NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 5: Melawan & Tidak Takut

​Rencana kami sebenarnya tidak terlalu rumit.

​Sejujurnya, menyebutnya sebagai sebuah "rencana" mungkin terlalu berlebihan dan muluk. Kami tidak punya papan tulis berisi strategi, tidak ada pembagian peran yang jelas, dan tidak ada timeline yang disusun rapi.

​Lebih tepatnya kami hanya punya satu prinsip yang kami sepakati secara sepihak di meja kantin, ditemani nampan makan siang yang setengah habis dan es teh yang es batunya sudah mencair semua.

​Prinsip itu bunyinya begini: Tidak mundur duluan.

​Itu saja. Hanya dua orang remaja yang sepakat bahwa batas toleransi sudah terlewati, dan bahwa kata 'cukup' itu perlu ditunjukkan aksinya, bukan hanya dirutuki dalam diam.

​Sari adalah orang pertama yang mempertanyakan kesederhanaan prinsip itu.

​"Segitu aja?" tanyanya hari itu, dengan nada perpaduan antara lega dan sangat skeptis.

​"Segitu aja," jawabku santai.

​"Nggak perlu... entah, kumpulin bukti terus lapor ke guru BK atau gimana gitu?"

​Aku berpikir sebentar. "Bisa. Tapi risikonya, mereka cuma akan dapat teguran tertulis. Mereka akan berhenti sementara waktu di depan guru, tapi di belakang, kamu bakal dicap tukang ngadu. Dan ingat, kamu masih harus satu sekolah sama mereka tiga tahun ke depan."

​Sari mengunyah baksonya perlahan, mempertimbangkan logikaku. "Oke. Tapi kalau dengan cara kita ini... nanti mereka malah makin parah gimana?"

​"Kita hadapi."

​"Kamu yakin bisa?"

​"Tidak sepenuhnya. Tapi aku jauh lebih yakin dengan pilihan ini daripada lapor BK."

​Sari terdiam cukup lama, menatapku seolah aku adalah spesies baru yang belum pernah masuk ensiklopedia.

​"Kamu tuh aneh banget tau nggak sih, Ra?"

​"Terima kasih."

​"Itu bukan pujian, Nara."

​"Aku tahu."

​Minggu pertama setelah kesepakatan itu, keadaan tidak langsung berubah secara dramatis ala film-film Hollywood.

​Tiara dan kelompoknya masih ada. Mereka masih sering sengaja lewat di koridor depan kelasku (X-4) atau kelas Sari (X-6) pada jam istirahat dengan tatapan merendahkan yang punya terlalu banyak arti. Masih ada bisik-bisik yang sengaja dibuat dengan volume surround-sound agar terdengar oleh telinga kami saat berpapasan. Sari masih sering jadi target komentar-komentar kecil yang kalau dipisah satu per satu mungkin terdengar seperti candaan biasa, tapi kalau dikumpulkan jadi satu, muatan mentalnya cukup berat.

​Tapi, ada satu hal fundamental yang berbeda.

​Sari tidak lagi duduk dengan bahu yang membungkuk layu setiap kali mereka lewat. Dan aku tidak lagi berpura-pura tuli.

​Bukan berarti kami langsung meledak dan mengajak konfrontasi fisik setiap kali ada kejadian kecil itu bukan cara yang efisien dan hanya akan menguras energi tanpa hasil. Tapi ada pergeseran sikap. Sebuah perlawanan pasif yang, kalau kamu perhatikan cukup lama, auranya sangat bisa dirasakan.

​Kami tidak menyingkir. Kami mengklaim ruang kami.

​Insiden pertama yang cukup signifikan dan menguji prinsip kami terjadi di perpustakaan. Tempat netral di mana murid dari berbagai kelas sering berkumpul.

​Saat itu jam istirahat kedua. Aku sedang meminjam buku referensi tebal untuk tugas Sejarah. Di kursi sebelahku, Sari sedang berpura-pura membaca majalah dinding, padahal tangannya sibuk bermain HP di bawah meja sebuah trik klasik yang ia pikir tidak ketahuan, padahal dari pintu masuk pun sangat kentara.

​Tiara masuk bersama dua orang dayangnya.

​Mereka tidak langsung melakukan apa-apa. Mereka mengambil tempat duduk di meja yang berseberangan dengan kami, membuka buku, dan terlihat sangat sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi ada sesuatu dari cara mereka menarik kursi dan berbisik yang membuat bulu kuduk orang yang peka terhadap bahaya bisa langsung berdiri.

​Aku mengabaikannya dan lanjut membaca paragraf tentang Perang Dunia II.

