NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 MENCURI PEMUKUL LONCENG

21 hari.

Itu waktu yang kami punya untuk melakukan hal gila: masuk ke penjara gaib, ngerebut pemukul lonceng dari tangan dedemit, dan maksa dia bunuh diri massal bareng anak buahnya.

Kedengarannya seperti skripsi yang mustahil lulus.

Hari ke-7 sejak purnama. Pagi-pagi buta, kami berenam - aku, Rendi, Bayu, Dina, Fajar, dan Sinta yang sudah pulih total - kumpul di posko. Paklik Joyo gelar tikar pandan lusuh, di atasnya ada kertas, arang, dan sebuah buku tulis kumal bersampul batik.

“Ini catatan Kuncen pertama,” kata Paklik Joyo, suaranya serak. “Almarhum bapak saya. Isinya cara nutup gerbang 50 tahun lalu. Mungkin ada celahnya.”

Kami langsung kerubung. Tulisan di buku itu pakai aksara Jawa campur Arab pegon. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa baca. Mahasiswa kota, lemah di pelajaran muatan lokal.

Paklik Joyo yang terjemahin, sambil jarinya yang keriput menunjuk baris per baris.

“Lonceng Kyai Setan Kober ada di ruang paling dalam. Dijaga Mbak Dewi, si ‘Sipir’. Pemukulnya...” Paklik Joyo berhenti, menghela napas. “...dibuat dari tulang paha tumbal pertama. Dulu, 50 tahun lalu, tumbal pertamanya adalah anak si Kuncen sendiri. Namanya... Genduk.”

Gila. Untuk nutup gerbang pertama aja, si Kuncen harus ngorbanin anaknya sendiri. Pantes desa ini dikutuk.

“Pemukul itu tidak bisa dipegang manusia biasa. Panas. Melelehkan kulit,” lanjut Paklik Joyo. “Hanya bisa dipegang sama ‘Sipir’ atau... keturunannya.”

Keturunan Mbak Dewi? Mbak Dewi mati perawan, mana ada keturunan.

Kecuali...

“Mbak Dewi punya adik,” bisik Sinta tiba-tiba. Kami semua menoleh. “Waktu di bawah... Ardi nunjuk ke satu tahanan. Cewek, muda, mukanya mirip Mbak Dewi. Ardi bisik-bisik tanpa suara... ‘adiknya’.”

Adik Mbak Dewi juga jadi tumbal? Sekeluarga habis dong.

Ini petunjuk pertama. Kalau kita bisa bebasin adiknya Mbak Dewi dulu, mungkin dia bisa pegang pemukul itu.

“Masalah kedua,” Paklik Joyo membalik halaman. “Tujuh Penabuh Gamelan itu bukan dedemit sembarangan. Mereka ‘Batalyon’. Dulu mereka tujuh bromocorah yang ngebunuh Kuncen pertama setelah gerbang ditutup. Sebagai hukuman, mereka dikutuk jadi penjaga, tidak bisa mati, tidak bisa bebas, sampai ada 7 tumbal baru yang gantiin mereka.”

Jadi misi kita malah nguntungin mereka? Kita bebasin 7 bromocorah itu?

“Tidak,” potong Paklik Joyo seolah baca pikiranku. “Kalau Lonceng dipukul, semua penghuni penjara hancur jadi abu. Termasuk tujuh penabuh, Mbak Dewi, Ardi... semua. Itu risikonya. Gerbang ketutup, tapi semua tumbal lama juga ‘dipensiunkan’. Permanen.”

Ardi... harus mati untuk bebas.

Dadaku sesak. Tapi kalau tidak, kami berlima yang nyusul dia. Dan purnama berikutnya, lima orang lain lagi. Rantai setan ini tidak akan putus.

“Jadi rencananya gimana?” tanya Rendi. Dia sudah mode ketua KKN, pegang arang, siap corat-coret strategi di kertas.

Paklik Joyo menghela napas lagi. “Kita harus masuk pas gerbang lemah. Kapan? Pas purnama. Tapi purnama depan ‘mereka’ jaga ketat karena mau nagih. Satu-satunya celah... purnama hitam.”

“Purnama hitam?”

“Purnama yang ketutup gerhana. Besok malam. Tanggal 28 April. Cuma 15 menit. Di situ, kekuatan ‘mereka’ paling lemah. Mbak Dewi dan para penabuh harus tidur untuk isi energi. Gerbang tidak terkunci, tapi dijaga sama... ‘Anjing Gerbang’.”

Anjing Gerbang. Apalagi itu.

“Pokoknya besar. Hitam. Matanya merah. Gak bisa mati, tapi bisa diusir pakai...” Paklik Joyo membuka halaman terakhir. Kosong. “...di sini sobek. Bapak saya tidak nulis.”

Bangke. Di bagian paling penting, malah sobek.

Tapi kami dapat 2 info penting:

Waktu eksekusi: besok malam, pas gerhana, 15 menit.

Target pertama: cari adiknya Mbak Dewi di penjara, rebut pemukul.

Siang itu kami bagi tugas. Aku, Rendi, Bayu ke sumur. Mau ukur kedalaman, lihat situasi. Dina, Fajar, Sinta ke rumah Paklik Joyo, bongkar gudang, siapa tahu ada catatan lain.

