karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEN YANG MERASA MENYESAL TELAH NYURUH ORANG UNTUK MENCULIK KEY
Mobil dari Sweety Bakery akhirnya berhenti di depan gedung perusahaan Ken yang menjulang tinggi. Pagi itu suasana kantor sudah terlihat sibuk—para karyawan keluar masuk dengan langkah cepat, sebagian membawa berkas, sebagian lagi sibuk dengan panggilan telepon. Sopir yang ditugaskan oleh Key menarik napas sejenak sebelum membuka pintu mobil, memastikan semua kotak kue tersusun rapi dan aman.
Dengan hati-hati, ia mulai menurunkan satu per satu pesanan. Jumlahnya tidak sedikit—kotak-kotak berisi pastry, cake kecil, dan berbagai dessert yang tertata elegan. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia masuk ke dalam gedung dan langsung menuju lift.
“Lantai tiga,” gumamnya pelan sambil menekan tombol.
Lift bergerak naik dengan halus. Dalam beberapa detik, pintu terbuka. Sopir itu melangkah keluar, melihat sekeliling untuk memastikan arah. Ia mengikuti petunjuk yang diberikan Key semalam, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu ruangan meeting.
Ia mengetuk pintu dengan sopan.
Tok. Tok. Tok.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Rifa berdiri di sana, mengenakan pakaian kerja yang rapi, ekspresinya profesional seperti biasa.
“Oh, dari Sweety Bakery ya?” tanyanya.
“Iya, pak. Ini pesanan untuk meeting,” jawab sopir itu sambil sedikit menunduk.
“Silakan masuk.”
Sopir itu pun masuk ke dalam ruangan. Di sana, suasana sudah mulai dipersiapkan untuk meeting besar. Meja panjang tertata rapi, kursi-kursi tersusun, dan beberapa dokumen sudah siap di atas meja.
Namun bukan itu yang langsung menarik perhatiannya.
Di ujung ruangan, duduk seorang pria dengan aura tegas—Ken. Ia terlihat serius, menatap beberapa berkas di tangannya. Kehadirannya membuat suasana terasa lebih berat.
Sopir itu sedikit gugup, tapi tetap melangkah masuk dan mulai menata kotak-kotak kue di meja yang telah disediakan.
Rifa memperhatikan sebentar, lalu tiba-tiba bertanya, “Tumben… biasanya yang antar pesanan langsung itu buk Key, ya?”
Sopir itu berhenti sejenak, lalu menjawab dengan sopan, “Maaf, pak. Buk Key-nya sedang sakit. Tangannya belum pulih sepenuhnya, jadi dia tidak bisa mengantarkan pesanan secara langsung.”
Rifa mengerutkan kening sedikit. “Sakit?”
“Iya, pak,” lanjut sopir itu. “Apalagi akhir-akhir ini toko juga sangat sibuk. Jadi beliau memilih tetap di toko untuk memastikan semuanya berjalan lancar.”
Ucapan itu terdengar sederhana. Tidak ada yang aneh.
Namun di sudut ruangan, seseorang mendengarnya dengan sangat jelas.
Ken.
Tangannya yang semula memegang berkas tiba-tiba terhenti. Pandangannya perlahan terangkat, menatap ke arah sopir itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Sakit…?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Dingin yang biasanya terlihat kini tergantikan oleh bayangan kegelisahan.
Pikirannya langsung terlempar pada kejadian beberapa waktu lalu—malam gelap itu, kemarahan yang membutakan dirinya, dan keputusan yang ia ambil tanpa berpikir panjang.
Ia menyuruh orang untuk menculik Key.
Sebuah keputusan yang saat itu ia anggap sebagai balasan.
Namun sekarang…
Ken mengepalkan tangannya perlahan. Rahangnya mengeras.
“Apakah… itu karena aku?” pikirnya.
Bayangan Key yang terluka, ketakutan, dan sendirian tiba-tiba muncul di benaknya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan akibatnya sebelumnya. Baginya saat itu, semuanya hanya tentang kemarahan dan harga diri.
Tapi sekarang, ketika mendengar bahwa Key masih sakit…
Ada sesuatu yang menusuk di dalam dadanya.
Rasa bersalah.
Ken menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan ekspresinya. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Setiap kata yang diucapkan sopir tadi terus terulang di kepalanya.
“Tangannya belum pulih sepenuhnya…”
Kalimat itu terasa berat.
Sementara itu, Rifa masih berbicara dengan sopir, memastikan semua pesanan sudah lengkap. Ia tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Ken.
“Baik, semuanya sudah sesuai. Terima kasih, ya,” ucap Rifa.
“Iya, pak, Saya pamit,” jawab sopir itu, lalu segera keluar dari ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Ruangan menjadi sedikit hening.
Ken masih diam di tempatnya. Tatapannya kosong, seolah pikirannya jauh dari ruangan itu.
Rifa akhirnya menyadari.
“Pak, semuanya sudah datang. Kita tinggal menunggu peserta meeting,” katanya.
Namun Ken tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Key… benar-benar sakit?”
Rifa sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Sepertinya begitu, Pak. Tadi sopirnya bilang begitu.”
Ken mengangguk pelan, tapi ekspresinya tidak berubah.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai retak.
Penyesalan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin… ia telah melangkah terlalu jauh.
Dan mungkin, luka yang ia berikan tidak sesederhana yang ia kira.
😉🤍