Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5 — Pertemuan dengan Paman
Mobil berhenti perlahan di depan rumah keluarga Brawijaya, rumah lama yang sudah terlalu sering menjadi saksi kehilangan. Angin sore membawa aroma tanah basah, dan suara gemerisik pohon mangga di halaman seakan berbisik sesuatu yang tidak ingin didengar.
Dimas turun lebih dulu, kemudian membantu Aluna keluar dari mobil. Gadis itu berdiri kaku di trotoar, seperti benda rapuh yang mudah pecah. Matanya yang kosong sesekali bergerak cepat, mengikuti bayangan yang hanya ia sendiri yang bisa lihat.
“Aluna,” bisik Dimas, “kita sudah sampai di rumah. Tempatmu dulu.”
Tidak ada jawaban.
Hanya napas pendek dan pucat yang bertahan di wajahnya.
Digo, di kursi roda, memandangi adiknya dengan campuran haru dan takut. “Ya Tuhan,” gumamnya, “dia benar-benar pulang.”
Namun harapan Dimas bahwa Aluna akan merasa aman di rumah sendiri mulai runtuh ketika pintu depan terbuka dengan suara berderit pelan.
Marco berdiri di ambang pintu.
Rambutnya memutih di sisi-sisi, tubuhnya tinggi dan lebar seperti dulu, namun ada garis-garis baru di wajahnya—entah dari usia atau dari rasa bersalah yang tak pernah ia akui.
“Luna…” suara Marco bergetar. “Astaga, Luna kecil…”
Begitu melihat wajah pamannya, Aluna membeku. Sungguh membeku.
Pupilnya menyempit, napasnya tercekat.
Dan sebelum Dimas sempat meraih lengannya, Aluna mundur tiga langkah sekaligus—lalu menjerit.
Jeritan yang tajam, patah, seperti suara seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalu yang tak ingin diakui.
“Tidak… jangan… jangan dekat-dekat!”
Dimas panik. “Aluna, itu paman Marco. Kamu kenal dia, kan? Dia—”
Aluna menutupi telinganya. “Pergi! Jangan sentuh aku! Jangan buka pintunya lagi!”
Marco terpaku, wajahnya memucat seketika.
“A-aku… aku tidak apa-apa, Luna. Paman cuma—”
“JANGAN!”
Jeritan itu lebih keras. Tubuh Aluna bergetar hebat. Matanya menatap Marco seakan ia sedang melihat monster.
Dimas cepat-cepat memeluk bahunya, mencoba menahan tubuhnya yang menggila.
“Aluna! Hei! Lihat aku. Lihat Dimas,” katanya terbata. “Kamu aman. Tidak ada yang menyakitimu di sini.”
Tapi Aluna menggeleng keras. “Dia… dia buka pintunya… dan… dan semua darah itu—” suaranya pecah. “Jangan biarkan dia masuk! Tutup pintunya! TUTUP!”
Marco berdiri membeku, seperti seorang terdakwa yang dituduh kejahatan yang tidak ia ingat. Atau tidak mau diingat.
Digo tampak benar-benar ketakutan. “Apa yang terjadi padanya, Dimas?”
Dimas menelan ludah, mencoba mengatur napas. “Memori traumanya mungkin muncul lagi…” Ia menatap Marco. “Pamanku… Kau yakin tidak pernah—”
Marco langsung mengangkat tangannya, buru-buru menepis tuduhan itu. “Tidak! Demi Tuhan, tidak! Luna… dia seperti anakku sendiri! Aku tidak pernah…”
Namun suaranya meredup, seakan ia sendiri tak yakin dengan ingatannya.
Dimas menggandeng Aluna masuk ke rumah. Gadis itu terus menoleh ke pintu, seolah Marco kapan saja bisa menerobos masuk dan menyeretnya kembali ke mimpi buruk yang tak ia sebutkan.
Digo menghela napas. “Paman, mungkin… jangan dekat-dekat dulu.”
Marco mengangguk pelan. Ia terlihat seperti pria yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. “Benar. Mungkin aku terlalu bersemangat.” Tapi rahangnya mengeras. “Tapi Dimas… dia ketakutan padaku. Dan itu bukan reaksi biasa.”
Dimas diam.
Ia juga merasakan hal yang sama.
Ketakutan Aluna terlalu spesifik. Terlalu dalam.
Bukan sekadar orang asing.
Sesuatu terjadi.
Di masa lalu.
Di antara Aluna dan Marco.
Di ruang tengah, Dimas menuntun Aluna duduk di sofa. Tangannya masih gemetar. Dia berulang kali melihat ke pintu depan, memastikan Marco tidak ada.
“Luna…” Dimas berjongkok di depannya. “Paman Marco tidak akan menyakitimu. Aku ada di sini. Digo ada di sini.”
Aluna menggeleng perlahan, air matanya jatuh. “Jangan biarkan dia buka pintunya… Jangan biarkan dia masuk lagi…”
“Masuk… ke mana, Luna?” tanya Dimas lembut. “Pintu apa?”
Aluna menutup wajahnya. “Pintu kamar… pintu gelap… Dia bawa aku… dia bilang jangan bilang siapa-siapa…” suaranya bergetar. “Ada suara… ada tangan… ada bau… aku tidak mau ingat…”
Dimas terdiam.
Dunia seolah berhenti berputar.
Sania memang sudah memperingatkan.
Trauma Aluna bukan sekadar hilang ingatan.
Ada sesuatu yang disembunyikan.
Sesutu yang mungkin lebih gelap dari dugaan siapa pun.
“Aluna,” Dimas memegang tangannya, “kamu aman sekarang. Tidak ada yang akan membuka pintu mana pun tanpa seizinmu.”
Tetapi Aluna menggeleng keras lagi, memeluk dirinya sendiri. “Dia ada di sana… dia ada di pintu… dia buka pintunya lagi…”
Dimas menatap pintu depan. Marco berdiri di luar, menunduk, kedua tangannya terkepal seperti sedang menahan gempa dalam dirinya sendiri.
Rasa curiga perlahan muncul.
Apakah Marco tahu sesuatu?
Apakah ia bagian dari mimpi buruk dua puluh tahun lalu?
Dimas berdiri dan berjalan ke pintu. Marco menatapnya dengan mata merah. “Aku tidak pernah menyentuhnya, Dimas,” katanya, memotong sebelum ditanya. “Aku bukan monster.”
Dimas melihatnya lama. “Kalau begitu… kenapa dia ketakutan setengah mati melihatmu?”
Marco terdiam.
Dan diamnya terlalu berat untuk menjadi kebetulan.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. Tapi suaranya—tidak meyakinkan sama sekali.
Dimas menutup pintu perlahan.
Di ruang tamu, Aluna masih memeluk dirinya, menggigil.
Pertemuan dengan pamannya seharusnya membawa kehangatan.
Namun justru membuka pintu gelap yang lebih besar.
Dan Dimas mulai sadar:
Rumah ini bukan tempat aman.
Ini ladang kenangan kelam yang siap bangkit satu per satu.