Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Asya dan keluarganya tengah berada di ruang tamu ndalem. Asya sengaja membawa keluarganya untuk berpamitan kepada pengasuh pesantren tempatnya belajar selama ini.
"Kenapa harus boyong? Asya nggak mau kuliah di sini saja?," tanya Umi Syakira sambil tersenyum
"Asya sudah terdaftar sebagai calon mahasiswi di Al-Azhar, Umi," jawab Asya
Gus Kafka menatap sendu ke arah Asya sekilas lalu menunduk. Orang yang ditatap hanya mampu mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari kontak mata dengan orang yang juga dicintainya.
'Maafkan diriku yang telah membuatmu kecewa. Aku tak berdaya' batin gus Kafka
'Aku harus menerima takdir ini. Mungkin memang dia bukan jodohku' batin Asya
'Mereka saling mencintai tapi semesta memisahkannya bahkan belum sempat saling memiliki' batin Raffa sambil menatap keduanya bergantian
"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya, assalamualaikum," pamit Abi Fahmi
"Waalaikumsalam," jawab semua orang ndalem
Asya dan keluarganya keluar dari ndalem dan menuju mobil. Mereka akan pulang ke Bandung sekarang juga.
Skip
Tak terasa mereka telah sampai di pesantren. Raffa membantu adiknya membawa koper. Seluruh santri yang beraktivitas langsung menghentikan kegiatannya begitu keluarga ndalem melewati mereka. Semuanya menunduk takzim.
Setelah sampai di kamar, Asya langsung merebahkan dirinya. Melepas lelahnya, bukan hanya lelah fisik tapi hati juga.
Asya menatap langit-langit kamarnya. Kepingan kejadian akhir-akhir ini selalu berputar di kepalanya.
'I am amazed at you'
'Izinkan saya memperjuangkan kamu di sepertiga malam'
'Saya tidak ingin orang yang saya cintai kenapa-napa'
'Ana uhibbuki fillah'
'Setelah kamu lulus, secepatnya saya akan datangi orang tua kamu'
'Semua keputusan yang dibuat oleh Abi saya tidak bisa dibantah'
'Saya sudah berusaha menyangkal keputusan itu. Tapi orang tua saya tidak ingin dibantah sama sekali'
'Maafkan saya'
'Tapi saya hanya mencintai kamu Asya'
"Harusnya aku nggak terlalu berharap hingga akhirnya aku terjatuh ke dalam jurang kekecewaan seperti ini," ucap Asya pelan sambil meneteskan air mata
Asya memejamkan matanya. Berusaha menghilangkan kejadian itu dalam ingatannya yang masih terngiang-ngiang dengan jelas. Asya harus bisa mengikhlaskan gus Kafka yang akan bersanding dengan saudara sepupunya itu.
_Bandara Suhat_
Keputusan Asya untuk melanjutkan kuliah di Kairo memang sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Saat ini keluarganya tengah berada di bandara untuk mengantarnya. Termasuk Anisa yang juga ikut mengantar.
Asya memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Seakan tak mau jauh dari mereka. Kemudian ia beralih memeluk abang tersayangnya.
"Jangan telat makan ya. Belajar yang rajin untuk masa depan. Lupakan masa lalu, in sya Allah gantinya akan lebih baik lagi," ucap Raffa lalu melepaskan pelukannya
"Iya Bang, aamiin." jawab Asya
"Kamu bisa dateng kan Sya, dua minggu lagi?," tanya Anisa lirih sambil memeluk Asya
"In Sya Allah," jawab Asya sambil melepas pelukannya
"Asya pamit dulu, assalamualaikum," pamit Asya
"Waalaikumsalam," jawab semua orang
Terdengar bunyi bahwa pesawat akan segera take off. Lalu Asya berjalan dengan menyeret kopernya sambil melambaikan tangannya kepada keluarganya.
2 minggu kemudian...
Hari ini merupakan hari yang menyakitkan bagi Asya. Saat ini, Asya memutuskan untuk tidak pulang. Asya sedang berada di asrama tengah melamun. Rania teman sekamarnya sudah lebih dulu berangkat ke kampus.
"Hari ini mereka akan resmi menjadi suami istri," gumam Asya tersenyum kecut
Asya menghela nafasnya lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. Matanya membelalak saat tau sebentar lagi jam kuliah akan dilaksanakan. Sekitar 10 menit lagi. Asya sudah hampir terlambat.
Asya berlarian di sepanjang koridor kampus sambil terus melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia merutuki dirinya yang keasikan melamun hingga melupakan kuliahnya. Sedari tadi Asya menggerutu.
