Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang mulai terik menyinari lobi kaca Nasution Property Group. Motor matic hitam Malik berhenti tepat di depan lobi, bersandingan dengan deretan mobil mewah yang harganya mungkin bisa membeli satu komplek perumahan.
Sheila turun dari boncengan, merapikan rok plisketnya yang sedikit berantakan karena angin jalanan. Ia melepaskan helm dan memberikannya kepada Malik dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat pagi Malik terasa lebih ringan.
"Makasih ya, Malik. Kamu hati-hati, kabarin kalau sudah sampai kantor," ucap Sheila lembut.
Malik mengangguk, tangannya terulur mengusap pipi Sheila pelan. "Iya, Sayang. Kamu juga semangat kerjanya. Kalau si Bos tengil itu macam-macam lagi, langsung telepon aku ya?"
Sheila tertawa kecil. "Iya, tenang saja. Aku bisa jaga diri kok. Bye!!"
Sheila melambaikan tangan sampai motor Malik hilang di tikungan jalan. Ia mengembuskan napas panjang, mengumpulkan energi untuk menghadapi hari kedua yang ia yakini tidak akan kalah ajaib dari hari pertama. Dengan langkah mantap, ia membalikkan badan, berniat segera menuju lift agar tidak terlambat.
Namun, baru saja satu langkah ia berputar...
DEG!
"Astaghfirullahaladzim, Bapak! Ngapain sih berdiri di sini?! Bikin kaget saja!" pekik Sheila spontan. Tangannya refleks memegang dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.
Tepat di depannya, hanya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter, Jeremy Nasution berdiri dengan gaya angkuh namun santai. Ia mengenakan setelan jas biru navy yang sangat pas, rambutnya tertata rapi dengan sedikit sisa aroma pomade mahal. Yang paling menyebalkan, ia sedang bersedekap sambil menatap Sheila dengan tatapan "aku-sudah-melihat-semuanya".
"Pagi-pagi sudah dibilang 'Bapak'. Dan pagi-pagi sudah pamer kemesraan di depan kantorku sendiri. Kamu nggak tahu ya ada aturan tidak tertulis dilarang bikin CEO iri?" celetuk Jeremy tanpa rasa bersalah.
Sheila mengatur napasnya, mencoba kembali ke mode kalemnya yang terganggu. "Pak Jeremy, ini area publik. Lagipula aku cuma pamit sama pacar sendiri, masa dilarang?"
"Iya, pamitnya lama banget. Sampai motornya hilang di belokan baru kamu balik badan. Kalau aku nggak berdiri di sini, mungkin kamu bakal dadah-dadah sampai sore," sindir Jeremy sambil mulai berjalan menuju lift, mengisyaratkan Sheila untuk mengikutinya.
Sheila mendengus pelan, mengekor di belakang Jeremy dengan wajah dongkol. "Bapak ngapain di lobi pagi-pagi begini? Biasanya kan CEO datang jam sembilan lewat lift khusus di basement?"
"Sengaja," jawab Jeremy singkat. Ia menekan tombol lift dengan ibu jarinya. "Aku ingin memastikan asisten baruku datang tepat waktu dan tidak dalam kondisi 'galau' karena ditinggal pacar di parkiran."
Pintu lift terbuka. Jeremy masuk, dan Sheila terpaksa masuk juga. Di dalam lift yang hanya berisi mereka berdua, Jeremy kembali beraksi. Ia menatap pantulan Sheila di pintu lift yang mengilap.
"Tugas khusus hari ini, Sheila. Kamu nggak duduk di meja samping Nilam lagi," ucap Jeremy tiba-tiba.
Sheila tersentak. "Loh? Kenapa? Aku kan staf divisi properti, mejaku ya di sana."
"Mulai hari ini, meja kamu dipindah ke depan ruanganku. Aku butuh orang yang cepat tanggap buat urusin berkas-berkas proyek Sentul kemarin. Dan karena kamu yang ikut survei, jadi kamu yang paling tahu detailnya," jelas Jeremy dengan nada profesional yang dibuat-buat, meski ada kilat jahil di matanya.
"Tapi Pak, itu kan biasanya tugas sekretaris Bapak..."
"Sekretarisku lagi cuti nikah. Jadi, untuk sementara, kamu jadi asisten pribadiku. Tenang saja, gaji kamu akan aku sesuaikan. Ada tunjangan 'menghadapi bos tengil' juga kalau kamu mau," Jeremy terkekeh, melirik Sheila yang wajahnya sudah mulai mendung.
"Aku nggak butuh tunjangan itu, Jer... eh, Pak," ralat Sheila cepat. "Aku cuma mau kerja tenang di samping Nilam."
"Hidup itu nggak boleh terlalu tenang, Shei. Nanti cepat tua," Jeremy melangkah keluar saat pintu lift terbuka di lantai 25. "Ayo, ikut aku. Meja baru kamu sudah siap. Ada bunga tulip putih juga di sana, biar kamu nggak bosan lihat mukaku terus."
