"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suasana di dalam mobil sedan mewah itu terasa begitu padat, seolah udara pun segan untuk mengalir. Azel fokus pada kemudi, matanya menatap lurus ke depan, sementara Runa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Di pangkuannya, buku nikah itu masih ia genggam erat—terasa sangat berat, lebih berat dari beban pekerjaannya di sekolah.
Hening. Hanya ada suara gesekan ban mobil dengan aspal dan deru halus AC.
Azel sesekali melirik dari sudut matanya. Ia melihat pantulan wajah Runa di kaca jendela. Mata wanita itu tampak kosong, menatap deretan lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Azel ingin mengatakan sesuatu soal kabar meninggalnya Ibu Runa, tapi lidahnya terasa kelu. Ada rasa bersalah yang menusuk, ia merasa bodoh karena selama ini menganggap Runa meninggalkannya untuk hidup bahagia, padahal wanita ini sedang hancur lebur sendirian.
"Zel..." suara Runa memecah keheningan, sangat tipis hampir seperti bisikan.
"Ya?"
"Makasih ya. Tadi... sudah bicara baik-baik sama Ayah. Aku nggak tahu gimana cara jelasinnya kalau aku sendirian yang datang." Runa menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya. "Dan soal Ibuku... maaf aku nggak pernah kasih tahu kamu dulu."
Azel mempererat genggamannya pada setir. Rahangnya mengeras. "Bukan salahmu. Aku yang nggak ada di sana."
Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elit yang dijaga ketat. Pohon-pohon besar yang tertata rapi memayungi jalanan, membuat suasana semakin sunyi dan intimidatif bagi Runa.
"Keluargamu... benar-benar mau menerimaku?" tanya Runa lagi, kali ini nada suaranya penuh keraguan. "Maksudku, kamu lihat sendiri kan rumahku tadi? Aku cuma punya satu koper baju di bagasi mobilmu sekarang. Aku merasa... nggak pantas."
Azel menginjak rem perlahan saat mobil mereka sampai di depan gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap Runa dengan tatapan intens yang membuat Runa terpaku.
"Runa, dengar," suara Azel berat dan dalam. "Di rumah ini, nggak ada yang peduli berapa banyak barang yang kamu bawa atau berapa digit saldo rekeningmu. Mamaku sudah menunggumu sejak aku bilang aku akan membawa 'Runa' pulang. Jadi, berhenti memikirkan hal-hal yang nggak perlu."
Azel berhenti sejenak, lalu tangannya bergerak ke arah dashboard, mengambil sebuah botol air mineral dan membukakan tutupnya sebelum diserahkan ke Runa.
"Minum dulu. Bibirmu kering lagi. Jangan sampai Mama mengira aku menculik pengungsi kelaparan."
Runa menerima botol itu, sedikit mendengus mendengar sindiran Azel. Setidaknya, sikap tsundere pria itu sedikit mengurangi rasa gugupnya.
Mobil mulai melewati halaman luas yang dipenuhi tanaman hias yang terawat cantik. Di depan pintu utama rumah bergaya klasik modern itu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan namun wajah yang sangat hangat sudah berdiri dengan senyum lebar.
"Itu Mama," kata Azel sambil mematikan mesin. "Ingat, Runa. Kamu istriku sekarang. Secara hukum, secara sah. Jadi, tegakkan bahumu. Jangan terlihat seperti orang yang sedang berutang nyawa padaku."
Azel turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Runa—sebuah gerak-gerik yang bagi orang lain mungkin terlihat sopan, tapi bagi Runa, itu adalah cara Azel memastikan bahwa ia tidak akan lari atau pingsan saat kakinya menyentuh lantai rumah keluarga Zelbarra.
"Azel! Runa!" seru Mama Azel sambil berlari kecil menyambut mereka.
Runa menarik napas dalam-dalam, mencoba menyiapkan mentalnya untuk masuk ke dalam dunia Azel yang sesungguhnya. Dunia yang selama ini selalu ia anggap sebagai mimpi yang tidak mungkin ia gapai.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