Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
Satu minggu menuju hari pernikahan seharusnya menjadi saat paling membahagiakan, namun bagi Aneska, sore itu berubah menjadi mimpi buruk yang sangat familiar. Di sebuah kafe tersembunyi di pinggiran Jakarta, ia melihat SUV hitam yang sangat ia kenali terparkir.
Awalnya Aneska ingin memberikan kejutan, namun langkahnya terhenti di balik pilar kaca. Di sana, Arga duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut pirang abu-abu. Mereka bicara sangat serius, suara mereka pelan, dan puncaknya—wanita itu memegang tangan Arga, lalu Arga memberikan sebuah amplop tebal padanya.
Deg.
Dunia Aneska serasa berputar. Bayangan Edo, mantannya saat kuliah yang tertangkap basah sedang menyewa kamar hotel dengan wanita lain, langsung membanjiri otaknya. Semua laki-laki sama saja, bisiknya dengan napas yang mulai sesak. Rasa mual menghantam ulu hatinya. Aneska tidak masuk ke dalam untuk melabrak. Ia terlalu hancur untuk sekadar berteriak.
Tanpa suara, Aneska berbalik, berlari menuju taksi dengan air mata yang mulai menderu.
"Miska! Buka pintunya!" Aneska menggedor pintu kosan sahabatnya seperti kesurupan.
Miska yang baru saja memakai masker wajah langsung melongo melihat Aneska yang berantakan. "Anes? Lo kenapa? Ini seminggu lagi lo nikah, Nes!"
Aneska masuk, melempar tasnya ke lantai, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan membantingnya ke meja. "Gue nginep di sini. Dua hari, tiga hari, gue nggak tahu. Tapi satu syarat: kalau Arga atau anak buahnya nanya, lo nggak tahu gue di mana. Lo bilang lo nggak ketemu gue sejak kemarin. Paham?!"
"Nes, tapi—"
"Gue nggak mau denger penjelasan apa pun, Mis! Dia sama kayak Edo! Bajingan itu sama aja!" teriak Aneska histeris sebelum akhirnya ambruk dan menangis sesenggukan di kasur tipis Miska.
Aneska mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM-nya, dan melemparkannya ke dalam laci. Ia ingin hilang. Ia ingin semua ini hanya salah meja yang berakhir lebih awal.
......................
Sementara itu, di kediaman Arga, suasana mencekam seperti di dalam ruang interogasi. Arga berdiri di tengah ruang tamu, kemejanya sudah keluar dari celana, wajahnya merah padam karena amarah dan ketakutan yang luar biasa.
"APA KALIAN BILANG?! DIA NGGAK ADA DI KANTOR?! DI RUMAH ORANG TUANYA JUGA NGGAK ADA?!" suara Arga menggelegar, membuat lima orang anak buahnya yang berbadan kekar menunduk dalam.
"Maaf, Pak. Mbak Aneska terakhir terlihat keluar dari kantor pukul empat sore, lalu naik taksi ke arah Selatan. Setelah itu... kami kehilangan jejak," lapor salah satu pengawalnya.
Arga menendang meja kopi hingga bergeser. "GUE GA MAU TAHU! KERAHKAN SEMUA UNIT! Cek semua CCTV jalanan, cek semua hotel, semua kos-kosan temannya! Kalau dalam satu jam kalian nggak nemuin dia, kalian semua saya pecat!"
Arga meraih ponselnya, mencoba menghubungi Aneska untuk yang ke-seratus kalinya. Nomor yang Anda tuju tidak aktif.
"Aneska... kamu di mana, Sayang?" bisik Arga, suaranya kini bergetar. Dominasinya runtuh seketika saat ia menyadari calon istrinya hilang tanpa jejak. "Jangan bikin gue gila begini..."
Pukul dua pagi. Miska sudah tertidur, namun Aneska masih terjaga, menatap langit-langit kosan yang kusam. Pikirannya melayang pada Arga. Apa benar pria itu tega berkhianat di saat semua persiapan sudah seratus persen?
Tiba-tiba, suara deru mobil yang sangat banyak terdengar di depan gerbang kosan. Cahaya lampu mobil menembus kaca jendela. Gedor! Gedor! Gedor!
