Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Dasar cowok brengsek!" gerutu Hana seraya melangkahkan kaki menuju pantry dapur kembali.
"Don't you love Dad, Mom?"
Suara anak kecil bergema dalam kepalanya. Membuat langkah kakinya berhenti. Lalu dengan jelas sebuah gambaran peristiwa terputar bak film pendek dalam kepalanya. Anak kecil yang sepertinya berusia 5 tahun menatap sedih kearah perempuan yang sepertinya adalah ibunya. Mereka berada dalam sebuah kamar. Si ibu tampak membereskan pakaian yang dimasukkan ke dalam koper kecil.
"Kamu terlalu kecil untuk mengerti, Rei," jawab ibu itu tanpa menoleh.
"Rei?" gumam Hana. Anak kecil tampan berwajah sendu itu Reiga? Kamar ber-wallpaper tema luar angkasa yang sekarang terlihat jelas dalam kepalanya. Seakan-akan termasuk ke dalam ingatan besarnya adalah kamar Reiga?
"Why did i see you said i love you to someone else? And it's not me or dad?"
Anak itu kembali bertanya dengan pelupuk penuh airmata. Menggambarkan betapa sedih dan merananya hatinya. Aktivitas ibu itu berhenti tiba-tiba. Ia berjalan cepat kearah si anak. Bersimpuh dengan tatapan heran dan bertanya. Kedua tangannya tampak kontras di kedua bahu kecil si anak.
"Ngomong apa sih? Siapa yang kasih tahu kamu? Papa!? No! Dia belum tahu. Rahardian terlalu sibuk sama pekerjaannya. Now tell me, how do you know it?"
Perasaan sedih, bingung, dan takut si anak itu menyambar cepat nan mudah pada Hana. Tak pernah Hana merasakan perasaan sesedih yang anak itu rasakan. Gambaran si ibu berpelukan dengan seorang lelaki di pantai begitu nyata. Penglihatan si anak yang membuatnya bertanya apakah si ibu mencintai ayahnya atau tidak?
"I saw it in my head," jawab si anak.
Si ibu memasang muka marah dan berkata setengah membentak. "Jangan bohongin Mama, Rei!"
"Reiga nggak bohong, Mah." Setengah merajuk menahan tangis, anak yang mengaku Reiga itu mencoba meyakinkan si ibu.
"Udahlah! Kenapa Mama harus dengerin anak kecil kayak kamu!? Mama mau pergi! Kamu di sini aja sama Bi Sarti. Nggak lama. Cuma tiga hari!"
Si ibu kembali membereskan pakaian.
Intense. Perpisahan yang menyedihkan. Merananya si anak yang hatinya patah karena diabaikan sang ibu.
Inikah yang dirasakan Reiga? Mengapa lelaki itu membaginya dengan Hana? Bagaimana bisa? Kemampuan Reiga sudah jelas bukan hanya membaca pikiran. Kebingungan dan kesedihan yang Hana rasakan berkat gambaran itu sungguh membuatnya terdiam di tempat.
"I love you, Rei. Ayo saling janji untuk nggak saling menyakiti," ucap seorang gadis cantik dengan riang.
Gadis itu memeluk Reiga yang berseragam abu-abu dengan erat. Senyum Reiga pun mengembang seraya memeluk balik gadis berseragam sama dengannya.
"Serius nih? Serius lu mau bertaruh dengan hati lu sebagai jaminannya, Rei?"
Hana mendengar pikiran Reiga kala pelukan itu terjadi. Keputusan Reiga yang memilih mempercayai gadis yang disebut sebagai Cyila dalam pikiran Reiga versi SMA ini. Kepercayaan seratus persen pria itu dengan mengabaikan is pikiran Cyila yang tidak secinta itu dengannya. Yang hanya mendekati dia berbekal taruhan tak punya hati dengan genk gadis itu. Hana geram dan sedih dalam waktu bersamaan. Sekarang Hana paham mengapa Mengacuhkan Reiga kecil.
