Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Pagi di mansion Menteng tak lagi menyisakan sisa-sisa kehangatan dari malam-malam di Paris maupun drama es krim di Senopati. Sejak diagnosa Iqbal menggema di kamar utama, atmosfer rumah megah itu mendadak membeku, kembali ke setelan pabriknya sunyi, kaku, dan penuh perhitungan.
Darma Mangkuluhur kembali menjadi sosok Kulkas Berjalan dengan intensitas yang lebih parah. Jika sebelumnya ia adalah pria yang dingin, kini ia adalah pria yang menghindar.
Karina terbangun saat fajar baru saja menyingsing. Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Kosong. Bahkan bantal yang biasanya menyisakan aroma sandalwood milik suaminya kini sudah tertata rapi, seolah tak pernah ada nyawa yang berbaring di sana.
"Lagi-lagi dia pergi sebelum aku membuka mata," bisik Karina parau.
Ia memaksakan diri untuk bangun. Rasa mual itu kembali datang, memilin ulu hatinya. Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi. Tidak ada lagi tangan kokoh yang memijat tengkuknya, tidak ada lagi suara bariton yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Yang ada hanya pantulan wajahnya yang pucat di cermin marmer dan suara air yang mengalir.
Siang harinya, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Karina.
TING.
[Bank Central: Saldo Masuk Rp 10.000.000.000,00 dari Rekening Hutomo Mangkuluhur. Keterangan: Bonus Kontrak Tahap II.]
Karina menatap angka nol yang berderet di layarnya dengan tatapan kosong. Sepuluh miliar. Angka yang fantastis bagi banyak orang, namun bagi Karina, angka itu terasa seperti label harga pada rahimnya. Sesuai dengan draf kontrak perjanjian yang dulu pernah ia baca selintas, keberhasilan mengandung ahli waris akan memicu pencairan bonus eksklusif.
"Sepuluh miliar untuk sebuah nyawa," gumam Karina getir. Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. "Kenapa rasanya sesak sekali?"
Alih-alih merasa kaya, Karina merasa murah. Ia merasa seperti mesin inkubator kelas atas yang baru saja mendapatkan biaya perawatan pertama.
Seharian itu, Karina hanya meringkuk di pojok sofa ruang tengah. Ia menolak semua makanan yang disiapkan oleh koki pribadi. Aroma nasi goreng, sup ayam, bahkan bau kopi yang biasanya ia sukai, kini membuatnya ingin muntah. Hanya satu hal yang bisa ia telan: Es krim matcha.
Ia menyendok es krim hijau pekat itu dengan pandangan hampa. Pelayan di rumah itu hanya bisa menatapnya dengan iba dari kejauhan, tak berani mendekat karena instruksi Darma sangat jelas Berikan Ibu ruang. Jangan ganggu jika tidak diminta.
Pukul sebelas malam, deru mesin mobil mewah terdengar di lobi. Karina yang belum bisa memejamkan mata sengaja menunggu di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram.
Pintu terbuka. Darma masuk dengan jas yang masih terkancing rapi, namun wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Ia sempat terhenti saat melihat Karina duduk di sana, memegang cup es krim matchanya yang sudah hampir habis.
"Kenapa belum tidur?" tanya Darma datar. Ia bahkan tidak mendekat, berdiri sejauh tiga meter dari istrinya.
Karina mendongak, matanya yang sembab menatap Darma dengan tajam. "Uang sepuluh miliar sudah masuk ke rekening saya sore tadi, Mas. Terima kasih atas 'pembayaran' tepat waktunya."
Darma menghela napas, ia melepas jam tangan Patek Philippe-nya. "Itu hakmu sesuai perjanjian. Simpan saja untuk kebutuhanmu."
"Kebutuhan saya?" Karina tertawa mengejek, suaranya bergetar. "Jadi, apakah sekarang tugasku hanya diam di kamar ini sampai anak ini lahir? Menjadi inkubator pasif sementara kamu sibuk menghindari aku seolah kehamilan ini adalah wabah mematikan?"
Darma akhirnya menatap Karina, namun matanya tetap sedingin es batu. "Saya tidak menghindari kamu, Karina. Saya hanya memberimu ruang. Bukankah itu yang tertulis di kontrak? Kenyamananmu adalah prioritas, dan kehadiran saya sepertinya hanya membuatmu stres setelah kejadian pingsan tempo hari."
"Bohong!" teriak Karina. Ia berdiri, meski kakinya sedikit gemetar. "Mas menghindar karena Mas bingung, kan? Mas menghindar karena Mas tidak mau mengakui kalau anak ini ada! Mas menikahiku hanya sebagai strategi, dan sekarang ada nyawa asli di sini yang tidak bisa Mas hapus dengan tanda tangan kontrak!"
"Jaga bicaramu, Karina," suara Darma merendah, sebuah tanda ancaman. "Saya sudah menyiapkan dokter terbaik, nutrisi terbaik, dan keamanan berlapis untukmu. Apa lagi yang kurang?"
"Yang kurang adalah suamiku!" Karina berjalan mendekat, menantang aura dingin Darma. "Sejak tahu aku hamil, Mas bahkan tidak berani menatap mataku lebih dari lima detik. Mas berangkat sebelum aku bangun dan pulang saat aku sudah hampir pingsan karena kelelahan menunggu. Mas takut? Takut kalau Mas beneran punya hati?"
Darma terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa menjawab bahwa setiap kali ia melihat Karina, ia melihat sebuah variabel yang tak sanggup ia kendalikan. Ia tidak tahu bagaimana cara menjadi ayah, ia hanya tahu cara menjadi CEO. Dan melihat Karina yang rapuh karena hormon kehamilan membuatnya merasa tidak berdaya sesuatu yang sangat ia benci.
"Saya hanya melakukan apa yang logis," sahut Darma akhirnya. "Kehadiran saya hanya akan memicu ketegangan emosional yang tidak baik untuk janin itu. Lebih baik saya fokus mengamankan posisi ayahmu di pemerintahan agar anak ini lahir di lingkungan yang stabil."
"Logis... selalu logis," Karina mengusap air matanya dengan kasar. "Mas benar-benar tidak punya perasaan. Mas memperlakukan kehamilan ini seperti proyek pembangunan resor di Bali. Terukur, dibiayai, dan dipantau dari jauh."
Karina berbalik, melangkah menuju tangga. "Terima kasih sepuluh miliarnya, Pak Darma Mangkuluhur. Saya akan pastikan aset Anda tumbuh dengan baik di dalam sini. Tapi jangan harap Anda akan mendapatkan senyum saya lagi, karena bagi saya, Anda sekarang tak lebih dari sekadar investor yang menyewa rahim saya."
Darma hanya berdiri mematung di tengah ruangan yang sunyi itu. Ia menatap punggung Karina yang menjauh dengan rasa sesak yang tak sanggup ia definisikan. Tangannya terkepal di samping tubuh.
Ia ingin mengejar, ia ingin memeluk, tapi egonya yang setinggi langit dan hatinya yang telah lama membeku mencegahnya. Baginya, mengakui perasaan adalah sebuah kelemahan. Dan di dunia Old Money, kelemahan adalah awal dari kehancuran.
Malam itu, di mansion Menteng yang megah, dua orang yang terikat janji suci tidur di kamar yang berbeda. Yang satu menangis dalam kesepian mood swing yang luar biasa, sementara yang lain menatap kegelapan malam dengan kebingungan yang membakar jiwa.
Sarang serigala yang tadinya mulai hangat, kini kembali menjadi sangkar emas yang dingin dan mematikan.
****
Bersambung...
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