NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Sabtu sore itu, langit di atas desa Agus tampak berwarna jingga kemerahan, sebuah pemandangan yang biasanya ia nikmati sambil menyeruput teh tawar bersama bapaknya. Namun hari ini, warna langit itu seolah-olah menjadi pengingat akan waktu yang terus berjalan menuju jam tujuh malam. Agus berdiri di depan pintu kamar mandinya yang hanya tertutup selembar kain plastik bekas spanduk. Di tangannya, ia memegang sabun batangan yang tinggal seukuran ibu jari.

Ia mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang diambil ibunya tadi siang. Air dingin itu menyentuh kulitnya yang masih terasa panas akibat kelelahan. Agus menggosok lengannya berkali-kali, berusaha memastikan tidak ada sisa debu semen atau bau solar yang menempel. Ia bahkan menyikat kuku-kukunya dengan sikat cuci yang kasar hingga ujung jarinya memerah, berharap noda hitam dari pasar induk semalam bisa hilang sepenuhnya. Baginya, kebersihan adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang bisa ia jaga agar tidak terlihat terlalu menyedihkan di depan orang tua Rahma.

Saat ia mencoba mengenakan celana panjang kainnya, rasa nyeri di pergelangan kaki kirinya kembali menyentak. Agus harus berpegangan pada dinding papan agar tidak jatuh. Bengkaknya memang sedikit menyusut berkat kompresan ibu agus, namun warnanya masih membiru lebam. Ia terpaksa memakai kaus kaki yang agak tebal untuk menyembunyikan bengkak itu, lalu dengan perlahan memasukkan kakinya ke dalam sepatu kets yang kemarin ia lem. Sepatu itu terasa sangat sempit dan menyiksa, namun Agus tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin datang ke perumahan Cempaka Indah dengan memakai sandal jepit swallow miliknya.

"Gus, ini kemejanya sudah Ibu gantung di pintu," suara ibu agus terdengar dari luar.

Agus keluar dari kamar dengan hanya mengenakan celana. Ia melihat kemeja biru tua itu. Di bawah cahaya lampu ruang tengah yang redup, kemeja itu tampak sangat rapi. Ibu agus benar-benar menyetrikanya dengan hati-hati hingga tidak ada satu pun kerutan yang tersisa. Agus memakainya perlahan, mengancingkannya satu per satu. Saat sampai di kancing bagian dada yang ia jahit sendiri dengan benang yang warnanya sedikit berbeda, ia tertegun sejenak. Ia melihat pantulan dirinya di cermin kusam yang tergantung miring.

Wajahnya terlihat lebih tirus. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan, sebuah tanda dari malam-malam panjang yang ia habiskan untuk memikul beban. Ia terlihat seperti seorang laki-laki yang sedang mencoba berpura-pura baik-baik saja, padahal di dalamnya ada banyak hal yang sedang retak.

"Tampan sekali anak Ibu," puji ibu agus dengan suara yang sedikit bergetar. Ia mencoba tersenyum, namun matanya yang sembab menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. "Jangan lupa berdoa, Gus. Bicara yang sopan. Kalau ditanya, jawab jujur saja tapi tetap rendah hati."

Bapak agus yang duduk di kursi kayu mengangguk lemah. "Ingat, Gus. Kamu datang ke sana bukan untuk mengemis. Kamu datang sebagai laki-laki yang punya niat baik. Kalau mereka menghargaimu, syukur. Kalau tidak, pulanglah dengan kepala tegak. Jangan pernah biarkan siapa pun merendahkan martabatmu hanya karena kita tidak punya harta."

Agus mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Ia merasakan tangan ibunya yang kasar dan tangan ayahnya yang dingin. Di dalam saku kemejanya, tersimpan uang dua puluh ribu rupiah uang hasil penjualan beras yang ia terima dengan rasa bersalah yang amat sangat.

Agus menghidupkan motor tuanya. Suara knalpotnya yang meledak-ledak di awal membuat hatinya menciut. Ia segera menarik gas perlahan agar suaranya lebih stabil. Ia berkendara menyusuri gang desa yang gelap dan berlubang, lalu berhenti di sebuah kios bensin eceran di pinggir jalan raya.

"Dua liter, Mas," ucap Agus pada penjual bensin.

Ia memperhatikan cairan kuning itu mengalir melalui selang plastik menuju tangki motornya. Uang dua puluh ribunya kini hanya menyisakan dua lembar dua ribuan sebagai kembalian. Empat ribu rupiah. Itulah total uang tunai yang dimiliki Agus di saku celananya saat menuju rumah wanita yang sangat sempurna di matanya. Ia tidak punya uang untuk membeli martabak manis atau sekadar sekilo jeruk untuk buah tangan. Kepalanya terus berputar, mencari alasan yang paling masuk akal jika nanti ia ditanya mengapa datang dengan tangan kosong.

Perjalanan menuju kota memakan waktu tiga puluh menit. Semakin dekat ia dengan pusat kota, jalanan menjadi semakin mulus dan terang. Lampu-lampu jalan yang berwarna putih terang seolah-olah meneranjangi kemiskinan yang ia bawa dari desa. Motornya yang berasap tipis beberapa kali disalip oleh mobil-mobil mewah yang melaju kencang tanpa suara. Agus memilih untuk berkendara di jalur paling kiri, hampir mepet dengan trotoar.