​Lima menit kemudian, salah satu teman Tiara yang kuberi nama 'Si Rambut Lurus' di dalam kepalaku karena aku belum tahu namanya dan tidak berminat mencari tahu berdiri. Ia berjalan melewati celah sempit di belakang kursi Sari, dan BAM! Pinggulnya menyenggol tumpukan buku cetak Sari sampai berjatuhan ke lantai.

​Suara jatuhnya cukup keras untuk ukuran perpustakaan yang hening. Petugas perpustakaan di meja depan sampai mendongak dari atas kacamata bacanya.

​Si Rambut Lurus berhenti melangkah. Ia menunduk menatap buku-buku di lantai, lalu menoleh ke arah Sari dengan ekspresi terkejut yang kualitas aktingnya tidak akan pernah lolos casting figuran sinetron.

​"Aduh, sorry ya. Kesenggol," katanya enteng. Tidak ada sedikit pun pergerakan otot dari tubuhnya yang menunjukkan niat untuk membantu memungut buku itu.

​Sari buru-buru menyingkirkan HP-nya dan sudah membungkukkan badan untuk mengambil buku-bukunya sendiri.

​"Jangan."

​Satu kata dariku memecah keheningan. Suaraku tidak keras, tapi cukup tajam.

​Sari membeku di posisinya. Ia menatapku bingung.

​Aku menutup buku Sejarahku pelan, lalu mendongak menatap lurus ke mata Si Rambut Lurus. "Kamu yang jatuhkan. Kamu yang ambil."

​Hening.

​Bukan hening yang nyaman. Tapi jenis hening yang sangat mencekik, yang kini terisi penuh oleh tatapan semua siswa di perpustakaan yang diam-diam berhenti membaca dan mulai menjadikan meja kami sebagai tontonan gratis.

​Si Rambut Lurus balas menatapku. Ekspresinya yang tadi pura-pura tidak sengaja, kini bergeser menjadi tidak suka karena diintervensi.

​"Kan gue nggak sengaja nyenggol," belanya ketus.

​"Nggak sengaja tetap bisa minta maaf sambil bantu ambil," balasku datar.

​"Gue kan udah bilang sorry."

​"Tapi kamu belum bantu ambil."

​Di mejanya, Tiara mengangkat kepala. Dari sudut mataku, aku bisa melihat matanya menyipit, sedang mengkalkulasi seberapa jauh aku berani menantang otoritas kelompoknya.

​Si Rambut Lurus mematung selama beberapa detik waktu yang terasa sangat lama, seperti melihat timbangan yang sedang bergetar hebat, memutuskan akan miring ke arah mana. Ke arah egonya, atau ke arah rasa malu karena ditonton puluhan pasang mata perpustakaan.

​Timbangan itu akhirnya jatuh ke arah rasa malu.

​Sambil mendengus kesal, ia membungkuk, memungut buku-buku tebal itu dari lantai, lalu menghempaskannya ke atas meja Sari. Tidak dengan ramah tapi ia menaruhnya.

​"Makasih," kata Sari. Nadanya pas, persis cukup sopan agar tidak bisa dipelintir menjadi masalah baru.

​Si Rambut Lurus tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah cepat kembali ke mejanya. Ia berbisik sesuatu ke telinga Tiara dengan wajah merah padam yang tidak bisa kudengar dari jarak ini.

​Tiara melirik tajam ke arahku. Aku membalas lirikannya tanpa berkedip, mempertahankan wajah tanpa ekspresi.

​Lalu, seolah ada aba-aba tak kasatmata, kami berdua sama-sama memutuskan kontak mata dan kembali ke buku masing-masing, seolah insiden tadi tidak pernah terjadi.

​Begitu kami keluar dari pintu perpustakaan dan berbelok ke koridor sepi, Sari mendadak bersandar ke tembok dan menarik napas panjang. Sangat panjang.

​"Astaga naga."

​"Mm."

​"Jantungku, Ra. Jantungku mau copot rasanya." Sari memegangi dada kirinya lebay.

​"Masih ada di dalam kan?"

​"Ra, sumpah deh." Sari menoleh menatapku, matanya membulat. "Kamu tadi tatap-tatapan sama mereka... kamu nggak deg-degan sama sekali apa?"

​Aku berpikir sebentar mencari jawaban yang paling jujur. "Deg-degan. Banget. Tapi kan tidak kelihatan."

​Sari mengerjap, lalu tiba-tiba tertawa. Dan untuk pertama kalinya dalam empat minggu terakhir, tawanya keluar penuh dan lepas, bukan tawa setengah-setengah yang tertahan ketakutan.

​"Kamu emang gila ya."

​"Mungkin."