"BUKA PINTUNYA! KAMI TAHU ANESKA CLARYZ ADA DI DALAM!"
Aneska tersentak. Itu bukan suara Arga, tapi suara Linda, sekretaris kaku Arga yang kini terdengar seperti komandan perang.
Miska terbangun dengan panik. "Nes! Arga nemuin lo! Gila, dia bawa berapa mobil itu di depan?!"
Aneska gemetar. "Jangan buka, Mis! Gue nggak mau ketemu dia!"
Tapi terlambat. Di luar sana, sebuah suara bariton yang berat dan terdengar pecah karena kelelahan berteriak, membelah kesunyian malam.
"ANESKA! KELUAR SEKARANG ATAU GUE HANCURIN SELURUH GEDUNG KOS INI!" Arga berteriak di depan pintu kamar Miska.
Arga tidak menunggu lama. Dengan satu tendangan kuat yang didorong oleh rasa frustrasi, pintu kosan yang hanya berbahan kayu tipis itu terbuka paksa. Arga berdiri di sana dengan mata merah dan napas memburu.
Begitu melihat Aneska yang meringkuk ketakutan di pojok kasur, kemarahan Arga mendadak menguap, berganti dengan rasa lega yang teramat sangat. Ia melangkah cepat, menghiraukan Miska yang mematung, dan langsung mendekap Aneska dengan sangat erat—nyaris membuat Aneska sesak.
"Kenapa, Nes? Kenapa?!" bisik Arga di ceruk leher Aneska. Tubuh pria itu gemetar hebat. "Lo mau bikin gue mati berdiri? Lo mau kabur ke mana lagi, hah?!"
Aneska mulai memukul dada Arga dengan sisa tenaganya. "LEPASIN! PERGI KE CEWEK ITU! PERGI KE SIMPANAN LO! JANGAN SENTUH GUE, BAJINGAN!"
Arga tertegun. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap wajah Aneska yang sembab. "Cewek mana? Simpanan apa? Apa yang lo maksud, hah?"
"Gue lihat lo di kafe tadi sore! Lo sama cewek pirang itu! Lo pegangan tangan! Lo kasih dia amplop! Gue tahu, Arga! Gue bukan bego kayak waktu gue sama Edo dulu! Gue nggak mau dikhianatin lagi!" Aneska berteriak di depan wajah Arga, emosinya tumpah semua.
Arga terdiam. Detik berikutnya, ia justru tertawa—bukan tawa mengejek, tapi tawa lega yang menyakitkan. Ia menarik kembali Aneska ke dalam pelukannya, meski gadis itu meronta.
"Aneska... dengarkan gue dulu, bocah nakal," Arga memegang kedua pipi Aneska agar menatapnya. "Wanita itu... dia adalah detektif swasta. Dan amplop itu isinya bukan uang jajan simpanan, tapi bukti-bukti penggelapan dana yang dilakukan Clara buat hancurin keluarga lo."
Aneska membeku. "D-detektif?"
"Dia pegang tangan gue karena dia mau meyakinkan gue kalau dia bisa dapet bukti itu sebelum hari pernikahan kita. Gue nggak mau lo stres gara-gara Clara, makanya gue selesaikan ini secara rahasia," Arga mencium kening Aneska dengan sangat dalam. "Gue perjaka tua yang bucin sama lo, Anes. Nggak ada ruang buat wanita lain di otak gue selain cara bikin lo berhenti teriak-teriak begini."
Aneska melongo. Rasa malu dan lega bercampur menjadi satu. "Beneran?"
"Beneran, Sayang. Sekarang, ikut gue pulang. Jangan pernah matikan ponsel lagi, atau gue beneran bakal pasang GPS di dalam tubuh lo biar gue tahu setiap detik lo ada di mana," ancam Arga dengan nada dominan yang kembali muncul.
Aneska mendengus, ia menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada Arga. "Abisnya lo mencurigakan... lagian siapa suruh lo ganteng banget, kan gue takut lo diambil orang!"
Arga terkekeh, ia menggendong Aneska ala bridal style keluar dari kosan Miska di depan puluhan anak buahnya yang langsung menunduk hormat. "Makanya, cepet sah-in gue minggu depan. Biar lo punya hak paten buat borgol gue di kasur."