Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Keesokan paginya, Song Aran merasa sangat senang karena sebagian besar sayuran sudah bisa dipetik.
Lebih bahagia lagi, lahannya bertambah luas setelah smeua sayuran dipanen.
Sekarang ada tiga petak ladang didalam Ruang Saji.
Aran memilih untuk menanam sayuran di dua petak yang tersisa juga, agar dia bisa meningkatkan luas lahannya lagi dengan cepat.
Lagian menanam sayuran cuma membutuhkan waktu tiga hari, sedangkan untuk memanen hasil dari palawija bisa sampai setengan bulan.
Setiap level memerlukan sepuluh kali panen, artinya Aran bisa meningkatkan luas lahannya lagi dalam dua belas hari kedepan.
Setelah itu, perlu seratus kali panen membutuhkan seratus kali panen, yang rencananya nanti baru akan menanam biji-bijian.
Keajaiban kembali Aran dapatkan, semua barang yang disimpan dalam gudang tidak akan pernah rusak meski sampai sepuluh tahun.
Mau itu sayuran hijau, buah-buahan, daging, pokoknya semua barang yang jika didunia luar memiliki daya tahan singkat. Digudang akan tetap awet segar.
Awalnya, Aran tidak mau menanam sayuran terlalu banyak, karena khawatir rusak membusuk. Sekarang setelah ia tahu gudang itu memiliki fungsi pengawetan, ia akan memperbanyak stok sayuran sebelum beralih kepalawija.
Suasana hati yang semula berbunga-bunga, bersinar cerah bak mentari pagi. Langsung meredup layu, begitu melihat bubur sayuran encer sebagai jatah menu sarapan.
Hidangan yang layak cuma jatah bagi ayah dan ibu mertua, ketiga putra dan Jinbao. Sedangkan bagian Xiao Jian, ketiga menantu dan cucu perempuan, cuma bagian yang encer tanpa ampas.
"Ibu, apa pembagian makanan itu tidak salah..? menurutku tidak semestinya begini." Aran mengomentari.
Sontak saja, semua pasang mata orang dewasa diruangan itu, menatap Song Aran kaget.
Berbeda dengan Wang Lian, yang langsung ngegas dengan kecepatan 120km per jam.
"Dasar tidak berguna, tidak punya sopan santun..! kau baru menjadi menantu dirumah ini, tapi sudah berani memerintah ibu mertuamu. Kurang ajar..!"
Song Aran menghela nafas, memasang wajah menghiba tertindas.
"Memangnya menurutmu bagaimana pembagian yang benar..? apa semua makanan enak harus untuk kalian berdua..?" tanya Wang Lian.
Aran menggeleng "Jian akan berburu kehutan pegunungan hari ini. Dengan sedikit makanan, bagaimana dia bisa kenyang..? dari mana Jian memiliki kekuatan kalau perutnya saja kosong..?"
"Sialan, berani-beraninya kau meminta tambahan makanan yang bahkan dimeja cuma ada sedikit.?"
Wajah Wang Lin bertambah jelek, dengan tanduk yang keluar dari kepala bersama asap hitam pekat. Dia adalah pemegang kekuasaan dikeluarga Xiao dalam membagi makanan dan selama ini semuanya patuh.
Tapi ini, menantu yang baru tiga hari bergabung, sudah berani mengkritiknya didepan semua anggota keluarga.
Kurang ajar segala...!
"Ibu mertua, biasanya aku juga tidak pernah protes, tapi berburu itu sangat berbahaya." ucap Aran dengan mimik wajah dibuat nelangsa.
"Jika tidak cukup makan, suamiku akan mudah lapar. Kalau sudah begitu, tubuhnya menjadi lemas karena tidak memiliki tenaga. Dengan kondisi seperti itu kalau cuma pulang tanpa hasil bisa dibilang beruntung, tapi bagaimana jika suamiku bertemu bahaya..? apaaku bisa bertahan hidup..?"
Aran menyeka airmata yang dipaksa mengalir karena tak berkedip dalam waktu yang lama.
"Dasar pembawa sial..! omong kosong apa yang kau ucapkan..?" Wang Lian menggebrak meja dengan dada yang kembang kempis.
"Ibu, aku hanya khawatir akan keselamatan suamiku." kata Song Aran tersipu.
"Tidak sia-sia belajar akting, ternyata berguna juga."
Xiao Jian mengulurkan tangan, menepuk kepala Song Aran lembut.
"Kalau begitu aku tidak akan pergi. Kita baru saja menikah, mana mungkin aku tega membuatmu mati karena cemas. Aku akan pergi keladang saja, walau pun tidak ada yang bisa dihasilkan."
"Kau, apa kau sungguh sudah melupakan ibumu setelah menikah..?" marah Wang Lian menoleh pada suaminya.
