NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Teror Besi Bintang Jatuh

​Udara di Alun-Alun Puncak Utama terasa seperti membeku. Tantangan Lin Chen yang melangkahi segala aturan turnamen membuat para Tetua Penegak Hukum murka.

​"Lancang!" raung Tetua Penegak Hukum Utama, wajahnya memerah. "Lin Chen! Turnamen ini memiliki aturan! Kau tidak bisa sembarangan memotong ke babak akhir! Penjaga, tangkap anak sombong—"

​"Biarkan saja."

​Sebuah suara yang tenang namun tak terbantahkan memotong teriakan sang Tetua. Pemimpin Sekte, Jian Wuji, mengangkat tangannya perlahan. Matanya yang sedalam samudra menatap lurus ke arah arena.

​"Dunia kultivasi tidak pernah menghargai urutan dan antrean. Dunia ini hanya menghargai kekuatan," ucap Jian Wuji dengan senyum penuh minat. "Jika seekor naga muda ingin menantang raja singa, siapa kita untuk menghalangi pertunjukan alam? Biarkan mereka bertarung."

​Mendengar titah mutlak dari Pemimpin Sekte, Tetua Penegak Hukum menundukkan kepala dan mundur. Para murid di tribun menahan napas. Pertarungan legendaris ini benar-benar disetujui!

​Chu Kuangren melayang turun dari area peserta bagaikan dewa yang turun ke bumi. Jubah naga emasnya memancarkan cahaya menyilaukan. Ia mendarat di atas arena Kristal Bintang, berjarak dua puluh meter dari Lin Chen.

​"Pemimpin Sekte sangat murah hati memberimu panggung kematian yang megah, Lin Chen," Chu Kuangren tersenyum kejam. Ia mengulurkan tangan kanannya.

​WUSSH!

​Sinar keemasan meledak dari cincin penyimpanannya. Sebuah tombak panjang bertahtakan sisik naga emas muncul di genggamannya. Ujung tombak itu memancarkan hawa panas dan ketajaman yang mampu membelah lautan awan.

​"Tombak Penakluk Naga! Senjata Spiritual Tingkat Bumi Puncak!" seru para murid Inti dengan nada iri.

​"Lin Chen, kau mengandalkan kekuatan fisik anehmu dan senjata tumpul itu untuk mengejutkan ahli Bintang 9 dan Inti Emas Tahap Awal yang pondasinya rapuh," Chu Kuangren memutar tombaknya, menciptakan badai angin tajam di sekitarnya. "Tapi di hadapanku, Inti Emas Tahap Menengah yang mempraktikkan Seni Naga Sejati, kau hanyalah belalang yang mencoba menghentikan kereta kuda!"

​Lin Chen mengangkat Bilah Besi Bintang Jatuh dengan satu tangan, memanggul benda seberat 40 ton itu di pundaknya dengan santai.

​"Kau terlalu banyak mendongeng," Lin Chen memiringkan kepalanya. "Seranglah. Atau kau butuh waktu untuk menulis surat wasiat?"

​Urat nadi di dahi Chu Kuangren menonjol kasar. Arogansinya tidak bisa menerima sedikit pun penghinaan.

​"MATI KAU, CACING!"

​Seni Tombak Naga Surgawi: Bor Pembelah Bintang!

​Chu Kuangren menerjang maju. Kecepatannya jauh melampaui Gu Tianying maupun Zhao Yan. Tombak emasnya berputar dengan kecepatan gila, menciptakan pusaran Qi Inti Emas yang memanifestasikan kepala naga raksasa yang mengaum buas. Ujung tombak itu mengunci langsung ke jantung Lin Chen, menyegel ruang di sekitarnya sehingga tidak ada celah untuk lari.

​Tekanan dari serangan ini membuat arena Kristal Bintang yang terkenal tak bisa hancur mulai bergetar dan memunculkan retakan halus.

​Di tribun, Liu Meng'er tersenyum puas. Berakhir sudah. Tidak ada Pengumpulan Qi yang bisa menahan serangan itu.

​Namun, Lin Chen sama sekali tidak berniat menghindar.

​Mata Lin Chen memancarkan kilatan emas yang mengerikan. Di dalam Dantiannya, tiga dari lima ratus tetes Qi Cair Emas miliknya meledak serentak, mengalirkan energi yang luar biasa padat ke lengan kanannya.

​Ia memutar pinggangnya, menarik balok besi raksasa di pundaknya ke belakang, lalu mengayunkannya lurus ke depan, menyambut kepala naga emas itu secara frontal!

​Hantam!

​Tidak ada teknik yang indah, tidak ada ilusi pedang yang bersinar. Hanya sebuah lempengan besi seberat 80.000 kati yang digerakkan oleh kekuatan fisik purba dan kepadatan Qi Emas yang menyalahi hukum alam.

