Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: RAJA DI MENARA KACA
Mobil mewah itu melaju mulus membelah kemacetan Jakarta, meninggalkan gang sempit Tebet yang penuh dengan gosip dan debu. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kulit asli serta lavender, suasana hening namun nyaman. Aris duduk di kursi belakang, tangannya masih menggenggam tangan Rina erat. Wajahnya yang tadi teduh saat sholat, perlahan berubah menjadi tajam dan fokus. Topeng "ustadz kampung" telah lepas sepenuhnya. Kini, yang duduk di sana adalah Aris Pratama, CEO dari konglomerasi Pratama Global Group.
"Sampai di kantor dalam 15 menit, Tuan," lapor sopir melalui interkom, suaranya hormat.
"Baik. Siapkan ruang rapat utama. Saya ingin semua direktur hadir dalam 10 menit," perintah Aris singkat. Suaranya berbeda. Tidak lagi lembut seperti saat mengimami sholat, melainkan berat, berwibawa, dan penuh otoritas.
Rina menatap suaminya dengan kekaguman yang masih terasa asing baginya. "Kak, kamu harus langsung rapat? Istirahat dulu nggak? Kamu baru saja dari pernikahan..."
Aris tersenyum, mencium punggung tangan Rina. "Pernikahan adalah awal dari tanggung jawab baru, Sayang. Dan tanggung jawab saya sebagai pemimpin perusahaan tidak bisa ditunda. Lagipula, ada beberapa keputusan penting yang harus saya ambil hari ini. Termasuk soal masa depan yayasan kita."
Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di jantung kawasan Sudirman. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari, membuatnya terlihat seperti kristal raksasa yang menusuk langit. Logo Pratama Global terpampang megah di lobi marmer putih.
Saat Aris turun dari mobil, disambut oleh barisan staf keamanan dan manajer yang sudah menunggu dengan sikap sempurna 90 derajat.
"Selamat pagi, Tuan Aris! Selamat pagi, Nyonya Rina!" seru mereka serempak.
Rina merasa sedikit canggung dengan sapaan megah itu, tapi Aris hanya mengangguk tenang, membimbingnya masuk ke lift khusus VIP yang langsung menuju lantai 45, lantai eksekutif.
Ruang rapat utama berbentuk oval besar, dindingnya全是 kaca yang menawarkan pemandangan seluruh kota Jakarta. Di tengah ruangan, terdapat meja konferensi dari kayu jati solid sepanjang sepuluh meter. Dua belas kursi kulit hitam mahal mengelilinginya.
Di sana, sudah duduk belasan orang. Mereka adalah para direktur, CFO, CTO, dan kepala divisi dari berbagai sektor bisnis Aris: properti, teknologi, pertambangan, dan media. Semua mengenakan jas mahal, dasi sutra, dan wajah serius. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi ketegangan khas dunia korporat di mana satu kesalahan bisa berarti kehilangan jabatan.
Ketika pintu terbuka dan Aris masuk bersama Rina, seluruh ruangan seketika hening. Tidak ada suara batuk, tidak ada suara kertas digeser. Semua berdiri serentak.
"Selamat pagi, Tuan Aris!"
"Pagi," jawab Aris datar. Ia berjalan menuju kursi utamanya di ujung meja. Rina dipersilakan duduk di kursi samping kanan, tempat khusus untuk istri atau tamu kehormatan tertinggi.
Aris meletakkan tas kerjanya, lalu menatap sekeliling ruangan. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para eksekutif itu. Ada Pak Handoko (Direktur Keuangan) yang berkeringat dingin, Bu Sarah (Direktur HRD) yang tampak gugup, dan Pak Wijaya (Direktur Operasional) yang mencoba menyembunyikan kecemasannya.
"Silakan duduk," ucap Aris. Semua duduk serentak dengan gerakan teratur.
