Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mata yang tertutup perlahan terbuka, udara terasa dingin hingga terasa menusuk ke tulang. Laras mengucek - ngecek matanya yang masih terasa sepat. Saat hendak bangun ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya dan yang paling mengejutkan Laras adalah tubuh mereka berdua sama - sama polos.
Pergulatan panas antara Dafa dan Laras membuat keduanya kelelahan dan tertidur. Laras merasakan tubuhnya remuk redam di hajar habis - habisan oleh Dafa, entah tenaga dari mana sehingga lelaki berkali - kali mengulangnya sampai Laras kewalahan meladeni nafsu suaminya. Apakah selama ini ia tak luas dengan istri pertamanya sehingga melampiaskan pada dirinya, bathin Laras.
Laras di buat binggung bagaimana caranya dia memindahkan tangan itu dan tidak membuat Dafa terbangun. Ia takut Dafa nantinya akan marah saat tidurnya terganggu. Tapi karna panggilan alam yang mendesak mau tak mau Laras dengan sangat hati - hati memindahkan tangan itu.
Ia baru bisa bernafas lega saat tangan itu sudah terlepas dari tubuhnya dan ia bisa segera kekamar mandi. Tapi bagaimana caranya ia kekamar mandi dengan tubuh polos. Mau pakai selimut lalu bagaimana dengan Dafa. Mau pakai handuk, entah kemana tanduknya Dafa lemparkan.
Tak ada pilihan lain, Laras harus berlari kencang meski tubuhnya polos. Mumpung Dafa tengah tidur secepat kilat Laras berlari kekamar mandi. Terdengar tarikan nafas kasar saat dirinya sudah berada di dalam kamar mandi. Ada rasa lega saat dirinya sudah menuntaskan hajatnya. Laras lantas berendam sebentar di dalam bak mandi dengan air hangat agar otot - ototnya yang tegang menjadi rileks.
Tak mau berlama - lama Laras menyudahi ritual mandinya dan untung di sana ada jubah mandi yang bisa ia pakai. Saat keluar dari kamar mandi ia tak melihat keberadaan suami sirinya. Laras tak peduli kemana lelaki itu pergi yang jelas ia sudah menjalankan tugasnya.
Laras keluar dari kamar setelah rapi, ia berjalan menuju meja makan, karna perutnya terasa sangat lapar. Dari semalam ia tak sempat makan gara - gara ulah Dafa. Rupanya di sana sudah duduk Dafa sambil makan roti dan meminum segelas susu.
"Pagi tuan." sapa Laras.
"Duduk." perintah Dafa tegas dan tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya Laras duduk di kursi tepat di sebrang Dafa.
"Saya mau kamu tidak mengatakan tentang status kita pada orang lain, cukup kita - Kita saja yang tau." ucap Dafa dingin.
"Baik tuan." jawab Laras dengan kepala menunduk. Laras tak berani menatap Dafa karna takut.
"Bagus, saya suka orang penurut."
"Saya juga tau status saya kok, ga perlu diingatkan juga. Kita itu cuma suami istri sesuai perjanjian yang saling menguntungkan." bathin Laras. Mana berani ia mengatakan itu kepada Dafa secara langsung yang ada malah lelaki itu akan murka.
Selesai sarapan Laras mengantar suami ke mobil dan tak lupa ia mencium tangan suaminya dengan takzim sebagai bentuk bakti seorang istri yang baik.
"Ngapain sih." Dafa menyentak tanganya yang sempat di cium Laras. " Ini buat pegangan kamu bulan ini." Dafa melemparkan sebuah kartu ke badan Laras. Laras sama sekali tak tersinggung, tanpa malu ia mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Mobil Dafa melesat meninggalkan rumah baru setelah Laras masuk kembali kedalam rumah untuk melanjutkan sarapannya dengan tenang tanpa ada ganguan.
"Bebas, lebih baik istirahat." ucap Laras setelah mengabaikan sarapannya, senyum Laras mengembang karna bisa istirahat seharian tanpa ada gangguan.
Laras mencium kartu yang baru saja Dafa berikan dan berkata "Aku harus memindahkan semua isi kartu ini ke rekening lain, takutnya tuan muda berubah pikiran dan mengambil kembali uangnya. Lebih baik berjaga - jaga sebelum terjadi." gumam Laras sambil mengibas - kehabisan kartu yang ada di tanganya.
Ia tak akan mensia - siakan apa yang bisa ia ambil. Uang memang bukan segalanya tapi tanpa uang kita juga tidak bisa apa - apa. Dari Nyonya Veronica ia juga sudah mendapat transferan uang dengan jumlah yang tak sedikit, sekarang dari Dafa. Rekening Laras akan terus menggembung.
...****************...
Assalamualaikum kk, selamat datang di karya terbaru thor. di tunggu saran dan masukannya
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪🙏😘