran angin. Long Chen menyipitkan matanya, langsung waspada, lalu melangkah perlahan menuju arah suara tersebut dengan hati-hati.

Semakin dekat, suara itu semakin jelas, hingga akhirnya ia melihat sosok yang berdiri di halaman lain yang sedikit terbuka, diterangi cahaya bulan.

“Senior… Ling Er?” ucapnya pelan.

Ling Er yang sedang mengayunkan pedangnya berhenti seketika, lalu menoleh ke arahnya. “Oh… Junior Long Chen,” balasnya, sedikit terkejut namun tidak benar-benar kaget.

Long Chen berjalan mendekat, langkahnya santai namun tatapannya memperhatikan dengan serius. “Tidak biasanya kau latihan tengah malam seperti ini,” katanya. Ia berhenti beberapa langkah di depannya, lalu menatapnya lebih dalam. “Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

Ling Er tersenyum kecil, mencoba terlihat biasa saja. “Tadi sore, Senior Mei Ling bilang waktu kamu bertarung dengan Senior Mo Fan… bahwa kamu hampir setiap malam latihan diam-diam,” ujarnya ringan. “Jadi aku penasaran… dan ternyata benar, kamu memang sering bangun tengah malam,” tambahnya sambil tertawa kecil.

Long Chen menggeleng pelan, ekspresinya tidak berubah. “Bukan itu maksudku,” ucapnya.

Tatapannya menjadi lebih dalam, seolah ingin melihat lebih jauh dari sekadar jawaban yang diberikan. “Aku merasa… kau seperti menyembunyikan sesuatu.”

Ling Er terdiam.

Angin malam berhembus pelan di antara mereka.

Long Chen melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun jelas, “Aku masih ingat… waktu aku pertama kali datang ke sini, kau pernah bilang suatu hari akan menceritakan masa lalumu.”

Ia menatapnya lurus.

“Sekarang… kurasa waktunya sudah tepat.”

Ling Er menghela napas pelan, bahunya sedikit turun, seolah beban yang selama ini ia tahan mulai terasa lebih berat. “Kau masih ingat…?” ucapnya lirih.

Ia tersenyum tipis, namun kali ini bukan karena santai. “Padahal itu sudah delapan tahun lalu.”

Long Chen membalas dengan senyum kecil yang tenang. “Kau tahu… aku selalu mengingat hal-hal penting,” jawabnya.

Hening sejenak menyelimuti halaman itu, hanya suara angin malam yang berdesir pelan di antara bambu yang menemani keheningan mereka, hingga akhirnya Ling Er menarik napas dalam dan perlahan membalikkan tubuhnya, seolah telah mengambil keputusan yang tidak mudah.

“Kalau begitu, junior… ikut aku,” ucapnya pelan tanpa menoleh, nadanya tidak lagi ringan seperti sebelumnya.

Ia mulai melangkah menjauh dari halaman, menuju arah yang lebih dalam di area tempat tinggal mereka, langkahnya tenang namun terasa berat.

“Aku tidak ingin menceritakannya di tempat seperti ini,” lanjutnya, suaranya lebih rendah, seolah ada bagian dari dirinya yang tidak ingin kenangan itu bercampur dengan tempat yang penuh kebiasaan dan ketenangan.

Mereka berjalan menyusuri jalur sempit di antara bambu-bambu ungu, langkah mereka pelan namun terus berlanjut tanpa suara, hanya ditemani desiran angin malam yang semakin terasa dingin. Semakin jauh mereka melangkah, pepohonan mulai menipis hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tebing yang terbuka luas, memperlihatkan langit malam yang dipenuhi bintang tanpa halangan apa pun.

Angin di tempat itu berhembus lebih kencang, menerpa rambut dan pakaian mereka, menciptakan suasana yang berbeda dari halaman rumah yang tenang tadi.

Ling Er berhenti.

Ia berdiri di dekat tepi tebing, menatap jauh ke depan, ke arah kegelapan yang luas di bawah sana.

“Nampaknya… tempat ini lebih cocok untuk menceritakan semuanya,” ucapnya pelan, suaranya terbawa angin.

Ling Er berdiri menghadap hamparan gelap di bawah tebing, angin malam meniup rambutnya perlahan, sementara suaranya mulai keluar dengan pelan, seolah setiap kata membawa beban yang telah lama ia simpan. “Aku… tidak pernah punya orang tua,” ucapnya lirih, matanya tetap menatap ke depan. “Bahkan… aku tidak tahu seperti apa wajah mereka.”

Ia menarik napas perlahan sebelum melanjutkan, nadanya tetap tenang namun terasa kosong. “Sejak kecil… aku tidak punya rumah. Aku tidur di mana saja… di tempat yang menurutku masih layak untuk bertahan hidup.”

