NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita di Dapur

Mereka melanjutkan perburuan ke area bumbu dapur. Di sini, Zea kembali ke mode profesionalnya sebagai calon "koki dadakan". Dengan langkah mantap, ia menelusuri lorong yang dipenuhi aroma tajam rempah-rempah.

Zea memilih semuanya dengan ketelitian seorang kurator museum. Ia memeriksa butiran lada, memastikan warna cabai merahnya tidak pucat, memilih bawang yang kulitnya kering sempurna, hingga garam, kaldu, berbagai jenis saus, dan minyak goreng. Ia bahkan mengambil beberapa bumbu aromatik yang namanya terdengar asing di telinga Langga, seperti kapulaga dan bunga lawang.

Langga hanya berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerak-gerik Zea yang tampak sangat ahli. Setelah troli hampir penuh, Zea mendorongnya mendekat ke arah Langga dengan napas sedikit terengah.

“Sudah,” ucap Zea sambil menyeka keringat tipis di dahinya. “Semua bahan yang dibutuhin buat seminggu sudah lengkap. Kulkas Bapak tidak akan terlihat seperti gurun pasir lagi.”

Langga mengangguk pelan, menatap tumpukan bahan makanan itu dengan puas. Namun, tiba-tiba ia melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Tanpa aba-aba, ia mengambil kendali troli sepenuhnya.

“Kalau begitu…” Langga menjeda kalimatnya, matanya menatap lurus ke netra Zea. “Sekarang, ambil apapun yang kamu mau.”

Zea berkedip berkali-kali, merasa salah dengar. “Apa?”

“Ambil barang-barangmu sendiri. Kebutuhanmu, jajananmu, atau apapun yang kamu inginkan. Aku yang bayar,” ucap Langga datar, seolah-olah ia dengan gampangnya baru saja menawarkan segelas air putih dan bukannya akses belanja gratis di supermarket premium.

Zea menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan. “Beneran? Bapak tidak sedang kesurupan atau salah minum obat, kan? Tumben baik.”

Langga mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. “Anggap saja bonus awal kerja. Kalau tidak mau ya sudah, saya tarik lagi tawarannya.”

Ia hendak menarik kembali gagang troli, namun dengan gerakan secepat kilat, Zea menahannya.

“Eh eh eh! Jangan ditarik! SAYA MAU!” seru Zea dengan mata berbinar. “Baiklah, Pak CEO. Jangan menyesal kalau nanti saldo rekening Bapak berkurang drastis karena belanjaan saya!”

Langga terkekeh kecil, sebuah suara rendah yang terdengar cukup merdu. “Silakan coba saja kalau bisa. Nanti saya tunggu di kasir.”

Mendengar izin itu, Zea langsung kabur layaknya anak kecil yang baru saja dilepas di toko mainan. Ia memiliki misi suci malam ini: Misi Menghabiskan Uang CEO.

Hal pertama yang ia datangi adalah rak skincare. Zea berdiri di sana dengan senyum penuh kemenangan. “Karena wajah cantik perlu investasi, dan mumpung ada sponsor tunggal,” gumamnya riang. Ia mulai mengambil sabun cuci muka merk ternama, pelembap, sunscreen, beberapa botol serum, tumpukan sheet mask, hingga lip balm.

Setelah merasa area wajah aman, ia meluncur menuju rak makanan ringan. Mata Zea seolah berubah menjadi simbol rupiah yang berputar. “Wah… surga,” bisiknya.

Dengan rakus namun penuh kegembiraan, ia mulai menyapu berbagai macam keripik kentang, cokelat batangan, permen, biskuit mentega, puding instan, beberapa cup mie instan untuk keadaan darurat, jus kotak, sereal, bahkan satu bungkus besar marshmallow dan es krim literan. Tangannya sudah penuh, namun ia terus mengambil lagi.

“Setidaknya aku harus balas dendam untuk semua tekanan batin yang dia berikan,” gumam Zea sambil menyeimbangkan tumpukan barang di pelukannya. “Siapa suruh bilang 'ambil bebas'. Rasakan ini, bajingan!”

Di Depan Kasir

Langga sedang berdiri santai di dekat meja kasir sambil memeriksa daftar belanjaan bahan makanan yang sudah diproses. Namun, gerakannya terhenti saat melihat sosok kecil muncul dari balik rak. Matanya membulat sempurna.

