Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai luluh
Pagi itu Rania datang ke kantor dengan wajah yang sulit dijelaskan. Bukan wajah bahagia, bukan wajah sedih, bukan wajah marah, bukan wajah galau. Tapi campuran semuanya. Kayak es campur yang dicampur sambal, gak jelas rasanya.
Mila yang sudah duduk di meja dengan kopi di tangan langsung tanggap.
"Ran, muka lo aneh."
"Biasa aja, Mi."
"Gak biasa, mata lo kayak orang baru bangun tidur tapi mimpi basah."
"MILA!"
"Iya, iya tapi serius, lo kenapa? Cerita."
Rania duduk di kursinya, dia buka laptop, tapi matanya kosong. Jarinya di atas keyboard, tapi gak ada huruf yang diketik. Pikirannya masih melayang di kejadian semalam. Di mobil, di hotel, di kafe, di semua tempat yang membuat jantungnya berdebar kayak mau copot.
Mila menatapnya tajam. "Rania, cerita atau gue bakal teriak pake toa."
"Ya udah, ya udah, tapi jangan heboh."
"Janji gak heboh."
Rania menarik napas. Lalu dia cerita, walau ada adegan yabg potong, disensor, tanpa adegan buka baju, tanpa adegan minta hotel. Cuma sampai bagian dia tahu kalau gue akting.
Mila memang tidak heboh. Dia malah diem, sepi. Kayak orang lagi mikirin teori relativitas Einstein. Tapi matanya berbinar.
"Jadi, lo berusaha jadi perempuan menyebalkan, eh dia malah tahu dari awal, dan dia tetep mau nemenin lo? Dan malah ngajak lo ke kafe?"
"Iya."
"Terus lo ngobrol biasa tanpa akting dan lo merasa... nyaman?"
Rania mengangguk pelan.
"RANIA, ITU TANDA LO SUKA SAMA DIA!"
Mila berteriak sekantor nengok, bang Didi yang lagi ngopi di dekat jendela sampai keselek.
"Mila, gue bilang jangan heboh!"
"Ini bukan heboh, Ini deklarasi lo suka sama si Om-om eh, kaka-kaka duda itu Lo suka Jangan dipungkiri."
Rania menutup muka dengan kedua tangan. "Tapi gue takut, Mi. Gue baru aja belajar hidup tanpa Rangga. Tiba-tiba ada Alfino yang... sempurna terlalu sempurna takut ini cuma fatamorgana ntar gue jatuh lagi, sakit lagi."
Mila memegang pundak Rania. "Ran, cinta itu selalu berisiko kayak beli lotre. Gak beli ya gak menang. Tapi kalau beli, meskipun kecil kemungkinannya, masih ada harapan."
"Perumpamaan lo aneh."
"Tapi nyata."
Bang Didi yang dari tadi nguping, ikut nimbrung. "Nak Rania, gue dengar. Lo itu udah kayak orang yang digigit anjing, jadi takut sama semua anjing padahal yang digigit cuma satu. Gak semua anjing galak. Ada yang lucu, ada yang bisa jadi teman ada yang bisa lo ajak jalan-jalan."
"Bang, Alfino bukan anjing."
"Itu perumpamaan, Nak. Intinya, jangan biarkan masa lalu menutup masa depan lo. Coba dulu. Pelan-pelan. Gak usah buru-buru. Dan jangan pake akting tuan putri gila lagi."
Rania tersenyum kecil.
Jam menunjukkan pukul 11 Rania lagi asyik ngetik laporan tiba-tiba ponselnya getar.
BRREEET!
Satu pesan masuk dari Alfino.
Rania balikkan ponsel layar menampilkan nama yang bikin jantungnya lompat.
"Selamat pagi, Mbak Rania. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas malam yang menarik. Saya senang Mbak Rania akhirnya bisa berbicara tanpa akting. Semoga kita bisa bertemu lagi, kapan pun Mbak siap. Saya tidak akan memaksa. Selamat bekerja."
Rania baca sekali dua kali tiga kali. Mulutnya komat-kamit jari-jarinya gemetar.
Mila yang dari samping melotot, langsung nyerobot HP Rania.
"CUITAN CINTA! INI CUITAN CINTA!"
"Mila, balikin!"
"Dia bilang senang bisa bicara tanpa akting. Artinya dia suka sama lo yang asli, Ran. Bukan yang akting itu mah nilai plus plus."
Rania rebut kembali HP-nya dia baca sekali lagi.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, kapan pun Mbak siap."
Kalimat itu sederhana tidak ada paksaan, tidak ada tekanan. Tapi justru itu yang bikin hati Rania terasa aneh. Hangat kayak diselimuti selimut tebal di malam hujan.
"Gue harus balas?"
Mila mengangkat bahu. "Terserah, tapi kalau gue jadi lo, gue balas. Gak usah panjang cukup sama-sama, Mas. Kita lihat nanti biar dia tahu lo gak nolak, tapi juga gak buru-buru."
