Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kaivan Mulai Merasa Gila
Kaivan Vittorio adalah pria yang dibangun di atas fondasi logika, strategi, dan angka. Sejak usia muda, ia diajarkan bahwa dunia ini digerakkan oleh hukum sebab-akibat yang nyata. Jika kau menembak, seseorang akan jatuh. Jika kau berinvestasi, kau akan untung. Jika kau dikhianati, kau membalas dendam. Namun, sejak kehadiran Gendis di mansion-nya, fondasi itu tidak hanya retak—ia hancur berkeping-keping, digantikan oleh dunia baru yang sama sekali tidak masuk akal bagi akal sehat seorang bos Mafia.
Malam itu, di dalam kantor pribadinya yang megah di Palermo, Kaivan duduk di balik meja mahoni besarnya dengan botol whisky yang sudah berkurang separuh. Ia sedang menatap tumpukan laporan intelijen, namun matanya terus teralihkan oleh pemandangan di sudut ruangan.
Gendis sedang duduk di lantai, mengelilingi dirinya dengan mangkuk-mangkuk kecil berisi garam, potongan bawang putih, dan... bunga melati. Ia tampak sedang melakukan percakapan serius dengan kursi kosong di depannya.
"Nggak bisa gitu dong, Mas! Mas kan sudah meninggal tahun 1940, masanya sudah habis. Sekarang ini wilayahnya klan Vittorio, jangan main asal geser-geser vas bunga, kasihan pelayan di sini yang harus rapihin terus!" omel Gendis sambil menunjuk-nunjuk kursi kosong itu dengan ulekan kecilnya.
Kaivan memijat pelipisnya. Ia merasa kewarasannya perlahan menguap. "Gendis... kau bicara dengan siapa?"
"Ini lho, Kak! Ada hantu mantan koki di sini yang namanya Luiggi. Dia protes karena saus pasta di dapur sekarang kurang garam. Dia mau saya kasih tahu koki baru Kakak supaya lebih berani pakai bumbu," jawab Gendis tanpa menoleh, masih sibuk menaburkan garam di sekeliling kursi itu.
Kaivan menuangkan whisky lagi ke gelasnya. "Gendis, aku punya perang yang harus diselesaikan dengan Moretti. Aku punya mata-mata yang harus kucari di dalam organisasiku. Dan sekarang, aku harus memikirkan soal koki hantu yang protes soal garam?"
"Ya justru itu, Kak!" Gendis berdiri, mendekati meja Kaivan. "Kakak terlalu stres. Aura Kakak itu sekarang warnanya abu-abu monyet, suram banget! Makanya hantu-hantu di sini jadi pada berani muncul, soalnya mereka pikir Kakak itu salah satu dari mereka yang lupa cara melayang."
Kaivan tertawa pendek, tawa yang terdengar sedikit frustrasi. "Aku mulai merasa gila, Gendis. Benar-benar gila. Kemarin, aku melihat Marco—tangan kananku yang paling tangguh—berlari ketakutan hanya karena melihat sapu lidimu berdiri sendiri di pojok ruangan. Tadi pagi, aku hampir menembak bayangan di cermin karena aku pikir itu Moretti, tapi ternyata itu hanya... kakek buyutku yang sedang latihan pedang?"
"Nah, itu tandanya mata batin Kakak mulai kebuka dikit-dikit!" seru Gendis semangat. "Gara-gara sering nempel sama saya, 'hijab' gaib Kakak jadi agak bolong. Selamat ya, Kak! Selamat datang di dunia tanpa logika!"
Kaivan berdiri, berjalan mendekati Gendis dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Ia memegang bahu gadis itu, menatap matanya dalam-dalam. "Gendis, dengarkan aku. Sebelum kau datang, musuhku hanya manusia. Aku tahu cara membunuh manusia. Tapi sekarang? Aku merasa seperti sedang berperang melawan kabut. Aku tidak tahu mana yang nyata dan mana yang hanya ada di kepalamu... atau di kepalaku."
"Kak..." Gendis menyentuh tangan Kaivan. "Dunia ini emang gila, tapi bukan berarti Kakak jadi gila. Kakak cuma lagi belajar liat sisi lain dari koin yang sama."
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip-kedip hebat. Suhu ruangan turun secara drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap. Kaivan secara refleks mencabut pistol peraknya, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan tajam.
"Gendis! Apa ini?!" geram Kaivan.
Gendis terdiam, wajahnya mendadak serius. Ia tidak lagi tampak semprul. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. "Kak... ini bukan Luiggi. Ini kiriman Moretti lagi. Tapi kali ini bukan peluru."
Dari sudut langit-langit, cairan hitam kental mulai menetes, namun tidak pernah menyentuh lantai. Cairan itu menggantung di udara, membentuk siluet makhluk yang sangat kurus dengan anggota tubuh yang terlalu panjang. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya sebuah lubang besar di tengah kepalanya yang mengeluarkan suara seperti ribuan bisikan orang mati.
"Itu L'Ombra del Peccato—Bayangan Dosa," bisik Gendis. "Moretti menggunakan tumbal manusia untuk manggil ini. Dia mau nyerang mental Kakak, bukan tubuh Kakak."
Kaivan menembakkan pistolnya. DOR! DOR!
Peluru-peluru itu menembus bayangan tersebut tanpa memberikan efek apapun. Bayangan itu malah semakin mendekat, suaranya mulai merambat masuk ke dalam telinga Kaivan, membisikkan kegagalan-kegagalannya, kematian orang tuanya, dan ketakutan terdalamnya.
"Aku... aku tidak bisa menembaknya," gumam Kaivan, tangannya mulai bergetar. "Dia... dia ada di dalam kepalaku!"