​BOOOOOOOOOOM!

​Tabrakan antara ujung tombak Tingkat Bumi dan lempengan besi meteor hitam itu menciptakan ledakan suara yang merobek gendang telinga puluhan ribu penonton. Gelombang kejut menyapu ke segala penjuru, menghancurkan penghalang formasi tingkat pertama di sekeliling arena. Para Tetua harus turun tangan menciptakan perisai Qi agar tribun penonton tidak ikut hancur.

​"A-Apa?!"

​Mata Chu Kuangren nyaris melompat keluar. Ia merasakan tombak kebanggaannya seolah baru saja menabrak gunung baja yang melaju dengan kecepatan komet.

​Kepala naga ilusi yang ia ciptakan hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh di bawah tekanan absolut dari Bilah Besi Bintang Jatuh. Daya tolak yang sangat beringas merambat dari gagang tombaknya, membuat kulit di antara ibu jari dan telunjuknya robek hingga berdarah.

​Kekuatan ayunan Lin Chen tidak berhenti di situ. Sisa momentum dari besi seberat 40 ton itu terus mendesak maju.

​KRAK!

​Tombak Penakluk Naga Tingkat Bumi Puncak itu... melengkung hebat!

​Chu Kuangren memuntahkan darah segar akibat serangan balik ke arah organ dalamnya. Tubuhnya terdorong mundur dengan kasar. Kakinya terseret di atas lantai arena Kristal Bintang sejauh belasan meter, meninggalkan dua parit dalam sebelum ia akhirnya bisa berhenti.

​Seluruh Alun-Alun Puncak Utama menjadi sunyi senyap. Kengerian yang absolut mencekik tenggorokan semua orang.

​Chu Kuangren, jenius terkuat Sekte Pedang Awan Surgawi, didesak mundur hingga berdarah dalam satu benturan frontal oleh seorang murid Pengumpulan Qi?!

​Di kursi Tetua Inti, Tetua Bai langsung berdiri, wajahnya pucat pasi. Liu Meng'er menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar tak terkendali. Tembok realitas yang selama ini ia yakini baru saja runtuh di depan matanya.

​Lin Chen berdiri tegak di tengah arena, perlahan menurunkan besi hitamnya. Tidak ada goresan sedikit pun di senjata tumpul itu. Napasnya bahkan tidak memburu.

​"Inti Emas Tahap Menengah. Faksi Naga Sejati," Lin Chen menggelengkan kepalanya perlahan, suaranya dipenuhi rasa kasihan yang sangat menghina. "Chu Kuangren, apakah ini batas tertinggi dari kebanggaanmu? Menjijikkan."

​Chu Kuangren mengusap darah di mulutnya. Matanya merah menyala penuh kegilaan. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan hancurnya harga diri yang ia rasakan.

​"Kau... kau memiliki kekuatan fisik ahli Inti Emas Tahap Akhir!" raung Chu Kuangren gila. "Tapi jangan pikir kau sudah menang! Aku adalah pewaris mutlak sekte ini! Aku memiliki garis keturunan Naga Banjir (Flood Dragon) di tubuhku!"

​Chu Kuangren membuang tombaknya yang melengkung. Ia menggigit lidahnya dan memuntahkan setetes darah esensi. Tangannya membentuk segel rumit dengan kecepatan kilat.

​Seketika, awan di atas alun-alun berubah menjadi merah darah. Fluktuasi Yin dan Yang di udara menjadi kacau.

​"Dia mau menggunakan Teknik Rahasia Puncak!" teriak seorang Tetua dengan panik.

​Teknik Ilahi Pembakaran Darah Naga: Manifestasi Naga Leluhur!

​Tubuh Chu Kuangren membengkak. Sisik-sisik naga berwarna emas tua bermunculan menutupi kulitnya. Sepasang tanduk kecil tumbuh di dahinya. Auranya melonjak tajam, merobek batas Inti Emas Tahap Menengah dan menginjak ambang batas Inti Emas Tahap Akhir!

​Di belakangnya, muncul siluet naga emas raksasa bermata merah yang memancarkan paksaan garis keturunan yang mengerikan. Murid-murid di tribun dengan tingkat kultivasi rendah langsung jatuh pingsan karena tekanan jiwa tersebut.

​"Lin Chen! Bersujudlah di hadapan kekuatan Naga Sejati!" Chu Kuangren meraung, suaranya bercampur dengan geraman binatang buas.

​Namun, di tengah badai tekanan garis keturunan yang menggetarkan langit itu, Lin Chen justru... tertawa.

​Tawanya awalnya pelan, lalu berubah menjadi tawa lepas yang mengejek, bergema menembus auman naga palsu milik Chu Kuangren.

​"Naga Sejati? Kau menyebut kadal cacat itu sebagai naga?"