Zea datang dengan kedua tangan penuh barang hingga menggunung. Dagunya bahkan nyaris tertutup oleh bungkus keripik kentang dan kotak sereal. Ia berjalan dengan susah payah, menyeret langkahnya menuju meja kasir.

“...”

“...”

Langga menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Kamu… kamu beneran mau merampok saya, ya?”

Zea tertawa puas, meskipun suaranya sedikit teredam oleh tumpukan snack. “Katanya bebas ambil! Sebagai orang kaya, Bapak tidak boleh menarik ucapan. Itu tidak elegan!”

Langga memandangi gunungan jajanan dan alat kecantikan itu dengan heran. “Kua—” Ia menjeda kalimatnya, menatap fisik Zea yang mungil. “Kuat sekali kamu membawa sebanyak itu tanpa troli.”

Zea mendongak bangga, meski wajahnya sudah memerah karena menahan beban. “Segini mah kecil! Kalau tadi Bapak kasih waktu sepuluh menit lebih lama, aku bisa ambil dua kali lipat dari ini. Aku ini kuat, tahu!”

Langga menatapnya selama beberapa detik, lalu sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di wajahnya. “Noted. Kamu kuat.”

Cekring!

Kartu hitam milik Langga digesek. Transaksi selesai. Petugas kasir dengan sigap memasukkan semua barang itu ke dalam belasan kantong belanja plastik besar yang berat. Langga menatap tumpukan kantong itu, lalu menatap Zea.

“Bawa,” perintah Langga singkat.

Senyum kemenangan Zea seketika membeku. “Apa?”

“Bawa semuanya ke atas,” ulang Langga santai sambil mulai melangkah pergi.

“Kenapa saya?! Ini berat sekali, Pak!” protes Zea histeris.

“Sederhana saja. Pertama, yang bayar adalah saya. Kedua, kamu tadi yang mengambil barang tambahan sebanyak ini dengan nafsu besar. Dan ketiga....” Langga menoleh sedikit, menyeringai jahil. “Tadi katanya kamu kuat, kan? Anggap saja ini pembuktian.”

Zea membeku di tempat, merutuki kesombongannya sendiri beberapa menit yang lalu. “Pak… bapak tidak berperikemanusiaan tau ga? Satu kantong saja gimana pak?”

“Tidak ada bantuan. Ini bagian dari latihan fisik supaya kamu tidak gampang mengeluh,” sahut Langga tanpa perasaan.

“BAJINGANN!” umpat Zea pelan, namun cukup keras untuk didengar Langga. Dan orang itu hanya berjalan dengan senyum yang mengukir di wajahnya.

Kembali ke Apartemen

Perjalanan kembali ke unit terasa seperti simulasi siksa kubur bagi Zea. Dengan napas yang sudah putus-putus, ia menyeret kantong-kantong belanjaan itu menuju lift, lalu sepanjang koridor. Rambutnya sudah berantakan, keringat membasahi dahi dan lehernya.

Sedangkan Langga? Pria itu berjalan santai di depannya dengan tangan masuk ke saku, sesekali bersiul pelan tanpa niat sedikit pun untuk membantu.

Begitu sampai di dalam unit, Zea menjatuhkan kantong-kantong itu ke lantai marmer dengan suara gedebuk yang keras. Ia langsung ambruk di samping belanjaan itu.

“Hah… hah… hampir mati…” Zea terengah-engah, wajahnya sudah sangat kuyu.

Langga berdiri tegak di depannya, tampak segar bugar. “Akhirnya sampai juga. Saya sudah menunggu kamu dari tadi di depan pintu. Kenapa lama sekali?”

Zea menatap Langga dengan aura membunuh yang sangat pekat. “Kalau saya mati karena serangan jantung malam ini, saya bersumpah akan gentayangan di kamar Bapak setiap malam!”

Langga hanya terkekeh, seolah ancaman itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. Zea mulai bangkit dengan sisa tenaganya, menyusun belanjaan ke dalam kulkas dengan gerakan kasar karena kesal. Sementara Langga berdiri di belakang, hanya memperhatikan sambil bersedekap.

TOK TOK TOK!

Pintu apartemen diketuk. Langga berjalan membukanya. Beberapa detik kemudian, ia masuk kembali bersama seorang pegawai supermarket yang berseragam lengkap. Pria itu tidak membawa kantong plastik, melainkan memanggul satu karung beras besar seberat 20 kilogram.

“Taruh di pojok dapur saja,” perintah Langga.

