NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KEPULANGAN SANG PENAKLUK

Gemerlap lampu Jakarta dari jendela pesawat yang mulai merendah tampak seperti hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam. Namun bagi Larasati, cahaya itu tidak lagi menyilaukan. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela; kulitnya sedikit lebih gelap karena matahari desa, matanya jauh lebih jernih, dan tidak ada lagi ketegangan yang membuat rahangnya kaku. Ia pulang bukan untuk membalas dendam, karena dendam itu sudah tuntas. Ia pulang untuk membangun kembali reruntuhan yang selama ini ia sebut sebagai warisan.

"Sudah siap, Laras?" tanya Aditama yang duduk di kursi seberangnya. Pria itu tampak sibuk memeriksa jadwal di tabletnya. "Wartawan sudah menunggu di bandara, dan dewan komisaris sudah berkumpul di kantor pusat sejak satu jam yang lalu. Mereka haus akan jawaban tentang dana abadi itu."

Larasati merapikan blazer hitamnya yang elegan namun sederhana. "Biarkan mereka haus, Adit. Selama sepuluh tahun mereka membiarkan perusahaan ini dikuras oleh benalu. Sekarang, mereka harus belajar bahwa pemilik yang sebenarnya telah kembali, dan aku tidak datang untuk membagikan dividen buta."

Begitu pintu kedatangan terbuka, kilatan lampu kamera menyambar-nyambar seperti badai petir. Larasati berjalan dengan langkah tenang, didampingi Aditama. Ia tidak berhenti untuk wawancara, ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki. Di luar, sebuah mobil hitam sudah menunggu, namun kali ini bukan mobil operasional kantor, melainkan mobil pribadi milik ayahnya yang dulu sempat disita dan kini berhasil ia beli kembali dari balai lelang.

"Ke kantor pusat, Pak," perintah Larasati kepada supirnya.

Gedung Hardianto Group tampak berdiri angkuh di bawah sinar bulan. Namun di dalamnya, suasananya sangat kacau. Di ruang rapat utama, lima orang komisaris senior sedang berdebat sengit. Mereka adalah orang-orang yang dulu memilih "diam" saat Tuan Kusuma berkuasa, asalkan kantong mereka tetap tebal.

Larasati masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Suasana seketika hening. Ia berjalan menuju kursi utama—kursi yang dulu diduduki ayahnya, lalu Tuan Pratama, dan terakhir Tuan Kusuma. Ia menggeser kursi itu sedikit, lalu duduk dengan tenang.

"Selamat malam, Bapak-Bapak sekalian," ucap Larasati, suaranya lembut namun memiliki getaran yang membuat ruangan itu terasa sempit. "Saya dengar ada yang sedang mengkhawatirkan dana abadi ayah saya?"

Tuan Hendrawan, komisaris tertua yang tersisa, berdehem mencoba menguasai keadaan. "Larasati... kami senang kamu kembali. Masalah dana itu... perusahaan sedang butuh likuiditas besar untuk menutup kerugian akibat skandal Kusuma. Kami harap kamu bisa segera mencairkannya untuk menambal lubang di neraca keuangan kita."

Larasati mengeluarkan sebuah map kulit dari tasnya. Ia melemparkannya ke tengah meja. "Neraca keuangan itu bocor karena kalian membiarkan tikus-tikus besar berpesta di dalamnya. Dana abadi ayah saya tidak diciptakan untuk menambal kesalahan kalian. Dana itu adalah modal untuk membangun Hardianto Baru."

"Apa maksudmu?" tanya komisaris lainnya.

"Mulai hari ini, saya memberlakukan audit menyeluruh. Siapa pun yang terbukti menerima aliran dana dari yayasan Tuan Kusuma, silakan letakkan surat pengunduran diri di meja saya sebelum matahari terbit," tegas Larasati. "Dan soal dana abadi itu... saya akan menggunakannya untuk membeli kembali saham-saham yang kalian pegang. Saya ingin Hardianto Group kembali menjadi perusahaan keluarga yang tertutup. Saya tidak butuh investor yang tidak punya integritas."

Ruangan itu meledak dalam protes. Mereka berteriak tentang hak pemegang saham, tentang hukum perusahaan, dan tentang jasa-jasa mereka. Larasati hanya diam, menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang membuat nyali mereka menciut.

