NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-15

Musik orkestra mulai mengalun lembut namun megah, menandakan dimulainya sesi dansa malam itu. Lampu-lampu di ruangan diredupkan, menciptakan suasana romantis yang kental.

Arkan tanpa basa-basi langsung menggenggam tangan Nara dan menariknya ke tengah lantai dansa.

"Ayo," ucapnya singkat, nada suaranya masih terdengar dingin dan tak terbantahkan.

Mereka pun mulai bergerak mengikuti irama musik. Tangan Arkan melingkar kokoh di pinggang Nara, sementara tangan lainnya menggenggam tangan wanita itu erat. Gerakan mereka berdua sangat sinkron, elegan, dan memikat perhatian semua orang yang melihat. Pasangan yang kontras namun serasi—Arkan yang muda dan gagah, serta Nara yang dewasa dan anggun.

Namun di balik senyum profesional yang Nara pasang, suasana di antara mereka terasa mencekam. Wajah Arkan datar, tatapannya tajam, dan mulutnya terkunci rapat.

Hingga akhirnya, di tengah putaran musik...

"Jadi..." Arkan memecah keheningan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Nara. "Kamu senang sekali ya digoda-goda sama si Dimas tadi?"

Nara mengerjap, tetap menjaga senyumnya di wajah meski dalam hati ia mendengus. "Tentu saja tidak, Pak. Kami hanya bersapa sopan sesama kenalan. Itu saja."

"Sopan?" Arkan mendengus kesal, menarik tubuh Nara semakin dekat hingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti. "Menurutku itu bukan sopan, tapi keterlaluan. Tatapannya ke kamu itu kotor, Nara. Dan aku benci melihatnya."

Nara menatap mata Arkan datar, tetap tenang dan profesional. "Bapak tidak perlu marah atau risih, Pak. Saya tahu batasan saya kok. Lagipula, itu kan cuma cara mereka berkomunikasi."

"RISIH?!" Arkan menekan kata itu, suaranya meninggi sedikit. "Kamu pikir aku marah karena aku risih?! Kamu pikir aku cuma tidak suka melihat bawahanku berbuat onar atau melupakan pekerjaan?!"

Nara mengangguk mantap, yakin sekali dengan dugaannya. "Ya... kan memang begitu, Pak. Bapak kan bos saya. Pasti Bapak tidak mau kan melihat saya terlihat terlalu akrab atau murahan di depan orang lain, apalagi di depan mitra kerja? Itu kan buruk untuk image perusahaan dan Bapak sendiri."

JEDAR!

Seakan ada palu besar yang memukul kepala Arkan. Ia terpaku mendengar jawaban itu.

Image perusahaan? Buruk dilihat orang lain?

Ia menatap Nara tak percaya. Selama ini ia berusaha melindungi, cemburu, dan marah karena perasaannya sendiri, karena ia tidak mau Nara dimiliki orang lain... tapi di mata wanita ini, semua itu hanyalah sikap seorang bos yang menjaga reputasi kerja?!

"Kamu..." Arkan terlihat mengatupkan rahangnya kuat-kuat, nadinya di pelipisnya berdenyut kencang menahan emosi yang campur aduk antara kesal dan frustrasi. "Kamu benar-benar wanita yang sangat lambat tangkapannya!"

"Memangnya apa lagi yang harus saya tangkap, Pak?" tanya Nara polos, sedikit mengernyitkan dahi. "Bapak kan memang selalu begitu. Protektif, galak, dan suka atur-atur. Itu kan sifat asli Bapak sebagai pemimpin."

Arkan menatap lekat-lekat wajah polos itu. Ingin rasanya ia berteriak mengatakan bahwa IA CINTA, bahwa IA SAYANG, dan bahwa IA CEMBURU karena tidak mau berbagi Nara dengan siapa pun!

Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

"Dasar wanita bodoh..." geram Arkan pelan, tapi tatapannya melembut drastis. "Kamu tidak akan pernah mengerti... betapa berharganya kamu di mata aku."

Ia memutar Nara dengan gerakan anggun, lalu kembali menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

"Pokoknya dengar baik-baik ya..." bisik Arkan tepat di telinga Nara, suaranya berat dan bergetar. "Jangan pernah biarkan laki-laki lain menyentuh atau mendekatimu sembarangan. Bukan karena soal pekerjaan atau image... tapi karena aku tidak suka. Aku tidak rela."