​Dari titik itu, frekuensi insiden-insiden kecil di sekolah tidak langsung berhenti tapi ada pola yang berubah.

​Sebelumnya, target utama bullying itu mutlak hanya Sari. Aku hanya kebetulan masuk ke dalam gambar sebagai variabel tambahan yang menyebalkan, tapi belum jadi prioritas mereka.

​Sesudahnya, kami resmi menjadi satu paket promo.

​Yang artinya kami menghadapi teror itu bersama. Dan ternyata, bagi pembully, menghadapi dua orang yang menolak mundur jauh lebih menguras tenaga daripada menghadapi satu orang penakut yang bisa dibuat menangis sampai menyingkir sendiri.

​Puncak dari perang dingin kami terjadi pada suatu sore di minggu ketiga.

​Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Kami sedang berdiri di depan gerbang belakang sekolah, menunggu driver ojek online yang aplikasinya entah kenapa hari itu memutuskan untuk menguji kesabaran. Driver pertama me-cancel sepihak, driver kedua statusnya masih lima belas menit lagi, dan kami harus berdiri di pinggir jalan berdebu dengan tas ransel berat di bawah matahari pukul tiga sore yang sangat tidak ramah.

​Lalu, formasi itu muncul.

​Tiara berjalan mendekat dengan kekuatan penuh empat orang. Bahkan ada satu anggota cowok yang selama ini jarang aktif mengganggu, hari ini ikut berdiri di belakang Tiara dengan tangan terlipat di dada, seolah sedang berlatih casting menjadi bodyguard di film laga murahan.

​"Eh, masih nungguin pangeran jemput ya?" sindir Tiara langsung ke arah Sari, menampilkan senyum merendahkan yang polanya sudah kuhafal di luar kepala.

​Sari membuka mulutnya, matanya mulai menyala marah.

​Aku menyentuh lengan Sari pelan. Itu adalah kode diam yang sudah kami kembangkan tanpa harus dinegosiasikan: Tunggu dulu. Biar aku yang merespons. Kita lihat ke mana arahnya.

​"Lagi ngomong sama kita?" tanyaku pada Tiara, sengaja memasang wajah polos tanpa dosa.

​Tiara mendelik. "Ya sama siapa lagi, orang di sini cuma ada lo berdua."

​"Oke." Aku mengangguk paham. "Terus, ada yang perlu dibantu?"

​Tiara terdiam sesaat. Alur percakapannya terputus. Ia jelas tidak mengharapkan respons literal seperti itu.

​"Siapa yang mau minta tolong? Gue nggak perlu dibantu. Cuma nanya," ketusnya.

​"Oh." Aku membetulkan letak tali tasku santai. "Tapi kami lagi sibuk nunggu ojek. Jadi kalau kamu datang ke sini cuma buat nanya hal yang nggak penting, mungkin kamu bisa datang lagi lain waktu."

​Cowok yang sedari tadi berdiri bersedekap di belakang Tiara mendadak mendengus, menahan tawa kecil. Bukan menertawakan kami, tapi lebih seperti tawa refleks karena tidak menyangka ada orang yang berani membalas Tiara sekering itu. Tiara langsung melirik tajam ke arah cowok itu, dan tawanya seketika mati tertelan ludah.

​Merasa harga dirinya tergores, Tiara kembali menatap Sari, mengabaikanku sepenuhnya.

​"Lo tuh beraninya cuma kalau ada beking doang ya, Sar," cibir Tiara sinis. "Makanya ke mana-mana, ke toilet, ke gerbang, selalu ngekor ditemenin. Dasar penakut."

​Sari menarik napas tajam. Rahangnya mengeras.

​Aku melirik Sari sekilas, lalu melepaskan sentuhanku dari lengannya. Ini kode yang berbeda: Panggungnya milikmu. Terserah kamu.

​Sari memutar bahunya, berdiri jauh lebih tegak dari sebelumnya. Ia menatap lurus tepat di manik mata Tiara.

​"Aku ditemenin bukan karena aku penakut dan nggak bisa jalan sendiri," suara Sari keluar dengan stabil, jauh lebih stabil dari yang mungkin ia sendiri sangka. "Tapi karena temenku ini enak diajak jalan dan ngobrol. Beda sama kamu, yang kayaknya penakut banget sampai butuh empat orang cuma buat nemenin jalan ke gerbang sekolah."

​Skakmat.

​Hening.

​Jenis keheningan yang kali ini sangat canggung, dan tidak ada satu pun dari antek-antek Tiara yang berani mengisinya.

​Tiara menatap Sari dengan mata mendelik kaget. Sari menatap balik dan aku yang berdiri di sebelahnya bisa melihat jelas bagaimana Sari sedang bekerja setengah mati memerintahkan otot wajah dan kakinya agar tidak bergetar. Dan ia berhasil.

