NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jejak Digital di Laboratorium

​"Dokter Airine, Anda terlihat... berbeda pagi ini. Apakah tukang bakso itu memberi Anda ramuan ajaib?"

​Suara Renata yang melengking menyambut Airine tepat di depan pintu lift lantai lima. Renata berdiri di sana dengan segelas kopi mahal di tangannya, menatap Airine dari ujung kepala sampai ujung kaki. Airine mengenakan blazer biru tua yang tegas, matanya tidak lagi sembab seperti semalam. Ada ketenangan yang dingin di wajahnya.

​Airine berhenti tepat di depan kakak tirinya. "Dia memberiku sesuatu yang tidak pernah kuterima di rumah ini, Renata. Ketenangan. Dan sebuah saran: untuk berhenti membuang waktu meladeni parasit sepertimu."

​Wajah Renata memerah. "Kurang ajar! Kamu pikir karena kamu punya suami jalanan itu, kamu bisa bicara seenaknya? Papa sedang menyiapkan audit ulang untuk semua tindakan medismu bulan lalu. Kami akan mencari celah sekecil apa pun untuk menendangmu dari sini!"

​"Silakan dicoba," sahut Airine santai sambil melangkah melewati Renata. "Tapi pastikan Papa juga sudah menyiapkan pengacara untuk dirinya sendiri. Kudengar, beberapa stok bahan baku di laboratorium farmasi kita tidak sinkron dengan laporan pajak. Bukankah itu menarik?"

​Renata tertegun, kopinya hampir tumpah. "Dari mana kamu...?"

​Airine tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju ruangannya, namun langkahnya terhenti saat melihat Nata—yang kini memakai seragam petugas kebersihan rumah sakit berwarna abu-abu—sedang mengepel lantai di dekat pintu masuk laboratorium utama.

​"Nata? Apa yang kamu lakukan di sini dengan baju itu?" bisik Airine sambil menarik Nata ke sudut yang agak sepi.

​Nata menatapnya datar, tangannya masih memegang gagang pel. "Pangkalan baksoku sedang libur. Aku butuh uang tambahan, jadi aku melamar jadi tenaga harian di sini melalui kenalanku. Kenapa? Malu punya suami petugas kebersihan?"

​"Bukan begitu! Tapi ini terlalu berbahaya. Jika Reo atau Ayah melihatmu, mereka akan semakin menghinaku," Airine tampak cemas, matanya melirik ke sana kemari.

​"Biarkan saja mereka menghina. Setidaknya dengan baju ini, aku bisa masuk ke ruangan yang tidak bisa dimasuki dokter cantik sepertimu," ucap Nata pelan, suaranya berubah menjadi sangat serius selama satu detik sebelum kembali santai. "Pergilah ke ruanganmu. Jangan terlalu sering bicara denganku di sini, nanti orang curiga."

​Airine menghela napas, ia menyerahkan sebuah kartu akses kecil ke tangan Nata. "Ini kartu cadanganku. Jika kamu benar-benar ingin 'membersihkan' tempat ini, gunakan ini untuk masuk ke ruang arsip jika keadaan mendesak. Tapi tolong, jangan buat keributan."

​Nata menerima kartu itu, menyelipkannya ke dalam saku celananya. "Terima kasih, Istriku. Sekarang, kembali bekerja. Pasienmu sudah menunggu."

​Begitu Airine menghilang di balik pintu otomatis, Nata segera memutar tubuhnya. Ia tidak mengepel lantai ke arah koridor, melainkan menuju pintu samping laboratorium farmasi yang dijaga ketat oleh sensor biometrik.

​Ia menyentuh jam tangannya. "Bypass protokol keamanan pintu 4-B. Aku masuk dalam tiga detik."

​"Diterima, Komandan. Jalur bersih selama tiga puluh detik."

​Nata masuk dengan gerakan sangat halus. Di dalam, bau bahan kimia yang menyengat menyambutnya. Ia melewati deretan tabung reaksi dan mesin-mesin canggih hingga sampai di sebuah komputer sentral yang tersembunyi di balik ruang penyimpanan bahan baku.

