Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kukuruyuk.
Matahari pagi mulai merangkak naik, menyinari Desa Qingshui dengan kehangatan yang nyaman. Suara burung gereja yang berkicau di dahan Pohon Ajaib menjadi musik pagi yang menyambut Lin Ye saat dia keluar dari pintu belakang rumahnya.
Lin Ye meregangkan tubuhnya. Hal pertama yang dia periksa tentu saja adalah petak lahan tempat dia menanam tomat matahari terbit dan sayuran biasa. Pertumbuhannya sangat stabil. Daun-daun hijau itu tampak semakin lebar dan segar berkat energi pasif dari pohon raksasa di dekatnya. Tanah di sekitarnya juga masih terjaga kelembabannya karena Pagar Angin Penolak Hama mencegah angin kering merusak struktur tanah.
"Semuanya tumbuh dengan baik. Tapi sayuran ini butuh air yang lebih banyak saat batangnya mulai meninggi," gumam Lin Ye sambil menatap ember kayunya yang kosong.
Masalah utamanya saat ini adalah air. Sumur tua di samping rumahnya memiliki debit air yang sangat kecil karena dasarnya dipenuhi lumpur dan sampah dedaunan kering yang menumpuk selama belasan tahun. Semalam dia menjatuhkan ember kayunya ke dalam, yang berarti sekarang dia sama sekali tidak punya alat untuk menimba air.
"Aku harus mencari tambang yang lebih panjang dan pengait baja untuk mengambil ember itu, lalu membersihkan dasar sumurnya perlahan-lahan," kata Lin Ye.
Dia menoleh ke arah bangunan kecil dari kayu lapuk yang berada tepat di sebelah kiri rumah utama. Itu adalah gudang penyimpanan alat tani milik mendiang kakeknya. Kemarin dia hanya masuk sebentar ke bagian depannya untuk mengambil keranjang bambu. Sekarang, dia harus membongkar isinya untuk mencari alat yang berguna.
Kriet.
Pintu gudang itu terbuka dengan suara berderit keras. Debu tebal langsung beterbangan di udara, membuat Lin Ye terbatuk beberapa kali. Dia mengibaskan tangannya, menunggu debu itu sedikit mereda sebelum melangkah masuk.
Ruangan di dalam gudang itu cukup gelap dan pengap. Bau apek dari kayu tua dan logam berkarat sangat menyengat. Berbagai macam barang rongsokan menumpuk tidak beraturan. Ada sisa-sisa jaring burung yang sudah robek, cangkul berkarat yang gagangnya patah, tumpukan karung goni bekas, dan beberapa lempeng besi tebal yang sepertinya adalah mata bajak traktor kuno.
Lin Ye mulai memindahkan barang-barang itu satu per satu. Dia memisahkan kayu yang masih bisa dipakai untuk kayu bakar ke sudut kanan, dan membuang barang yang sudah benar-benar hancur ke luar gudang.
Saat dia mengangkat sebuah karung goni tebal di pojok ruangan, matanya tertuju pada sebuah benda panjang yang bersandar di dinding.
Itu adalah sebuah joran pancing yang terbuat dari bambu kuning yang sudah dipoles sangat halus. Bentuknya melengkung sempurna dengan tali senar tebal yang masih tergulung rapi di bagian gagangnya. Di ujung senar itu, terdapat kail besi kecil yang anehnya tidak berkarat sama sekali, lengkap dengan pelampung kayu berbentuk bulat.
"Pancingan kakek," Lin Ye bergumam pelan. Dia mengambil joran bambu itu dan mengusap debu di permukaannya. "Kondisinya masih sangat bagus. Kakek pasti sangat merawat benda ini. Ini bisa berguna untuk mencari tambahan lauk di sungai nanti sore."
Lin Ye meletakkan pancingan bambu itu di luar gudang dengan hati-hati. Dia kembali masuk untuk melanjutkan pencariannya. Dia butuh tali tambang dan pengait besi.
Di bawah tumpukan mata bajak traktor yang berat, Lin Ye melihat ujung sebuah rantai besi kecil yang terhubung dengan jangkar pengait.
"Ah, itu dia. Itu bisa kugunakan untuk menarik ember di sumur," kata Lin Ye.
Dia membungkuk dan mencoba menarik rantai itu. Namun, tumpukan besi bajak di atasnya terlalu berat. Lin Ye memutuskan untuk memindahkan lempeng besi bajak itu terlebih dahulu dengan kedua tangannya. Besi itu sangat berat dan permukaannya dipenuhi karat tajam.
Srat.
Lin Ye mengernyitkan dahinya. Karena lantai gudang yang licin oleh debu, kakinya sedikit tergelincir saat mengangkat besi bajak itu. Besi tajam yang berkarat itu merosot dari pegangannya dan menggores lengan bawah kirinya dengan sangat keras.
Prang.
Besi itu jatuh membentur lantai. Lin Ye segera menarik lengan kirinya. Goresannya cukup panjang, dari dekat siku hingga ke pergelangan tangan. Darah segar mulai merembes keluar, menetes ke lantai gudang. Rasa perih yang amat sangat langsung menyengat sarafnya.
"Sial. Ini luka yang cukup dalam, dan karatnya bisa menyebabkan infeksi," rutuk Lin Ye.
Dia buru-buru keluar dari gudang, masuk ke dalam rumah, dan mengambil selembar kaus bersih dari kopernya. Dia merobek kaus itu dan melilitkannya kuat-kuat di lengannya untuk menghentikan pendarahan.
