Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Perjodohan
"habis darimana ndra, ayah liat kamu dianterin Satya" ucap ayah yang sedang membaca koran di ruang keluarga.
"siapa yang diantar Satya?" tambah ibu, yang muncul dari pintu dapur dengan sepiring pisang goreng hangat.
"sini duduk dulu nak, ayah mau ngobrol" ucap ayah menyuruhku untuk segera duduk.
aku berjalan menuju tempat dimana ayah dan ibu sedang duduk santai. Jantungku kian berpacu seiring menipisnya jarak antara aku, ayah dan ibu. Aku menghempaskan bokong dengan perlahan di sofa.
"Sandra habis dari rumah sakit yah, Bu. Raisya sakit, tadi dia minta Sandra buat jemput sandrina ke sekolah". Aku menjelaskan dengan perlahan. Aku sangat takut disangka kalau aku ini masih memiliki perasaan dengan Satya yang notebenya sekarang sudah menjadi suami Raisya. Aku takut ayah dan ibu menyangka kalau aku dan Satya memilki hubungan.
"terus tadi waktu Sandra mau pulang, Raisya memaksa Sandra untuk diantar pulang oleh kak Satya. Sandra sudah menolak tapi Raisya tetap kukuh dengan alasan sudah malam, rawan begal katanya. Sebenarnya Sandra gak enak sama kak Satya tap Raisya yang terus terusan memaksa" ucapku sambil menatap ayah dan ibu bergantian.
"Raisya sakit apa ndra?, kemarin ibu dengar dia lagi ngidam"
"Sandra gak tau Bu, Raisya tidak memberi tahu Sandra perihal sakitnya, tapi sepertinya itu bukan sakit biasa, dilihat dari perawatannya banyak sekali alat-alat yang menempel di tubuh Sandra" ucapku tidak terasa air mata jatuh kembali.
"Innalillahi, terus sekarang keadaanya gimana ndra?. Ibu turut prihatin"
"sekarang sudah mulai stabil Bu, tapi masih lemah".
Ayah yang sedari tadi ikut menyimak, kemudian melipat koran yang sedang dibacanya. Ia melepas kacamatanya dan menghela nafas pelan.
"semoga keadaan nak Raisya cepat pulih" ucapnya
ayah dan ibu memang orang yang penyayang—sangat. Ketika Satya dan Raisya datang kerumah ibu dan ayah selalu menyambut dengan baik, dan sudah menganggap sahabat-sahabatku itu sebagai anak.
"nanti kita tengok kesana yah Bu" lanjut ayah.
"ndra, terlepas dari rasa sedihmu. Kamu harus tetap semangat menjalani hidup, nak umur kamu sudah 28 nak. ayah dan ibu sudah tidak muda lagi, ayah harap untuk kali ini kamu bisa menerima perjodohan dari ayah".
Dug dug dug
Jantung ku terasa mau loncat, sudah berapa kali ayah bertanya akan hal ini, tetapi untuk malam ini sepertinya cukup serius.
"besok Dewa akan datang kesini untuk melamarmu nak, ayah harap kamu bisa menerimanya. Untuk kali ini ayah mohon nak, dewa adalah sosok yang berwibawa. Dia sangat cocok sama kamu" ucap ayah, kemudian menyeruput secangkir teh hangat.
Aku melirik ibu yang kini sudah menatapku dengan raut wajah yang sulit diartikan, mungkin ada sedihnya namun bingung ibu tidak bisa apa-apa.
"iya yah, Sandra siap" ucapku lemah tidak bertenaga.
"kalau gitu Sandra pamit mau istirahat"
***
Setelah bersih-bersih dan menunaikan kewajiban aku merebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Perkataan ayah memenuhi otakku, bikin ku sesak dan pusing. Namun harus bagaimana, benar kata ayah umurku sudah menginjak 28 tahun usia yang matang untuk menikah.
Sosok yang bernama dewa berkelebat di pandanganku, aku sudah lama mengenalnya. Dewa adalah rekan bisnis papa, sering juga dia datang ke rumah hanya untuk mengobrol santai dengan ayah. Sudah lama ayah menjodohkanku dengan dewa, sosok laki laki yang dewasa berusia 35 tahun sudah pernah menikah namun katanya ia di khianati oleh istrinya. Ya Dewa adalah duda. Dewa memang tampan, perawakannya tinggi tegap tidak kalah dengan ketampanan Satya. Eh kok aku jadi bandingin dewa sama Satya si. Namun setiap kali aku jalan bersama dewa, aku merasa kurang srek. candaannya tidak masuk denganku, kita tidak satu frekuensi. Itulah yang menjadi keraguanku untuk menerima dewa.
Aku menggulir ponselku entah kenapa malam ini aku ingin menjelajahi isi galeri ponselku, untuk menghilangkan rasa panik yang terus menyerang.
jemariku secara tidak sadar menekan album kita bertiga, aku Satya dan Raisya.
hatiku kembali berdesir saat melihat satu foto yang dimana kita sedang naik gunung. foto itu menggambarkan kita bertiga yang susah payah menaiki tebing gunung yang licin. Tangan Satya yang menarik erat tanganku, sementara Raisya memeluk tubuhku, di foto sana aku melihat Satya yang sedang menertawakanku yang panik tidak bisa menaiki tebing gunung.
Foto satu lagi. Saat kita sudah mencapai puncak, posisiku berada di tengah Satya di sebelah kananku dan Raisya di sebelah kiriku, disana terlihat Satya yang berpose candid telunjuknya menyentuh ujung upluk yang ku kenakan, dia berpose seolah menertawakan bentuk upluk yang ada Boneka beruangnya di ujung.
Ah aku jadi kangen masa masa itu, kini sudah berbeda. aku sudah merasa canggung oleh kak Satya.
Astaghfirullah kenapa bayangan lelaki itu terus muncul dikepalaku. Ingan ndra itu suami sahabatmu.
Aku merutuki pikiranku, bukannya sedikit plong malah tambah runyam. Arghhh rasanya kepalaku akan meledak.