Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhenti memperdulikanku
...“Alvaro. Bila kamu tidak bisa mencintainya, tolong jangan membuat dia berburuk sangka denganku. Mengganggap kehadiran ku seperti ancaman, untuk rumah tangganya nanti.” ucap Zhara pelan, ia berdiri membelakanginya, bahunya sedikit menegang....
...“Dan tolong. Jaga hubunganmu dengan calon istrimu, agar tidak ada kesalah pahaman antara kamu dan dia.” suaranya pelan, namun terdengar jelas di antara hening....
...“Baiklah, aku akan berusaha memperbaikinya.” ucapnya pelan, tangganya mengepal....
...“Jika kamu, melihatku menangis lagi. Tolong pura pura tidak melihatku saja, kamu bisa mengabaikanku. Kehadiranmu hanya akan membuat masalah baru, kita sudah tidak pantas saling memberi perhatian apa lagi diam diam bertemu.” ucap Zhara tegas, tapi terasa seperti jarak yang benar benar ditegaskan....
...“Awalnya aku ingin menjelaskan kesalah pahaman antara Viona dan kamu. Aku sangat menyesal Viona menuduhmu, atas sesuatu yang tidak kamu lakukan” jawab Alvaro menjelaskan, berusaha terdengar biasa....
...Napasnya tertahan sejenak, dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang meremas pelan dari dalam....
...“Namun melihatmu terpuruk, hatiku sangat hancur. Aku tidak tahan untuk memeluk dan menenangkanmu.” Suaranya pelan, namun sarat emosi yang tertahan....
...“Aku minta maaf, aku tidak akan mendekatimu lagi, aku akan berusaha.” ucapnya lirih...
...“Iya, aku paham. Ini sudah malam, aku mau pulang.” Zhara berdiri, mengambil tasnya....
...“Aku antar kamu pulang.” Alvaro menatap Zhara....
...“Tolong! Berhenti perduli denganku Alvaro, aku bisa menjaga diriku dengan baik.”...
...“Maafkan aku...” Alvaro menundukkan wajahnya....
...“Aku akan pulang sendiri, aku bawa motor, kamu tidak perlu khawatir” Suara Zhara terdengar tegas, meski masih menyisakan getar halus di ujungnya....
...Alvaro menatap punggungnya, bibirnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan, meski Zhara tak melihatnya....
...“Hati hati Zhara.” ucapnya pelan nyaris tidak terdengar....
...Alvaro menatap kejauhan, kearah punggung Zhara yang perlahan menjauh. Matanya tak lepas dari sosok Zhara yang menaiki motornya, Zhara melaju perlahan tanpa sekali pun menoleh. Lampu motornya semakin menjauh, semakin kecil, Hingga akhirnya menghilang di tikungan....
...Ternyata selama ini Alvaro, tidak pernah benar benar pergi. Ia selalu ada, diam diam memperhatikan setiap aktivitas Zhara, tidak untuk mendekat, tidak untuk mengganggu. Hanya cukup hadir memastikan Zhara baik baik saja....
...Dari kejauhan. Alvaro melihat Zhara yang kelelahan, Alvaro akan berdiri lebih lama dari biasanya, memastikan gadis itu tidak sampai jatuh. Saat langkahnya sedikit goyah, jantung Alvaro seolah ikut terhenti, berharap Zhara tidak dalam keadaan sakit dan jatuh pingsan lagi....
...Bahkan ketika Zhara tersandung kecil, refleks tubuhnya hampir melangkah maju datang menghampiri, hampir saja dirinya memanggil dan menyebut nama Zhara. Tapi ia menahan diri, mengepalkan tangan kuat-kuat. Alvaro sadar ada batas yang harus ia jalani, dan hanya dapat memilih menjaga dari kejauhan....
...Di taman yang sepi. Alvaro melihat Zhara duduk sendiri di bangku kayu, bahunya bergetar pelan, tangannya menutup wajah yang basah oleh air mata. Saat melihat Zhara menangis di taman, ironisnya Alvaro tidak dapat menahan diri untuk menjaga jarak. ia berperang dengan dirinya sendiri, antara menjauh atau mendekati Zhara....
...Terkadang cara terakhir ia mencintai adalah, memastikan orang yang ia sayangi tetap baik baik saja, meski tanpa dia hadir di sisi Zhara. Ia memilih menjadi bayangan, selalu ada, tapi tak terlihat. Selalu menjaga, tapi tak bisa menyentuh....