Sheila hanya bisa pasrah. Ia berjalan menuju meja barunya yang memang terletak persis di depan pintu besar bertuliskan CHIEF EXECUTIVE OFFICER. Benar saja, di sana ada vas bunga kecil dengan tulip putih yang cantik.
Sheila duduk di kursi putar barunya dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja hendak menyalakan komputer saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nilam masuk.
“Shei!!! Kok meja kamu kosong?! Barang-barang kamu dipindah ke lantai atas ya? Wah, fiks ini mah si Jeremy beneran mau 'menculik' kamu dari jangkauanku! Semangat ya di sarang macan! Wkwkwk.”
Sheila mendesah pelan. Ia melirik ke arah pintu ruangan Jeremy yang sedikit terbuka. Dari celah itu, ia bisa melihat Jeremy sedang duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada berkas, melainkan sedang menatap ke arahnya sambil memainkan bolpoin.
Jeremy menyadari Sheila sedang melihatnya. Pria itu kemudian mengangkat telepon kabel di mejanya. Detik kemudian, telepon di meja Sheila berdering.
Sheila mengangkatnya dengan ragu. "Halo?"
"Sheila, buatkan aku kopi hitam. Tanpa gula, tapi pakai ketulusan ya. Oh, dan bawakan ke dalam sekarang. Kita perlu bahas 'masa depan'—maksudku, masa depan proyek kita," suara Jeremy terdengar renyah di seberang telepon.
Sheila memejamkan mata sejenak. "Baik, Pak. Segera."
Sambil berjalan menuju pantry, Sheila membatin, Sabar Sheila, sabar. Ini baru hari kedua. Masih ada ratusan hari lagi kalau kamu nggak resign sekarang juga.
***
Suasana di kafe Bean & Co yang terletak tepat di seberang gedung kantor sangatlah nyaman. Musik indie bervolume rendah dan aroma biji kopi yang baru digiling seharusnya bisa menenangkan saraf siapa pun. Namun, tidak bagi Sheila Maharani. Gadis yang biasanya setenang air di danau itu kini sedang mengaduk-aduk iced latte-nya dengan gerakan yang cukup agresif.
"Aku nggak habis pikir deh sama jalan pikiran CEO tengil itu, Lam! Bisa-bisanya dia sandera aku di depan ruangannya. Meja aku dipindah tanpa permisi, terus tadi pagi? Dia minta dibuatin kopi hitam!" Sheila mengembuskan napas panjang, matanya berapi-api. "Pas aku anterin ke dalam, dia malah bilang: 'Sheila, kopi ini kurang manis, kayaknya gara-gara kamu lupa kasih senyum pas bikinnya.' Kan bikin orang emosi aja!"
Nilam, yang duduk di depan Sheila, hanya bisa meringis sambil menyuap sepotong croissant. "Ya ampun, Shei... Itu mah modus tingkat dewa. Si Jeremy emang nggak ada matinya ya dari zaman kuliah."
"Dulu dia cuma ngejar-ngejar di kantin, sekarang dia punya kuasa buat mindahin meja aku! Kalau gini terus, aku bisa kena darah tinggi sebelum umur dua puluh enam," keluh Sheila lagi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, tidak menyadari bahwa suasana di sekitar meja mereka tiba-tiba menjadi sedikit lebih sunyi.
Sheila tidak melihat bahwa di belakangnya, seorang pria dengan setelan jas mahal yang kancingnya dibuka santai sedang berdiri tegak. Jeremy Nasution. Pria itu baru saja masuk ke kafe yang sama dan tanpa sengaja mendengar namanya disebut dalam nada "penuh cinta" (versi Sheila: penuh emosi).
Jeremy menaruh telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat "sttt" kepada Nilam agar gadis itu tidak membocorkan keberadaannya. Ia ingin mendengar lebih jauh apa saja keluhan asisten barunya itu.
Nilam, yang melihat bos besar berdiri persis di belakang sahabatnya, mendadak membeku. Potongan croissant di tangannya tertahan di udara. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak menatap sosok tinggi tegap yang sedang tersenyum miring di belakang Sheila.
"Kamu kenapa sih, Lam? Tegang banget mukanya? Keselek?" tanya Sheila heran. Ia memajukan tubuhnya, menatap Nilam dengan dahi berkerut. "Atau kamu lihat kecoa lewat?"
Nilam hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Suaranya seolah hilang di tenggorokan. Ia mencoba memberi kode dengan mata, melirik ke arah belakang Sheila berkali-kali, tapi Sheila malah semakin bingung.
"Mata kamu kenapa? Kelilipan? Sini aku tiupin," ucap Sheila polos sambil mulai bangkit dari duduknya.
