NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

***

Malam kian larut di Desa Sukamaju. Suara serangga malam yang biasanya terdengar seperti nyanyian tenang, kini terasa menyayat telinga Laras. Makan malam tadi adalah momen yang paling menyiksa. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, tanpa ada satu pun kata yang terucap. Anak-anak yang biasanya riuh, seolah bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua orang tuanya, sehingga mereka memilih cepat-cepat menghabiskan makanan dan pergi ke kamar.

Laras kini duduk di pinggir ranjang kayu jati yang besar. Napasnya terdengar sedikit berat, dadanya terasa sesak seiring dengan perutnya yang kian menegang. Ia menuangkan minyak urut ke tangannya, mencoba meraih pergelangan kakinya yang membengkak parah. Kulitnya terasa kencang dan nyeri saat ditekan. Setiap kali ia mencoba membungkuk, bayinya menendang kuat, membuat Laras meringis menahan sakit di pinggang bawahnya.

Pintu kamar terbuka pelan. Bagas masuk, sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan sarung. Ia tidak langsung naik ke ranjang. Secara mengejutkan, Bagas justru duduk bersila di lantai, tepat di depan kaki Laras yang bengkak.

"Sini, biar Mas saja," ucap Bagas lembut. Ia mengambil botol minyak dari tangan Laras.

Laras sempat ingin menarik kakinya, namun Bagas memegangnya dengan erat namun hati-hati. Jemari kekar suaminya mulai memijat perlahan, sebuah perhatian yang seharusnya terasa manis, namun kini terasa hambar bagi Laras.

"Ras..." Bagas memulai pembicaraan tanpa mendongak. Ia fokus pada pijatannya. "Soal perkataanku di malam pertama kita... soal anak banyak... Mas sadar itu terdengar seperti tuntutan yang egois."

Laras diam, menatap puncak kepala suaminya dengan tatapan kosong.

"Mas ini anak tunggal, Ras. Sejak kecil, Mas tumbuh di rumah yang besar ini hanya sendirian. Mas yatim piatu sekarang, Mas nggak punya saudara untuk berbagi beban. Ketakutan terbesar Mas bukan soal garis keturunan yang hilang, tapi ketakutan akan kesepian yang mencekik," suara Bagas sedikit bergetar. "Mas ingin punya banyak anak karena Mas ingin rumah ini selalu ramai. Mas ingin kamu selalu punya teman, punya pelindung, kalau suatu saat nanti Mas sudah nggak ada. Mas nggak mau kamu merasakan sepi yang Mas rasakan dulu."

Bagas menghentikan pijatannya sejenak, lalu mendongak menatap istrinya. "Mas tahu Mas sering menuntut banyak hal. Mas tahu Mas sering menganggap pengabdianmu itu sudah sewajarnya. Tapi Mas ingin kamu tahu... Mas menghargai kamu lebih dari sekadar pengurus rumah ini."

Laras masih bergeming, namun matanya mulai berkaca-kaca.

"Setelah kamu melahirkan nanti," lanjut Bagas dengan nada yang lebih sungguh-sungguh, "Mas ingin kamu kembali ke bukumu. Kamu bisa kursus desain, atau kita cari cara supaya kamu bisa sekolah lagi. Mas nggak mau kamu merasa kecil hanya karena ijazah SMA itu. Kamu itu pintar, Ras. Bakatmu di buku sketsa itu luar biasa, Mas baru benar-benar menyadarinya sekarang."

Bukannya merasa lega atau senang mendengarnya, Laras justru merasakan sebuah lubang besar di ulu hatinya kian menganga. Tawaran kursus desain dan alasan "kesepian" itu terasa seperti obat penenang yang diberikan untuk pasien yang sudah sekarat.

Laras menarik kakinya dari pangkuan Bagas. Ia duduk tegak, menahan nyeri di tulang ekornya. Untuk pertama kalinya, ia menatap Bagas dengan sorot mata yang sangat dalam, menembus pertahanan pria itu.

