"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANOMALI SANG NAGA EMAS
Pagi kedua di Hutan Kabut Abadi seharusnya menjadi momen di mana seorang kultivator yang terluka parah masih berjuang untuk sekadar membuka mata. Namun, bagi Kakek Bo, logika medis yang ia pelajari selama puluhan tahun di medan perang Dataran Tengah seolah-olah dilempar ke dalam tungku api.
Ketika ia melangkah masuk ke dalam pondok dengan semangkuk ramuan kulit pohon perak—obat penguat nadi yang sangat keras yang seharusnya dikonsumsi perlahan selama seminggu—ia menemukan dipan bambu itu sudah kosong.
Kakek Bo tersentak, hampir menjatuhkan mangkuknya. Ia menoleh ke tengah ruangan dan menemukan Han Feng sedang duduk bersila di lantai kayu. Uap berwarna emas murni keluar dari pori-pori kulit pemuda itu, membentuk kabut tipis yang berputar perlahan sebelum terserap kembali ke dalam tubuhnya.
"Kau... bagaimana mungkin?" Kakek Bo tertegun.
Ia mendekat dan menggunakan indra mentalnya untuk memeriksa tubuh Han Feng. Matanya melebar. Luka-luka dalam yang kemarin menyerupai keramik retak kini telah tersambung kembali tanpa meninggalkan bekas luka tunggal pun. Bahkan, nadi-nadi Han Feng tampak lebih lebar dan lebih tangguh, berkilau dengan cahaya keemasan yang murni.
"Pemulihan ini... ini tidak masuk akal. Bahkan dengan obat dari istana kerajaan sekalipun, kau setidaknya butuh waktu tiga bulan untuk bisa duduk tegak setelah bentrokan dengan ahli Setengah Inti Sejati!"
Han Feng perlahan membuka matanya. Sinar emas berkilat sesaat sebelum meredup menjadi hitam yang dalam dan tenang. "Pondasi yang kubangun menuntut efisiensi, Kakek Bo. Jika aku mati karena luka seperti itu, berarti aku tidak layak menyandang warisan ini."
Melihat pemulihan Han Feng yang aneh, Kakek Bo membawa pemuda itu ke halaman belakang pondoknya. Di sana berdiri sebuah pohon perak kuno yang daunnya berdesir mengeluarkan suara seperti denting logam pelan.
"Duduklah di sana," perintah Kakek Bo. "Hutan ini memiliki energi alam yang sangat murni. Jika kau memang anomali, tunjukkan padaku seberapa jauh kau bisa melangkah."
Han Feng memejamkan mata di bawah rimbunnya daun perak. Ia merenungkan setiap detik pertarungannya dengan Leluhur Li. Ia menyadari satu hal: kekuatannya selama ini terlalu kasar. Ia memiliki energi "Dewa" yang tak tertandingi secara kualitas, namun ia menggunakannya seperti seorang anak kecil yang mengayunkan palu godam raksasa.
“Energi harus mengalir seperti air, namun meledak seperti guntur,” batinnya.
Saat ia bermeditasi, pusaran energi di sekitarnya mulai terbentuk. Daun-daun perak di pohon itu mulai bergetar hebat. Energi alam dari Hutan Kabut seolah-olah tersedot secara rakus masuk ke dalam pusaran emas yang mengelilingi Han Feng.
Kakek Bo yang mengamati dari jauh merasa merinding. Ia mencoba menganalisis aliran Qi Han Feng, namun setiap kali indra mentalnya mendekat, ia merasa seperti akan ditelan oleh kekosongan yang agung dan tak berujung.
"Metode kultivasi macam apa ini? Tidak ada catatan di kerajaan yang memiliki aliran energi sepekat ini..." gumam Kakek Bo.
Tiba-tiba, langit di atas pondok yang biasanya tertutup kabut tebal mendadak jernih sesaat. Sebuah suara guntur yang sangat pelan namun berwibawa bergema di udara. Tubuh Han Feng bergetar, dan sebuah gelombang energi yang tenang namun sangat padat meledak dari tubuhnya.
Han Feng telah menerobos. Dalam waktu hanya tiga hari, ia melompati level dan mencapai Ranah Pondasi Dasar Level 3 (Tingkat Menengah). Pemulihan sekaligus terobosan ini adalah sesuatu yang akan membuat para jenius di sekte besar merasa ingin bunuh diri karena iri.
Waktu berlalu dengan cepat. Lima bulan telah terlewati sejak Han Feng meninggalkan pondok Kakek Bo. Selama waktu itu, ia telah melintasi perbatasan, melewati Gurun Pasir Mendidih yang mematikan, dan terus mengasah kekuatannya di tengah jalan.