"Pak Tua, kau lihat sendiri kan..? anak itu makin kurang ajar saja."
Xiao Heng menghela nafas "pergilah kedapur, buatkan suamimu beberapa pancake untuk dibawanya ke gunung." ia menoleh ke Wang Lian.
"Ambilkan tepung dan bahan lainnya untuk istri putra sulung." titah Xiao Heng.
Kepala Xiao Heng kembali sakit mendengar pertengkaran ibu dan menantunya, terutama ketika putra sulungnya mengatakan tidak mau pergi berburu.
Makanya Xiao Heng lebih baik mengalah, dari pada tidak ada pemasukan ke gudang harta keluarga.
"Terimakasih karena ternyata ayah masih peduli pada Suamiku." sarkas Song Aran tersenyum, menghabiskan semangkuk bubur sayur liar encer dalam sekali teguk.
"Ibu mertua..!" seru lirih Aran mengulurkan tangan guna meminta bahan panekuk.
Wang Lian begitu amat murka, tapi ia tidak mungkin tetap keras hati. Ia pun memberikan semangkuk dedak yang dicampur dengan bubuk kulit pohon elm.
Song Aran tertegun cukup lama, menatap dedak ditangannya. Keluarga Xiao tidak mungkin semiskin itu, kan..?
Tepung dedak ini sangat kasar dan sulit ditelan, walau bisa mengenyangkan perut dalam waktu.
Keluarga Xiao hidup cukup baik, mereka bahkan memiliki seekor sapi yang bahkan makananannya saja jauh lebih baik dari Xiao Jian.
Aran mengambil sedikit terigu putih, mencampurnya dengan tepung biji-bijian lain dari Ruang Saji , menguleninya, lalu mendiamkannya agar berfermentasi.
Selanjutnya, Aran memotong beberapa daging olahan serta sayuran acar, terus dicampur keadonan, digulung, dan mulai membuat panekuk.
Untuk tepung dedak, Aran buat terpisah dengan campuran akar sayuran liar.
Daging olahan itu sangat harum. Meski cuma sedikit, dan dicincang halus, aroma samar tercium sampai kehalaman.
Dalam satu wajannya besar, Aran memasak panekuk tepung dedak dan panekuk daging olahan sekaligus.
Karena panekuknya digulung sangat tipis, jadi peroses matangnya cepat. Aromanya kian kental mengudara, memenuhi rumah keluarga Xiao.
"Nenek, aku mau daging..!" rengek Jinbao, menarik lengan baju Wang Lian.
"Aku mencium bau daging, wanita itu pasti mengambilnya didapur." teriak bocah itu dengan air liurnya menetes deras dari kedua sudut mulutnya.
"Jinbao, jangan berlari..! sini, nenek akan menggendongmu."
Wang Lian, yang juga mencium aroma daging, segera mengangkat Jinbao, berjalan tergesa.
Song Aran langsung menyimpan pai daging kering ke Ruang Saji, begitu mendengar rengekan Jinbao mendekati dapur.
Aroma daging yang samar tadi perlahan menghilang ke udara.
Jinbao masih berteriak sekuat tenaga ketika Wang Jinlian mendobrak pintu dapur.
"Hanya membuat panekuk saja kenapa sampai menutup pintu..? apa yang sedang kau sembunyikan..?"
"Apa ibu membutuhkan sesuatu..?" tanya balik Aran.
Mata Wang Lian melirik kewajan, merotasi dapur guna mencari barang bukti.
"Aku mau daging..!" teriak Jinbao, meronta dari gendongan neneknya.
Aran memasang wajah bingung "Jinbao, dimana ada daging..? bibi cuma membuat panekuk dari tepung dedak, apa Jinbao mau mencobanya..?"
Hidung Wang Lian mengendus udara dalam-dalam, tapi tidak ada aroma daging.
Dahi wanita itu mengernyit, apa itu hanya halusinasi..?
Wang Lian menatap Song Aran curiga, mengambil pancake lalu ia teliti.
Tidak ada daging, itu cuma panekuk dedak sayuran liar biasa.
"Ran'er, apa panekuknya sudah siap..? sudah waktunya berangkat." seru Xiao Jian dari halaman dapur.
Wang Zhaoi yang mendengar tangisan putranya juga pergi ke dapur.
"Jinbao, berhenti merengek. Kita akan menunggu pamanmu berburu, nanti nenek akan membuatkanmu sup ayam." ucap Wang Lian membujuk cucu kesayangannya.
Wang Zhaoi juga mengendus-mengendus udara, tapi tak menemukan jejak wangi daging.
Karena tak mendapati secuil pun makanan yang dicari, Wang Lian dan Wang Zhaoi berlalu pergi, dengan Jinbao yang mengamuk digendongan ibunya.