NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Budi geleng kepala. “Ini karena panik. Kita liat aja nanti. Aku nyesel nggak berangkat lebih pagi.”

Mereka ikut arus manusia, dorong-dorongan sampe akhirnya nyampe pasar induk Palangkaraya. Di depan ada barisan polisi bersenjata lengkap senapan otomatis, rompi anti peluru. Mereka jaga ketat, bikin orang takut tapi juga tenang. Area distribusi dibatasi tali kuning, polisi berdiri setiap 1 meter. Ada sekitar 400–500 titik kasir, tapi antrean geraknya lambat banget.

Panasss… lembab… keringat netes deras. Budi nggak masalah badannya udah lebih kuat setelah latihan dan level up. Rina keliatan lemes, mukanya merah.

“Gimana kalau kita maju ke depan? Coba nyelonong,” usul Budi.

“Nggak bakal bisa kali,” kata Rina sambil kipas-kipas pake tangan.

“Coba aja. Pegang tanganku erat.”

Budi tarik tangan Rina, dorong masuk celah-celah kerumunan. Kekuatannya 1,5 kali orang biasa bikin mereka maju lebih gampang. Ada yang ngomel, tapi banyak juga yang ngelakuin hal sama. Ini hal biasa di Indonesiadorong-dorongan di kereta, bus, atau pasar.

Akhirnya mereka sampe salah satu kasir.

Seorang ibu-ibu lagi protes. “Kenapa cuma segini? Yang lain dapet lebih banyak!”

“Karena Ibu bukan warga asli daerah ini. Cek pengumuman di papan luar,” jawab petugas cewek dengan sabar tapi capek. “Silakan maju, berikutnya!”

Ibu itu didorong pergi sama kerumunan.

Seorang bapak botak pake kalung emas gede maju. “Saya mau semuanya. Kasih porsi terbesar,” katanya sambil goyang-goyang tumpukan duit.

“Tiap KTP cuma boleh beli jatah tiga hari. Baru bisa balik lagi setelah tiga hari.”

“Nggak bisa dikhususin? Saya punya duit lebih dari cukup.”

“Maaf, Pak. Kebijakan pemerintah. Total Rp400.000.”

Bapak botak ngomel sendiri, bayar, ambil barang, pergi.

Giliran Budi dan Rina.

Budi kasih KTP sama Rp400.000.

Petugas nanya, “Tiga hari ya?” Lalu rekam data di komputer. Staf lain kasih barang: karung kecil beras 5 kg, daging 1 kg, sayur 2 kg, tiga apel, air mineral 5 liter, plus coklat kecil dan susu bubuk.

Budi dan Rina langsung keluar dari kerumunan.

“Panasss banget di dalam!” kata Rina sambil lepas tangan Budi, liat ke belakang. “Cek isinya yuk.”

Budi buka tas. “Beras 5 kg, daging 1 kg, sayur 2 kg, tiga apel, air 5 liter. Plus coklat dan susu bubuk. Total Rp400.000.”

Rina kaget. “Mahal banget! Dulu cuma Rp100.000-an buat segini. Uang lagi anjlok parah!”

“Ini masih murah dibanding pasar gelap. Di sana beras aja Rp50.000 per kg, daging Rp200.000 per kg. Jatah pemerintah ini masih terjangkau,” jawab Budi.

Rina menghela napas. “Tapi ini dari pemerintah. Kok bisa mahal gini? Gila ya… Untung aku mau pulang kampung. Kalau tinggal di kota terus, nggak tahu gimana.”

Sebenarnya, desa-desa di pedalaman Kalimantan nggak lebih baik dari kota. Kapten polisi dari pos di daerah hulu pernah telepon Budi beberapa hari lalu, ingatkan supaya nyetok makanan darurat. Nggak banyak bicara, tapi Budi bisa rasain situasinya kritis, makanya dia memutuskan cek langsung. Saat sampai di sana, kelihatannya stabil. Pemerintah bakar sebagian ladang dan tebang pohon besar. Tapi di persimpangan kecil, tanaman baru di sawah nggak tumbuh di suhu aneh yang hangat di bulan Desember ini. Malah rumput liar tumbuh lebih subur dan tinggi dari padi muda. Rumput-rumput itu sudah kuasai semua ruang di antara padi, sehingga padi nggak bisa serap sinar matahari buat fotosintesis.

Seorang petani tua yang lagi istirahat di pinggir sawah cerita ke Budi pas dia sempet mampir ke desa kecil di pinggir Muara Teweh kemarin. “Gulma ini susah dimusnahin pake pestisida, Mas. Satu-satunya cara ya cabut satu-satu. Tapi sekarang sawah penuh ular berbisa. Nggak ada yang berani turun ke situ lagi.”

Budi kaget berat. Dia berdiri di pinggir sawah, liat gulma hijau lebat yang udah lebih tinggi dari padi muda. Sawah yang dulu rapi sekarang kayak hutan mini. Ular-ular kecil melata di antara rerumputan, mata mereka berkilau pas kena sinar matahari. Budi nggak berani deket-deket. Dia cuma bisa mikir dalam hati: dunia lagi berubah cepet banget, dan desa-desa yang dulu tenang sekarang jadi neraka kecil.

Dia bahkan nggak inget gimana pulang ke Palangkaraya kemarin. Yang ada di kepalanya cuma satu: dunia bakal makin kacau.

Sore berikutnya, Budi dan Rina udah siap berangkat. Budi bawa dua koper gede satu punya Rina penuh baju dan barang penting, satu lagi punya dia sendiri. Kotak kayu panjang dia gendong hati-hati di bahu. Dia panggil taksi online buat ke terminal.

