Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TIDAK MAU KEHILANGAN LAGI
BAB 23 — AKU TIDAK MAU KEHILANGAN LAGI
Malam itu, Keisha sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Ia berdiri di balkon kamar lantai dua, memeluk tubuhnya sendiri mencoba menahan hawa malam yang dingin, namun matanya menatap kosong ke langit yang gelap tanpa benar-benar melihat apa pun.
Satu kata terus berputar-putar dan terngiang di telinganya tanpa henti.
Papa.
Leo mengucapkannya dengan begitu polos dan alami.
Tanpa ada paksaan.
Tanpa ada yang menyuruh.
Dan yang paling menyakitkan... Arsen mendengarnya dengan jelas.
Keisha memejamkan mata rapat-rapat.
Secara logika, ia seharusnya bahagia karena anaknya akhirnya memiliki sosok ayah yang lengkap.
Tapi yang ia rasakan justru ketakutan yang menggerogoti hati.
Takut suatu hari nanti Leo akan lebih memilih Arsen.
Takut rumah sederhana ini tak lagi cukup menarik bagi anaknya yang kini mengenal dunia mewah milik ayahnya.
Dan yang paling dalam... ia takut dirinya sendiri akan tergeser dan tak lagi menjadi nomor satu di hati anaknya.
Pagi datang menyelinap, namun ketenangan itu buyar seketika saat suara pintu kamar dibuka paksa.
“MAMAAAAA!!!”
Tanpa aba-aba, tubuh kecil Leo melompat tepat ke atas kasur dan mendarat di perut ibunya.
Keisha kaget setengah mati hingga terbangun.
“Aduh! Ada apa sih, Sayang? Kok lompat-lompat?”
“PAPA JEMPUT!!! PAPA SUDAH DATANG!!!”
Keisha membeku total. Darah seakan berhenti mengalir.
“Apa?”
Leo tertawa girang sambil menunjuk ke bawah.
“Papa Arsen datang! Di bawah tuh!”
Jantung Keisha rasanya jatuh ke lambung.
Dengan rambut masih berantakan dan wajah masih bantal, ia buru-buru turun tangga dengan langkah terburu-buru.
Dan apa yang dilihatnya?
Di ruang tamu, Arsen duduk santai di sofa, bersandar nyaman sambil menyeruput kopi buatan ibunya.
Di sebelahnya, ayah Keisha duduk membaca koran, tampak akrab sekali seperti dua sahabat lama yang sudah berdamai entah sejak kapan.
Keisha menatap tak percaya.
“Kamu... kamu masuk seenaknya tanpa izin?!”
Ayahnya menurunkan koran pelan.
“Ayah yang bukakan pintu buat dia.”
“YAH?!”
“Ayah suka kopi yang dia bawa. Mahal dan wangi,” jawab ayahnya santai.
Pengkhianatan pagi hari yang menyedihkan.
Arsen menatap Keisha dari ujung kepala sampai kaki, menatap penampilan berantakan wanita itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Kamu lucu kalau baru bangun tidur. Natural.”
“Keluar dari rumahku!”
“Rumah orang tuamu, koreksiku.”
“ARSEN!”
Tiba-tiba suara langkah kecil berlari turun. Leo muncul membawa tas kecil punggungnya yang sudah siap.
“Ayo Papa! Ayo berangkat!” serunya antusias.
Keisha rasanya ingin pingsan saat itu juga.
“Kamu... kamu yang ngajarin dia panggil begitu kan?!” tuduhnya tajam.
Arsen duduk tetap tenang, bahkan tampak bangga.
“Tidak. Itu murni inisiatif cerdas dari anak itu sendiri.”
Leo mengangguk sangat yakin dan bangga. “Iya! Leo yang mau panggil Papa!”
Hari itu rencananya Arsen ingin membawa Leo ke kebun binatang.
Namun Keisha menolak mentah-mentah dengan tegas.
“Tidak bisa. Kami tidak pergi.”
“Kenapa?”
“Karena aku belum izinkan.”
“Kalau begitu kamu ikut saja. Sekalian jalan-jalan.”
“Aku tidak mau!”
Arsen mengangguk santai.
“Baiklah. Kalau begitu aku tunggu di mobil sampai kamu berubah pikiran.”
Dan pria itu benar-benar bangkit, berjalan keluar rumah, dan masuk ke mobilnya. Tidak membantah, tidak marah, hanya menunggu.
Keisha melotot melihat kepergiannya.
“Dia selalu begini ya kelakuannya?” tanya ibunya sambil tersenyum.
“Lebih parah dari yang Ibu tahu,” gerutu Keisha.
Dari sofa, ayahnya menyesap kopinya lagi.
“Pria kalau sudah serius dan sungguh-sungguh memang pada dasarnya keras kepala, Nak.”
Keisha menatap ayahnya tajam.
“Ayah ini sebenarnya di pihak siapa sih?!”
“Di pihak cucu Ayah yang sudah nggak sabar mau lihat gajah,” jawab ayah santai.
Satu jam kemudian, pada akhirnya Keisha menyerah juga.
Kini ia duduk di kursi belakang mobil bersama Leo, sementara Arsen menyetir sendiri dengan wajah tenang dan puas.
Sepanjang perjalanan, Leo bernyanyi riang tanpa henti.
Keisha hanya diam membatu menatap keluar jendela, berusaha bersikap dingin.
Arsen sesekali meliriknya lewat kaca spion tengah.
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Berarti sangat marah,” sahut Arsen yakin.
Sesampainya di kebun binatang, Leo berlari kesana-kemari dengan mata berbinar-binar melihat jerapah, gajah, dan singa.
