Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: HUJAN DAN KEPUTUSAN YANG BERAT
Hujan deras turun tanpa ampun membasahi bumi.
Air hujan itu dingin, sangat dingin, seolah ingin membekukan seluruh darah yang mengalir di dalam tubuh Mo Fei. Di dalam reruntuhan Kuil Terbengkalai itu, atap yang sudah bolong-bolong membuat air turun membanjiri lantai, membasahi tubuh Mo Fei hingga basah kuyup.
Namun, Mo Fei seakan tidak merasakan apa-apa.
Ia berdiri kaku seperti patung di tengah genangan air dan lumpur. Matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa fokus. Pikirannya kacau balau. Ribuan pertanyaan, kenangan, dan kenyataan pahit berputar kencang di dalam kepalanya bagaikan badai yang tak terkendali.
'Gurumu... bukan korban. Dialah dalangnya.'
'Dia yang membuka gerbang. Dia yang menyerahkan kalian.'
'Dia sekarang adalah Penguasa Istana Kematian.'
Kalimat-kalimat itu terus bergema di telinganya, menusuk-nusuk jantungnya berulang-ulang kali.
"Kakek..." bisiknya pelan, suaranya bergetar hebat tertelan suara gemuruh guntur yang menggelegar di langit. "Kenapa... kenapa harus begini? Apa semua kasih sayangmu selama ini... hanya sandiwara belaka?"
Bayangan masa lalu terlintas cepat di pelupuk matanya.
Ia teringat saat ia masih kecil, yatim piatu dan tak punya siapa-siapa. Kakek yang menemukannya, memeluknya hangat, dan membawanya pulang ke Lembah Naga Tidur. Kakek yang mengajarinya membaca, menulis, dan mengajarinya ilmu bela diri. Kakek yang selalu tersenyum lembut, yang selalu membelai kepalanya dan berkata, 'Kau adalah harapanku, Fei. Kau adalah masa depan lembah ini.'
Semua itu... bohong?
Semua itu hanya untuk memanipulasinya agar ia tumbuh kuat, lalu suatu saat matanya akan diambil untuk membuka segel kekuatan gelap itu?
"ARGGHHHH!!"
Mo Fei berteriak kencang melampiaskan rasa sakit dan amarah yang membuncah di dadanya!
Ia menendang keras sebuah pilar batu di sampingnya hingga pilar itu hancur berkeping-keping! Tangannya mengepal kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan, mengeluarkan darah.
"KENAPA?! JAWABLAH KENAPA?!" teriaknya lagi ke langit yang gelap. "KALAU KAU MENGINGINKAN KEKUATAN, KENAPA TIDAK BILANG PADAKU?! AKU AKAN MEMBERIKANNYA! TAPI KENAPA HARUS MEMBUNUH ORANG TAK BERSALAH?! KENAPA HARUS MENGHANCURKAN SEGALANYA?!"
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya, bercampur dengan air hujan sehingga tidak ada yang tahu mana air mata dan mana air hujan. Hatinya hancur lebur bagaikan kaca yang dihancurkan dengan palu.
Di sampingnya, Senior Liu—saudara seperguruannya yang kini menjadi anggota Istana Kematian itu—hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan. Ia mengerti perasaan Mo Fei. Ia mengerti betapa hancurnya perasaan mengetahui bahwa orang yang paling kau cintai dan hormati ternyata adalah musuh terbesarmu.
"Maafkan aku, Adikku..." ucap Senior Liu pelan. "Aku tidak tega melihatmu terus hidup dalam kebohongan. Aku harus memberitahumu kebenarannya meskipun itu menyakitkan. Kau berhak tahu."
Mo Fei perlahan menoleh ke arahnya. Matanya merah, bengkak, dan penuh dengan aura gelap yang menakutkan.
"Jadi... selama ini kita berjuang melawan siapa? Kita memburu hantu, padahal hantu itu ada di rumah kita sendiri?" tanya Mo Fei dengan suara parau.
"Ya. Kekuatan dia sekarang sudah tidak terukur lagi," jawab Senior Liu jujur. "Dia sudah menyerap energi jahat dari Segel Kuno. Dia bukan lagi Kakek pengasih yang kau kenal. Sekarang dia hanyalah monster yang haus kekuasaan dan keabadian."
Senior Liu mendekat selangkah, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Mo Fei, dengarkan aku. Sekarang satu-satunya orang yang bisa menghentikannya... hanyalah kau. Kau pewaris sejati ilmu Seribu Jarum Emas yang murni. Kau memiliki Mata Batin yang dia butuhkan tapi tidak bisa dia miliki. Hanya kau yang bisa menjadi penyeimbang."
"Tapi... dia guruku. Dia orang tua kandung bagiku..." Mo Fei gemetar. "Bagaimana mungkin aku bisa mengangkat senjata melawan dia? Bagaimana mungkin aku bisa membunuhnya?"