Hingga akhirnya, ia sampai di depan gerbang besar yang terbuat dari besi tempa berwarna hitam dengan aksen emas. Di atasnya tertulis dengan huruf timbul yang megah: CEMPAKA INDAH.

Seorang petugas keamanan berseragam lengkap dengan rompi hijau menyala melangkah keluar dari pos penjagaan. Ia memegang sebuah tongkat pengatur lalu lintas yang bercahaya merah. Ia menatap motor Agus dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik yang membuat Agus seketika merasa kerdil.

"Malam, Pak. Mau ke rumah siapa?" tanya petugas itu dengan nada bicara yang tegas dan sedikit dingin.

Agus membuka kaca helmnya yang sudah baret-baret. "Malam, Pak. Saya mau ke Blok B nomor 12. Rumah Mbak Nor Rahma."

Petugas itu mengerutkan kening, lalu melihat ke arah buku catatan di tangannya. "Blok B nomor 12 ya? Rumah Pak Hadi?"

"Iya, Pak," jawab Agus singkat. Ia baru tahu kalau nama ayah Rahma adalah Hadi.

"Tunggu sebentar, saya konfirmasi dulu ke dalam," petugas itu masuk ke dalam pos dan mengangkat telepon.

Agus menunggu di depan gerbang. Ia bisa merasakan knalpot motornya yang panas mengenai betisnya yang bengkak, menciptakan rasa perih yang baru. Ia melihat ke arah deretan rumah di dalam perumahan itu. Semuanya besar, bertingkat, dengan taman yang tertata rapi di depannya. Tidak ada suara ayam, tidak ada bau asap kayu bakar, tidak ada tumpukan kayu jemuran. Semuanya terlihat sangat sunyi dan steril.

Beberapa saat kemudian, petugas itu keluar lagi. "Silakan masuk, Mas. Tapi motornya pelan-pelan saja ya, jangan digas kencang-kencang, takut mengganggu ketenangan penghuni lain," ucap petugas itu sambil menekan tombol untuk membuka gerbang otomatis.

"Terima kasih, Pak," ucap Agus pelan.

Ia memasukkan giginya ke posisi satu dan melaju dengan sangat perlahan. Ia merasa seolah-olah sedang memasuki wilayah asing yang tidak menginginkan kehadirannya. Jantungnya berdegup sangat kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi mandor gudang yang marah.

Ia mencari Blok B. Rumah-rumah di sini memiliki nomor yang terukir cantik di atas batu alam. Hingga matanya menangkap angka 12.

Rumah itu terlihat sangat megah dengan cat warna krem yang hangat. Lampu-lampu hias di taman depannya menyala, menyinari berbagai jenis tanaman bunga yang indah. Di garasi rumah itu, terparkir mobil putih yang waktu itu membawa Rahma ke taman kota, ditambah sebuah mobil SUV hitam besar yang tampak sangat gagah.

Agus menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah itu. Ia mematikan mesinnya, namun suaranya seolah masih menggema di telinganya. Ia turun dari motor dengan kaki kiri yang bergetar menahan sakit. Ia merapikan kemejanya sekali lagi, mengusap debu jalanan yang menempel di sepatunya dengan ujung celana bawahnya.

Ia berdiri di depan bel rumah, namun tangannya ragu untuk menekan. Ia melihat ke arah kedua tangannya yang kasar, lalu ke arah rumah megah itu. Rasa ingin pulang tiba-tiba menyerang dengan sangat kuat. Ia merasa dirinya adalah sebuah noda kecil di tengah kain putih yang sangat bersih.

“Hanya kejujuran, Agus. Hanya itu yang kamu punya,” ia membisikkan kata-kata ayahnya di dalam hati.

Dengan tarikan napas yang panjang, Agus akhirnya menekan bel rumah itu. Suara denting bel yang merdu terdengar dari dalam, diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekat. Pintu kayu jati besar itu terbuka, dan sosok Nor Rahma muncul dari balik sana.

Wanita itu mengenakan gamis berwarna biru muda yang serasi dengan kemeja Agus, sebuah kebetulan yang membuat Agus sedikit tersentak. Rahma tersenyum sangat lebar, matanya berbinar melihat kehadiran Agus.

"Mas Agus! Akhirnya sampai juga. Ayo masuk, Mas. Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang makan," sapa Rahma dengan nada yang sangat ramah, seolah-olah ia tidak melihat motor butut Agus atau kemeja luntur yang dikenakannya.

Agus hanya bisa mengangguk kaku. "Malam, Rahma. Maaf saya sedikit terlambat."

"Tidak apa-apa, Mas. Ayo, silakan masuk," ajak Rahma sambil membukakan pagar kecil di samping gerbang utama.

Agus melangkah masuk ke dalam halaman rumah itu. Setiap langkahnya terasa sangat berat, bukan hanya karena kakinya yang bengkak, tapi karena beban mental yang semakin menghimpitnya. Ia melangkah menuju pintu utama, siap menghadapi ujian paling besar dalam hidupnya sebagai seorang laki-laki miskin yang mencintai wanita sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!