"Reiga mau ikut mama," pinta Reiga.
"Nggak boleh! Kamu cuma bakal ganggu kesenangan mama aja," tukas si ibu ketus.
"Tapi Reiga mau ikut mama! Mama jangan pergi sama om itu!" rajuk Reiga sudah terisak.
Tangan kanan Hana menyentuh dadanya yang ikut nyeri merasakan kesedihan Reiga kecil. Begitu menyedihkannya sampai tanpa sadar airmata Hana mengalir dari dua ujung matanya.
"Rei, kamu ..." Kalimat monolog Hana terhenti dengan gambaran lanjutannya.
Kini anak itu tampak sudah agak besar. Lagi-lagi si anak itu tengah berdiri. Yang dipandanginya sekarang adalah seorang pria dan si ibu. Dua orang yang tengah bertengkar. Tepatnya, si ibu yang sedang tampak marah-marah sendiri. Sementara si pria hanya diam dan mendengarkan. Tak lama si ibu pergi dengan koper yang lebih besar, berjalan pergi melewati si anak tanpa menoleh apalagi berkata. Si pria menatap si anak. Dengan wajah sama sedihnya seperti si anak.
"Maafin Papa, Rei. Papa gagal menahan Mama. Papa gagal memberi keluarga yang bahagia buat kamu," bisiknya.
Napas Hana tersengal. Kesedihan yang begitu Reiga bilang nggak selamanya mengetahui isi pikiran itu memudahkan. Justru luka yang diderita akan lebih parah. Simpati apa yang muncul dalam hatinya untuk Reiga sekarang? Hana menyesali telah berkata seperti itu pada Reiga. Ia menyesal telah bereaksi negatif tadi. Reaksi yang kini dianggapnya berlebihan.
"Aku nggak tahu kenapa rasanya aku pengen banget kasih lihat kamu perjalanan hidup aku selama ini, Han?"
Suara Reiga menggema di kepala Hana setelahnya.
"Anggap aja ini pembelaan diri dari aku."
"Reishard..."
"I did broken heart too, Adrianne Hana. Tanpa bermaksud mengecilkan semua kesedihan yang kamu rasakan dan lewati sejauh ini."
Hana bahkan bisa mendengar Reiga menghela napas berat.
"Nggak bermaksud membuat kamu jatuh kasihan sama manusia aneh kayak aku. I just can't handle the way you turn your head back and leave me all alone. I have a big issue with that. Dan tentu aja itu bukan salah kamu, "ucap Reiga perlahan.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, Han. I never want to hurt you. Salah aku yang terlalu nyaman sama kamu. You feel like an old friend."
Helaan napas Reiga dengan kuluman senyum yang entah bagaimana begitu jelas dalam pikiran Hana.
"Wish someday if we meet again, you're not that cold to me," ucap Reiga.
"Aku pamit ya. Makasih untuk soto lamongan gadungan yang selain hangat di perut juga terasa hangat di hati aku. This is the first time someone cook me a dishes when i come home after a busy day. Makasih ya," ujar Reiga lalu pikiran Hana kembali lengang seperti tadi. Bagai tanpa kejadian apapun yang dilihatnya. Peristiwa-peristiwa nan berat yang hilang tanpa jejak dalam kepalanya layaknya pertunjukan sulap yang usai. Namun sesak didadanya ini masih begitu nyata. Hana merasa bersalah atas ucapan kasarnya pada Reiga tadi. Lelaki yang hobi senyum dan meledeknya itu ternyata punya kesedihan yang mendalam. Kepedihan yang mungkin tidak akan pernah dibayangkan siapapun bisa dialami oleh seorang Reiga Rahardian Reishard. Pewaris utama keluarga Reishard yang ternama dan kaya raya. CEO dari perusahaan kaliber besar dengan banyak cabang usaha. Pria paling diincar untuk dijadikan suami atau mungkin sugar daddy. Ternyata pria ini menyimpan luka yang begitu besar. Begitu dalam.