Sumur tua itu diameternya 2 meter. Bibir sumur terbuat dari batu andesit berlumut. Di salah satu batu, ada pahatan aksara Jawa yang kata Paklik Joyo artinya “Lawang Pati”. Pintu Kematian.

Aku menjatuhkan batu kecil. Satu... dua... tiga... empat... lima detik baru ada suara ‘plung’. Dalam sekali. Minimal 20 meter.

“Gimana turunnya?” tanya Bayu.

Rendi menunjuk ke pohon kamboja di sebelah sumur. Melilit di batangnya, ada tali tambang besar seukuran lengan. Tali itu tua, tapi masih kuat. Ujungnya menjulur masuk ke dalam sumur, hilang di kegelapan.

“Tali ini yang dipakai Ardi,” gumamku. Aku ingat pas Ardi turun di Bab 3.

Bayu iseng narik talinya. Kencang. Seperti ada yang megang dari bawah.

Tiba-tiba...

Tali itu disentak kencang dari bawah. ZRAKKK!

Bayu hampir jatuh ke dalam sumur kalau tidak kutarik kerahnya. Jantungku mau copot.

Dari dalam sumur, terdengar suara. Berat, menggema, seperti dari dasar neraka.

“...BALIK... LAGI...”

Itu suara Ardi. Tapi bukan Ardi yang kami kenal. Dingin, tanpa emosi.

Kami bertiga lari terbirit-birit kembali ke posko. Misi survei gagal total.

Di posko, tim cewek juga bawa kabar buruk. Gudang Paklik Joyo kosong. Tapi Sinta nemu sesuatu di bawah lemari. Foto lama, hitam putih, sudah menguning.

Foto dua orang cewek. Satu cantik, senyumnya lembut, pakai kebaya. Itu pasti Mbak Dewi. Satunya lagi lebih muda, wajahnya mirip, tapi sorot matanya tajam, pemberontak. Rambutnya dipotong pendek sebahu, tidak umum untuk cewek desa jaman dulu.

Di belakang foto ada tulisan pakai pensil: “Dewi & Lestari - 1998”.

Lestari. Nama adiknya Mbak Dewi.

“Dia yang harus kita cari,” kataku.

Malam tiba. Gerhana purnama dimulai jam 01.00 sampai 01.15. Kami punya 15 menit.

Paklik Joyo kasih kami masing-masing satu kantong kain kecil berisi garam kasar, irisan kunyit, dan bawang putih tunggal. “Penangkal standar. Jangan sampai lepas dari badan.”

Dia juga kasih Rendi sebuah keris kecil, bukan keris beneran, lebih mirip tusuk konde tapi dari kuningan. “Ini bukan buat nusuk, Le. Buat ngetok tanah 3 kali kalau kalian kejepit. Nanti bapak usahakan buka jalur dari atas. Tapi cuma bisa sekali.”

Jam 00.50. Kami berenam berdiri muter di bibir sumur. Paklik Joyo komat-kamit baca doa di posko, tidak boleh ikut. Katanya, kalau dia ikut, “Anjing Gerbang” langsung bangun.

Jam 01.00.

Bulan yang tadinya purnama bulat sempurna, mulai digigit hitam dari samping. Gerhana dimulai.

Bersamaan dengan itu, angin berhenti total. Suara jangkrik mati. Heningnya beda. Ini heningnya dunia lain.

Dan dari dalam sumur, terdengar suara... dengkuran. Berat, panjang, seperti mesin diesel.

Anjing Gerbang. Dia tidur.

Rendi mengikatkan tali tambang ke pinggangnya. “Aku duluan. Kalau 5 menit aku gak naik atau gak kasih kode, tarik aku.”

“Gak. Bareng,” kataku. “15 menit cuma cukup kalau kita bareng. Kita turun berenam.”

Gila memang. Tapi ini satu-satunya cara.

Kami ikat pinggang kami semua jadi satu ke tali tambang itu. Kayak mau arung jeram, tapi ini arung maut.

Sinta yang paling ringan, di posisi paling atas. Aku di paling bawah.

“Bismillah...” Rendi mulai turun.

Satu per satu kami masuk ke lubang hitam itu. Dinding sumur licin, berlumut, bau anyir dan karat. Tali tambang terasa dingin, seperti es.

Semakin turun, dengkuran itu semakin keras. GRRRHHHH... GRRRHHHH...

Di kedalaman 10 meter, ada sebuah ceruk di dinding sumur. Dari situ, bau busuk menyengat keluar. Dan di dalam ceruk itu, meringkuk, ada sosoknya.

Anjing Gerbang.

Besarnya seukuran sapi. Bulunya hitam legam, gimbal, dan basah. Kepalanya tidak seperti anjing. Lebih mirip kepala banteng, tapi matanya... matanya ada tiga. Merah semua, dan semuanya merem. Tidur. Dari moncongnya menetes liur kental yang jatuh ke bawah, ke dasar sumur.

Kami tidak napas. Pelan-pelan, sentimeter demi sentimeter, kami turun melewatinya.

Satu tetes keringat Bayu jatuh. Tes.

Tepat di hidung Anjing Gerbang.

Mata merahnya yang di tengah... membuka sedikit.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!