Itulah pertanyaan terberat dalam hidup Mo Fei.
Membunuh penjahat biasa itu mudah. Membunuh orang jahat itu mudah. Tapi membunuh orang yang membesarkanmu? Orang yang memberimu nama? Orang yang kau panggil Kakek?
Itu... jauh lebih menyakitkan daripada menyayat hati sendiri.
"Kau tidak harus membunuhnya jika kau tidak sanggup," kata Senior Liu bijak. "Tapi kau harus menghentikannya. Kau harus mengembalikan akal sehatnya atau kau harus menahannya agar dia tidak menghancurkan dunia ini. Ingat, Fei... Jika dia berhasil mendapatkan matamu dan menguasai kekuatan penuhnya, bukan hanya kita yang mati. Seluruh dunia akan hancur dan menjadi neraka bagi semua makhluk hidup."
Mo Fei terdiam lama. Hujan semakin deras, membasahi segalanya.
Perlahan-lahan, tatapan kosong di matanya mulai kembali menyala. Bukan menyala karena amarah membabi buta, tapi menyala karena sebuah tekad yang bulat dan kuat.
Ia mengusap air di wajahnya kasar dengan lengan bajunya. Ia menarik napas panjang, menenangkan gejolak emosi di dalam dadanya.
"Kau benar..." ucap Mo Fei pelan namun tegas. "Aku tidak bisa membiarkan dia terus melakukan ini. Aku tidak bisa membiarkan nama baik Lembah Naga Tidur terus diinjak-injak dan dicemarkan oleh kekejaman."
Ia menatap tajam ke arah jalan yang gelap dan berkabut di hadapannya.
"Aku akan pergi mencarinya. Aku akan menghadapinya langsung."
"Mo Fei?! Itu terlalu berbahaya! Dia sangat kuat!" Senior Liu kaget.
"Aku tahu," jawab Mo Fei tenang. "Tapi ini adalah tanggung jawabku. Dia yang mengajariku segalanya. Dan sekarang... akulah yang harus memberinya pelajaran terakhir. Entah dia akan sadar atau tidak... aku harus melihatnya sendiri."
Mo Fei berbalik badan, siap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Tunggu, Mo Fei!" panggil Senior Liu. "Ke mana kau akan pergi dulu? Markas utama mereka ada di..."
"Aku akan kembali dulu ke kota," potong Mo Fei. "Aku harus memastikan Lian Er aman. Aku tidak bisa membawanya ikut ke dalam bahaya sebesar ini. Dan setelah itu... aku akan pergi sendirian ke Sarang Naga itu."
Beberapa jam kemudian, fajar mulai menyingsing meskipun langit masih mendung kelabu.
Mo Fei sudah kembali ke penginapan. Tubuhnya basah dan lelah, tapi pikirannya kini jauh lebih jernih daripada sebelumnya.
Lian Er yang sudah menunggu dengan cemas sepanjang malam langsung berlari memeluknya begitu melihat ia masuk.
"Mo Fei! Kau pulang! Aku khawatir sekali setengah mati! Kenapa basah kuyup begini? Apa yang terjadi?! Kenapa wajahmu sedih sekali?!" tanya Lian Er bertubi-tubi dengan mata berbinar penuh kekhawatiran.
Mo Fei membiarkan dirinya dipeluk sebentar, merasakan kehangatan yang sangat ia butuhkan saat ini. Ia menatap wajah polos dan tulus gadis itu, lalu tersenyum tipis namun sangat sedih.
"Putri..." panggilnya lembut. "Aku punya sesuatu yang sangat penting harus kulakukan. Dan perjalanan ini... sangat berbahaya. Bahaya yang belum pernah kita temui sebelumnya."
"Maka aku akan ikut!" potong Lian Er cepat. "Aku tidak akan meninggalkanmu! Kita sudah janji akan bersama kan?!"
"Kali ini tidak bisa, Lian Er," Mo Fei menggeleng tegas namun lembut. "Musuh yang akan kuhadapi ini terlalu kuat dan terlalu gelap. Aku tidak sanggup jika harus memikirkan keselamatanmu saat bertarung nanti. Aku butuh kau pergi ke tempat yang aman dulu."
"Tapi... tapi aku takut kehilanganmu..." air mata Lian Er mulai menetes.
"Jangan menangis..." Mo Fei mengusap pipi gadis itu dengan jari-jarinya yang dingin. "Dengarkan aku. Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari pertarungan terakhirku. Aku berjanji... aku akan kembali. Aku akan kembali setelah semua masalah ini selesai. Aku janji."
Meskipun hatinya berat dan hancur, Mo Fei tahu ia tidak punya pilihan lain.
Jalan di depannya kini terlihat gelap dan penuh duri. Ia harus berjalan sendiri menuju masa depan yang tidak pasti, menghadapi orang yang paling ia cintai, demi menyelamatkan apa yang tersisa dari kebenaran dan keadilan.