NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#18

Malam di ndalem terasa semakin berat setelah kedatangan Sarah. Di balik dinding-dinding kayu jati yang kokoh, tersimpan sebuah rahasia silsilah yang selama ini menjadi jembatan emosional yang rapuh antara desa dan kota.

​Sarah bukanlah orang asing bagi keluarga Pesantren. Ia adalah adik kandung Umi Hannah, wanita yang sejak muda didera kenyataan pahit bahwa rahimnya tak kunjung memberikan keturunan. Saat Umi Hannah mengandung Zavier sembilan belas tahun yang lalu, sebuah perjanjian kekeluargaan yang sakral namun menyayat hati dibuat. Sarah, yang saat itu sangat mendambakan suara tangis bayi di rumah megahnya di kota A, memohon kepada kakaknya.

​"Biarkan anak ini menjadi penghuni rumahku, Mbak," ucap Sarah kala itu dengan air mata.

​Dan benar saja, hanya seminggu setelah Zavier menghirup udara dunia, ia sudah diboyong Sarah ke Kota A. Sejak saat itu, Zavier tumbuh besar dalam gelimang kemewahan Kota A. Baginya, Sarah adalah Mommy kandungnya, dan suami Sarah adalah ayahnya. Ia tidak pernah tahu bahwa di sebuah pesantren tenang di Kota B, ada sepasang suami istri yang selalu menyebut namanya dalam setiap sujud panjang mereka.

​Hingga usia sepuluh tahun, Zavier adalah anak kota sejati. Ia berbicara bahasa asing dengan fasih, mengenakan pakaian bermerek, dan sama sekali buta terhadap huruf-huruf hijaiah. Hal inilah yang akhirnya memicu ketakutan luar biasa di hati Umi Hannah.

​"Dia putra kita, Abi," ucap Umi Hannah pada Kyai Luqman suatu malam. "Jika dia terus di sana tanpa mengenal Rabb-nya, bagaimana pertanggungjawaban kita kelak? Dia sama sekali tidak memiliki ilmu agama."

​Dengan berat hati dan paksaan yang nyaris merusak hubungan persaudaraan, Kyai Luqman meminta Sarah mengirim Zavier pulang untuk "nyantri". Di usia sepuluh tahun itulah, dunia Zavier runtuh. Ia dikirim ke sebuah tempat yang asing, dipaksa memakai sarung, dan yang paling menyakitkan: ia diberitahu bahwa orang yang selama ini ia panggil Mommy hanyalah bibinya, dan Kyai yang terlihat kaku itu adalah ayah kandungnya.

​Lima tahun Zavier "dihukum" di pesantren. Ia belajar dengan dendam di awal, namun kecerdasannya membuatnya mampu melahap ilmu agama dengan cepat hingga ia menjadi santri teladan. Namun, akar Kota-nya terlalu kuat. Begitu menginjak usia lima belas tahun, ia menuntut haknya untuk kembali ke Kota A, kembali ke pelukan Sarah, dan kembali ke kebebasan yang sempat dirampas darinya. Di sanalah, dalam fase remaja yang labil, ia bertemu Zaheera dan mulai merajut dosa yang kini membawanya kembali ke titik nol.

​Kembali ke masa kini, di dalam kamar tamu yang kedap suara, Sarah menatap Zavier dengan pandangan yang sangat posesif. Baginya, Zavier adalah karya seninya yang hampir rusak oleh aturan pesantren.

​"Kamu ingat, Yan? Mommy membawamu saat kamu masih merah. Mommy yang menyuapimu, Mommy yang memilihkan sekolah terbaik untukmu," suara Sarah bergetar. "Sekarang kamu akan menikah dan kalo Zaheera tidak hamil, Untuk apa menikahinya secepat ini?"

​Zavier menunduk, tangannya meremas ujung kain sarung yang kini ia kenakan. "Mom... aku berutang budi padamu atas segalanya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Zaheera. Jika aku pergi bersamamu sekarang ke kota A tanpa menikahinya, aku akan menghancurkan hidupnya dan hidupku sendiri."

