NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Juan menyandarkan punggungnya pada kursi plastik kantin yang keras, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit menderu setelah perjalanan dari lorong fakultas.

Di sekelilingnya, hiruk-pikuk kantin berada di titik didih, denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen, tawa mahasiswa yang meledak di sudut lain, serta suara teriakan bibi kantin yang memanggil pesanan, semuanya melebur menjadi kebisingan yang akrab.

Rasa lapar mulai menggerogoti perutnya, sebuah pengingat bahwa energi manusianya butuh asupan setelah semua drama pagi ini. Ia menoleh ke arah Andre dan Doni yang sudah mulai berdebat seru soal menu makan siang.

“Pesan apa, Wan?” tanya Doni sambil melirik daftar menu yang tertempel di dinding kios.

Juan meraih dompet kulitnya yang sudah tidak lagi setipis dulu. “Aku pesan dua mangkuk bakso urat dan satu kopi hitam panas,” jawabnya mantap. Ia lalu beralih menatap Raisa yang masih duduk manis di sampingnya. “Kamu mau minum apa, Sa?”

Raisa memberikan senyum tipis yang mematikan. “Jus alpukat saja, tanpa gula ya.”

Juan mengangguk, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan menuju kios bakso, memesan dengan suara yang lebih lantang dan penuh percaya diri.

Raisa terus mengikutinya dengan tatapan lembut, sebuah pandangan yang membuat Andre dan Doni saling sikut sambil memasang senyum jahil.

“Lengkap juga pesanan lo,” celetuk Andre saat Juan kembali duduk. “Bakso, kopi, sampai jus alpukat. Kontras banget, kayak hidup lo sekarang.”

Juan hanya mengangkat bahu santai. “Biar seimbang antara pahit dan manis.”

Baru saja Juan hendak menyesap air mineralnya, seorang mahasiswa laki-laki mendekat ke meja mereka dengan langkah yang tampak ragu. Wajahnya terlihat tegang, seolah sedang membawa pesan dari dunia lain.

“Juan?” panggilnya lirih.

Juan mendongak, alisnya bertaut. “Iya, kenapa?”

“Bu Hani minta kamu ke ruangannya sekarang juga,” ucap mahasiswa itu cepat. “Katanya ada hal yang sangat penting dan nggak bisa ditunda.”

Kalimat itu seketika menciptakan keheningan di meja mereka. Andre dan Doni serempak berhenti mengunyah.

“Bu Hani? Dosen Ekonomi Makro kita?” ulang Andre memastikan, matanya menyipit penuh selidik.

Mahasiswa itu mengangguk mantap. “Iya, sekarang. Beliau tunggu di ruangannya.” Setelah menyampaikan pesan itu, ia segera berlalu, menghilang di balik kerumunan kantin.

Juan terdiam sejenak. Berbagai kemungkinan buruk berkelebat di kepalanya. Apakah ia salah mengisi jawaban kuis tadi? Atau ada masalah administratif? Namun, ia yakin tidak melakukan pelanggaran apa pun.

Raisa menatap Juan dengan raut penasaran yang bercampur sedikit rasa tidak suka. “Kamu punya urusan pribadi sama dia?”

Juan menggeleng pelan, wajahnya sama bingungnya. “Aku benar-benar nggak tahu, Sa.”

Doni menyeringai, sebuah tatapan nakal muncul di matanya. “Mungkin karena kamu terlalu vokal di kelas tadi, atau mungkin ada 'materi tambahan' khusus buat kamu.”

Juan berdiri, mencoba mengabaikan godaan teman-temannya. “Aku ke sana sebentar. Kalau baksonya datang, kalian makan saja duluan.”

“Aku tunggu di sini,” ucap Raisa singkat, suaranya mengandung nada posesif yang samar.

Juan mengangguk, lalu membalikkan badan. Ia melangkah meninggalkan kantin yang bising menuju gedung dosen yang berada di blok sebelah.

Semakin ia mendekat, suasana semakin senyap. Koridor yang biasanya ramai kini hanya menyisakan suara langkah kaki Juan yang bergema di lantai keramik.

Di depan sebuah pintu kayu dengan papan nama elegan bertuliskan “Hani, S.Pd., M.Pd.”, Juan berhenti.

Ia menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya yang mulai berdetak tidak beraturan. Tenang, Juan. Kamu hanya mahasiswa yang dipanggil dosennya, batinnya menguatkan diri.

Tok. Tok.

Hening sejenak, sebelum terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka perlahan.

Juan terpaku di tempatnya. Matanya membelalak.

Bu Hani berdiri di ambang pintu, namun penampilannya jauh dari kesan formal yang ia tunjukkan di kelas tadi. Tidak ada kemeja krem yang kancingnya nyaris lepas, melainkan hanya sebuah tanktop hitam ketat dengan potongan rendah yang seolah berjuang keras menahan beban sepasang "melon" raksasanya yang padat.

Rambutnya yang tadi disanggul rapi kini terurai bebas, bergelombang jatuh di bahunya. Pakaian minim itu memperlihatkan kulit leher dan dada atasnya yang putih mulus, berkilau karena sisa keringat atau mungkin minyak aromaterapi.