Kaivan jatuh berlutut, memegang kepalanya. Pemandangan di sekitarnya mulai berubah. Ruangan kerjanya menghilang, digantikan oleh kobaran api ledakan mobil masa kecilnya. Ia melihat ibunya berteriak, melihat ayahnya tergeletak bersimbah darah.
"Kaivan! Kak! Jangan dengerin!" teriak Gendis.
Gendis segera berlari menuju tasnya dan mengambil botol kecil berisi minyak kayu putih dan seikat bunga melati kering. Ia merobek kain bajunya sendiri, membasahinya dengan minyak, lalu mengikatkannya di dahi Kaivan.
"Kak! Fokus ke saya! Fokus ke bau minyak kayu putih ini! Ini bau kehidupan, bukan bau kematian!" Gendis memeluk kepala Kaivan, menempelkan keningnya ke kening pria itu.
"Sakit, Gendis... mereka bilang ini semua salahku..." rintih Kaivan.
"BUKAN! ITU BOHONG!" Gendis mulai merapalkan mantra Jawa yang paling keras yang pernah ia tahu. "Maringo urip, adohno pati! Setan belegedhu, minggir kowe! Ojo ganggu satriane aku!"
Gendis merasa tubuhnya panas. Ia menggunakan seluruh energinya untuk menjadi tameng bagi Kaivan. Di mata indigo Gendis, ia melihat bayangan hitam itu sedang mencoba merobek aura emas milik Kaivan. Dengan kemarahan yang meluap, Gendis menyambar ulekan batu kecilnya—satu-satunya sisa "senjata" dapurnya—dan melemparnya tepat ke arah lubang di kepala bayangan itu.
"Makan nih oleh-oleh dari pasar tradisional!"
Saat ulekan itu mengenai bayangan tersebut, terdengar suara lengkingan yang memecahkan kaca jendela mansion. Cahaya putih menyilaukan meledak dari pusat ruangan.
Perlahan, kegelapan itu memudar. Suara bisikan itu hilang. Lampu kembali menyala terang.
Kaivan tersengal-sengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia masih berada di pelukan Gendis, mencengkeram lengan gadis itu seolah-olah ia adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas.
"Sudah pergi... dia sudah pergi, Kak," bisik Gendis lemas. Ia ambruk di samping Kaivan, energinya terkuras habis.
Kaivan menatap sekeliling. Kantornya kembali normal, kecuali pecahan kaca jendela dan vas bunga yang tumpah. Ia menatap Gendis yang pucat pasi. Rasa gila yang tadi menyerangnya kini berganti menjadi rasa takut yang murni—takut kehilangan gadis yang baru saja menyelamatkan jiwanya dari kegelapan abadi.
"Gendis..." Kaivan menggendong Gendis dan mendudukkannya di sofa. "Kau gila. Kau benar-benar gila karena melakukan itu."
Gendis tersenyum tipis, matanya sayu. "Kita kan satu tim, Kak. Kalau Kakak gila, saya nggak punya bos yang bisa dimintain seblak. Itu lebih menyeramkan daripada setan tadi."
Kaivan terdiam, lalu ia tertawa. Kali ini bukan tawa frustrasi, tapi tawa lega yang tulus. Ia duduk di samping Gendis, membiarkan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Kau benar," ucap Kaivan pelan. "Dunia ini memang tidak masuk akal. Dan mungkin, untuk bertahan hidup di dunia ini, aku juga harus sedikit gila seperti kau."
"Selamat bergabung di klub, Kak," gumam Gendis sebelum akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan.
Kaivan menatap Gendis lama sekali. Ia mengambil kain yang tadi diikatkan Gendis di dahinya—kain yang beraroma minyak kayu putih tajam. Aroma itu, yang biasanya ia benci karena terlalu menusuk, kini menjadi aroma paling menenangkan di dunia baginya. Aroma yang menariknya kembali dari jurang kegilaan.
Ia meraih ponselnya dan menelepon Marco.
"Tuan? Anda baik-baik saja? Kami mendengar suara ledakan," suara Marco terdengar panik di seberang sana.
"Marco, pasang penjagaan dua kali lipat di luar kamar Gendis. Dan besok pagi, beli seluruh stok bunga melati dan bawang putih yang ada di Palermo," perintah Kaivan dengan nada dingin yang kembali berwibawa.
"Melati dan... bawang putih, Tuan? Apakah kita akan membuka restoran baru?" tanya Marco bingung.
"Bukan. Kita sedang mempersiapkan gudang senjata baru," jawab Kaivan.
Kaivan menutup teleponnya. Ia menatap ke arah kursi kosong tempat "Luiggi" si koki hantu tadi berada. Kali ini, Kaivan tidak memejamkan mata atau merasa takut. Ia malah mengangkat gelas whisky-nya ke arah kursi itu.
"Luiggi, besok akan kupastikan koki baruku memakai lebih banyak garam. Tapi jika kau mengganggu Gendis lagi, aku akan menyuruhnya menyebetmu dengan sapu lidi," ancam Kaivan pada udara kosong.
Sesaat, ia merasa suhu di dekatnya sedikit menghangat, seolah-olah sang koki hantu sedang tertawa.
Malam itu, Kaivan Vittorio resmi berhenti mencoba menjadi rasional. Ia menerima bahwa hidupnya kini adalah perpaduan antara peluru kaliber 9mm dan kekuatan doa indigo. Dan anehnya, di tengah semua kegilaan itu, ia merasa jauh lebih waras dan hidup daripada sebelumnya.
Karena terkadang, kau harus kehilangan akal sehatmu untuk bisa menemukan hatimu. Dan bagi sang Raja Mafia, hati itu kini berada di tangan seorang gadis indigo yang tertidur lelap sambil memegang sepotong ulekan batu.
aku like banget
seribu jempol
aku like...