"Bapak dan Ibu sekalian," mulai Aris, suaranya rendah namun terdengar jelas hingga ke sudut ruangan. "Saya tahu laporan kuartal ini menunjukkan penurunan profit di divisi properti sebesar 5%. Saya tahu kalian sedang panik mencari alasan. Apakah karena pasar lesu? Apakah karena kebijakan pemerintah?"
Aris berhenti sejenak, matanya men tajam ke arah Pak Handoko.
"Tapi saya tidak tertarik dengan alasan. Saya tertarik dengan solusi. Dan hari ini, saya punya berita yang akan mengubah arah perusahaan kita."
Para direktur saling berpandangan. Apa maksud bos mereka?
"Saya baru saja kembali dari kampung halaman saya," lanjut Aris, kali ini suaranya sedikit melunak, namun tetap tegas. "Di sana, saya melihat realitas yang sering kali luput dari laporan keuangan kalian. Saya melihat bahwa kekayaan perusahaan ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak menyentuh akar rumput. Jika kita hanya sibuk mengejar profit di atas kertas sementara masyarakat di sekitar kita tercekik utang dan ketidakadilan."
Pak Wijaya memberanikan diri angkat bicara. "Maaf, Tuan Aris. Tapi target saham tahun ini sangat agresif. Jika kita mengalihkan dana untuk program sosial, investor akan..."
Pak Wijaya memberanikan diri angkat bicara. "Maaf, Tuan Aris. Tapi target saham tahun ini sangat agresif. Jika kita mengalihkan dana untuk program sosial, investor akan..."
"Cukup," potong Aris tajam. Suaranya membuat Pak Wijaya langsung menutup mulutnya, wajahnya pucat. "Di ruangan ini, siapa yang memutuskan arah perusahaan? Saya atau investor?"
"Anda, Tuan," jawab Pak Wijaya lirih.
"Benar. Saya," tegas Aris. Ia berdiri, berjalan mendekati layar proyektor besar di dinding. Dengan remote di tangan, ia menampilkan sebuah slide presentasi baru yang belum pernah dilihat para direktur sebelumnya.
"Mulai hari ini," announced Aris lantang, "Pratama Global tidak akan lagi sekadar mencari untung. Kita akan meluncurkan inisiatif besar-besaran untuk memberdayakan UMKM di daerah tertinggal, membangun ribuan rumah layak huni untuk korban bencana, dan memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak kurang beruntung seperti istri saya dulu."
Suasana ruangan gempar. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Tuan, ini akan memakan biaya triliunan!" protes Bu Sarah. "Laporan keuangan kita akan merah!"
Aris menoleh pada Bu Sarah, tatapannya dingin namun penuh keyakinan. "Bu Sarah, hitunglah biaya reputasi jika kita dikenal sebagai perusahaan yang hanya mementingkan diri sendiri. Hitunglah biaya hati nurani jika kita membiarkan rakyat menderita sementara kita duduk di menara kaca ini. Kadang, kerugian finansial jangka pendek adalah investasi terbesar untuk keberlangsungan jangka panjang. Dan bagi saya, kepuasan batin adalah dividen yang paling nyata."
Ia kembali duduk, menatap Rina sekilas dengan senyum bangga, lalu kembali menatap para direkturnya.
"Selain itu," tambah Aris, "saya ingin mengumumkan promosi khusus. Divisi CSR (Corporate Social Responsibility) akan dinaikkan statusnya menjadi divisi strategis utama, setara dengan divisi Keuangan dan Operasional. Dan pemimpin divisi ini akan langsung melaporkan kepada saya."
Mata para direktur terbelalak. Ini unheard of! Biasanya CSR hanya jadi pelengkap agenda tahunan.
"Siapa yang akan memimpin divisi ini, Tuan?" tanya Pak Handoko ragu-ragu.
Aris tersenyum tipis. "Saya akan menunjuk seseorang yang memahami betul rasa sakit rakyat kecil. Seseorang yang pernah berada di titik terendah dan bangkit kembali. Seseorang yang hatinya bersih dan visinya jauh."
