NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Tungku Teratai Merah dan Pil Sempurna Pengubah Takdir

​Pelelangan Musim Gugur berlanjut, namun fokus Lin Tian sudah tidak lagi berada di sana. Beberapa saat setelah kemenangannya yang menghancurkan mental Lin Kuang, Manajer Sun mengetuk pintu bilik VIP dan masuk dengan senyum yang sangat lebar, diikuti oleh dua pelayan berotot yang membawa Tungku Teratai Merah dengan hati-hati.

​"Tuan Besar, ini adalah Tungku Teratai Merah yang Anda menangkan," ucap Manajer Sun penuh hormat. "Mengingat Tuan adalah Tamu Kehormatan Emas, potongan harga tiga puluh persen berlaku. Total yang harus dibayarkan adalah tujuh ratus Batu Spiritual tingkat rendah."

​Di balik topeng logamnya, Lin Tian mengangguk pelan. Ia menjentikkan jarinya, dan dari cincin naga hitam di jarinya, tujuh keping batu yang memancarkan cahaya biru murni melayang keluar, mendarat dengan mulus di atas meja pualam.

​Napas Manajer Sun tercekat. Matanya membelalak menatap ketujuh batu tersebut.

​"Batu Spiritual... Tingkat Menengah?!" serunya tertahan. Di kota perbatasan kecil seperti Kota Daun Gugur, transaksi biasanya murni menggunakan batu tingkat rendah. Batu tingkat menengah sangat langka dan kualitas energinya jauh lebih stabil, sering kali ditukar dengan rasio satu banding seratus dua puluh di pasar gelap karena kemurniannya.

​"Gunakan itu. Simpan kembaliannya sebagai biaya tutup mulut atas kehadiranku dan ayahku di paviliun ini," ucap Lin Tian datar.

​"Tentu saja! Keamanan Tuan Besar adalah prioritas absolut kami!" Manajer Sun segera membungkuk, menyimpan batu-batu itu dengan tangan gemetar. Sebelum pergi, ia merendahkan suaranya dan menambahkan, "Satu informasi lagi, Tuan. Mata-mata kami melaporkan bahwa Lin Kuang baru saja meninggalkan paviliun dalam keadaan murka. Dia segera mengirimkan burung pengirim pesan tingkat siluman terbang ke arah barat, menuju wilayah Sekte Pedang Surgawi."

​Di balik topengnya, mata Lin Tian menyipit. "Dia meminta bantuan pada Tetua Lu atau Su Yue karena dia tahu waktunya sudah habis. Masuk akal. Seekor anjing yang terpojok pasti akan memanggil majikannya."

​"Terima kasih atas informasinya, Manajer Sun. Jangan biarkan siapa pun menggangguku malam ini."

​Setelah pelayan dan Manajer Sun keluar, Lin Tian menyentuh Tungku Teratai Merah itu. Artefak kelas Bumi ini terasa hangat. Formasi pengumpul api di dalamnya masih berfungsi sempurna. Tanpa membuang waktu, Lin Tian memindahkan tungku tersebut ke dalam Cincin Naga Hitam dan segera kembali ke ruang meditasinya di lantai empat.

​Malam itu, di dalam ruangan yang diisolasi oleh formasi pelindung, Lin Tian bersiap untuk melakukan alkimia pertamanya.

​Ia duduk bersila, meletakkan Tungku Teratai Merah di hadapannya. Di sekelilingnya, ratusan tangkai tanaman spiritual tingkat rendah dan menengah yang telah ia pesan dari paviliun berjajar rapi.

​Logika alkimia ortodoks mengharuskan seorang alkemis untuk memanaskan tungku, memasukkan bahan secara berurutan sesuai elemen, mengendalikan suhu dengan presisi tingkat rambut, dan berdoa agar tidak terjadi penolakan energi yang berujung pada ledakan.

​Namun, Lin Tian mempraktikkan Hukum Kekacauan.

​"Bangkit," perintah Lin Tian pelan.