Arsen berjalan mengikutinya dengan sabar luar biasa.
Membelikan topi agar tidak kepanasan.
Mengelap tangan kecil yang kotor dengan tisu basah.
Bahkan mengangkat tubuh Leo tinggi-tinggi agar anak itu bisa melihat panda yang sedang tidur dari jarak dekat.
Keisha berjalan beberapa langkah di belakang mereka, menyaksikan semua itu dalam diam.
Semakin lama ia melihat, semakin rumit perasaannya.
Arsen tidak sedang berpura-pura.
Pria itu benar-benar menikmati setiap detik, benar-benar menikmati perannya sebagai seorang ayah. Dan itu terlihat sangat nyata.
Saat jam makan siang tiba, mereka duduk di sebuah restoran kecil di area taman.
Leo makan kentang goreng sambil bercerita tanpa jeda.
“Mama tau nggak? Tadi Papa takut sama monyet!” serunya tertawa.
Arsen mengangkat alisnya tak terima.
“Aku tidak takut.”
“Takut! Papa mundur dua langkah!”
“Itu karena monyetnya menyerang mendekat!”
“Padahal dia cuma minta pisang kok!”
Mendengar perdebatan lucu itu, Keisha tak kuasa menahan tawa.
Hahaha...
Suara tawanya meluncur begitu saja, spontan dan lepas.
Suara itu membuat meja makan mendadak hening.
Karena itu adalah pertama kalinya Keisha tertawa lepas dan bahagia di depan Arsen setelah lima tahun lamanya.
Arsen menatapnya cukup lama, membuat Keisha sadar diri dan langsung berhenti tertawa, wajahnya memanas.
Menjelang sore, kelelahan bermain membuat Leo tertidur pulas di kursi mobil sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, Keisha hendak menggendong anak itu, tapi tangan Arsen lebih dulu bergerak. Dengan sangat hati-hati dan lembut, ia mengangkat tubuh mungil itu keluar dari mobil.
Dalam tidurnya, tangan kecil Leo secara refleks melingkar erat di leher ayahnya.
Pemandangan itu terlalu lembut, terlalu indah, dan terlalu menyakitkan untuk ditolak.
Di dalam kamar, Arsen meletakkan Leo di atas kasur dan menyelimutinya dengan rapat.
Ia berdiri diam di tepi ranjang selama beberapa menit, memandangi wajah polos anak itu dengan tatapan yang sangat dalam.
Lalu, dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin atau bicara pada dirinya sendiri, ia berkata:
“Aku tidak mau... kehilangan lagi.”
Keisha yang berdiri mematung di ambang pintu mendengar kalimat itu dengan jelas.
Dadanya terasa sesak dan menegang mendengarnya.
Mereka berdua keluar kamar dan berdiri berhadapan di lorong yang sepi.
Arsen menatap lurus ke mata wanita itu.
“Aku tahu kamu takut, Keisha.”
“Aku tidak takut.”
“Kamu takut aku akan mengambil Leo darimu sepenuhnya.”
Keisha menatapnya tajam, pertahanannya kembali terbangun.
“Bukankah itu yang sedang kamu lakukan sekarang? Kamu merebut perhatiannya perlahan!”
“Tidak.”
“Lalu apa tujuanmu semua ini?!”
Arsen melangkah mendekat perlahan, jarak mereka kini tinggal beberapa inci saja.
“Aku sedang mengambil kembali... keluarga yang seharusnya sudah menjadi milikku sejak lama.”
Napas Keisha tercekat di tenggorokan.
“Kamu tidak bisa bicara seenaknya begitu!”
“Aku bisa. Karena itu kenyataan.”
“Arsen—”
“Aku belum selesai bicara.”
Tatapan mata Arsen turun sebentar ke bibir wanita itu, lalu kembali naik menatap manik matanya dalam-dalam.
“Aku kehilangan lima tahun berharga sebagai seorang ayah.”
Suara pria itu terdengar rendah, berat, dan penuh emosi.
“Dan aku tidak berniat... kehilangan lima tahun lagi sebagai pria yang mencintaimu.”
Dunia di sekitar Keisha seakan berhenti berputar.
Ia menatap wajah tampan di depannya itu tak percaya.
“Kamu gila.”
“Mungkin.”
“Kamu tidak mencintaiku. Itu tidak mungkin.”
Arsen tersenyum tipis, senyum yang penuh makna dan keyakinan.
“Kalau ini bukan cinta... lalu kenapa aku mencari kamu ke mana-mana selama lima tahun? Kenapa aku tidak mau menikah dengan orang lain? Kenapa aku tidak mau menyerah?”
Keisha mundur satu langkah kakinya gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak pria itu datang kembali dan mengacaukan dunianya...
Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Ia tak punya jawaban sama sekali.
Arsen berjalan menuju pintu depan untuk pulang.
Sebelum melangkah keluar, ia menoleh kembali ke arah wanita yang masih mematung itu.
“Besok aku datang lagi.”
“Kamu tidak bosan ditolak terus?”
“Tidak.”
“Kenapa sih kamu keras kepala begini?”
Ia menatapnya lurus, tatapannya lembut namun tegas.
“Karena akhirnya... aku menemukan rumahku.”
Pintu tertutup. Arsen pergi.
Meninggalkan Keisha berdiri sendirian di ruang tamu yang remang, dengan jantung yang berdebar kacau balau, campuran antara syok, bahagia, dan takut.
Dan di kamar sebelah, Leo tidur nyenyak sambil memeluk erat boneka singa pemberian ayahnya, tersenyum manis dalam mimpi indahnya.
Bersambung...