“Baik, Pak,” jawab pegawai itu sopan. Setelah meletakkan beras dan menerima uang tip dari Langga, ia pun pergi.

Pintu tertutup rapat. Dan saat itu juga, Zea membeku. Tangannya yang sedang memegang botol kecap berhenti di udara. Perlahan, ia menoleh ke arah Langga dengan tatapan kosong dan horor.

“…Pak,” panggil Zea lirih.

“Ya?” sahut Langga tanpa dosa.

“Barusan itu… pegawai supermarket?”

“Iya.”

“Yang sedang mengantarkan barang langsung ke unit?”

“Iya, memang ada jasanya,” jawab Langga santai.

“...”

“...”

“JADI DARI TADI ADA JASA ANTAR BARANG KE UNIT?!” teriak Zea pecah, suaranya melengking memenuhi ruangan.

Langga mengangguk tenang. “Tentu saja ada. Namanya layanan delivery VIP untuk penghuni apartemen ini.”

“TERUS KENAPA SAYA YANG HARUS NGANGKUT SEMUA KANTONG INI DARI BAWAH SAMPAI KE SINI?!”

Langga menatap Zea dengan ekspresi paling datar yang pernah ia tunjukkan. “Pertama, saya sayang uang saya. Biaya antarnya lumayan kalau untuk barang sebanyak itu. Kedua, karena tadi kamu sudah membeli banyak barang pribadi, saya rasa kamu harus membayarnya dengan tenaga.”

Ia lalu melangkah mendekat, menyeringai tipis yang terlihat sangat licik di mata Zea. “Dan yang paling penting… kan ada kamu, babu saya. Sekalian hemat biaya jasa antar, kan?”

Hening. Zea menatap Langga dengan mata yang bergetar karena emosi. Tanpa berpikir panjang, ia meraih satu bungkus keripik kentang berukuran besar dari belanjaannya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah dada Langga.

PLAK!

Langga tidak menghindar, keripik itu mengenai dadanya dengan telak sebelum jatuh ke lantai. Bukannya marah, Langga justru tertawa kecil. “Aduh. Berani sekali ya sekarang melempar majikan sendiri?”

“DASAR PELIT! KALAU TAHU ADA JASA ANTAR, SAYA TIDAK AKAN MAU JUNGKIR BALIK BAWA BARANG SEBANYAK ITU!”

“Itu salah kamu sendiri,” sahut Langga tenang.

“Salah saya?!”

“Iya. Siapa suruh kamu tidak tanya dulu? Kamu terlalu sibuk memamerkan 'kekuatan' ototmu tadi di kasir,” goda Langga.

“Mana saya tahu orang kaya model Bapak ini pelitnya minta ampun!” balas Zea dengan wajah cemberut.

“Saya bukan pelit, Zea. Saya hemat. Itulah kenapa saya kaya,” jawab Langga filosofis.

“ITU SAMA SAJA!”

“Beda.”

“PELIT!”

“HEMAT.”

“PELIT BANGSAT!”

Langga akhirnya tertawa. Bukan sekadar terkekeh, tapi benar-benar tertawa lepas sampai bahunya bergetar dan matanya sedikit menyipit. Zea mendadak terdiam, amarahnya seolah tertahan di tenggorokan.

Baru kali ini ia melihat pria itu tertawa sebebas itu, tanpa topeng "Manusia Es" yang biasa ia pakai. Dan Langga sendiri baru menyadari, sudah lama sekali ia tidak merasakan dadanya seringan ini hanya karena perdebatan konyol dengan seseorang.

Masih dengan sisa senyuman di wajahnya, Langga berkata pelan, “Sudah. Berhenti mengomel dan cepat masak. Saya benar-benar lapar.”

Zea mendengus kasar, memutar bola matanya dengan jengkel. “Terserah! Kalau nanti Bapak keracunan atau masakan saya rasanya seperti amplas, jangan salahkan saya!”

Zea pun berbalik, mulai sibuk dengan kompor dan pisau di dapur. Ia memasak dengan wajah yang masih manyun, mulut yang terus berkomat-kamit mengomel kecil tentang kepelitan bosnya. Sementara itu, Langga duduk santai di island table, menopang dagu dengan satu tangan sambil memperhatikan punggung kecil Zea.

Entah kenapa, bagi Erlangga, pemandangan dapur yang berisik dan penuh omelan itu terasa jauh lebih nyaman daripada kesunyian mewah yang selama ini ia miliki.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!