NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Invasi Mendadak

Sore itu, Unit 402 sedang berada dalam kondisi "siaga satu" bagi kesehatan mental Saga.

Nala baru saja memenangkan negosiasi wilayah untuk menaruh jemuran portabel di dekat jendela ruang tamu, yang artinya pemandangan minimalis Saga kini terganggu oleh pemandangan daster-daster warna-warni yang berkibar tertiup AC.

"Nala, saya sudah bilang, jemuran itu merusak komposisi visual ruangan!" gerutu Saga sambil memijat pelipisnya.

"Aduh Mas, ini kan wilayah saya! Lagian daster ini butuh oksigen biar nggak bau apek," balas Nala santai sambil mengunyah keripik pedas.

Keheningan mereka pecah saat pintu depan berbunyi bip-bip-bip. Detik itu juga, napas Nala dan Saga berhenti. Mereka tidak memesan makanan, dan Pak Bambang tidak mungkin berani muncul lagi. Hanya ada satu orang yang punya nyali masuk tanpa mengetuk.

CELEKREK.

Tante Sofia melangkah masuk. Ia mengenakan kacamata hitam yang langsung ia lepas dengan gerakan dramatis. Matanya yang tajam langsung tertuju pada lantai.

"Saga, Mama tidak tahan untuk tidak mampir setelah melihat video rumahmu di majalah arsitektur edisi lama. Tapi tunggu..."

Tante Sofia melangkah masuk, dan matanya langsung terpaku pada selotip hitam yang membelah ruang tamu.

Sebenarnya, Tante Sofia sudah melihat selotip ini saat kunjungan singkat pertamanya kemarin. Saat itu, Saga beralasan itu adalah "panduan artistik". Tapi kali ini, Tante Sofia tidak sekadar berdiri di pintu. Ia berjalan masuk lebih jauh.

"Mama perhatikan, selotip ini... kenapa menjalar sampai ke dapur?" Tante Sofia mengikuti garis hitam itu dengan langkahnya.

Saga dan Nala mematung.

Selotip itu bukan cuma di ruang tamu. Itu menjalar melewati bawah meja makan, membelah area wastafel, hingga menghilang di bawah pintu kamar tamu tempat Nala menyimpan semua kekacauannya.

"Dan kenapa selotip ini membelah kulkas menjadi dua?" tanya Tante Sofia sambil menunjuk pintu kulkas yang juga ditempeli selotip hitam secara vertikal.

Saga berkeringat dingin. "Itu... itu sistem manajemen stok, Ma! Biar makanan sehat Mama tidak tercampur dengan... makanan kurang sehat milik Nala."

Nala langsung menyambar lengan Tante Sofia, mencoba mengalihkan perhatian. "Iya Tante! Mas Saga itu orangnya sangat teratur. Dia bilang, dengan garis ini, energi di ruangan jadi lebih seimbang. Kayak Feng Shui versi modern gitu!"

Tante Sofia tidak terlihat yakin. Ia terus berjalan mengikuti garis itu hingga ke arah lorong kamar. "Menarik. Tapi kenapa garis ini juga masuk ke area mesin cuci? Dan kenapa ada tumpukan baju kotor di sisi kiri garis, sementara sisi kanannya kosong melompati ubin?"

"Itu... metode sortir otomatis, Tante!" seru Nala asal bunyi.

"Mas Saga lagi ngajarin Nala disiplin. Kalau baju Nala lewat garis, Nala harus cuci manual pakai tangan!"

Saga menatap Nala dengan tatapan 'Jangan-ngaco-Nala!', tapi Tante Sofia justru mengangguk-angguk.

"Disiplin itu bagus. Tapi Mama merasa ada yang aneh. Kenapa kalian terlihat seperti hidup di dua negara yang berbeda dalam satu rumah?" Tante Sofia meletakkan tasnya di sofa—tepat di sisi wilayah Saga.

"Oh tentu tidak, Tante! Kami sangat lengket kok! Iya kan, Sayang?" Nala langsung merangkul leher Saga dari belakang.

Saga yang kaku hanya bisa tersenyum meringis, tangannya diam-diam mencoba mencabut ujung selotip hitam yang mulai mengelupas di dekat kaki kursi agar tidak terlihat lebih mencurigakan.

Tante Sofia mendesah panjang. "Mama ke sini sebenarnya punya kabar penting. AC di rumah Mama sedang diservis total dan baunya sangat menyengat karena ada kebocoran freon. Jadi, Mama akan menginap di sini selama tiga hari ke depan."

Tiga hari?!

Dunia seolah runtuh bagi penghuni Unit 402. Tiga hari berarti tiga hari tanpa garis pembatas. Tiga hari berpura-pura tidur bersama. Dan tiga hari menjaga agar Tante Sofia tidak melihat Nala makan mi instan di atas lantai wilayah Saga.

