Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Dua penyihir agung, delapan penyihir tingkat tinggi, serta belasan prajurit tewas dalam penaklukkan rubah ekor sembilan di Gunung Nevral. Sementara rombongan yang tersisa mengalami luka-luka, tapi setidaknya mereka berhasil meringkus hewan magis tersebut kemudian dibawa ke hadapan kaisar.
Saat ini di istana kekaisaran yang berada di jantung ibukota, yakni Myrval. Seorang penyihir lanjut usia yang tubuhnya dibungkus jubah putih panjang hadir bersama rombongan kekaisaran yang sebelumnya ditugaskan ke Nevral. Mereka kembali sambil mengeret sebuah kerangkeng ukuran sedang yang terbuat dari logam khusus dan dibelit rantai-rantai besar pada bagian luar. Tidak hanya itu, jika dilihat lebih teliti, tiap tiang jerujinya terukir mantra kuno bercahaya redup.
Di dalam kerangkeng tersebut terdapat seekor rubah berbulu merah lebat. Sepasang mata ambernya yang tampak seperti kucing berkilat penuh kebencian tatkala memandangi semua manusia dalam ruang takhta.
"Satu-satunya yang tersisa dari rasnya. Namanya Vyr. Sepertinya berusia lebih dari 500 tahun," jelas penyihir agung seraya melirik rubah.
Kaisar yang duduk di singgasana mengamati rubah itu lekat. Akan lebih baik mengurungnya di Dakrossa ketimbang di penjara Myrval, tapi tampaknya putra tertuanya, yakni Grainer Leorath tertarik untuk memilikinya.
"Kamu mau menjinakkannya?" tanya kaisar.
Grainer tersenyum tipis, menyembunyikan keserakahan untuk memiliki salah satu primordial terkuat tersebut. "Itu tawaran yang sangat besar, Ayah."
"Aku menyadari niatmu hanya dari mata itu,"
kata kaisar tanpa memandang putranya.
Grainer tertawa pelan lalu melirik rubah merah yang menatapnya penuh kebencian. 'Kalau begitu biar saya mencobanya."
"Lakukan dalam tiga hari."
Grainer agak terbelalak. "Seorang warden bahkan butuh waktu lebih lama dari itu."
"Lakukan saja. Bahaya membiarkannya terlalu lama di luar dengan kerangkeng yang tidak tahu kapan akan bertahan."
Grainer menundukkan kepala sejenak di hadapan ayahnya. "Akan saya coba."
Akhirnya, rubah bernama Vyr tersebut ditahan sementara di istana, tepatnya di kediaman putra mahkota kekaisaran yakni Grainer Leorath. Jika dalam tiga hari tidak ada kemajuan, kaisar telah memerintahkan putra keduanya untuk membawa Vyr ke Dakrossa tanpa kendala.
Makhluk itu telah menewaskan banyak orang-orang kuat, jika dalam perjalanan ke Dakrossa terlepas, tidak tahu apakah mereka bisa menangkapnya lagi. Graven Callisto Elvareth adalah orang yang cocok untuk membawanya ke Dakrossa.
Yah, namun sebelum itu, kaisar meminta ajudannya agar menemui Graven untuk datang ke istana berbincang secara pribadi dengannya.
Kemudian
Sial!
Makian lolos dari mulut Grainer. Sudah tiga hari berlalu dan Vyr masih begitu keras kepala bahkan mungkin kian membencinya. Setiap kali tangannya terjulur untuk menyelinap di antara jeruji, makhluk spiritual itu akan mengeluarkan kekuatan yang menyakitinya. Kemudian di hari terakhir tepatnya hari ini, dengan kelicikan yang dimiliki, Vyr seolah memberi kesempatan pada Grainer untuk menyentuhnya, berlagak mulai membuka hati, tapi ketika tangan pria itu sepenuhnya masuk ke dalam kerangkeng, Vyr menggigitnya kuat-kuat. Kalau bukan karena memiliki kemampuan hebat, Grainer yakin tangannya sudah tertinggal dalam kerangkeng Vyr. Sekarang, seorang tabib tengah membalut luka pada tangan kanan Grainer dengan perban.
"Dimana hewan itu?"
"Mereka membawanya."
"Kemana?"
"Hari ini Pangeran kedua datang untuk membawanya atas perintah kaisar."
Grainer berdecak dan segera pergi untuk melihatnya. Sebenarnya, tidak memiliki Vyr pun tidak rugi karena dia sudah punya Beaster, itu adalah sebutan untuk hewan magis yang sudah dijinakkan serta punya pemilik.
Beaster milik Grainer adalah serigala hitam besar yang bisa ditunggangi dua orang dewasa, diberi nama Volkren.
"Kamu langsung membawanya? Bukankah rugi jika tidak mencoba menjinakkannya? Dia adalah salah satu yang terkuat," kata Grainer tatkala mencapai halaman utama, di mana Graven telah siap membawa Vyr ke Dakrossa bersama beberapa prajuritnya.
"Jika aku berhasil, apa kamu bisa tidur dengan tenang setelahnya?" Graven melempar jawaban yang sukses membuat Grainer menahan amarah di balik senyum ramah.
"Bukankah kamu terlalu berpikir buruk tentangku?"
"Entahlah, tapi kurasa ini hari yang buruk bagimu," jawab Graven seraya menjatuhkan pandang pada tangan kanan Grainer yang diperban.
Grainer mengangkat tangan kanan itu di depan perut dan mengepalkannya. "Hanya luka kecil, tidak sampai membuat hariku buruk. Lebih dari itu, semoga tidak ada kendala dalam perjalananmu menuju Dakrossa."