Rina liat kotak kayu itu pas mereka nunggu taksi. “Mas bawa apa sih kotak kayu gede itu?”

“Oh, itu karya seni,” jawab Budi sambil nyengir.

Rina geleng-geleng kepala. “Sebenarnya Mas nggak perlu beli apa-apa buat orang tuaku. Nanti mereka salah paham.”

Budi ketawa kecil. “Kamu yang salah paham. Ini bukan hadiah. Aku lupa beli hadiah. Nanti kita beli di terminal aja.”

“Tolong jangan! Aku nggak bakal denger akhirnya kalau mereka tahu,” kata Rina buru-buru, mukanya merah.

Sopir taksi yang lagi nyetir ikut nimbrung sambil nyengir. “Pulang ketemu orang tua ya? Bawa beras nggak? Pasti calon mertua suka tuh.”

Pipi Rina tambah merah.

Budi langsung jelasin. “Kami cuma temen serumah kok, Pak. Makanya dia khawatir.”

“Oh gitu. Aku sama istriku dulu juga gini, akhirnya nikah. Kalian ke mana nih tujuannya?”

“Muara Teweh!” jawab Budi agak keras, mulai kesel.

“Ada tempat namanya Teweh di sana nggak?” tanya sopir tiba-tiba.

“Ada! Di utara. Tempat wisata terkenal. Bapak pernah ke sana?” tanya Rina langsung semangat, seneng bisa cerita soal kampung halamannya.

“Hmm, belum pernah sih. Tapi temenku cerita, belakangan banyak orang mati di desa-desa sekitar sana. Katanya mobil lapis baja dateng, bom-bom seharian,” kata sopir serius.

Rina langsung pucet.

Budi tepuk bahu Rina pelan buat tenangin, lalu tanya sopir, “Serius, Pak? Sumbernya dari mana?”

“Aku nggak bohong. Temenku orang sana, kerja di Palangkaraya. Mereka suruh orang tua mereka pindah ke sini karena katanya kota lebih aman. Ke mana-mana chaos sekarang,” jawab sopir.

“Kapan denger beritanya?” tanya Budi lagi.

“Tiga hari lalu. Kayaknya sekarang udah aman. Tapi ya, hati-hati aja,” kata sopir.

“Makasih banyak, Pak. Untung Bapak cerita,” kata Budi tulus.

“Jangan sungkan. Semua lagi susah. Kayak mau kiamat aja. Pemerintah masih tegas banget. Kalau aku sih, kasih senjata ke semua orang buat bela diri,” keluh sopir.

Rina langsung cemas. “Mas, gimana dong? Aku khawatir banget sama orang tua.”

Budi tenangin. “Kamu kan baru telpon mereka semalem. Coba telpon lagi?”

“Iya ya.” Rina buru-buru ambil HP, nelpon.

“Halo, Bu! Bapak sama Ibu sehat kan? Oh nggak ada apa-apa, cuma ngecek. Aku naik kereta jam 13.30. Sampai sekitar jam 4 sore. Ada temen ikut. Cowok, tapi bukan yang Ibu pikirkan. Oh, di sana ada apa, Bu? Serangan tikus gede? Ya udah kalau gitu, aku tutup ya.” Rina tutup telpon, keliatan lega. “Mereka aman, Mas. Katanya cuma serangan tikus. Bukan apa-apa kan?”

“Cuma tikus?” Budi mikir dalam hati. Nalurinya buruk banget. Misi F+ nggak bakal segampang itu.

Mereka sampe terminal. Kotak kayu nggak boleh lewat dibawa Budi harus kirim ekspres supaya nyampe bareng mereka di Desa. Dia nggak yakin bisa selesain misi tanpa pedang itu. Terminal rame banget musim mudik Tahun Baru makin deket. Semua orang keliatan tegang, cemas mikirin masa depan.

Budi dan Rina berdiri di pinggir, nunggu karena nggak ada tempat duduk. Banyak bus delay. Bus ke Muara Teweh juga delay pas jam 13.30. Kayak ada sesuatu yang terjadi di perjalanan.

“bus kita delay lagi. Nggak tepat waktu banget,” keluh Rina.

“Nggak apa-apa. Yang penting sampe tujuan,” hibur Budi.

Untung nggak ada kecelakaan, kereta dateng setelah 30 menit.

Budi tap-in tiket, Masuk ke Area Bus Semua orang di sekitar kaget. Ada yang teriak kecil. Badan bus berlumuran darah, ada bulu-bulu nempel di beberapa tempat.

Budi jongkok, ambil bulu abu-abu yang jatuh. Dia aktifin Identifikasi diam-diam.

Bulu Burung Pipit

[Fungsi: Bahan]

[Kelangkaan: Putih]

[Berat: 10 gram]

[Keterangan: Bulu dari burung pipit yang bermutasi.]

Burung pipit mutasi? Kereta diserang burung pipit? Dari ukuran bulu, burungnya tinggi sekitar 30 cm. Kalau burung juga mutasi, transportasi udara bakal bahaya banget mungkin ditutup total. Burung bisa terbang lebih tinggi dari hewan darat, susah dilupain.

Mereka nggak bisa cegah hewan mutasi dateng, meski pemerintah bakar hutan.

Budi merinding bayangin ribuan burung gede terbang di atas kota. “Semoga nggak sampe di Palangkaraya,” gumamnya dalam hati. Hewan kelaparan pasti bakal serang manusia buat isi perut.

“Aku nggak tahu ini gimana bisa terjadi,” kata Rina gemetar, pegang lengan Budi erat.

Budi nggak tahu gimana hibur, cuma bilang, “Ayo naik bus, nanti ketinggalan.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!