" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Episode Kelahiran Akila Grup
Pria itu menatap Langit, dia merasa Langit masih muda, mana mungkin dia bisa mengerti masalahnya apalagi membantu.
"Tuan walaupun kita baru bertemu, tapi kau bisa yakin dan bisa mempercayai ku, walaupun kau ragu aku bisa membantu atau sekedar memberi solusi, setidaknya kau bisa sedikit tenang dengan membagikan masalah mu itu padaku."
Mendengar perkataan dari Langit, pria itu menghela nafas panjang, walaupun ragu tapi perkataan Langit ada benarnya, memendam masalahnya sendiri hanya akan membuat nya terasa semakin berat.
Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya pria itu mau menceritakan masalahnya pada Langit...!
Dengan wajah yang masih ragu, akhirnya pria itu menceritakan masalahnya pada Langit.. Di mana sebelum di khianati oleh teman dekat dan istrinya, dia adalah seorang wakil direktur dari perusahaan ternama, perusahaan terbesar di pinggiran ibukota yang bergerak di bidang perhotelan, restoran dan pusat perbelanjaan atau mall.
Semuanya hancur setelah istrinya berselingkuh dengan teman dekat nya yang merupakan teman kerja di perusahaan Wold Grup.
Teman pria itu berhasil merebut istrinya sekaligus merebut jabatannya di perusahaan dengan cara menjatuhkan namanya dan memfitnahnya telah melakukan korupsi dan berbagai tuduhan lain sehingga dia di pecat...
Hal itulah yang membuat pria itu sangat putus asa, dia tidak menyangka istrinya yang sangat dia cintai telah lama berselingkuh dengan teman dekatnya, lebih parahnya lagi temannya yang sangat di percayai nya itu yang memfitnahnya sehingga dia di pecat dan hampir saja di masukan ke dalam penjara..
Dua bodyguard yang memukuli nya juga ternyata adalah suruhan dari temannya yang ternyata belum puas dengan keadaan saya.
Langit begitu simpati setelah mendengar cerita dari pria itu. Pantas saja nampak prustasi dan tidak memiliki semangat hidup lagi." Pikir Langit dalam hatinya..
"Kenapa teman mu itu tega melakukan semua itu padamu?"
"Entahlah aku juga tidak tahu alasannya, aku tidak tahu apa aku punya salah padanya sehingga dia dendam padaku atau dia hanya iri padaku.
"Terus kenapa kau tidak melawan?"
"Apa dayaku sekarang, aku sudah tidak punya apa-apa sedangkan dia punya segalanya, sulit bagiku untuk melawan walaupun aku menginginkan nya. " Jawab pria itu dengan penuh ketidakberdayaan.
"Apakah menurut mu dengan menyerah semua akan selesai..... Melihat mu putus asa bahkan akan membuat nya sangat puas, apa kau bermaksud merelakan hidupmu di injak injak begitu saja?"
Mendengar itu, pria yang yang frustasi dan keinginan untuk mati hanya terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan meskipun dia tidak menyangkal perkataan Langit adalah benar.
"Terus menurutmu aku harus bagaimana?"
Langit tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya, dia tidak harus bertanya namanya siapa, dia sudah seratus persen pria di hadapan nya itu adalah BARA PERMANA.
Takdir ini memang di kendalikan oleh Abah Haruman, tapi aku bisa merubahnya dengan gayaku sendiri, jalan yang diterapkan oleh Abah Haruman dengan menjerat langsung dengan uang dan itu mungkin pasti berhasil namun dampak kedepannya apakah dia akan membalas budi nya atau tidak siapa yang tahu, terkadang manusia itu bisa lupa dengan tiga hal.
"TAHTA
"WANITA
"HARTA
Ketiga nya bisa melakukan apapun agar tercapai, walaupun dengan cara haram untuk mendapatkan nya, dan itu tidak akan Langit jalankan. Langit akan melakukan nya dengan cara nya sendiri.
Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya Langit mulai bicara." Tuan aku fikir seharusnya dengan masalah ini kau jadi termotivasi untuk bangkit, membalas temanmu dan membuat istrimu menyesal telah meninggalkan mu." Ucap Langit memberi pendapat pada pria itu.
"Apa dayaku?...... Sekarang aku sudah tidak memiliki apapun untuk bangkit kembali." Jawab pria itu. Sambil menunduk tak berdaya.