"Kalian bicara soal jasa?" Larasati berdiri, kedua tangannya menumpu di meja. "Saat ayah saya sekarat, di mana kalian? Saat saya dipaksa menjadi 'istri kedua' untuk menyelamatkan nama baik perusahaan, di mana kalian? Kalian hanya penonton yang menunggu siapa yang menang agar bisa menjilat pemenangnya. Sekarang, pemenangnya adalah saya. Dan saya tidak butuh jilatan kalian."

Ia berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan para pria tua itu dalam ketakutan yang nyata. Di koridor, ia bertemu dengan Aditama yang sudah menyiapkan tim hukum.

"Lakukan sesuai rencana, Adit. Ambil alih semua aset yang dialihkan secara ilegal. Jangan beri mereka celah," perintah Larasati.

Malam semakin larut saat Larasati sampai di apartemennya yang dulu. Ia merasa sangat lelah, namun hatinya tenang. Ia merindukan udara dingin Ngargoyoso, ia merindukan suara sungai, dan yang paling utama, ia merindukan Baskara.

Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor yang sangat ia hafal.

"Halo, Baskara?" bisik Larasati saat sambungan tersambung.

"Aku di sini, Laras," suara Baskara terdengar hangat, seolah-olah ia sedang berdiri tepat di belakangnya. "Bagaimana harimu di medan perang?"

Larasati duduk di lantai balkon, menatap lampu-lampu kota. "Melelahkan. Mereka lebih rakus dari yang kubayangkan. Tapi aku sudah memberikan pukulan pertama."

"Jangan biarkan mereka mengubahmu kembali menjadi wanita yang dingin, Laras," pesan Baskara. "Ingat pesan ayahmu. Jadilah cahaya. Cahaya tidak menghancurkan kegelapan dengan kekerasan, ia hanya datang dan kegelapan pun hilang dengan sendirinya."

Larasati tersenyum, air mata haru menggenang di matanya. "Aku merindukanmu, Baskara. Kapan jembatan itu selesai?"

"Dua hari lagi, Laras. Begitu batu terakhir diletakkan, aku akan langsung menyusulmu. Aku sudah menyiapkan semua berkas untuk membuka kantor kontraktorku di Jakarta. Kita akan berjuang berdampingan, seperti janji kita."

Percakapan itu berlangsung lama, hingga Larasati merasa kekuatannya kembali penuh. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki Aditama yang setia, ia memiliki kenangan ayahnya yang suci, dan ia memiliki cinta Baskara yang nyata.

Namun, di kegelapan sel penjara, Tuan Kusuma tidak tinggal diam. Meskipun tangannya diborgol, pengaruhnya masih merayap keluar. Lewat seorang pengacara yang korup, ia mengirimkan pesan kepada seseorang yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang—seseorang yang memiliki motif dendam yang lebih dalam dari Maya.

Di sebuah rumah tua di pinggiran Jakarta, seorang wanita paruh baya menatap foto Larasati di surat kabar. Ia adalah Ibu tiri Maya, istri pertama Tuan Pratama yang selama ini diasingkan.

"Jadi, ini putri Hardianto yang menghancurkan keluargaku?" gumam wanita itu. Namanya adalah Lastri. Berbeda dengan Maya yang meledak-ledak, Lastri adalah seorang manipulator yang tenang. Ia telah kehilangan segalanya—suaminya dipenjara, hartanya disita, dan martabatnya hancur.

Ia mengambil sebuah korek api dan membakar foto Larasati tepat di bagian wajahnya. "Kamu mungkin menang melawan Kusuma, Larasati. Tapi kamu belum pernah bertemu denganku. Kamu telah mengambil istanaku, sekarang aku akan mengambil nyawamu."

Lastri tidak tertarik pada harta. Ia hanya tertarik pada kehancuran total. Dan ia tahu, titik lemah Larasati bukanlah perusahaannya, melainkan pria yang sedang membangun jembatan di lereng gunung itu.

Larasati terbangun keesokan paginya dengan perasaan waspada yang tidak biasa. Ia melihat ke arah balkon dan menemukan seekor burung merpati yang mati dengan leher terikat pita merah—simbol ancaman lama yang biasa digunakan oleh kelompok preman bayaran Tuan Pratama dulu.

Ia tidak gemetar. Ia tidak menelepon polisi dengan histeris. Ia hanya mengambil pita merah itu, menggenggamnya kuat-kuat, dan menatap ke arah matahari terbit.

"Datanglah," tantang Larasati dalam hati. "Aku sudah melalui neraka untuk sampai di sini. Jika kalian ingin membakar dunia ini sekali lagi, pastikan kalian siap untuk ikut hangus bersamaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!