Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
Cahaya matahari Minggu pagi mengintip malu-malu di balik gorden kamar utama yang masih tertutup rapat. Di dalam kamar, suasana sunyi hanya diisi oleh suara napas teratur. Aneska mencoba menggerakkan bahunya, namun ia merasa seperti tertindih beban satu kuintal. Saat ia membuka mata, wajah Arga yang tenang saat tidur berada tepat di depan matanya, dengan tangan kokoh yang melingkar erat di pinggangnya—seolah takut Aneska akan menghilang jika pegangannya kendur satu milimeter saja.
"Eungh... Mas... lepasin, berat," gumam Aneska dengan suara yang hampir habis.
Arga membuka matanya perlahan. Alih-alih melepaskan, ia justru makin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aneska, menghirup aroma istrinya dengan rakus. Sisi dominan semalam kini berganti menjadi sisi manja yang sangat akut.
"Lima menit lagi, Sayang. Gue kangen banget," bisik Arga serak.
"Lima menit lo itu dari tadi subuh! Badan gue remuk, Arga! Gara-gara lo 'ngamuk' di ruang tamu semalam, pinggang gue kayak mau patah!" Aneska mencoba mencubit lengan Arga, tapi tenaganya sudah ludes.
Arga langsung menjauhkan wajahnya, menatap Aneska dengan tatapan bersalah yang dibuat-buat—namun terlihat sangat tulus. "Maaf ya... semalam gue beneran cemburu buta denger lo manggil nama cowok lain. Gue khilaf karena terlalu rindu. Maafin Mas ya, Sayang?"
Aneska melongo. Perubahan panggilan dari 'Gue' jadi 'Mas' dan tatapan memelas itu adalah senjata paling ampuh Arga. "Dih, kalau udah dapet jatah aja langsung 'Mas-Mas'-an! Pas semalam lo kayak kesurupan harimau!"
"Ya udah, sebagai permintaan maaf, hari ini lo nggak boleh nyentuh lantai. Gue yang bakal urus semuanya," Arga langsung bangkit, tanpa aba-aba ia mengangkat Aneska yang masih terbungkus selimut ke dalam dekapannya.
"Eh! Arga! Mau dibawa ke mana?!"
"Mandi. Terus sarapan. Semuanya dilakukan di bawah pengawasan gue."
Di Kamar Mandi: Pelayanan Eksekutif
Aneska benar-benar tidak berdaya. Di dalam bathtub yang penuh busa aroma terapi, Arga dengan telaten membasuh bahu Aneska menggunakan sponge. Arga benar-benar memanjakannya seolah Aneska adalah bayi besar.
"Gue bisa mandi sendiri, Mas Arga mesum!" protes Aneska saat tangan Arga mulai meluncur ke area yang tidak perlu disabuni lagi.
"Katanya lemas? Katanya remuk? Ya udah, diem aja. Ini pelayanan VVIP dari suami lo yang paling ganteng," sahut Arga santai. Ia bahkan menyuapi Aneska potongan sandwich tuna saat Aneska masih berendam.
"Gila ya... sejarah baru dalam hidup gue, sarapan di kamar mandi sambil dimandiin om-om," gumam Aneska sambil mengunyah sandwich-nya pasrah.
"Biar tenaga lo cepet balik. Karena hari ini... gue nggak akan izinin lo keluar kamar. Ini hari libur, dan lo adalah milik gue sepenuhnya," Arga mengecup kening Aneska yang basah, tatapannya kembali menunjukkan obsesi yang tak pernah padam.
Setelah selesai mandi dan digantikan baju oleh Arga (yang tentu saja diwarnai dengan sedikit perlawanan bar-bar dari Aneska), Arga membawa Aneska duduk di sofa santai di pojok kamar. Di sana, tumpukan kotak-kotak bermerek dan tas belanja sudah menggunung.
"Ini apa lagi, Arga? Lo borong seisi London?" tanya Aneska syok.
"Itu permintaan maaf karena gue ninggalin lo seminggu," Arga mulai membuka satu per satu kotaknya. "Ini cokelat Belgia kesukaan lo, ini skincare dan makeup yang lo bilang susah nyarinya di Jakarta, terus ini..." Arga mengeluarkan sebuah tas Hermes edisi terbatas dan sebuah kotak perhiasan berisi gelang berlian yang berkilau mewah.
Aneska tertegun. Matanya berkaca-kaca melihat perhatian Arga yang sedalam itu. "Mas... ini mah mahal banget. Gue kan nggak minta barang begini..."
"Nggak ada yang kemahalan buat lo, Nes. Gue kerja keras biar bisa beli apa pun yang lo mau tanpa lo perlu liat label harganya," Arga memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Aneska. "Suka?"
"Suka banget... makasih ya," bisik Aneska haru. Sisi cueknya benar-benar luluh.
Tapi momen haru itu hanya bertahan tiga detik. Saat Aneska membuka kotak paling besar di bawah meja, matanya hampir melompat keluar. Di dalamnya bukan tas atau sepatu, melainkan berbox-box alat kontrasepsi dengan berbagai varian, terutama yang bertekstur bergerigi.
"ARGA!!! INI APAAN?!" teriak Aneska, suaranya kembali melengking memenuhi kamar.
Arga menoleh dengan wajah tanpa dosa, sambil memegang secangkir kopi. "Oh, itu? Itu stok buat sebulan ke depan. Kemarin pas gue lewat toko di bandara, gue liat ada varian baru yang belum kita coba. Gue borong semua biar kita nggak kehabisan pas lagi 'eksperimen'."
"LO BENER-BENER OM-OM MESUM GILA! MATI AJA LO!" Aneska melempar bantal ke arah Arga. "Satu kotak aja bikin lambung gue naik, ini lo beli berlusin-lusin! Lo mau bunuh istri lo pelan-pelan ya?!"
Arga menangkap bantal itu dengan satu tangan, lalu tertawa gemas melihat wajah Aneska yang sudah merah padam karena emosi bercampur malu. Ia mendekat, merangkul pinggang Aneska dan menariknya kembali ke atas tempat tidur.
"Kan Dokter bilang gue harus 'menahan diri', bukan 'berhenti'," bisik Arga serak di telinga Aneska. "Karena kemarin gue udah puasa seminggu, sekarang waktunya kita balas dendam pake stok baru itu, Sayang."
"NGGAK MAU! ARGA LEPASIN! GUE MAU MABAR AJA!"
"Nggak ada mabar. HP lo masih gue sita. Pilihannya cuma dua: lo yang pake skincare baru itu, atau gue yang 'pake' lo sekarang juga."
Aneska hanya bisa merutuki nasibnya. Memang benar, hadiah mewah Arga hanyalah "uang muka" untuk kegiatan panas yang tidak akan berakhir sepanjang hari libur ini. Arga si 'Iblis Posesif' benar-benar tahu cara menagih hutang rindu dengan cara yang paling mesum sekaligus membuat Aneska tak berdaya.