​Ia memasukkan sebuah flashdisk kecil ke port belakang komputer tersebut. Layar monitor berkedip cepat, menampilkan ribuan baris kode yang sedang ditembus oleh tim intelijennya di pusat komando.

​"Dapatkan data pengiriman 'Cobra-9'. Aku tahu Reo menyimpan catatan aslinya di sini," gumam Nata.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Nata segera mencabut flashdisk-nya dan bersembunyi di balik lemari pendingin besar yang berisi sampel jaringan.

​Pintu terbuka. Reo masuk bersama seorang pria asing yang mengenakan jas hitam rapi.

​"Aku sudah bilang, Tuan Shen, pengirimannya akan lewat jalur ambulans besok malam," ucap Reo dengan nada suara yang sangat gugup. "Airine mulai curiga. Dia menyebut-nyebut soal audit di depan ayahnya semalam."

​"Itu masalahmu, Reo," sahut pria bernama Tuan Shen itu dengan aksen asing yang kental. "Organisasi kami tidak suka penundaan. Jika wanita itu mengganggu, singkirkan dia. Sama seperti cara kita menyingkirkan ibunya dulu. Kamu yang menyuntikkan zat itu, kan?"

​Nata yang berada di balik lemari membeku. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Jadi benar, Reo adalah orang yang mengeksekusi ibu Airine. Tangannya meraba pisau lipat di sakunya, hampir saja ia melompat keluar untuk mengakhiri hidup Reo saat itu juga. Namun, ia menahan diri. Ia butuh bukti lebih besar untuk menghancurkan seluruh sindikat ini.

​"Aku... aku tidak punya pilihan! Shena yang memerintahkanku!" bantah Reo. "Tapi Airine sekarang punya suami baru. Seorang tukang bakso, tapi dia sangat aneh. Dia tahu soal audit."

​Tuan Shen tertawa dingin. "Tukang bakso? Kamu takut pada tukang bakso? Besok malam, saat transaksi di gudang farmasi selesai, pastikan Airine dan suaminya itu menghilang selamanya. Aku akan mengirim orang-orangku untuk membantu 'membersihkan' mereka."

​Reo mengangguk gemetar. "Baik. Aku akan pastikan mereka berada di gudang besok malam."

​Setelah mereka pergi dan suara pintu terkunci terdengar, Nata keluar dari persembunyiannya. Matanya merah karena amarah yang tertahan. Ia segera menekan alat komunikasinya.

​"Target terkonfirmasi. Reo dan sindikat Black Cobra berencana mengeksekusi Airine besok malam di gudang farmasi sektor C," ucap Nata, suaranya kini sepenuhnya suara Komandan Arnold Dexter yang mematikan.

​"Perintah, Komandan?"

​"Siapkan pasukan Delta. Kita tidak hanya akan menggagalkan transaksi ini. Kita akan meratakan mereka semua. Dan pastikan Airine tetap aman dalam pantauan."

​Nata keluar dari laboratorium dengan wajah lempeng, kembali memegang alat pelnya seolah tidak terjadi apa-apa. Di koridor, ia berpapasan dengan Airine yang baru saja selesai memeriksa pasien.

​Airine menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Nata, kamu tidak apa-apa? Wajahmu terlihat sangat pucat."

​Nata berhenti sejenak, menatap mata Airine yang jernih—mata yang tidak tahu bahwa pria yang ia cintai dulu adalah pembunuh ibunya. Nata meraih tangan Airine, meremasnya pelan.

​"Airine, apa pun yang terjadi besok, jangan pernah pergi ke gudang farmasi tanpa aku. Paham?"

​Airine mengerutkan dahi. "Kenapa? Ada apa di gudang?"

​"Cukup turuti kata-kataku jika kamu masih ingin melihat aku berjualan bakso lagi," ucap Nata setengah bercanda untuk menutupi ketegangannya.

​"Kamu aneh sekali hari ini," gumam Airine, namun ia mengangguk.

​Nata tersenyum tipis, lalu melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Di dalam hatinya, ia sudah membuat janji: Besok malam, darah akan tumpah, dan Airine akan mendapatkan keadilannya—meski itu berarti aku harus mengotori tanganku lebih dalam lagi.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!