Semua mata tertuju pada Rina yang duduk diam di samping Aris. Rina terkejut, tangannya reflek menutup mulut. "Aku?" bisiknya pelan, hanya terdengar oleh Aris.
"Ya, kamu," konfirmasi Aris lantang, membuat seluruh ruangan menoleh pada Rina. "Istri saya, Ibu Rina Pratama, akan memimpin divisi ini. Dia bukan sekadar istri CEO. Dia adalah simbol harapan bagi jutaan orang yang terlupakan. Dan saya percaya, di bawah kepemimpinannya, program ini akan berjalan dengan integritas yang tidak bisa dibeli oleh uang siapapun."
Para direktur terdiam. Ada yang skeptis, ada yang bingung, tapi melihat ketegasan Aris, tidak ada yang berani membantah. Mereka tahu, melawan keputusan Aris sama dengan bunuh diri karir.
"Apakah ada keberatan?" tanya Aris, menatap sekeliling ruangan dengan tatapan menantang.
Hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Tidak ada satu pun suara yang keluar.
"Bagus," kata Aris puas. "Jika tidak ada keberatan, rapat ditutup. Silakan setiap divisi menyusun strategi baru sesuai arahan saya dalam waktu 24 jam. Jika ada yang lambat atau membangkang, Anda tahu konsekuensinya."
Aris berdiri, merapikan jubah mahalnya. "Oh, satu hal lagi. Mulai hari ini, tidak ada lagi istilah 'biaya hangus' untuk program kemanusiaan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk rakyat adalah investasi suci. Pastikan itu."
Dengan langkah mantap, Aris berjalan keluar ruangan diikuti oleh Rina yang masih merasa seperti bermimpi. Para direktur masih duduk terpaku, mencerna guncangan yang baru saja mereka alami. Bos mereka telah berubah total. Dari seorang pebisnis tajam menjadi seorang visioner yang seolah turun dari langit.
Di luar ruang rapat, di koridor yang sepi, Rina finally menemukan suaranya.
"Kak... kenapa aku? Aku nggak punya pengalaman mengurus perusahaan sebesar ini. Aku cuma anak kampung biasa..."
"Justru karena kamu anak kampung biasa, Rin. Kamu punya sesuatu yang tidak dimiliki para profesor atau MBA dari luar negeri itu: Empati. Kamu tahu rasanya lapar, tahu rasanya dihina, tahu rasanya butuh bantuan. Bisnis tanpa hati nurani adalah mesin pembunuh. Saya butuh hati kamu untuk menyeimbangkan otak saya."
Rina menatap mata Aris, air matanya mulai menggenang lagi. "Tapi mereka pasti bakal meremehkanku. Mereka pasti bilang aku cuma istri titipan."
Aris tertawa renyah, tawa yang melegakan. "Biarkan mereka bicara. Biarkan mereka meremehkan. Tugas kamu bukan membuktikan diri pada mereka, tapi membuktikan diri pada rakyat yang butuh bantuan. Kalau kamu berhasil membantu satu juta orang, omongan sepuluh direktur sombong itu tidak akan berarti apa-apa."
Aris mengecup kening Rina. "Selamat datang di dunia nyata, Direktur Rina. Mari kita ubah dunia ini, dimulai dari gedung ini."
Rina menarik napas dalam-dalam, menghapus air matanya, dan mengangguk mantap. Rasa takutnya perlahan berganti menjadi tekad. Jika Aris percaya padanya, maka dia juga harus percaya pada dirinya sendiri.
Di balik dinding kaca menara tinggi itu, dua pasangan suami istri ini siap meluncurkan badai perubahan. Badai yang akan mengguncang tidak hanya pasar saham, tapi juga hati nurani seluruh negeri. Sementara di gang Tebet, gosip ibu-ibu dan dendam Dimas mungkin masih berlanjut, tapi mereka tidak tahu bahwa roda nasib mereka sebentar lagi akan berputar drastis oleh keputusan yang diambil di ruangan ber-AC tingkat 45 itu.
Bersambung...
,