Hana berbalik. Mengikuti mau hatinya, berjalan menuju pintu, membukanya dan keluar. Tepat saat ia melihat Reiga berbalik pergi. Kedua mata Hana membesar. Kakinya berlari tanpa instruksinya. "Reishard!" panggilnya setengah berteriak. Reiga menghentikan langkahnya. Berbalik dan melihat Hana berjalan cepat padanya. Reaksi yang tidak disangkanya akan ditunjukkan oleh Hana.
BRUK!
Hana memeluk Reiga erat. Melingkarkan kedua tangannya di leher Reiga. Sebuah pelukan yang terasa hangat dalam hati Reiga yang gelap dan dingin. Bolehkah ia balas memeluk Hana? Karena sungguh ia sangat ingin memeluk perempuan ini. Membiarkan dirinya dikasihani dan tampak lemah sesekali. Tak melulu menjadi seorang Reiga Reishard yang superior.
Kenapa dia begini? Mengapa ia ingin dikasihani Hana?
Tangan Reiga mengambang di kedua sisi tubuh Hana. Menunggu jawaban atas pertanyaan yang bertengger dalam kepalanya. Yang tentu Hana tidak akan pernah tahu kalau tak diutarakannya. Untuk pertama kalinya ia bingung harus apa dan bagaimana.
"Just hold me tight, Reishard," bisik Hana di telinga kiri Reiga.
Bibir Reiga tersenyum sejalan dengan hatinya yang terenyuh.
"Now you can read my mind too?" gumam Reiga seraya memeluk Hana erat.
Hana terkekeh. Gadis ini sudah kembali ramah padanya. Dan entah mengapa hatinya begitu lega.
"Sebenarnya kemampuan kamu tuh apa aja sih?
Aku yakin bukan baca pikiran doang kan. Curang banget tahu!" ucap Hana berlagak merajuk.
Reiga tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Udah nggak marah sama aku?"
Hana mengangguk sekali. Lalu, ia menatap Reiga, melonggarkan pelukan mereka. Meski Hana sadar, memeluk Reiga adalah hal gila yang dilakukannya. Ini hari pertama mereka bertemu. Berkenalan. Belum 24 jam. Tapi mereka sudah pergi ke luar negeri bersama, pegangan tangan, bahkan berpelukan! Hana tidak habis pikir dengan kegilaan yang dilakukannya sekarang.
"Yang namanya Cyila ada di Jakarta kan!? Ayo kita samperin. Biar aku kasih sedikit pelajaran sopan santun sama dia."
Reiga tertawa kecil mendengar Hana. Juga ekspresi hilarius Hana saat mengatakannya.
"Beraninya dia nyakitin kamu!" tambah Hana dengan muka geram.
Muka yang membuat senyuman Reiga makin lebar.
"Don't be a bad guy for a stranger, Han," ucap Reiga membalikkan ucapan Hana di kala mereka makan mie di pantry dapur tadi.
Hana diam lalu memandangi Reiga dengan tatapan teduh yang membuat mata Reiga membulat terperangah.
"You're not a stranger, Reishard," sahut Hana.
BRAK!
"Yahhhhh... telurnya dijatuhin ya, Jun? Pecah semua dong!" Suara Ibu-nya Hana menggema menarik perhatian Hana dan Reiga yang masih berpelukan dengan saling memandang.
Hana melongok dari punggung Reiga. Itu Juni, asistennya yang tampak syok dan melongo. Beserta tas belanjaan yang kini isinya tumpah dan berserakan di Terrazo rumah Hana. Telur-telur yang pecah bercampur aduk dengan belanjaan lain. Tidak lama Sara muncul di belakang Juni. Terkejut. Sama halnya dengan Juni. Kedua mata Sara tertuju pada dua lengan Reiga yang melingkar di pinggang anak perempuan semata wayangnya. Tatapan itu menyadarkan Hana bahwa Juni syok sampai jatuhin barang itu jelas karena pose mengandung salah paham yang tengah dilakukanya dengan Reiga sekarang.