​Lin Chen mendongak. Matanya yang segelap malam berubah drastis menjadi warna emas cair yang menyala terang. Senyumnya lenyap, digantikan oleh ekspresi tiran purba yang memandang rendah penciptaan.

​"Biar kutunjukkan padamu... apa itu naga yang sesungguhnya!"

​Lin Chen tidak lagi menyembunyikan fondasinya. Ia memutar Seni Pemakan Surga Sembilan Naga dengan kekuatan penuh. Ratusan tetes Qi Cair Emas di Dantiannya meledak, beresonansi dengan Meridian Naganya.

​ROAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRR!

​Bukan raungan siluet Qi, melainkan suara yang terdengar seolah berasal dari awal mula terbentuknya alam semesta.

​Seketika itu juga, tekanan garis keturunan Chu Kuangren yang ia banggakan hancur berkeping-keping seperti kapas yang tertiup badai! Siluet naga emas di belakang Chu Kuangren menjerit panik, lalu menyusut dan pecah berantakan sebelum sempat menyerang.

​Pilar cahaya emas yang sangat tebal melesat dari tubuh Lin Chen menembus langit awan sekte. Di dalam pilar cahaya itu, samar-samar terlihat bukan hanya satu, melainkan siluet Sembilan Naga Primordial yang saling melilit, menatap Chu Kuangren dengan tatapan seolah melihat seekor cacing tanah.

​Chu Kuangren yang masih dalam wujud setengah naga tiba-tiba jatuh berlutut. Garis keturunan Naga Banjir di dalam darahnya menangis ketakutan, ditekan secara mutlak oleh garis keturunan yang berada ribuan tingkat di atasnya!

​"T-Tidak... Tidak mungkin... Tekanan apa ini?!" Chu Kuangren merintih, tubuhnya tak bisa digerakkan.

​"Kau terlalu banyak bermimpi, cacing."

​Lin Chen mencengkeram Bilah Besi Bintang Jatuh dengan kedua tangannya.

​[Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan: Langkah Pertama!]

​Ia menghilang dari pandangan. Bukan ke atas, bukan ke samping. Ia muncul tepat di udara, setengah meter di depan Chu Kuangren yang masih berlutut, dengan besi raksasa yang sudah terayun di atas kepalanya.

​Niat Pembantaian Bayangan bergabung dengan energi murni dari Qi Cair Emas.

​"Selamat tinggal."

​Lin Chen mengayunkan besi seberat 40 ton itu ke bawah, mengincar langsung kepala Chu Kuangren. Serangan ini tidak hanya akan menghancurkan Inti Emasnya, tapi juga akan menghancurkan jiwanya menjadi ketiadaan!

​"HENTIKAAAAAAAN!"

​Sebuah teriakan panik meledak dari kursi Tetua Inti.

​WUSSSHH!

​Sesosok bayangan putih melesat dengan kecepatan membelah ruang. Tepat saat besi tumpul Lin Chen berjarak satu inci dari rambut Chu Kuangren, sebuah pedang giok putih bersinar menghalangi jalur ayunan tersebut.

​KRAAAANG!

​Bentrokan kali ini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Ledakan energi merobek arena menjadi kawah raksasa. Asap debu tebal menutupi pandangan semua orang.

​Ketika debu perlahan menipis, terlihat sosok Tetua Bai, berdiri di depan Chu Kuangren yang tak sadarkan diri. Jubah putih Tetua Bai robek di bagian lengan, dan pedang giok tingkat Surga miliknya bergetar hebat. Wajah tua itu terlihat pucat pasi, menahan sisa gelombang kejut yang masih merambat di tulangnya.

​Di seberangnya, Lin Chen berdiri tegak. Besi hitamnya bersandar santai di tanah. Ia tidak mundur selangkah pun.

​Seluruh sekte dilanda kebisuan masif.

​Tetua Bai... Tetua Inti yang berada di puncak Ranah Inti Emas... turun tangan secara pribadi di tengah arena untuk menahan serangan mematikan dari seorang murid?! Ini melanggar hukum langit dan bumi dari tradisi turnamen!

​Lin Chen memiringkan kepalanya, menatap mata Tetua Bai yang dipenuhi rasa ngeri dan amarah. Bibir pemuda itu menyeringai dingin.

​"Tetua Bai," suara Lin Chen membelah kesunyian, penuh dengan arogansi dan cemoohan. "Dulu di Kota Awan Merah, kau melempar tiga pil sampah untuk membatalkan pertunanganku dan menghina keluargaku. Kau menyebutku cacing di atas tanah."

​Lin Chen mengangkat besi raksasanya, mengarahkannya tepat ke wajah sang Tetua Inti.

​"Sekarang aku sudah berada di sini. Kenapa kau yang gemetar?"

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!