Nara terdiam, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang mendengar bisikan itu. Ada sesuatu yang berbeda dari nada suara Arkan malam ini.

Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Arkan sudah kembali memasang wajah dingin dan melanjutkan dansa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

_________

Suasana di dalam apartemen mewah namun sederhana itu terasa hening. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan, menemani Nara yang kini sudah berganti menjadi piyaman nyaman.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin rias. Rambutnya masih tergerai indah, sisa-sisa riasan sudah dibersihkan, namun wajahnya tampak termenung jauh.

Acara sudah selesai. Ia sudah pulang dengan selamat. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti melayang kembali ke momen tadi malam.

"Pokoknya dengar baik-baik ya... Jangan pernah biarkan laki-laki lain menyentuh atau mendekatimu sembarangan. Bukan karena soal pekerjaan atau image... tapi karena aku tidak suka. Aku tidak rela."

Kalimat itu terus berputar di kepala Nara seperti kaset rusak. Nada suaranya yang berat, tatapan matanya yang tajam namun penuh arti, dan genggamannya yang begitu erat... semuanya terasa begitu nyata dan menghangatkan dada.

Tapi...

Nara menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala pelan.

"Ah tidak... tidak Nara. Jangan berkhayal terlalu tinggi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menetralkan detak jantung yang mulai tidak beraturan.

Ia mencoba berpikir logis, mencoba mencari alasan rasional untuk semua perilaku aneh bosnya itu.

Mungkin dia cuma tipe bos yang posesif. Mungkin dia cuma tidak mau aset perusahaannya (yaitu aku) diambil orang lain. Atau mungkin... dia cuma takut kalau aku dekat sama Dimas, nanti aku pindah kerja dan dia kesusahan cari pengganti.

Ya, pasti itu alasannya!

Arkan itu kan muda, kaya, dan ganteng. Dunianya luas. Wanita-wanita muda, cantik, dan sekelas pun banyak yang mengantre mengejarnya. Mana mungkin ia menaruh hati pada wanita yang jauh lebih tua, yang punya banyak masa lalu, dan yang cuma seorang sekretaris sepertinya?

"Mustahil..." gumam Nara pelan, matanya mulai berkaca-kaca entah karena apa. "Dia itu bos, aku itu bawahan. Dia Arkan Delvin, aku cuma Nara Amanda yang dulu pernah hancur."

Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu, menatap langit-langit kamar.

"Tanda-tanda apa sih yang dikasihnya? Dia kan galak, dia kan suka marah-marah, suka nyuruh-nyuruh, suka cari masalah. Itu kan sifat asli dia sebagai bos yang perfeksionis," batinnya berdebat sendiri.

Tapi kenapa rasanya berbeda?

Kenapa saat dia melindungiku dari Raka? Kenapa saat dia marah besar melihat Dimas mendekat? Kenapa saat dia bilang 'dia milik saya' di depan orang tuanya? Dan kenapa... kenapa jantungku berdebar kencang setiap kali dia dekat?

"Aku bingung..." isaknya pelan. "Aku takut... takut kalau aku salah tangkap. Takut kalau aku mulai berharap, tapi akhirnya cuma jadi bahan tertawaan atau malah kehilangan pekerjaan ini."

Bagi Nara, Arkan adalah sosok yang sulit ditebak. Seperti es dan api. Kadang dingin mematikan, kadang hangat membakar.

Dan Nara... ia masih terlalu takut untuk mengakui bahwa perlahan-lahan, tembok pertahanan hatinya mulai retak. Ia mulai menyukai perhatian itu, mulai terbiasa dengan sikap manja dan galak itu, dan mulai... menyukai pria itu sendiri.

Tapi ia memilih untuk memejamkan mata. Memilih untuk tidak sadar. Karena bagi wanita yang pernah terluka parah seperti dirinya, jatuh cinta lagi... adalah hal yang sangat menakutkan.

"Sudah ah! Besok kan masih kerja! Pasti besok dia balik lagi jadi galak kayak biasa!" ucap Nara berusaha menyemangati diri sendiri, lalu menarik selimut hingga menutupi kepala, berusaha mengusir segala pikiran rumit itu.

Namun, di dalam mimpinya malam itu... bayangan wajah Arkan yang tersenyum miring tak kunjung pergi.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!