"Ah, shit!" runtuk Hana dalam hati.
Reiga menyunggingkan senyum mendengar umpatan dalam pikiran Hana.
Hana memperhatikan dengan tatapan tajam kearah Reiga dan Sara yang tengah mengobrol. Ya. Berkat pose pelukan, Sara menarik Reiga kembali untuk diajak mengobrol. Sudah begitu, Hana dipaksa membuatkan teh hangat untuk menemani obrolan itu.
"Lihat aslinya, lebih ganteng dari yang di google ya, Han. Pantes si Lana ngebet banget sama doi," bisik Juni sudah berdiri di samping kiri Hana yang sedang mengaduk teh dalam cangkir.
"Jangan ngomong macam-macam," sahut Hana pelan.
Juni berdehem sambil tetap mengelap kulit telur yang selamat dan tak pecah. Sengaja dibersihkan karena akan dimasukkan ke dalam kulkas.
"Ternyata lu udah kenal ya sama si Reiga. Pantes lu suruh gue cari tahu soal dia," bisik Juni lagi.
Hana sontak diam. Ia melotot kearah Juni dan menyuruhnya diam. Juni memandangi Hana bingung. Hana pasrah. Ah, pasti sekarang Reiga sudah tahu dari isi kepala Juni kalau Hana memang menyuruh Juni mencari tahu mengenai hidup pria itu.
"Terakhir kali ketemu di ulang tahun Mama kamu ya?" tanya Sara mencoba ingat.
"Iya, Tan. Dua tahun yang lalu."
"Tante nggak tahu loh kalau kamu sama Hana sedekat itu?" senggol Sara tak bisa menahan rasa penasarannyan dengan pertanyaan basa-basi lebih lama. Ditambah Reiga adalah pria pertama yang dibawa Hana ke rumah di waktu yang selarut ini. Lebih dari itu, Reiga adalah pria pertama yang dipeluk Hana tepat di depan matanya. Bahkan Arnold saja tidak pernah datang selarut ini. Reiga pasti lebih dari teman. Dan mengapa ia bisa tidak tahu?
Pikiran Sara membuat buncahan rasa senang berbentuk gelembung kecil berukuran kecil berjumlah ratusan memenuhi relung dada Reiga. Ah, perasaan yang dulu pernah dirasakannya pada Cyila. Setelah perjuangan panjang hampir 1,5 tahun gadis itu mengejarnya.
Hana?
Adrianne Hana punya ilmu apa ya? Sampai tidak butuh waktu lama, kurang dari 24 jam, itupun tidak bersama-sama seharian. Tapi hati Reiga tertaut bagai anak kecil menjumpai es krim kesukaannya.
"Ibu jangan tanyain Reiga yang aneh-aneh," ujar Hana sudah membawa nampan berisi dua cangkir teh. Satu ditaruhnya di depan Reiga. Satu lagi di depan Sara. Keduanya berada di meja yang ada di depan sofa letter L itu.
Setelahnya Hana duduk di samping kiri Reiga. Dekat. Tanpa jarak. Sara sampai kaget sendiri, melihat putrinya secara sepihak memilih duduk di samping Reiga ketimbang dirinya. Tentu Sara makin penasaran hubungan apa yang dijalin Hana dan Reiga.
"Aneh-aneh gimana? Memangnya tadi Tante tanya yang aneh-aneh, Rei?"
"Enggak kok, Tan."
"Tuh dengar kan," ujar Sara. Namun ekspresi curiga Hana belum berubah. Anak-Ibu itu bertatapan. Lalu tanpa ba bi bu lagi, Hana berkata, "Reiga bukan pacar Hana ya, Bu," ujar Hana lugas.
"Jadi selama ini pertemanan kamu begitu, Han?
