Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - Sertifikat Hak Milik Erlangga
Di kantor Pandji
Aga mondar-mandir di ruangan kerja Pandji seperti orang kesetanan. Jasnya sudah dilepas, kemeja lengan digulung asal, rambutnya acak-acakan.
“Lo bisa diem nggak sih? Gue pusing lihat lo,” protes Pandji kesal sambil memijat pelipisnya.
“Gue kangen banget, Pan! Berat banget!” Aga berhenti di depan meja Pandji, tangannya mengepal di atas dokumen. “Lo bilang ke bokap lo aja, kalau lo yang jemput Gwen hari ini… biar gue bisa gantian jemput dia.”
Pandji mendongak dengan wajah lelah. “Ogah. Besok gue ada sidang pagi-pagi. Kerjaan gue numpuk banget.”
“Plisss… Lo boleh pakai mobil Rolls Royce Phantom gue selama satu minggu. Nggak, satu bulan!” bujuk Aga dengan mata berbinar penuh harap.
Pandji menggeleng tegas. “Bokap gue nggak bakal mau, Aga. Selama dia nggak sibuk, prioritasnya tetap kamu sama Ibu. Lo tahu sendiri kan.”
“Tapi gue kangen…” rengek Aga, suaranya melemah.
Pandji bersandar di kursi, menatap sahabatnya dengan ekspresi antara kasihan dan kesal. “Jaman sekarang udah canggih, Ga. Video call aja.”
"Beda! Video call nggak anget. Gue mau ketemu langsung, mau lihat dia senyum, mau…"
Aga menggantung kalimatnya, tersenyum kecil sambil membayangkan mencium bibir Gwen yang menjadi candunya. Bibir merah lembut yang selalu membuatnya lupa diri setiap kali menyentuhnya. Hanya membayangkannya saja sudah membuat dadanya terasa panas.
“Cih,” Pandji mendengus keras sambil bangkit dari kursi dan merapikan barang-barangnya dengan kasar. “Bilang aja lo mau grepe-grepe kakak gue. Dah, gue mau balik.”
“Balik ke mana?” tanya Aga cepat, suaranya langsung tegang.
“Apartemen lah,” jawab Pandji datar tanpa menoleh.
Aga langsung mendekat, matanya memohon sekaligus memaksa. Tubuhnya menghalangi langkah Pandji. “Lo nggak boleh pulang ke apartemen. Kita ke rumah lo. Gue mau nunggu Gwen di sana. Lo kan adiknya, boleh masuk rumah tanpa izin. Tolong… gue benar-benar nggak bisa tidur malam ini kalau nggak ketemu dia.”
Pandji tidak mendengar. Ia tetap berjalan menuju pintu ruangan dan sudah memegang kenop pintu ketika suara Aga kembali terdengar, kali ini jauh lebih serius dan tegas.
“Pandji.”
Pandji berhenti sejenak, tangannya masih di kenop pintu. Ia menoleh pelan, alisnya terangkat dengan ekspresi kesal yang jelas. “Apa lagi?”
Aga berdiri tegak, napasnya pelan tapi penuh tekad. “Lo mau tahu informasi tentang Ryan Handoko, lawan lo di persidangan besok?”
Pandji langsung berbalik sepenuhnya, alisnya terangkat tinggi. “Serius?”
Aga tersenyum tipis. “Gue bisa kasih bukti yang bakal bikin lo menang telak. Dokumen lengkap, saksi, semuanya.”
Sebelum datang ke kantor Pandji, Aga memang sengaja mencari tahu siapa lawan sahabatnya di persidangan besok. Ia menghabiskan hampir semalaman mengumpulkan dokumen-dokumen krusial itu. Bukan semata-mata demi kemenangan Pandji, melainkan sebagai tiketnya untuk bisa bertemu Gwen malam ini.
Licik memang. Tapi Aga tak peduli. Ia rela melakukan apa saja — bahkan memanipulasi sahabatnya sendiri — demi bisa melihat senyum Gwen dan mencium bibir wanita yang sudah menjadi candunya.
Pandji diam beberapa detik, tampak berpikir keras. Matanya menyipit menatap Aga, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ini jebakan atau bukan. Akhirnya ia menghela napas panjang dan mengacak rambutnya kasar.
“Baiklah. Hari ini gue tidur di rumah. Tapi lo jangan macam-macam ya. Nyokap lagi ke rumah nenek, jadi yang ada di rumah cuma gue sama bokap.”
“Satu macam doang kok,” balas Aga sambil nyengir lebar, matanya berbinar penuh kemenangan.
“Ga, gue serius,” Pandji menatapnya tajam, nada suaranya dingin dan tegas. “Kalau lo macem-macem, gue tendang lo keluar tengah malam juga. Ngerti?”
Aga mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, tapi senyumnya tidak hilang. “Ngerti, bro. Gue janji.”
Pandji mendengus sekali lagi, lalu membuka pintu ruangan lebar-lebar. Udara malam yang sejuk langsung menyusup masuk.
“Dah, buruan keluar. Gue males lama-lama di sini.”