Lin Ye berjalan cepat keluar dari gerbang rumahnya. Dia harus mencari klinik terdekat. Dia ingat Kepala Desa Wang mengatakan ada fasilitas kesehatan kecil di tengah desa.
Saat Lin Ye menyusuri jalan tanah, beberapa warga yang melihat lengannya terbalut kain berdarah langsung menatapnya dengan cemas. Kepala Desa Wang yang kebetulan sedang bersepeda dari arah balai desa langsung berhenti dan turun menghampirinya.
"Ya ampun, Lin Ye. Apa yang terjadi dengan lenganmu? Kenapa banyak darah begini?" tanya Kepala Desa Wang dengan raut wajah panik.
"Hanya kecelakaan kecil, Kepala Desa. Saya sedang membersihkan gudang kakek dan tergores besi bajak yang berkarat. Apakah di desa ini ada klinik yang buka hari ini? Saya butuh obat merah dan perban yang bersih," jawab Lin Ye berusaha tetap tenang.
"Besi berkarat? Itu sangat berbahaya, Nak. Kamu bisa infeksi parah. Ayo, cepat pergi ke Klinik Desa Qingshui. Letaknya hanya dua blok dari sini, tepat di sebelah gedung sekolah dasar. Kebetulan hari ini Perawat Bai sedang bertugas. Biar aku antar kamu ke sana." Kepala Desa Wang langsung menuntun sepedanya.
"Terima kasih banyak, Kepala Desa. Saya bisa berjalan sendiri, Anda tidak perlu repot-repot," tolak Lin Ye halus.
"Jangan keras kepala. Kamu tamu dan warga baruku, aku harus memastikan kamu selamat sampai di klinik. Ayo cepat," desak Kepala Desa Wang.
Mereka berdua berjalan agak cepat menuju tengah desa. Sesampainya di sana, Lin Ye melihat sebuah bangunan bercat putih yang bersih, sangat kontras dengan bangunan kayu lain di sekitarnya. Terdapat plang kecil bertuliskan Klinik Kesehatan Desa Qingshui di atas pintunya. Aroma obat antiseptik yang khas langsung tercium saat mereka mendekat.
Kring.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi saat Lin Ye mendorong pintu klinik tersebut. Ruangannya tidak terlalu besar, hanya ada tiga ranjang pasien yang dipisahkan oleh tirai putih, sebuah meja kerja, dan lemari kaca penuh berisi obat-obatan.
"Permisi, apakah ada orang di sini? Ada pasien darurat," panggil Kepala Desa Wang.
Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari ruangan belakang. Seorang wanita muda yang mengenakan jas perawat berwarna putih bersih muncul dari balik tirai. Rambut hitamnya yang lurus sebahu diikat rapi ke belakang. Wajahnya sangat cantik dengan riasan yang minimalis, memberikan kesan lembut dan menenangkan. Matanya yang bulat memancarkan kepedulian yang tulus.
"Kepala Desa Wang? Ada apa?" tanya perawat itu. Matanya kemudian tertuju pada Lin Ye dan kain berdarah yang melilit lengan kirinya. Raut wajahnya langsung berubah serius. "Astaga. Siapa ini? Silakan duduk di ranjang nomor satu sekarang juga. Biar saya periksa lukanya."
"Ini Lin Ye, cucu mendiang Kakek Lin Tian yang baru kembali dari kota. Dia terluka saat membersihkan gudang tuanya," jelas Kepala Desa Wang sambil membantu Lin Ye duduk di tepi ranjang.
"Tolong bantuannya, Perawat. Nama saya Lin Ye," kata Lin Ye mengangguk pelan.
"Nama saya Bai Ruoxue. Tolong tahan sedikit ya, Tuan Lin. Saya harus membuka ikatan kain ini untuk melihat seberapa parah lukanya," kata Bai Ruoxue dengan suara yang sangat lembut namun tegas.
Dia mengambil gunting medis dari sakunya dan memotong kain kaus yang melilit lengan Lin Ye dengan sangat hati-hati agar darahnya tidak menempel di kulit yang terluka. Saat kain itu terbuka, goresan panjang yang cukup dalam terlihat jelas.
Bai Ruoxue mengernyitkan alisnya. "Lukanya cukup panjang, tapi syukurlah tidak mengenai pembuluh darah utama. Anda tergores apa, Tuan Lin?"
"Besi bajak traktor yang sudah berkarat belasan tahun," jawab Lin Ye jujur.
Bai Ruoxue langsung mengambil botol cairan antiseptik, kapas steril, dan beberapa alat kecil dari nampan besi di mejanya. Dia duduk di kursi kecil tepat di depan Lin Ye.
"Besi berkarat adalah sarang bakteri. Saya harus membersihkan luka ini secara menyeluruh agar kotoran karatnya hilang. Ini akan terasa sangat perih. Apakah Anda mau saya beri bius lokal?" tanya Bai Ruoxue menatap mata Lin Ye.
"Tidak perlu, Perawat Bai. Lakukan saja. Saya sudah terbiasa dengan rasa sakit dan tekanan saat bekerja di kota," jawab Lin Ye sambil tersenyum tipis.
Bai Ruoxue menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Tolong Kepala Desa Wang pegangi bahunya agar dia tidak bergerak."
Bai Ruoxue mulai menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas steril dan menepukkannya perlahan ke atas luka Lin Ye.