Peluk lelaki sembarangan?" sahut Sara.
Hana terhenyak kikuk.
"Ya enggak, Bu!" sanggahnya.
"Terus?"
Hana memutar otak mencari jawaban dalam kepalanya. Apakah ditemukannya? Oh tentu tidak! Hana bingung bagaimana menjawab pertanyaan dalam satu kata ini.
"Kok nggak dijawab?"
Sara mulai mendesak.
"Nggak tahu mau jawab apa!" sergah Hana.
"Nah, tuh kan!"
Sara merasa menang.
"We're not yet officially boyfriend and girlfriend, Tan," ucap Reiga.
Hana menoleh kearah Reiga. Terhenyak dengan mata melotot. Pria itu hanya memberi senyumnya.
"Reishardddddd," gemas Hana.
"Ibu kamu nggak akan mendengar apapun alasan kita, Han. Just leave her with her perception," ucap Reiga dalam pikirannya.
Hana terhenyak. Mereka bertatapan.
"Nggak mau! Kamu nggak kenal Ibu aku, Rei. Her perception can brings us to another level of craziness!" tolak Hana.
"Like what?"
"Believe that we are a real couple!"
"Not bad."
"Dih!"
Hana menolak.
"Segitunya nggak mau jadi pacar aku?" goda Reiga sambil senyum.
"Mulai kambuh kan!"sebal Hana menghentikan obrolan pikiran mereka.
Sara memperhatikan Hana dan Reiga yang saling tatap-tatapan.
"Nggak pacaran tapi dari tadi tatap-tatapan serasa dunia milik berdua," sindir Sara.
"Ibuuuu," Hana tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semua ini. Konyolnya, Hana tidak menyesal sedikitpun telah memeluk Reiga tadi. Dan Reiga tersenyum mengetahuinya.
"Sejak kapan, Rei?" tanya Sara yang lebih yakin Reiga daripada Hana.
"Hari ini, Tan," jawab Reiga jujur.
"Rei, No Way!" Hana memelototi Reiga.
"Apanya yang no way, Han? Sekarang sama Ibu main rahasia-rahasian?"
"Bukan gitu, Bu. Hana cuma nggak mau Ibu salah paham sama Hana dan Reiga," keukeh Hana.
Sara menghela napas.
"Yang sabar ya, Rei sama Hana," ucap Sara membuat Hana melongo.
Kesalahpahaman ini jelas sudah tidak tertolong.
*
"Harusnya kamu nggak ladenin obrolan ngaco ibu aku kayak tadi, Rei," keluh Hana seraya menuruni tangga depan rumahnya.
Mereka berjalan beriringan menuju Ferrari mereka.
"Tante Sara itu orang yang seru. Sulit mengabaikannya," ucap Reiga.
"Ya, tapi omongan kamu itu makin buat ibu aku berhal ..." Kalimat Hana terhenti akibat aksi Reiga yang mengamit tangan kanan Hana seenaknya. Tidak begitu erat, namun terasa kuat. Hana melongo dengan kepala mendongak menatap Reiga.
"Udah mulai modus pegang-pegang aku ya," tegur Hana.
"Kamu duluan yang modusin aku," sahut Reiga menggandeng Hana sampai Ferrari-nya.
Bibir pria itu tersenyum. Hana cemberut karena itu memang faktanya.
"That calls symphatize," ujar Hana geregetan.
Reiga tersenyum meledek.
"Sering-sering modusin aku," ledek Reiga sudah berdiri di samping pintu kursi pengemudi.
"Udah dibilang itu cuma simpati! Bukan modus!" sewot Hana.
Reiga terkekeh.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Silahkan!"
"Masih sering ketemu sama ." Hana ragu mengatakannya.
"Mama?" gumam Reiga mengatakan apa yang tercetus di kepala Hana.
"Cuma dua kali setahun," jawab Reiga.
"Dua kali?" kaget Hana.