Juan refleks menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang.

“Masuk, Juan,” suara Bu Hani terdengar lebih rendah, lebih serak, dan jauh lebih provokatif.

Sebelum Juan sempat mengeluarkan kata sapaan, tangan lembut namun kuat milik Bu Hani sudah meraih pergelangan tangannya.

Ia ditarik masuk dengan gerakan cepat. Pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Suara klik dari lubang kunci terdengar seperti ledakan di telinga Juan.

“Bu... ada apa sebenarnya?” Juan mencoba bertanya, namun suaranya terdengar goyah.

“Duduk dulu,” potong Bu Hani sambil menunjuk sofa kulit kecil di sudut ruangan yang remang-remang.

Juan menurut dengan kaku. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertumpu di paha. Ruangan itu terasa pengap, penuh dengan aroma parfum yang jauh lebih tajam dan manis dibandingkan saat di kelas. Aroma janda yang matang.

Bu Hani tidak duduk di kursi kerjanya. Ia justru mendaratkan tubuhnya tepat di samping Juan. Sangat dekat. Saking dekatnya, Juan bisa merasakan panas tubuh yang memancar dari kulit sang dosen.

Juan menelan ludah sekali lagi. Matanya sulit untuk tidak mencuri pandang ke arah celah di tengah tanktop itu, di mana belahan "melon" besar Bu Hani terlihat bergoyang setiap kali wanita itu bernapas.

“Bu Hani… maaf, kenapa saya dipanggil ke sini?” tanya Juan hati-hati, berusaha menjaga sisa-sisa kewarasannya.

Bu Hani tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Juan berdiri.

“Kamu tahu, Juan,” ucapnya perlahan, jemarinya mulai memainkan ujung rambutnya sendiri. “Dari sekian ratus mahasiswa yang ibu ajar di kampus ini… kamu itu punya sesuatu yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana, Bu?”

Bu Hani menoleh, menatap Juan dengan tatapan yang dalam dan lapar, sebuah tatapan yang tidak seharusnya diberikan oleh seorang guru kepada muridnya. Tatapan seorang wanita yang sedang menilai mangsanya.

“Kamu tidak pernah menatap ibu dengan cara yang penuh nafsu seperti mahasiswa lain,” lanjut Bu Hani. “Kamu tidak pernah mencoba mencari perhatian atau bertingkah konyol hanya untuk ibu lirik.”

Juan menarik napas panjang. “Saya hanya ingin fokus pada materi Ibu.”

Bu Hani tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti melodi yang menggoda. Secara tiba-tiba, tangan halusnya bergerak, mendarat di atas paha Juan.

Ia mulai mengelusnya dengan gerakan memutar yang sangat lambat namun penuh penekanan. Tekstur tangan Bu Hani yang lembut terasa menembus kain celana Juan.

Juan tersentak, seluruh tubuhnya menegang seolah dialiri listrik bertegangan tinggi. Ia refleks menggeser duduknya. “Bu Hani… apa yang Ibu lakukan?”

“Tenanglah,” bisik Bu Hani lembut, matanya kini tampak sayu karena gairah. “Ibu tidak sedang marah padamu.”

Sentuhan itu tidak berhenti, justru semakin berani merambat naik. Juan bisa merasakan hormonnya mulai bergejolak, insting lelakinya berontak, namun logika dan status mereka menahannya.

Juan segera memegang pergelangan tangan Bu Hani, mencoba menjauhkan tangan itu dari pahanya.

“Bu, maaf… saya rasa ini sudah di luar batas. Ini sama sekali tidak pantas,” tegas Juan.

Bu Hani justru memajukan wajahnya, membuat jarak di antara mereka hilang. Juan bisa merasakan napas hangat Bu Hani yang berbau mint menerpa wajahnya.

“Juan,” bisiknya tepat di telinga Juan, membuat pria itu merinding hebat. “Kamu tahu kenapa sebenarnya ibu memanggilmu? Karena kamu adalah satu-satunya pria yang berani mengabaikan pesonaku. Dan itu… justru membuatku sangat penasaran padamu.”

Juan menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat. “Saya menghormati Ibu sebagai dosen saya.”

Bu Hani terkekeh, tangannya kembali mencoba mencari celah. Juan segera berdiri dari sofa dengan sentakan cepat, membuat jarak di antara mereka terbuka kembali.

“Bu Hani,” suara Juan kini terdengar lebih keras dan tegas, meski ia harus berjuang melawan godaan visual di depannya. “Tolong hentikan. Saya tidak ingin merusak reputasi Ibu dan masa depan saya.”

Bu Hani terdiam di sofanya. Senyum genitnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara kecewa, malu, namun juga semakin terobsesi.

“Kamu menolakku, Juan?” tanya Bu Hani dengan nada yang sedikit bergetar, ia membusungkan dadanya, menonjolkan sepasang "melon" raksasanya dengan sengaja. “Apa miliku ini benar-benar tidak membuatmu tertarik sedikit pun?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!