Kini, sosok Han Feng tampak berbeda. Ia lebih tinggi, bahunya lebih lebar, dan aura di sekelilingnya kini tersembunyi dengan sempurna. Jika ia tidak melepaskan energinya, ia tampak seperti seorang pendekar muda yang berbakat namun rendah hati. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kekuatan yang mampu merobek langit.
Selama perjalanan lima bulan ini, Han Feng tidak terburu-buru menuju Dataran Tengah. Pertarungannya dengan Leluhur Li memberinya pelajaran berharga tentang realitas. Jika Leluhur Li—yang di Dataran Tengah hanyalah seorang pengawal—hampir bisa membunuhnya, maka pergi ke sana sekarang adalah tindakan bunuh diri.
“Langkah demi langkah,” pikirnya. “Kota Seribu Awan adalah batu loncatanku.”
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Han Feng tiba di kaki pegunungan raksasa yang puncaknya tertutup oleh awan putih yang abadi. Itulah tempat di mana Kota Seribu Awan berdiri.
Sesuai namanya, kota ini tidak dibangun di atas tanah, melainkan di atas dataran tinggi yang dikelilingi oleh ribuan gumpalan awan yang seolah-olah membeku menjadi jembatan. Visualnya sangat megah. Menara-menara tinggi dengan arsitektur kuno menjulang menembus awan, permukaannya dilapisi kristal yang memantulkan cahaya matahari menjadi pelangi yang tak pernah hilang.
Han Feng melangkah di atas jembatan batu yang menghubungkan gerbang luar. Di bawah jembatan itu, hanya ada hamparan awan putih tak berujung, memberikan sensasi berjalan di langit.
Namun, yang paling mencolok adalah suasananya. Kota ini sedang dihinggapi oleh "badai" manusia. Ribuan murid dari berbagai sekte besar berkumpul di sini. Han Feng bisa melihat para murid dari Sekte Pedang Langit yang sombong, Sekte Guntur yang kasar, hingga sekte-sekte yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Kereta terbang yang ditarik oleh binatang buas eksotis memenuhi pelabuhan udara. Suara dentingan pedang dan diskusi tentang seleksi Sekte Langit Abadi terdengar di setiap sudut jalan yang berlapis marmer. Di sini, aura Pondasi Dasar adalah hal yang biasa. Han Feng bahkan bisa merasakan beberapa aura yang jauh lebih kuat, mungkin mereka adalah para jenius dari sekte tingkat tinggi yang sengaja turun untuk menguji kemampuan.
"Tempat ini benar-benar pusat berkumpulnya para pemangsa," gumam Han Feng sambil membetulkan letak topi bambunya.
Han Feng menyentuh bungkusan di balik jubahnya, tempat lencana perunggu pemberian Kakek Bo tersimpan. Sebelum berangkat, kakek itu memberitahunya bahwa Kota Seribu Awan bukan hanya tempat seleksi, tapi juga sarang intrik di mana informasi adalah mata uang yang paling berharga.
"Gunakan lencana itu jika kau terjepit," pesan Kakek Bo saat itu. "Unit Pengawal Bayangan punya mata di mana-mana."
Han Feng berjalan menuju pusat kota, melewati kerumunan murid berpakaian mewah yang menatapnya dengan pandangan meremehkan karena jubahnya yang sederhana. Ia hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu bahwa "pendekar liar" yang mereka remehkan ini adalah orang yang sama yang telah menghancurkan satu divisi pasukan Keluarga Li dan membuat seorang Leluhur Setengah Inti Sejati gemetar ketakutan.
Han Feng berhenti di depan sebuah kedai informasi yang cukup tenang di dekat distrik pasar. Ia butuh sumber daya, informasi tentang seleksi, dan yang terpenting—ia butuh tempat untuk terus memperkuat pondasinya sebelum pintu menuju Dataran Tengah benar-benar terbuka.
"Kota Seribu Awan," ucap Han Feng dalam hati sambil menatap menara tertinggi yang menyentuh langit. "Naga ini datang bukan untuk mencari perlindungan, tapi untuk menelan semua tantangan yang kau tawarkan. Mari kita lihat, berapa banyak jenius di sini yang akan menjadi pijakan kakiku untuk naik ke langit yang lebih tinggi."
Dengan langkah mantap, Han Feng memasuki gerbang utama kota, siap untuk memulai babak baru yang jauh lebih berbahaya dan megah dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Perang para jenius, baru saja dimulai.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