"Lebaran dan ulang tahun. Kadang kirim hadiah aja sih. Dimas yang kirim. Papa yang ingetin," jawab Reiga jujur dengan ekspresi santai seakan topik ini bukan masalah untuknya.
Hana memandangi Reiga tanpa mengatakan apapun. Hana tahu, tidak bijak dan tidak pada tempatnya untuk menceramahi Reiga. Bahkan ia berpikir kalau dirinya ada di posisi Reiga, apa masih bisa dia tumbuh sebagaimana Reiga sekarang?
"Why don't you judge me?" ujar Reiga.
"Karena bukan ranah aku untuk berkomentar dan aku bangga banget sih sama kamu. Kamu masih bisa kirim hadiah dan datang meski dua kali setahun setelah semua yang terjadi dalam hidup kamu," sahut Hana mengingat peristiwa yang diperlihatkan Reiga dalam pikirannya.
"Itu bentuk bakti paling maksimal yang bisa aku lakukan sebagai anak, Han," ucap Reiga.
Ah, hari ini dia benar-benar oversharing sama Hana!
"Jujur aku belum bisa ngobrol sama Mama seakrab anak dan ibu normal lainnya. Juga belum bisa sering kunjungi Mama seperti anak lainnya. Karena ada sudut dalam diri aku yang begitu sakit dan belum sembuh. Aku nggak mau menyakiti dia dengan cara aku menatapnya," tambah Reiga.
Hana menatap Reiga dalam simpati. Hubungan Reiga dengan Tante Sheila terasa mirip hubungannya dengan Eyang Uti.
"It's two different thing, Hana," ucap Reiga.
Hana seketika cemberut. "Udah dibilang jangan baca pikiran aku," sebal Hana.
"Banyak banget sih larangannya," komen Reiga.
"Biar kamu nggak sembarangan," galak Hana.
"Kapan aku sembarangan?"
"Serius mau disebutin nih?"
Mereka terdiam, saling memandang, lalu tak lama kemudian tertawa bersama. "Berantem sama kamu tuh candu banget tahu," aku Reiga tanpa maksud menggoda Hana.
Hana menatap Reiga dengan ekspresi bangga.
"Nggak tanggung jawab ya kalau jatuh cinta," Sekarang Hana ketularan Reiga.
"Then i will make you love me too," sahut Reiga.
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Don't choose me, Rei."
"Kenapa?"
"Kita tuh beda keyakinan."
"Maksudnya?"
Hana bersidekap.
"Aku kaum percaya cinta sejati. Sementara kamu nggak kan," jawab Hana nyeleneh.
Reiga terdiam lalu tidak bisa menaha tawa lepasnya. Lengkap disertai geleng-geleng kepala.
"Joke-nya Adrianne Hana memang original. Tadi soto Lamongan, sekarang perkara keyakinan," tukas Reiga.
"Aku serius, Reishardddd," ucap Hana sambil senyum.
Reiga menghentikan tawanya. Ia mendekatkan wajahnya kearah Hana. Lengan kirinya terulur di atas atap mobilnya. Hana cukup terkesiap dengan sikap Reiga. Namun tak sempat menghindar. Atau lebih tepatnya, hatinya tak mau menghindari Reiga.
"Kalau begitu biar aku yang pindah keyakinan demi kamu," Begitu lembut Reiga mengucapnya. Begitu serius tatapan pria itu.
"Sampai kapan sih mau becandain aku kayak gini?" keluh Hana yang tidak ingin ambil pusing sikap flirting Reiga padanya.
"Kalau selamanya boleh, Han?"
"Reiiiii, ada hal yang boleh dibecandain, ada yang nggak boleh," ucap Hana bagai ibu yang menasehati anaknya.
"Aku serius," jawab Reiga.
"Demi?"
Hana mengucapkannya bak anak remaja jamet yang menyebalkan.
"Astaga!" ujar Reiga terkekeh.
"Demi apa?"
Hana sengaja meledek Reiga.