Aga tersenyum puas dan langsung menyusul langkah Pandji keluar ruangan. Hatinyanya sudah jauh lebih ringan. Malam ini ia akan menunggu Gwen di rumahnya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya sabar menahan rindu.
...__KejarTenggat__...
Gwen turun dari mobil ayahnya dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah lembur panjang. Matanya berat, bahu pegal, dan pikirannya masih dipenuhi sketsa resort.
“Capek ya, Nak? Langsung istirahat saja,” kata ayahnya lembut.
“Iya, Yah. Makasih jemputannya. Selamat malam.”
Gwen masuk ke rumah yang sudah gelap gulita. Ia menaiki tangga pelan-pelan, lalu menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Baru saja tangannya hendak menyalakan lampu kecil di nakas, sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang — lembut tapi tegas.
“Shhh… jangan berisik, Baby. Ini aku.”
Gwen terkejut sesaat, tapi aroma parfum mahal Aga yang familiar langsung membuat tubuhnya rileks. Ia berbalik dalam pelukan pria itu.
“Aga? Kamu gila ya masuk kamar aku malam-malam begini?” bisiknya, setengah marah setengah geli.
Aga memeluk pinggang Gwen erat, napasnya sudah berat dan panas menyapu telinga wanita itu. “Aku kangen sekali. Hampir gila seharian. Kamu bilang dikelilingi yang segar-segar… aku nggak bisa berhenti mikirin itu.”
Gwen tersenyum kecil, tapi dalam hati was-was. “Yang segar-segar itu tanaman hias di ruangan tim, Ga. Lagian tim aku kebanyakan perempuan kok,” bohongnya sambil mengelus dada Aga.
Aga tidak menjawab dengan kata. Ia langsung menunduk dan mencium Gwen dengan ganas, penuh kepemilikan. Ciuman itu dalam dan rakus, seolah ingin menegaskan bahwa bibir ini hanya boleh disentuh olehnya. Lidahnya menyusup, menghisap bibir bawah Gwen hingga wanita itu mendesah di dalam mulutnya.
Tangan Aga mencengkeram pinggul Gwen kuat, menarik tubuhnya rapat hingga dada mereka saling menempel. Bibirnya turun ke leher Gwen, mengisap dan menggigit kulit halus itu dengan lapar, meninggalkan jejak-jejak merah gelap yang membengkak.
“Aga… ahh…” Gwen mendesah panjang, kepalanya mendongak memberi akses lebih lebar. Jarinya mencengkeram rambut Aga, tubuhnya melengkung karena sensasi panas yang menjalar cepat.
“Kamu milik aku,” bisik Aga serak di kulit leher yang sudah penuh tanda. “Setiap inci tubuh ini… punya aku.”
Ia mendorong Gwen pelan hingga punggung wanita itu menyentuh kasur. Aga naik ke atasnya, tubuh besarnya menindih dengan dominan. Pinggulnya menekan ke bawah dengan gerakan lambat tapi penuh nafsu yang menuntut. Tangan kirinya menyusup ke bawah baju Gwen, mengusap perut lalu naik ke dada dengan sentuhan posesif.
Tangan kanannya mencengkeram paha Gwen, menarik kakinya agar melingkar erat di pinggangnya. Mereka berciuman lagi, lebih liar, lidah bertautan basah, napas saling bercampur dalam desahan yang tak terbendung.
Aga kembali turun ke leher dan bahu Gwen, meninggalkan lebih banyak tanda merah dengan gigitan dan isapan yang disengaja. Setiap kali gigitan mendarat, ia berbisik parau:
“Ini milik aku… ini juga… dan ini…”
Gwen hanya bisa menggelinjang hebat di bawahnya. Pinggulnya terangkat menyambut tekanan tubuh Aga, kakinya semakin erat melingkar, seolah tubuhnya ikut mengakui klaim itu.
“Kamu milik aku, Gwen,” ulang Aga dengan suara rendah dan berat, dahinya menempel di dahi Gwen. Napas mereka saling berkejaran. “Jangan pernah lupa itu. Siapa pun yang mendekat… aku akan ingatkan mereka bahwa kamu sudah punya pemilik.”
Gwen mengangguk lemah, bibirnya sudah bengkak dan merah, matanya berkabut penuh hasrat. Jarinya mengusap bibir Aga yang basah.
“Aku milik kamu…” bisiknya tersengal.
Aga menciumnya sekali lagi, pelan namun masih penuh kelaparan yang tertahan, sebelum menarik Gwen ke dalam pelukannya yang erat. Tubuh mereka saling menempel rapat, panas, dan sedikit basah oleh keringat tipis.
Malam itu, Gwen melupakan sejenak proyek resort… dan Rama. Ya, ia sengaja menyembunyikan dari Aga bahwa mereka bekerja di tempat yang sama. Tapi sekarang, di balik pintu kamar yang terkunci, tidak ada yang penting selain ini.
Yang tersisa hanyalah bibir Aga yang rakus, tangan yang posesif, dan jejak-jejak panas yang tercetak di kulitnya sebagai bukti kepemilikan.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