​"Hidupmu sudah hancur sejak kamu kembali ke sini, Zavier!" bentak Sarah pelan agar suaranya tidak menembus pintu. "Lihat dirimu! Kamu memakai sarung, kamu berbicara soal taubat... ini bukan kamu! Kamu adalah pewaris bisnis Ayahmu, bukan seorang akan mengajar kitab!"

​Zavier mendongak, matanya merah. "Justru karena aku tahu siapa aku yang sebenarnya di kota A, aku merasa perlu berada di sini sebentar, Mom. Aku butuh status 'halal' itu agar aku tidak merasa seperti binatang setiap kali aku menyentuh Zaheera. Tolong, restui aku sekali ini saja."

​Sarah memalingkan wajah, dadanya naik turun menahan emosi. Ia merasa dikhianati oleh anak yang ia besarkan dengan segala Kemewahan. Ia merasa kalah oleh pengaruh Kyai Luqman yang hanya memberikan "darah", sementara ia memberikan "hidup".

...****************...

Di luar kamar, Gus Azlan berdiri mematung di koridor . Ia baru saja hendak mengantarkan jadwal pengajian untuk Abinya ketika ia melihat pintu kamar tamu tertutup rapat dan terdengar sayup-sayup perdebatan.

Azlan selalu merasa ada jarak antara dirinya dan Zavier. Sejak Zavier kembali dari Kota A di usia sepuluh tahun, Azlan-lah yang paling keras mendidik adiknya. Ia yang memaksa Zavier bangun subuh, ia yang menghukum Zavier jika salah membaca makhraj. Namun, ia selalu merasa Zavier memiliki sisi gelap yang tak tersentuh.

"Apa yang mereka sembunyikan?" gumam Azlan.

Ia berjalan menuju ruang tengah, di mana Syafi'iyah sedang merapikan beberapa hantaran untuk pernikahan Zavier. Syafi'iyah menatap kakaknya dengan cemas.

"Mas Azlan, kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Syafi'iyah lembut.

"Tante Sarah... dia membawa hawa yang tidak enak, Syafi. Dan Zavier, dia tampak terlalu tertekan untuk seseorang yang akan menikah," jawab Azlan. Matanya tertuju pada sebuah tas kecil milik Zavier yang tertinggal di atas meja ruang tamu.

Sebuah ponsel menyembul dari balik lipatan tas itu. Layarnya menyala sesaat karena sebuah notifikasi masuk. Azlan mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan etikanya sebagai seorang kakak.

Gus Azlan masih berdiri mematung, matanya terkunci pada layar ponsel Zavier yang baru saja meredup. Jantungnya berdegup kencang. Sebagai pengawas kedisiplinan, instingnya selalu waspada terhadap segala bentuk pelanggaran, sekecil apa pun itu.

Syafi'iyah mendekat, wajahnya dipenuhi rasa cemas. "Mas Azlan? Ada apa? Kenapa wajahmu sampai sepucat itu?"

Azlan tidak menjawab. Ia menyambar ponsel itu, ibu jarinya menekan tombol daya hingga layar kembali menyala. Pesan itu datang dari kontak bernama "Zee".

“Zavi, mohon ajari aku nanti setelah kita menikah. Aku benar-benar tidak percaya diri tinggal di lingkungan ini. Aku takut mengecewakan keluargamu.”

Rahang Azlan mengeras. Meski kalimat itu terdengar polos, fakta bahwa adiknya memiliki jalur komunikasi pribadi dengan calon istrinya tanpa sepengetahuan keluarga adalah sebuah pelanggaran etika di mata Azlan.

"Zavier!" panggil Azlan dengan suara bariton yang menggema di koridor.

Tak lama, Zavier keluar dari kamar. Wajahnya menegang saat melihat ponselnya berada di tangan sang kakak. Di belakangnya, Sarah ikut keluar dengan tatapan bingung.