"Maunya apa?" tanya Reiga.
"Serius nih tanya?" ujar Hana.
"Aku belum pernah seserius ini," jawab Reiga.
Hana memperlihatkan wajah sangsi. Reiga gemas dibuatnya.
"08131234xxxx."
Hana mengucap nomor handphone-nya dalam pikirannya.
"Is that your number?" tanya Reiga.
Hana tak menjawab dan malah cengengesan.
Reiga terkekeh kembali. Belum pernah ia sesering dan selepas ini tertawa.
"Bisa-bisanya ya memanfaatkan kemampuan aku buat kerjain aku kayak gini. Adrianne Hana is absolutely one of kind," puji Reiga sambil geleng-geleng kepala.
Hana tersenyum geli akan tebakan jitu Reiga.
"Benar-benar ya kamu, Han!" ujar Reiga yang tidak keberatan sekalipun Hana mengerjainya.
"Udah sana pulang. Hati-hati nyetirnya," ucap Hana lembut dengan senyum hangat.
Reiga memandangi Hana.
Lelaki itu tahu, ia tak hanya ingin mengucap selamat malam dan pamit.
"Boleh nggak kalau aku seenaknya?" tanya Reiga meminta izin Hana.
Kening Hana mengerut.
"Untuk?" bingung Hana.
"Give you a smooth forehead kiss and a little tight hug," jawab Reiga berkata gamblang.
Hana yang belum pernah menemukan pria sejujur dan selugas Reiga dalam berkata tertegun dalam diam. Meski pada menit selanjutnya, Hana sendirilah yang menarik ujung jas Reiga mendekat. Hana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Reiga. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Reiga yang pagi tadi ditabraknya tak sengaja kala kabur dari delapan manusia setengah mabuk.
"Kayak gini maksudnya?" tanya Hana mendongakkan kepalanya.
Reiga tersenyum.
"Hampir benar," jawabnya lalu tidak menunggu izin Hana lagi untuk membalas pelukan Hana dengan melingkari pinggang gadis itu dengan tangan kanannya.
Pelukan yang mengandung magis baik untuk Reiga maupun Hana. Pelukan yang semakin erat. Hati yang terasa semakin dekat dan hangat. "Han," panggil Reiga.
"Hmm," Hana menanggapinya dengan deheman.
"Makasih ya," ucap Reiga.
"Untuk izin boleh seenaknya?"
Dada Reiga bergetar karena tawa membuncahnya. "Kayaknya sih iya," ujar Reiga.
"Dih!" seru Hana lalu melonggarkan pelukannya. Hana memandangi Reiga. "Pulang ya, Rei," ujar Hana dengan muka meledek.
"Iya. Aku pamit."
Pelukan mereka usai.
"Kamu masuk sana. Aku nggak akan pergi sebelum lihat kamu masuk."
Dahi Hana mengerut dalam.
"Terus kenapa tadi minta anterin ke mobil?" heran Hana.
"Ya masa aku melewatkan kesempatan dianterin Adrianne Hana."
Hana melongo mendengarnya.
"Nggak jelas!"
"Sana masuk. Aku liatin dari sini," ucap Reiga sambil membalikkan badan Hana agar menghadap rumah.
"Iya," jawab Hana lalu berjalan pergi dengan sesekali menoleh hanya untuk tersenyum kearah Reiga.
Dua mata indah yang berbinar itu mengunci Reiga dalam satu khidmat.
"Hana," panggilnya sekali lagi.
Hana berhenti, lantas menoleh. Reiga berjalan kearah Hana lalu mengecup kepala Hana cepat.
Hana terkejut setengah mati.
Reiga?
Pria itu tersenyum begitu hangat. Menatap Hana seakan penuh cinta.
"Adrianne Hana, lu bukan lagi bermain api. Tapi lu tengah membakar diri. Kenapa lu jadi semudah ini buat lelaki?"
Hana mempertanyakan dirinya sendiri.