Koridor kampus sudah mulai sepi karena banyak yang sudah masuk kelas. Dari arah yang berlawanan, seorang pemuda tengah berlarian seperti Asya. Mungkin ia juga sama terlambatnya. Hingga keduanya tak sengaja bertabrakan.
Bruk
"Afwan," ucap pemuda yang tak sengaja menabrak Asya itu.
"Naam," jawab Asya sambil membereskan bukunya dan dibantu oleh pemuda itu
"Aduh bisa telat nih," gerutu Asya sambil melirik arloji yang mampu didengar oleh pemuda itu
"Loh, kamu orang Indonesia juga ya ternyata?," ucap pemuda itu terkejut
"Iya," ucap Asya sambil berdiri diikuti dengan pemuda itu
"Perkenalkan saya Rifky dari Cirebon," ucap pemuda itu sambil tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya
"Maaf, saya permisi dulu ya soalnya 5 menit lagi masuk. Assalamualaikum," balas Asya sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan Rifky
"Waalaikumsalam," jawab Rifky sambil tersenyum menatap kepergian Asya
'Cantik dan sepertinya dia keturunan ahli agama. Kelihatan banget auranya' batin Rifky
Skip
Malam harinya, terlihat Asya sedang rebahan di asrama. Setelah seharian penuh menghabiskan waktu kuliahnya. Sedangkan Rania sibuk mengerjakan tugas makalah yang belum selesai dan sesekali ia mengeluh. Kalo Asya jangan ditanya lagi. Sudah pasti ia telah selesai mengerjakannya. Itulah sebabnya ia bersantai sekarang.
"Enak banget sih Sya jadi kamu. Buat makalah selesai cepet banget," keluh Rania
"Jangan mengeluh Ran, kerjakan saja. Lagian tinggal dikit lagi juga pasti selesai," ucap Asya terkekeh
"Kecerdasanku kan nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu," keluh Rania
"Bersyukurlah dengan kemampuan yang kita miliki karena itu semua dari Allah," ucap Asya menasehati
"Masya Allah bijak banget kamu," ucap Rania berdecak kagum
"Oke deh. Orang cantik dan berhati mulia nggak boleh menyerah," ucap Rania menyemangati dirinya
"Semangat," ucap Asya sambil tersenyum
"Semangat 45," ucap Rania antusias membuat Asya terkekeh
Asya sibuk scroll akun instagramnya. Sudah lama sekali rasanya tak membuka akun sosmed nya itu.
Tanpa sengaja, Asya menemukan postingan yang baru diunggah. Dan itu adalah orang terdekatnya.
@nisa.zahra tak mampu berkata-kata lagi selain mengucap syukur kepada Allah sebaik-baik perencana😊 #halal #alhamdulillah #sah
❤️🗨️↗️
Disukai oleh maulana.hafiz reza.fatih raffa.fauzi kafka.farizi dan 160.000 lainnya
Komentar dinonaktifkan
Asya tersenyum miris menatap postingan di handphonenya. Hatinya merasa ngilu melihat postingan itu. Perlahan air matanya mengalir dengan sendirinya. Ia berusaha untuk tak mengeluarkan isak nya namun ternyata gagal.
'Mereka sudah resmi menjadi suami istri. Aku harus segera membuang perasaan ini' batin Asya
"Asya, kamu kenapa?," tanya Rania yang sudah duduk di samping Asya
"Nggak papa," jawab Asya sambil tersenyum paksa
"Jangan bohong," ucap Rania tegas
"Keluar yuk! Kita ngopi," ajak Asya
"Pandai mengalihkan pembicaraan. Ya udah kita siap-siap," ucap Rania sambil membereskan alat belajarnya
Restoran terlihat ramai pengunjung. Asya dan Rania bingung akan duduk di meja mana.
"Cari tempat lain yuk! Rame banget ini," ucap Asya
"Ih bentar cari meja dulu," kesal Rania
Rania mengedarkan pandangannya. Ia melihat sepupunya yang bernama Alif tengah berbincang dengan Rifky. Alif tak sengaja melihat Rania yang tengah berdiri dengan Asya.
Alif melambaikan tangannya ke Rania. Ia menyuruh mereka untuk mendekat ke mejanya. Rania menyeret Asya untuk bergabung karena hanya itu tempat duduk yang tersisa.
"Kita boleh gabung, kan?," tanya Rania yang sudah duduk
"Iya boleh," ucap Alif yang melirik Asya
"Kenalin Sya ini sepupuku namanya Alif. Kalo yang di sebelahnya Rifky," ucap Rania memperkenalkan
"Iya," ucap Asya tersenyum tipis
"Jadi kamu teman sekamarnya Rania?," ucap Rifky sok akrab
"Iya," ucap Asya cuek
'Cuek banget nih cewek' batin Rifky
'Idaman banget deh' batin Alif