Graven tidak lagi menanggapi perkataan Grainer dan segera meninggalkan istana.
"Kenapa harus dia yang membawanya ke Dakrossa? Apakah ayah meragukan kemampuanku?!"Rahang Grainer mengeras karena setiap kali ada tugas sulit, ayahnya aka menyerahkan itu pada Graven. Padahal belum lama sejak pria itu keluar dari Dakrossa karena terbukti tidak bersalah. Grainer menyesal tidak membabat habis orang-orang kepercayaan Graven.
***
Penjara Dakrossa
Heidan membuka pintu ruang tahanan Ilyar dan mendapati penghuninya tengah melakukan inverted sit-up. Di mana dia bergelantungan pada batang besi dalam posisi terbalik dengan mengandalkan lutut kemudian mengangkat tubuh bagian atas berulang kali. Itu termasuk latihan ekstrem, tapi Ilyar telah melakukannya secara rutin.
Heidan memalingkan wajah karena Ilyar hanya mengenakan celana linen panjang serta kain pembebat yang menutupi bagian dada. Sehingga tubuh bagian atas terekspos jelas. Bulir-bulir keringat membuat tubuh mengilap.
"Ada apa?" Ilyar berhenti mengangkat tubuh dan membiarkan dirinya bergelantungan terbalik. Memperlihatkan otot perut yang padat mengilap oleh keringat.
"Saya datang untuk menjemput Anda ke ruangan Tuan Solomon."
"Dia mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Hanya meminta saya mengantar Anda kesana."
Ilyar segera turun dan menyambar kaus linen kremnya kemudian setekah berpakaian, kedua tangannya terjulur untuk dipasangi borgol oleh Heidan. Sekarang dia menuju ruangan di mana Solomon berada, tetapi saat sampai di sana dia mendalati kehadiran sosok lain.
Graven Callisto Elvareth!
"Apa begini caramu menyapaku?" Graven langsung menangkap tinju yang nyaris mendarat di wajahnya.
Ilyar yang baru memasuki ruangan tiba-tiba melancarkan serangan, raut wajahnya terlihat marah. Sementara, Solomon menahan tawa sambil mengembuskan asap ceru cerutu.
"Tsk!"
Ilyar menarik tangannya dari remasan Graven kemudian memalingkan wajah sambil melipat tangan depan dada. "Jadi apa karena ini memanggilku kemari, Paman?" tanya Ilyar pada Solomon.
Graven mengangkat sebelah alis dan langsung menoleh ke Solomon. "Paman?"
Solomon menyunggingkan senyum. "Bukankah itu panggilan yang bagus?"
"Padahal kupikir kamu tidak bisa menjinakkannya," kelakar Graven sambil menunjuk Ilyar.
Ilyar mendengkus, tapi perhatiannya segera tersita ke kerangkeng yang dibalut rantai-rantai penyegel cukup besae dan terlihat berat. Di baliknya ada seekor rubah berbulu merah. Mata ambernya sangat indah.
Wah, cantiknya
Ilyar memuji dalam hati dan mendekatinya, berjongkok di sana dan beradu pandang dengan si rubah.
"Apa kamu yang membawa hewan imut ini kemari?" Ilyar melirik Graven.
"Dia membunuh dua penyihir agung, delapan penyihir tingkat tinggi, dan belasan prajurit terlatih kekaisaran. Namanya Vyr," jelas Graven.
Huh? Sepasang mata Ilyar mengerjap setelah kembali fokus pada Vyr.
"Jadi dia hewan magis? Kalau begitu dia sangat berbahaya, kan?"
"Dia akan berada di lantai sebelas," jawab Solomon.
Lantai 11 hanya dihuni oleh makhluk-makhluk magis yang dianggap sebagai malapetaka, mereka sangat berbahaya. Ilyar jadi teringat perkataan Valeris. Katanya semakin indah wujud atau penampilannya, maka semakin berbahaya makhluk itu. Kini, Ilyar mempercayainya.
"Jangan dekat-dekat. Dia penuh tipu muslihat. Ketika kamu masuk dalam perangkapnya, habislah. Tangan Grainer hampir putus karenanya," kata Graven.
"Ditingkatan itu, sulit menjinakkannya. Mereka sangat kuat dan tidak akan tunduk dengan sembarang orang. Selain itu, aku belum pernah mendengar seorang Warden mampu menjinakkan makhluk magis setingkat itu," lanjut Solomon.
"Tapi bukankah dia sangat lucu? dan kurasa dia tidak semengerikan kata kalian. Warna rambutku dan bulunya terlihat sama," ucap Ilyar setelah berhasil menyelinapkan tangan di antara sela jeruji, mengusap-usap puncak kepala Vyr.
Anehnya, Vyr duduk dengan tubuh tegak sambil melambaikan ekornya ke kanan kiri. Mulutnya terbuka dan memperlihatkan taring keci di sudut bibir. Memang sangat lucu, Graven dan Solomon semoat terbuai selama beberapa detik, tapi setelah itu melotot dan Graven langsung melingkarkan tangan di perut Ilyar, menariknya dari sana.
"Apa yang baru saja kamu lakukan?" Graven bertanya dengan nada agak cemas.
Ilyar mendongak, memandangi wajah Graven di atas wajahnya. "Aku hanya menyentuhnya. Lagi pula dia tidak menyakitiku."
Graven memandangi tangan Ilyar yang baik-baik saja. Sementara Solomon diam sambil menatap Ilyar dan Vyr secara bergantian.
"Hoo-" Tidak lama setelahnya Solomon menahan senyum culas.