Long Chen hanya diam di belakangnya, tidak menyela sedikit pun, membiarkannya berbicara dengan caranya sendiri.

“Aku hidup sebagai pemulung,” lanjut Ling Er, jemarinya perlahan menggenggam, menahan sesuatu di dalam dirinya. “Mengais sisa-sisa… hanya untuk bisa bertahan satu hari lagi.”

Angin berhembus lebih kencang.

“Kadang… aku mencuri,” katanya, suaranya mulai bergetar. “Bukan karena aku mau… tapi karena aku tidak punya pilihan.”

Ling Er tetap berdiri di tepi tebing, namun bahunya mulai bergetar pelan, seolah beban yang selama ini ia pendam akhirnya tidak lagi bisa ditahan. “Suatu hari… aku tertangkap,” ucapnya lirih, suaranya mulai bergetar. “Warga desa…”

Ia berhenti sejenak, napasnya tersendat.

“Mereka menyiksaku,” lanjutnya pelan, matanya mulai memerah. “Mereka bilang… itu agar aku menyesali perbuatanku.”

Air mata mulai jatuh satu per satu.

“Padahal… aku hanya ingin bertahan hidup,” katanya, suaranya semakin rapuh.

Ia mengepalkan tangannya lebih erat, seolah mencoba menahan perasaan yang terus meluap.

“Mereka memanggilku yatim piatu… bilang orang tuaku sudah tidak ada karena tidak ada yang mau punya anak seperti aku… seorang pencuri,” ucapnya dengan suara yang nyaris pecah. “Mereka juga bilang… aku tidak pantas hidup di desa itu.”

Angin malam berhembus lebih kencang, seakan ikut membawa rasa dingin yang menusuk.

“Akhirnya… aku diusir dari desa,” lanjutnya pelan.

Ling Er menunduk, helaan napasnya terdengar pelan namun berat, seolah setiap kenangan yang ia ungkapkan kembali terasa nyata di dalam dirinya. “Setelah itu… aku berjalan tanpa arah,” ucapnya lirih, matanya masih tertuju pada kegelapan di bawah tebing. “Aku tidak makan berhari-hari sejak diusir dari desa… tubuhku lemas… dan akhirnya aku pingsan.”

Angin malam berhembus melewati mereka, membawa keheningan yang seolah memberi ruang bagi cerita itu untuk terus mengalir.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum melanjutkan. “Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran… aku sempat melihat seseorang,” katanya perlahan. “Dia mengenakan jubah putih… dan dari aura yang kurasakan… dia berasal dari Sekte Pedang Langit.”

Nada suaranya mulai berubah, tidak lagi dipenuhi luka, melainkan sedikit kehangatan. “Aku dibawa ke sini… dirawat… dan akhirnya menjadi bagian dari Divisi Pedang Petir,” lanjutnya.

Ling Er tersenyum tipis, senyum yang sederhana namun penuh arti.

“Di tempat ini… aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya,” ucapnya pelan.

Ia menatap ke depan, namun kali ini matanya tidak lagi kosong.

“Seperti… aku akhirnya punya keluarga.”

Ling Er perlahan menoleh dan menatap Long Chen, matanya yang sudah basah kini tidak lagi bisa menyembunyikan apa pun. “Setiap kali kita berkumpul… makan bersama, tertawa, atau hanya duduk diam seperti tadi sore…” ucapnya dengan suara yang mulai pecah, “aku selalu berpikir… apakah ini yang disebut punya keluarga…”

Kata-katanya terhenti sejenak, napasnya tersendat, lalu air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh semakin deras tanpa bisa dihentikan.

Long Chen melangkah maju tanpa ragu, jarak di antara mereka lenyap dalam satu langkah, lalu ia memeluk Ling Er dengan tenang, bukan terburu-buru, bukan canggung, melainkan hangat dan pasti, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata.

Ling Er terdiam di dalam pelukan itu, tubuhnya yang semula bergetar perlahan mulai tenang, meskipun air mata masih jatuh, namun kini tidak lagi terasa seberat sebelumnya.

“Kita memang keluarga,” ucap Long Chen dengan suara rendah namun penuh keyakinan.

Ia tidak melepaskan pelukan itu.

“Di sini… kita semua adalah keluarga,” lanjutnya, nadanya stabil, seolah setiap kata yang ia ucapkan adalah sesuatu yang tidak bisa digoyahkan.

Ia menambahkan pelan, “Jadi… jangan pernah berpikir kau sendirian.”

Angin malam berhembus lembut di sekitar mereka, membawa keheningan yang tidak lagi terasa dingin, melainkan hangat dengan cara yang sederhana.

End Chapter 26

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!