"E-eh... n-nggak apa-apa, Shei. Itu... anu..." Nilam terbata-bata.
"Anu apa sih? Oh, aku tahu. Kamu pasti mikir aku terlalu keras ya sama Jeremy? Tapi beneran deh, Lam. Dia itu... dia itu kayak gangguan sinyal di hidupku. Muncul pas nggak dibutuhin, ilang pas aku mau protes, eh sekarang malah jadi pusat orbit kerjaanku. Mana sok ganteng lagi kalau lagi merintah-merintah!" Sheila kembali mengoceh, tidak menyadari bayangan Jeremy sudah menutupi sebagian mejanya.
"Oh, jadi aku cuma 'gangguan sinyal' ya, Sheila?"
Suara bariton yang berat dan familiar itu terdengar tepat di atas kepala Sheila.
Deg!
Sheila Maharani merasa jantungnya baru saja merosot ke lantai. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Perlahan, sesangat perlahan, ia memutar lehernya ke belakang. Di sana, Jeremy berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang segelas kopi yang baru ia pesan.
"P-pak Jeremy?" suara Sheila mencicit. Keberaniannya yang tadi berkobar-kobar langsung padam, digantikan oleh rasa malu yang luar biasa.
"Lanjutin saja ceritanya. Seru kok. Bagian 'sok ganteng pas merintah' itu, aku suka," ucap Jeremy sambil menarik kursi kosong di samping Sheila dan duduk dengan santai, seolah-olah dia diundang ke acara makan siang itu.
Nilam langsung berdiri dengan gerakan secepat kilat. "Duh! Shei, Pak Jeremy... saya baru ingat kalau ada laporan yang harus dikirim ke bagian legal sekarang juga! Saya duluan ya! Bye, Shei! Semangat!"
"Nilam! Jangan tinggalin aku!" pekik Sheila tertahan, tapi Nilam sudah melesat keluar dari kafe seolah-olah baru saja melihat monster.
Kini, tinggallah Sheila dan Jeremy di pojok kafe yang mendadak terasa sangat sempit. Sheila menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada sedotan di gelasnya.
"Jadi... kopi tadi kurang manis ya?" tanya Jeremy, suaranya terdengar geli. "Mau aku pesenin gula satu kilo biar kamu nggak emosi lagi?"
"Maaf, Pak. Tadi aku cuma... cuma bercanda sama Nilam," jawab Sheila, suaranya pelan dan kalem kembali. Pipinya sudah sewarna tomat matang.
Jeremy mencondongkan tubuhnya, menatap sisi wajah Sheila. "Bercanda tapi kok pakai hati? Aku nggak marah kok kalau disebut 'sok ganteng'. Karena faktanya memang ganteng, kan?"
Sheila memberanikan diri menoleh, menatap Jeremy dengan wajah pasrah. "Bapak kenapa sih hobi banget ngikutin aku? Nggak di lobi, nggak di jalanan, sekarang di kafe juga ada. Bapak nggak punya kerjaan lain apa sebagai CEO?"
Jeremy tertawa, suara tawanya yang renyah membuat beberapa pelanggan kafe lain menoleh. "Kerjaanku banyak, Sheila. Tapi memastikan asisten pribadiku makan siang dengan tenang—atau dalam hal ini, ghibahin aku dengan tenang—juga termasuk tanggung jawabku."
Jeremy lalu menggeser piring cake cokelat yang tadi ia bawa ke depan Sheila. "Makan ini. Biar mood kamu bagus. Habis ini kita balik ke kantor, ada berkas yang harus kamu revisi. Dan kali ini, jangan kasih kopi hitam lagi. Kasih aku air putih saja, biar hati kita sama-sama jernih."
Sheila mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Kelakuan Jeremy memang menyebalkan, tapi pria itu selalu punya cara untuk meruntuhkan pertahanannya.
"Makasih, Pak. Tapi air putihnya Bapak ambil sendiri ya di dispenser," balas Sheila.
"Berani ya kamu nyuruh CEO? Oke, air putihnya aku ambil sendiri, tapi nanti pulangnya kamu nggak boleh dijemput Malik. Kamu harus ikut aku ke toko buku, ada referensi desain properti yang mau aku cari," ucap Jeremy sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Nggak bisa! Aku udah janji sama Malik mau ke supermarket!"
"Batalkan. Bilang saja perintah negara. Maksudku, perintah perusahaan," Jeremy berdiri, menepuk puncak kepala Sheila dengan pelan—sebuah gerakan yang sangat tidak profesional tapi sangat Jeremy—sebelum ia berjalan keluar kafe dengan langkah riang.
Sheila menyentuh puncak kepalanya yang baru saja disentuh Jeremy. Ia menghela napas panjang. "Malik... maafin aku ya. Punya bos obsesif kayak dia bener-bener butuh kesabaran ekstra."