Rania mengetik jarinya pelan.
"Iya, Mas. Sama-sama kita lihat nanti selamat bekerja juga."
Kirim.
Begitu pesan terkirim, dia langsung lemparkan ponsel ke meja kayak HP-nya api.
Mila cekikikan. "Deg-degan, ya?"
"Gue gak deg-degan."
"Muka lo merah kayak tomat."
"ITU KARENA KEPANASAN!"
"Di ruangan ber-AC?"
"SUDAH, DIEM! GUE KERJA!"
Sore harinya Rania pulang dengan perasaan campur aduk.
Sepanjang perjalanan, dia cek HP terus. Apakah Alfino balas? Belum. Tapi dia juga gak sabar. Tapi juga takut kalau Alfino balas. Aduh, pusing.
Begitu sampai di rumah, ibu langsung menyambut di pintu. Wajahnya sumringah kayak abis menang undian.
"Rania, Mas Alfino ke mana semalam? Kok pulang malem?"
"Bu, ngapain Ibu tahu?"
"Ibu dengar suara mobil. Terus Ibu lihat dari jendela. Itu Mas Alfino, kan? Bawa mobil mewah?"
Rania mendesah. "Iya, Bu. Kita ngopi."
"Ngopi aja? Gak makan?"
"Ya ngopi."
"Terus ngomong apa aja?"
"Ngopi ya ngomongin kopi lah, Bu. Mau gue jelasin detail rasa asam dan pahitnya?"
Ibu cemberut. "Kamu ini susah diajak serius."
Naufal dari ruang tamu nyengir. "Bu, tanya aja langsung. Mbak Rania, lo suka sama Mas Alfino, kan?"
Rania melempar sandal. Tapi Naufal sudah lari ke belakang sofa.
"NAUFAL, LO MEMANG ADIK PALING RESE SEDUNIA!"
Ibu melerai. "Sudah, jangan ribut. Tapi Rania, Ibu serius. Mas Alfino itu baik. Sopan. Punya usaha. Jelas masa depannya. Jangan sampai lo sia-siakan."
"Bu, kita baru kenal. Belum ada apa-apa."
"Ya, tapi jangan tutup pintu. Coba dulu. Pelan-pelan."
Rania menghela napas. "Ibu jangan ikut campur dulu. Biar gue yang jalanin."
"Ibu cuma kasih saran."
"Saran Ibu nanti bikin pusing. Gue masuk kamar dulu."
---
Rania merebahkan diri di kasur. Kipas angin berputar lambat. Suaranya kreeek... kreeek... Bukan suara merdu, tapi bikin ngantuk.
Dia buka HP. Baca WA dari Alfino tadi pagi. Baca lagi. Baca lagi. Senyum kecil mengembang tanpa sadar.
"Dia gak balas lagi sejak siang. Mungkin dia juga sibuk atau mungkin dia menunggu gue yang mulai duluan."
Rania menggigit bibir.
Lalu dia buka galeri. Lihat foto lama dengan Rangga foto pas dia masih senyum lebar. Foto pas dia masih yakin cinta sejati itu ada.
"Rangga, lo pergi dan sekarang ada dia yang baik, Yang sabar, yang tidak pernah memaksa."
Dia scroll ke bawah foto terakhir di galeri adalah foto bubur ayam yang dia makan kemarin pagi. Setelah foto itu, tidak ada foto Rangga lagi.
Rania mengambil napas.
Jarinya bergerak, pelan butuh waktu lima menit. Tapi akhirnya dia berhasil.
Hapus.
Semua foto Rangga semua kenangan, semua.
Air mata netes satu tapi dia tidak menangis. Cuma menetes lalu dia usap.
"Selamat tinggal, Rangga. Di sini, di hati ini, lo gak punya ruang lagi."
Ponsel getar.
BRREEET!
Pesan dari Alfino.
"Selamat malam, Mbak Rania. Semoga harimu menyenangkan. Saya hanya ingin bilang, jika suatu saat Mbak ingin ngopi atau makan malam biasa tanpa drama, saya siap. Saya tunggu kabarnya tidur yang nyenyak."
Rania membaca berulang kali, lalu dia tersenyum. Senyum tulus bukan akting bukan strategi.
"Mila benar," bisiknya.
"Gue mulai suka sama dia."
Dia mengetik balasan.
"Selamat malam, Mas. Terima kasih. Akan saya pikirkan, kamu juga tidur yang nyenyak."
Kirim.
Dia letakkan ponsel di samping bantal. Matanya mulai berat. Hati yang tadi gelisah, kini tenang.
Sebelum tidur, dia bergumam kecil.
"Alfino, lo jangan jadi Rangga versi dua. Tolong, jadilah kamu. Apa adanya."
Di luar, bulan mengintip dari balik awan. Langit malam gelap, tapi di hati Rania ada sedikit cahaya. Cahaya kecil mungkin itu yang namanya harapan.