NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. 10 Menit yang berbahaya

Alea menutup pintu kamarnya dengan tangan yang masih gemetar. Suara mobil ayahnya yang menderu meninggalkan halaman rumah terdengar sayu, menandakan Baskara sudah benar-benar berangkat. Sekarang, rumah besar ini hanya menyisakan dirinya, para pelayan yang sibuk di paviliun belakang, dan... Bima.

Alea menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu jati yang kokoh itu, mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan akibat kejadian "kaki di bawah meja" saat sarapan tadi. Namun, belum sempat ia menghirup udara dengan tenang, sebuah ketukan tegas namun ritmis terdengar dari balik daun pintu.

Tok. Tok.

Jantung Alea seolah melompat ke tenggorokan. Ia memutar kunci perlahan, dan tepat saat pintu terbuka sedikit, sebuah tangan besar langsung mendorongnya masuk. Bima melangkah ke dalam dengan kecepatan predator, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya kembali dalam satu gerakan yang sangat mulus tanpa sedikit pun suara.

Pria itu tidak mengenakan jasnya lagi. Kemeja abu-abunya kini sudah terbuka di tiga kancing teratas, memperlihatkan tato yang merayap di pangkal lehernya yang kokoh. Matanya yang gelap menatap Alea dengan intensitas yang mengerikan—tatapan lapar yang sama seperti semalam, namun kali ini terasa lebih mendesak karena diburu waktu.

"Kau bilang kepalamu pening, little bird?" bisik Bima sembari melangkah maju, memojokkan Alea hingga tubuh gadis itu kembali membentur pintu yang tertutup.

"Aku... aku hanya ingin kita aman di meja makan tadi," sahut Alea terbata. Napasnya mulai memburu saat Bima meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Alea, mengurungnya sepenuhnya dalam aroma cedarwood dan maskulinitas yang pekat.

"Anak pintar," gumam Bima. Ia menunduk, menghirup aroma leher Alea yang masih berbau sabun mandi pagi. "Tapi sapaanmu tadi pagi sangat... kurang. Aku butuh lebih untuk bisa bertahan di kantor seharian."

Tanpa aba-aba, Bima langsung menyambar bibir Alea. Ciuman itu tidak lembut. Ini adalah klaim kilat yang agresif dan sangat menuntut. Bima melumat bibir Alea dengan lapar, lidahnya mengeksplorasi setiap inci mulut Alea seolah sedang meneguk mata air di padang pasir yang membakar. Alea mengerang rendah, tangannya secara insting meremas bahu kokoh Bima, menarik pria itu agar semakin merapat hingga tak ada udara yang bisa menyelinap di antara mereka.

Bima mengangkat tubuh Alea, membuat kaki gadis itu melingkar di pinggangnya yang kuat. Ia membawa Alea menuju meja belajar yang berantakan dengan buku sketsa dan laptop. Dalam satu sapuan tangan yang kasar, Bima menyingkirkan semua barang di atas meja itu ke lantai, menciptakan bunyi berdebum yang teredam karpet tebal, lalu mendudukkan Alea di sana.

Permukaan meja kayu yang dingin sangat kontras dengan panas tubuh Bima yang membara. Tangan Bima yang besar mulai bergerilya di bawah sweater kerah tinggi yang dipakai Alea, menemukan kulit halus yang semalam telah ia tandai. Jemarinya yang kasar memberikan sensasi setruman listrik yang membuat Alea melengkungkan punggungnya, mencari sandaran pada tubuh Bima.

"Uncle... kau harus berangkat..." rintih Alea di sela-sela pagutan mereka.

"Masih ada waktu," bisik Bima parau di depan bibir Alea.

Dengan gerakan yang cepat namun tetap dominan, Bima menyingkap gaun tidur atau pakaian bawah yang dikenakan Alea. Penyatuan mereka terjadi dengan begitu intens di atas meja itu, sebuah penyatuan kilat yang didorong oleh gairah yang meluap dan risiko ketahuan yang sangat tinggi. Setiap gerakan Bima terasa seperti klaim mutlak; ia tidak memberikan ruang bagi Alea untuk berpikir, ia hanya ingin Alea merasakan betapa ia sangat mendambakan gadis itu.

Alea memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mencengkeram bahu Bima hingga kuku-kukunya memutih. Suara napas mereka yang berat bersahutan dengan detik jam dinding yang seolah berpacu. Di bawah dominasi Bima, Alea merasa dunianya seakan berputar. Ketegangan karena takut ada pelayan yang lewat di koridor depan kamar, bercampur dengan euforia fisik yang diberikan Bima, menciptakan sensasi yang hampir membuatnya gila.

Bima menunduk, menggigit kecil bahu Alea yang terekspos, memberikan tanda baru di samping tanda semalam. "Katakan... kau milik siapa?" bisiknya dengan napas yang memburu.

"Milikmu... aku milikmu, Bima," jawab Alea dengan suara pecah.

Dalam sisa-sisa waktu yang ada, Bima menuntaskan hasratnya dengan penuh kuasa. Setelah segalanya mereda, Bima menyandarkan keningnya di kening Alea, napas mereka masih tersengal-sengal. Tidak ada kata-kata manis yang panjang, hanya tatapan posesif yang menegaskan bahwa Alea telah ia kunci sepenuhnya pagi ini.

Bima menjauhkan dirinya perlahan, merapikan kembali pakaian Alea dengan tangan yang kini jauh lebih tenang. Ia kemudian membenahi kemejanya sendiri, memasang kembali kancingnya dan merapikan rambutnya di depan cermin besar Alea. Dalam sekejap, ia bertransformasi kembali menjadi sosok pria berwibawa, dingin, dan tak tersentuh—pria yang sebentar lagi akan memimpin rapat penting di kantornya.

Ia berjalan kembali ke arah Alea yang masih duduk di atas meja dengan wajah yang bersemu merah. Bima mengecup dahi Alea lama.

"Tunggu aku pulang. Jangan biarkan bocah Revan itu masuk ke rumah ini, mengerti?" perintah Bima mutlak.

Alea hanya bisa mengangguk pelan, masih mencoba mengumpulkan kewarasannya yang berserakan. Bima menyeringai puas, lalu melangkah keluar kamar dan mengunci pintu dari luar, meninggalkan Alea dalam keheningan yang sarat dengan rahasia panas mereka.

Sepuluh menit yang berbahaya itu telah usai, namun dampaknya membuat Alea merasa ia benar-benar telah menjadi tawanan paling bahagia di dunia.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!