"Kenapa kalian diam saja? Kalian tidak senang?" tanya Tante Sofia dengan nada curiga yang mulai naik.

"Senang banget, Tante!" seru Nala, suaranya naik dua oktaf. "Iya kan Mas? Kita kan emang lagi pengen punya waktu lebih banyak sama Tante Sofia!"

Saga terpaksa mengangguk. "Iya Ma. Tapi... kamar utama sedang berantakan. Mama pakai kamar tamu saja ya?"

"Tidak perlu. Mama akan pakai kamar tamu, tapi Mama ingin kalian benar-benar menunjukkan kalau kalian pasangan yang serasi. Oh, dan satu hal lagi..." Tante Sofia menunjuk selotip hitam di lantai dapur yang tadi tak sengaja terinjak Nala hingga melungset.

"Cabut semua selotip aneh ini. Mama pusing melihatnya. Rumah cantik kok dikasih selotip kayak pembatas parkir."

Saga menelan ludah. "Tapi Ma, ini untuk... kedisiplinan..."

"Cabut. Sekarang. Atau Mama panggil jasa pembersih profesional untuk merombak seluruh rumah ini besok pagi," ancam Tante Sofia telak.

Saga dan Nala tidak punya pilihan. Di depan mata Tante Sofia yang mengawasi layaknya mandor bangunan, mereka berdua terpaksa berlutut di lantai. Bersama-sama, mereka mulai menarik selotip hitam itu.

SREEEEEET! SREEEEEET!

Suara selotip yang ditarik itu terdengar seperti suara hati Saga yang hancur. Garis kedaulatannya hilang. Tembok imajinernya runtuh. Bagi Nala, ini adalah kemenangan, tapi bagi Saga, ini adalah awal dari invasi total.

Begitu semua selotip tercabut, Tante Sofia tersenyum puas.

"Nah, begini kan luas. Sekarang, Mama mau mandi. Nala, tolong siapkan handuk untuk Mama di kamar tamu."

Saat Tante Sofia masuk ke kamar mandi, Saga langsung menyudutkan Nala ke dinding dapur.

"Nala! Ini bencana! Garisnya sudah nggak ada! Kamu tahu artinya apa?!" bisik Saga panik.

"Artinya saya bebas pakai sofa Mas tanpa denda?" jawab Nala dengan mata berbinar.

"Artinya kita harus akting 24 jam! Dan kamu..." Saga menunjuk koper merah muda Nala yang mengintip dari balik pintu kamar tamu.

"Pindahkan semua barangmu ke kamar saya sekarang! Jangan sampai Mama masuk ke kamar tamu dan lihat barang-barangmu di sana!"

Nala membelalak. "Ke kamar Mas? Kita tidur bareng?!"

"Cuma akting, Nala! Kamu tidur di lantai atau di sofa kamar, saya nggak peduli! Yang penting jangan sampai Mama tahu kita pisah kamar!"

Operasi senyap pun dimulai. Nala berlari bolak-balik menyeret daster dan peralatan mandinya ke kamar Saga, sementara Saga sibuk menyembunyikan camilan-camilan Nala ke dalam lemari tinggi yang sulit dijangkau Tante Sofia.

Namun, di tengah kekacauan itu, Tante Sofia tiba-tiba keluar dari kamar mandi lebih cepat dari perkiraan. Ia berjalan menuju kamar utama, berniat meminjam hair dryer.

"Saga, di mana kamu simpan—"

Tante Sofia berhenti di depan pintu kamar utama yang terbuka. Di sana, ia melihat Nala sedang memeluk tumpukan daster ayam jagonya dengan wajah panik, sementara Saga sedang berusaha menjejalkan sepasang sandal jepit Nala ke dalam laci mejanya yang super rapi.

Tante Sofia menyipitkan mata. "Kenapa kalian terlihat seperti sedang menyembunyikan mayat?"

Nala tertawa gugup, dadanya naik turun karena lelah berlari. "Ini... ini persiapan malam pertama... eh, maksudnya persiapan kejutan buat Tante!"

Saga memejamkan mata. Nala, mulut kamu benar-benar butuh selotip hitam, rintihnya dalam hati.

Tante Sofia tidak sepenuhnya percaya. Malam harinya, saat jam tidur tiba, Tante Sofia berdiri di depan pintu kamar utama.

"Mama mau memastikan kalian sudah istirahat dengan benar. Tidurlah, Mama akan buatkan susu hangat dan mengantarkannya ke kamar kalian nanti."

Nala dan Saga saling pandang. Mereka harus masuk ke kamar yang sama, menutup pintu, dan menghadapi kenyataan bahwa malam ini, tidak ada garis hitam yang melindungi mereka satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!