​Dantiannya bergemuruh. Untaian energi abu-abu pekat mengalir dari telapak tangannya, masuk ke dalam lubang formasi di dasar Tungku Teratai Merah. Alih-alih api merah biasa, tungku itu kini menyala dengan kobaran api spiritual berwarna abu-abu yang memancarkan aura kehancuran absolut sekaligus penciptaan primitif.

​Tungku kelas Bumi itu bergetar hebat, nyaris tidak mampu menahan kualitas energi Primordial yang melampaui hierarki dimensinya.

​Lin Tian tidak memasukkan tanaman spiritual satu per satu. Dengan ayunan tangannya, puluhan bahan obat—mulai dari Rumput Pengembun Qi hingga Buah Darah Naga tingkat menengah—terbang serentak dan jatuh ke dalam tungku.

​Jika alkemis lain melihat tindakan sembrono ini, mereka pasti akan lari ketakutan, mengira Lin Tian sedang merakit sebuah bom spiritual.

​Namun di dalam tungku, sebuah keajaiban yang melawan akal sehat terjadi. Api abu-abu Kekacauan tidak membakar bahan-bahan itu. Api itu secara paksa merobek struktur materi setiap tanaman, memisahkan esensi murni dari kotoran (impuritas) dalam hitungan detik. Asap hitam pekat yang merupakan kotoran bahan obat langsung dimusnahkan oleh suhu ekstrem Qi Primordial, tidak meninggalkan sedikit pun residu beracun.

​Hanya dalam waktu satu batang dupa, puluhan tetesan cairan spiritual dengan berbagai warna melayang di dalam tungku. Lin Tian menekan telapak tangannya ke depan.

​"Padatkan!"

​Cairan-cairan itu dipaksa menyatu oleh tekanan Qi yang mengerikan, berputar membentuk pusaran kecil, lalu secara bertahap memadat menjadi pil-pil bundar seukuran mutiara.

​Ping! Ping! Ping!

​Tutup tungku terlempar ke udara. Sepuluh butir pil melayang keluar, memancarkan cahaya keemasan dan aroma obat yang begitu pekat hingga membuat udara di ruangan itu terasa manis.

​Lin Tian menangkap pil-pil tersebut. Matanya sedikit berbinar. Sepuluh butir Pil Kondensasi Qi. Hebatnya lagi, di permukaan setiap pil terdapat tiga garis awan melingkar yang terbentuk secara alami.

​"Pil dengan Urat Awan Tingkat Tiga. Kemurnian seratus persen tanpa ada racun residu sedikit pun," analisa Lin Tian dengan rasional. Di Benua Fana, pil dengan satu Urat Awan saja sudah dianggap sebagai harta karun suci yang akan diperebutkan oleh para Kepala Klan hingga berdarah-darah. Lin Tian baru saja memproduksi sepuluh butir sekaligus seperti membuat permen.

​Ia tidak berhenti di sana. Selama lima jam berturut-turut, Lin Tian terus menyita energi mental dan fisiknya untuk memproduksi berbagai pil. Pada akhirnya, ia berhasil membuat empat puluh butir Pil Kondensasi Qi dan tiga butir Pil Pemulihan Meridian tingkat tinggi yang dicampur dengan sisa akar dari Teratai Salju Seribu Tahun.

​Wajah Lin Tian pucat pasi dan napasnya tersengal akibat penipisan Qi yang ekstrem, namun kepuasannya tidak tertandingi.

​Ia bangkit dan berjalan ke kamar ayahnya. Lin Zhen sedang duduk bersandar, wajahnya jauh lebih sehat dari sebelumnya.

​"Ayah, telan ini," Lin Tian menyodorkan sebutir Pil Pemulihan Meridian yang memancarkan pendaran cahaya perak.

​Lin Zhen tidak bertanya. Ia langsung menelan pil tersebut. Seketika, tubuh pria paruh baya itu tersentak. Sebuah energi hangat yang luar biasa murni meledak di dalam perutnya, menyebar ke seluruh jaringan meridiannya yang telah putus dan layu selama tiga tahun.