"Ada apa, Azlan? Kenapa kamu berteriak malam-malam begini?" tanya Sarah ketus.

Azlan mengabaikan tantenya. Ia melangkah mendekati Zavier, menyodorkan ponsel itu tepat di depan dada adiknya. "Sejak kapan, Zavier? Sejak kapan kamu berani mengirim pesan secara pribadi tanpa pengawasan seperti ini kepada anak Pak Narendra?"

Zavier menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia melirik Syafi'iyah yang menatapnya dengan tatapan lirih, seolah memohon agar adiknya tidak melakukan kesalahan fatal lagi.

"Kalian... apa kalian sebenarnya sudah berhubungan lama? Apa kalian pacaran di belakang kami?" tuntut Azlan, matanya menyipit penuh selidik.

Zavier memejamkan mata sejenak, merapalkan doa dalam hati agar kebohongannya kali ini tidak terbongkar. Ia harus melindungi Zaheera. Ia harus melindungi rencana taubat mereka.

"Tidak, Mas," jawab Zavier, suaranya dipaksakan setenang mungkin. "Aku bahkan baru benar-benar bertemu dan berbicara dengannya di lingkungan pesantren ini. Aku mendapatkan nomornya dari Pak Narendra saat pertemuan malam itu, untuk sekadar memastikan dia bisa beradaptasi."

Ya Allah, ampuni hamba karena harus berbohong lagi, batin Zavier menjerit.

Syafi'iyah menghela napas lega, namun raut sedih tetap tak hilang dari wajahnya. "Zavier... kamu tahu kan itu tidak baik? Kalian belum sah. Menghubungi wanita secara pribadi, meskipun dia calon istrimu, bisa menimbulkan fitnah yang besar."

Azlan mengangguk setuju, wajahnya masih tampak kaku. "Syafi benar. Di sini kita menjunjung tinggi marwah. Jika Abi tahu kamu bermain ponsel di belakangnya untuk urusan seperti ini, beliau akan sangat kecewa."

Azlan mengembalikan ponsel itu dengan sentakan kasar ke tangan Zavier. "Dengarkan aku. Jika kamu merasa perlu bicara dengannya, atau jika dia butuh bimbingan sebelum hari pernikahan, kamu boleh meminta aku atau Syafi'iyah untuk menjadi pengawas. Jangan pernah menemui atau menghubungi dia sendirian lagi agar tidak menimbulkan fitnah di antara para santri. Kau mengerti?"

"Mengerti, Mas," jawab Zavier pelan, kepalanya menunduk dalam.

Setelah Azlan dan Syafi'iyah kembali ke urusan mereka, Zavier masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, napasnya tersengal-sengal. Ia baru saja lolos dari lubang jarum, namun ia tahu pengawasan Azlan akan semakin ketat mulai detik ini.

Ia melihat ponselnya. Pesan dari Zaheera tadi benar-benar sebuah penyelamat tak terduga. Zaheera yang sedang merasa rendah diri justru secara tidak sengaja mengirimkan pesan yang terdengar seperti permintaan bimbingan seorang santriwati baru, bukan rayuan seorang kekasih dari masa lalu.

Zavier mengetik balasan dengan tangan gemetar.

Zavi: Zee, hampir saja Mas Azlan tahu. Jangan kirim pesan apa pun dulu ke nomor ini. Dia mulai curiga. Sabarlah, Sayang. Hanya tinggal menghitung hari. Aku akan melindungi mu, apa pun risikonya.

Malam itu, Zavier menghabiskan waktunya di atas sajadah. Ia menyadari bahwa setiap kebohongan yang ia buat untuk menutupi masa lalunya bersama Zaheera hanya akan menambah beban di pundaknya. Namun, ia telah bertekad; ia akan menanggung semua beban itu sendirian, asalkan Zaheera bisa bersanding dengannya secara halal dan memulai hidup baru yang suci di bawah langit pesantren yang tenang.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!