" Sebenarnya aku memiliki sedikit modal untuk memulai bisnis, tapi aku masih bingung untuk memulai nya. mengingat aku belum punya pengalaman berbisnis sedikitpun, jika kau bersedia aku akan menyerahkan uangku agar kau bisa membantuku membangun perusahaan dan mengelola nya.... Bukankah kau sudah banyak pengalaman dalam berbisnis."
Pria itu hanya menatap Langit dalam-dalam seolah tidak mengerti kenapa Langit akan mempercayakan uangnya pada orang yang baru dikenalnya.
"Kenapa kau mau mempercayakan uang mu pdaku?.... Apa kau tidak takut aku menghianati mu dan membawa lari uang mu?"
Mendengar itu Langit tersenyum tipis.
"Aku yakin kau tidak akan melakukannya, bukan kah kau tahu rasanya di khianati, aku rasa kau tidak akan melakukan hal yang sama padaku.... Meskipun kau berniat melakukannya apakah dengan membawa lari uangku kau akan merasa tenang, aku rasa hati nurani mu akan menolak hal itu.
" Ucap Langit dengan santai...
Mendengar hal itu pria itu menatap Langit, dalam hatinya dia sangat kagum dengan pemikirannya, walaupun usianya sangat lah muda....
"Setelah berpikir akhirnya pria itu setuju dengan tawaran Langit, dia berharap dengan cara itu dia bisa merubah dan menata kembali hidupnya yang sudah hancur.....
"Baiklah aku setuju.!
Mendengar itu Langit tersenyum sambil memberikan dua kartu ATM......
"Baguslah, ambil ini di dalamnya, yang satu 5 miliar dan yang satu lagi, 250 juta, apakah itu cukup untuk memulai sebuah bisnis.
Mendengar hal itu, pria tersebut kaget bukan main, dia tidak menyangka di usia semuda itu dia memiliki uang yang sangat banyak.
"Tenang lah itu bukan yang hasil perampokan atau penipuan, aku hanya mendapatkan sedikit keberuntungan sehingga memiliki uang itu.
Langit mencoba menjelaskan pada pria itu yang terlihat kaget dan kebingungan.
Setelah mendengar perkataan Langit pria itu merasa sedikit lega.
"Ini uang yang sangat banyak, dan aku akan berusaha keras agar bisa membuka sebuah perusahaan yang bisa sejajar dengan keluarga besar di negri ini atau pun asia." Ucap Pria itu seraya mengambil dua kartu ATM dari tangan Langit.
"Bagus aku percayakan semuanya padamu."
"Aku akan berusaha semampu ku. " Jawab Pria itu.
"O iya lupa dari tadi aku belum tahu namamu, siapa namamu dan dari keluarga mana kau berasal.?"
"Namaku Langit, aku hanya hidup bersama nenekku di kaki bukit lereng gunung.
"Benarkah...... ? Apakah kau bukan berasal dari kota ini, jika ya dimana keluarga mu tinggal.?"
"Entahlah aku juga tidak tahu, aku masih memiliki keluarga atau tidak, yang aku tau dari kecil aku hidup bersama nenek angkat ku, dan tak pernah melihat dunia luar seperti ibukota ini.
Mendengar hal itu, pria tersebut sempat merasa malu karena beberapa saat yang lalu sempat putus asa dan tidak mau menjalani hidup lagi..... Ternyata kehidupan anak muda di depannya itu jauh lebih sulit dari dirinya, namun tidak pernah menyerah seperti yang dia lakukan.....
Sejak saat itu pria itu mengumpulkan kembali tekad dan semangat nya, dia sangat termotivasi oleh Langit.
"Baiklah aku BARA PERMANA akan berusaha sebaik mungkin, dan berjanji dalam kurun 3 tahun bisnismu pasti sudah berkembang." Ucap pria itu seraya memperkenalkan namanya, membuat Langit tersenyum, instingnya tidak pernah meleset.
Langit dan Bara pun berpisah, Langit berpesan pada Bara, jangan pernah mencarinya selama tiga tahun atau pun empat tahun, nanti jika waktu tiba aku akan menemui mu, AKILA Grup, adalah nama yang baik untuk perusahaan yang akan kamu bangun.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.