​Prosesnya menyakitkan, terlihat dari keringat yang mengucur di dahi Lin Zhen, namun ini adalah rasa sakit dari regenerasi. Urat-urat nadi yang sebelumnya tersumbat kini terbuka paksa, dan jembatan meridian yang hancur perlahan dirajut kembali oleh esensi pil yang sempurna.

​"Luar biasa..." gumam Lin Zhen dengan napas terengah-engah setelah efek obat itu menetap. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan sedikit energi spiritual kembali mengalir di tubuhnya untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Meskipun kultivasinya turun drastis ke Pengumpulan Qi Tingkat 1 akibat tidak berlatih bertahun-tahun, fondasinya telah diperbaiki secara total. "Tian'er, kau benar-benar telah melampaui segala ekspektasi Ayah."

​"Ini baru permulaan, Ayah. Fokuslah memulihkan diri. Aku memiliki urusan yang harus diselesaikan," ucap Lin Tian dengan tatapan yang membeku.

​Lin Tian kembali ke ruang meditasinya. Saatnya untuk memperkuat diri sebelum menghadapi badai yang sesungguhnya. Lin Kuang telah memanggil bala bantuan dari Sekte Pedang Surgawi, yang berarti Lin Tian tidak lagi hanya berhadapan dengan klan kecil, melainkan dengan faksi raksasa. Waktu adalah kemewahan yang tidak ia miliki.

​Ia duduk bersila dan mengeluarkan segenggam Pil Kondensasi Qi berurat awan yang baru saja ia buat. Kultivator normal hanya berani memakan satu pil setiap bulan karena takut tubuh mereka meledak oleh luapan energi.

​Bagi Lin Tian, logika itu tidak berlaku. Tubuh Pedang Kekacauan miliknya adalah jurang maut yang kelaparan.

​Ia memasukkan lima butir pil sekaligus ke dalam mulutnya.

​BOOM!

​Ledakan energi spiritual murni menyapu Dantiannya layaknya banjir bandang. Meridian abu-abunya berdenyut liar, menyerap setiap tetes energi tanpa membiarkan setitik pun terbuang percuma.

​Krak! Batasan kultivasinya retak dengan mudah.

Pengumpulan Qi Tingkat 6!

​Lin Tian tidak membuka matanya. Ia kembali meraup lima butir pil dan menelannya. Keringat darah mulai merembes dari pori-porinya saat kapasitas dagingnya diuji hingga batas absolut.

​BUM!

Pengumpulan Qi Tingkat 7!

​Tubuh Lin Tian kini melayang beberapa inci dari lantai meditasi. Udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas tubuh dan kompresi Qi yang mengerikan. Bayangan pedang tak kasat mata mulai terbentuk di sekelilingnya, memotong udara dengan suara desisan tajam.

​Dalam satu malam, Lin Tian telah menembus dua tingkat sekaligus, mencapai tahap akhir dari alam Pengumpulan Qi. Di tingkat ini, kualitas dan kuantitas energinya setara dengan kultivator di puncak Tahap Pendirian Yayasan.

​Saat sinar matahari pagi menembus celah jendela, Lin Tian perlahan turun menyentuh lantai. Ia membuka matanya, menyorotkan cahaya pedang abu-abu yang mampu menggetarkan jiwa siapa pun yang melihatnya. Kekuatan yang mengalir di dalam pembuluh darahnya terasa begitu padat, masuk akal, dan absolut.

​"Surat Lin Kuang ke Sekte Pedang Surgawi pasti butuh waktu dua hari untuk sampai, dan bala bantuannya butuh satu hari lagi untuk tiba di sini," kalkulasi Lin Tian dengan presisi dingin.

​Ia berdiri, menyarungkan belatinya, dan menyibakkan jubahnya.

​"Tiga hari terlalu lama. Aku tidak akan menunggu mereka datang. Hari ini, aku akan mencabut nyawa Lin Kuang dan merebut kembali Klan Lin."

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!