...Angin malam kembali berhembus mengacak acak rambutnya, Alvaro menghembuskan napas berat, tangannya mengepal kuat di atas pahanya. Perlahan ia menunduk, matanya terpejam sesaat. Perasaan datang campur aduk, tersimpan semua yang ia tahan, rindu, penyesalan, dan perbuatan yang salah, namun tanggung jawab menuntutnya....
...Hanya angin malam yang tersisa, membawa suasana yang kini terasa berbeda. Tanpa Ia sadari, di kejauhan, sebuah mobil terparkir dalam gelap, nyaris menyatu dengan gelapnya malam. Mesinya mati, lampunya padam, di balik kaca yang sedikit terbuka, sepasang mata tajam mengawasi sejak tadi....
...Setiap gerakan Alvaro, setiap ekspresi di wajahnya, semuanya tertangkap jelas. Jemari di dalam mobil itu bergerak pelan, mengetuk permukaan dengan ritme yang tak teratur. Seolah bukan sekadar melihat tapi menilai, dan menyusun sesuatu....
...Viona....
...Ia bersandar di kursi mobilnya, bibirnya terangkat tipis, namun bukan senyuman hangat, melainkan penuh kebencian, dan suasana di sekitarnya terasa tegang....
...“Zhara…” bisiknya pelan...
...Tatapannya tajam hampir seperti racun yang mengalir dalam tiap bola matanya. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang nyaris meledak....
...“Sudah aku duga, wanita itu masih menganggu calon suamiku.” gumannya pelan, tangannya mengepal di atas pangkuannya. Tatapannya kembali tertuju ke arah Alvaro, lalu ke jalan tempat Zhara tadi pergi....
...“Dasar wanita sialan, sok lemah, sok tersakiti. Padahal sudah jelas masih mencari perhatian!” Tangannya mengepal kuat, kukunya hampir menancap di telapak sendiri....
...Tangannya menghantam sandaran kursi, napasnya memburu. Matanya menyala penuh kebencian, seolah bayangan Zhara masih terpatri jelas di hadapannya....
...“Jadi begini dibelakangku, yang satu menjadi penghianat dan yang satu pura pura lugu.” geramnya, suaranya penuh amarah yang tak tertahan....
...“Alvaro. Kau bilang kalian sudah berakhir, tapi masih diam diam menemuinya. Lihat saja Alvaro, wanita sialan itu tidak akan aku biarkan hidup tenang.” ia tersenyum sinis, matanya menyipit....
...“Aku nggak akan biarin kamu rebut, semua yang telah susah payah, aku perjuangkan. Alvaro itu milikku. Calon suamiku!” lanjutnya dengan nada penuh emosi....
...Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Bukan sekadar cemburu, tapi juga rasa terancam yang perlahan mengakar....
...“Kalau kamu tidak mau lepas darinya Alvaro, aku yang akan memastikan semuanya berakhir. Aku tidak akan membunuh mantan sialanmu itu, tapi pelan pelan merusak mentalnya.” bisiknya pelan, hampir seperti ancaman....
...“Sampai pada akhirnya, dia akan memohon mohon di kakiku. Meminta agar semua di akhiri saja, daripada menderita.” Viona tersenyum, dan memiringkan kepalanya, seolah membayangkan sesuatu....
...Viona menarik napas dalam, dan lebih panjang kali ini, lalu menghembuskannya perlahan. Ia bersandar kasar ke kursi, mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan. Napasnya masih tak beraturan naik turun cepat, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung amarah yang berkecamuk....
...“Lihat saja wanita sialan… Aku akan pastikan kamu benar-benar keluar dari hidup Alvaro.” bisiknya pelan, namun penuh tekanan. Senyumnya kembali terukir tenang, namun tatapannya jauh lebih berbahaya....
...Perlahan, ia menyalakan mesin mobil, mobil meraung pelan saat ia menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Lampu menyala, memotong gelap malam, dengan gerakan cepat, mobil itu melaju meninggalkan tempat tersebut, membelah jalan dengan kecepatan tinggi....
...Viona menarik napas kasar, tangannya mencengkeram setir dengan kuat. Wajahnya masih tegang, rahangnya mengeras, matanya lurus ke depan tapi pikirannya jelas penuh rencana yang belum diketahui siapapun....
...Lampu mobilnya semakin menjauh, lalu perlahan menghilang di kegelapan malam, menyisakan suasana sunyi yang kini terasa berbeda....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...