"Kursus desain?" bisik Laras parau. "Sekolah lagi?"

"Iya, Ras. Mas serius. Mas akan dukung apa pun yang kamu mau," jawab Bagas cepat, mencoba meyakinkan.

"Mas melakukan itu semua karena merasa bersalah? Atau karena Mas ingin membayar rasa lelah Laras selama lima tahun ini?" Laras menggeleng pelan. "Laras nggak butuh sekolah lagi kalau tujuannya cuma supaya Laras merasa 'selevel' dengan Mas Bagas atau perempuan-perempuan sarjana di luar sana."

Bagas tertegun. "Mas nggak bermaksud begitu—"

"Mas..." Laras memotong, suaranya kini terdengar sangat dingin namun sarat akan kepedihan. "Mas tadi bilang, Mas ingin rumah ini ramai supaya Laras nggak sepi. Mas bilang Mas ingin punya banyak anak supaya ada yang melindungi Laras. Tapi di semua alasan Mas tadi, Laras nggak mendengar satu pun kata tentang perasaan Mas ke Laras.

Suasana kamar mendadak menjadi sangat kaku. Suara detak jam dinding seolah menjadi detak jantung yang berpacu.

Laras menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Laras mau tanya satu hal, dan tolong... jangan jawab sebagai Kepala Desa atau sebagai anak tunggal yang kesepian. Jawab sebagai laki-laki."

Bagas terdiam, matanya terkunci pada mata Laras.

"Apa Mas mencintai Laras? Bukan sebagai ibu dari anak-anak Mas... bukan sebagai pengurus rumah dinas Mas yang telaten... tapi mencintai Laras sebagai wanita Mas? Sebagai manusia yang namanya Larasati Pramesti?"

Hening.

Keheningan itu terasa begitu berat, seolah dinding kamar jati itu mulai menghimpit mereka. Bagas tampak terpaku. Lidahnya yang biasanya begitu fasih berpidato di depan warga, kini terasa kelu. Ia menatap wajah Laras—wajah yang selama lima tahun ini selalu menyambutnya dengan senyum patuh, wajah yang telah melahirkan dua jagoannya dan kini sedang mengandung yang ketiga.

Bagas mencoba membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit; selama ini ia memang mencintai "keberadaan" Laras, ia mencintai "kenyamanan" yang diberikan Laras, ia mencintai "peran" Laras. Tapi apakah ia mencintai jiwa Laras secara murni?

Bagas tidak bisa segera menjawab. Ia terbiasa menganggap cinta adalah pengabdian dan kehadiran fisik, bukan sebuah pengakuan emosional yang mendalam.

Melihat keterdiaman suaminya, Laras perlahan memalingkan wajahnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh membasahi daster batiknya. Keheningan Bagas adalah jawaban yang paling jujur sekaligus paling menghancurkan bagi Laras.

"Laras mengerti, Mas," ucap Laras sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.

"Ras, bukan begitu maksudku, aku cuma..." Bagas mencoba meraih tangan Laras, namun Laras menariknya perlahan.

"Laras mau istirahat, Mas. Perut Laras kencang sekali," Laras berbaring membelakangi Bagas, meringkuk sambil memeluk perut besarnya.

Bagas tetap terduduk di lantai, menatap punggung istrinya yang bergetar karena tangis tertahan. Ia merasa menjadi pria yang paling bodoh dan gagal malam itu. Ia memenangkan banyak hal di desa, namun ia baru saja kalah telak dalam mempertahankan satu hal yang paling penting: kepercayaan istrinya pada cintanya.

Malam di Desa Sukamaju berlanjut dengan kesunyian yang mencekam di kamar utama. Di balik pintu yang tertutup, ada dua jiwa yang berada di satu ranjang, namun terpisah oleh jurang kejujuran yang tak mampu terjembatani.

****

Bersambung....

Sad banget yaa jadi Laras Hu hu hu....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!