​Salah satu teman cewek di sebelah Tiara akhirnya menarik lengan seragam Tiara pelan.

​"Ti, udah yuk. Jemputan gue kayaknya udah di depan tuh."

​Tiara tidak langsung bergerak. Ia masih mempertahankan kontak mata dengan Sari selama tiga detik penuh, mencoba mencari celah ketakutan, namun tidak menemukannya. Akhirnya, dengan decihan kasar, ia berbalik.

​Keempat orang itu berjalan menjauh menuju arah gerbang utama, tanpa berani menambahkan satu pun kata ancaman lagi.

​Aku dan Sari tetap berdiri mematung di pinggir jalan sampai rombongan itu benar-benar lenyap dari pandangan.

​Begitu punggung Tiara hilang di belokan, Sari langsung mencengkeram tanganku. Tangannya sedingin es, dan gemetarannya akhirnya bocor keluar.

​"Sumpah... aku tadi nyaris nggak jadi ngomong gitu," bisiknya dengan napas memburu.

​"Tapi nyatanya jadi."

​"Iya." Sari menelan ludah. "Tadi aku keren nggak?"

​"Sangat."

​Ojek pesanan kami akhirnya tiba dua menit kemudian. Kami menaiki motor masing-masing tanpa banyak bicara. Tapi, tepat sebelum motornya melaju pergi, Sari sempat menoleh ke arahku. Ia memamerkan cengiran lebarnya yang sangat khas. Cengiran kemenangan.

​Aku membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.

​Motor kami melaju membelah jalanan sore ke arah yang berbeda.

​Setelah konfrontasi di gerbang belakang itu, frekuensi Tiara dan kelompoknya dalam menargetkan kami turun sangat drastis.

​Bukan berarti mereka mendadak bertobat dan berubah ramah meminta hal itu terjadi sama saja dengan meminta keajaiban di ekosistem hierarki SMA. Tapi, tatapan-tatapan sinis itu mulai jarang terlihat. Komentar-komentar sengaja itu tidak lagi terdengar. Meja kantin tidak pernah lagi dikosongkan ketika kami datang dari kelas masing-masing membawa nampan.

​Tentu, masih ada sisa-sisa bisik-bisik di belakang. Tapi itu adalah level gangguan minor yang sudah sangat sanggup kami tanggung.

​Ada satu hal rahasia yang tidak pernah kuceritakan kepada Sari sampai kami lulus. Dan kurasa aku memang tidak perlu menceritakannya agar ia tidak merasa menjadi alat.

​Faktanya, sepanjang bulan-bulan aku melawan Tiara, ada satu kalimat yang terus-menerus kutanamkan ke dalam otakku setiap malam sebelum tidur. Bukan mantra heroik keadilan. Bukan self-talk positif yang terdengar estetik di kutipan media sosial.

​Hanya satu afirmasi pendek yang sejujurnya, tidak ada hubungannya dengan Tiara sama sekali.

​Nara, kamu boleh tidak mundur.

​Itu saja.

​Karena aku sangat sadar, ada perbedaan besar antara berani 'tidak mundur' di depan Tiara, dan berani 'tidak mundur' di tempat lain dalam hidupku yang jauh lebih familier... dan jauh lebih mengerikan.

​Di depan Tiara, aku bisa bersikap dingin dan tidak mundur karena konsekuensinya sangat terukur. Paling buruk, kami hanya akan menjadi target bullying aktif selama beberapa waktu tidak menyenangkan, memang, tapi itu adalah konflik yang batasnya jelas dan bisa dinavigasi dengan logika.

​Tapi di rumah?

​Tidak mundur di depan Ibu terasa seperti berjalan melintasi jembatan kayu lapuk di atas jurang gelap, di mana aku sendiri tidak yakin kayu itu bisa menahan berat badanku. Jika aku melawan Ibu, konsekuensinya bukan sekadar dijauhi teman. Konsekuensinya adalah kehilangan tempat bernaung, kehilangan identitas, dan dicap sebagai anak durhaka yang tidak tahu diri.

​Jadi, aku menganggap semua keributan di sekolah ini sebagai tempat latihan.

​Aku berlatih melawan. Di sekolah dulu. Dengan Tiara dulu. Menguji seberapa kuat mentalku menahan konfrontasi.

​Semua itu kulakukan supaya nanti entah kapan, ketika saatnya tiba dan aku sangat membutuhkannya di tempat yang paling penting berdiri melawan Ibu tidak akan terasa terlalu asing bagi pita suaraku.

​Karena kehidupan di rumah berjalan paralel dengan masa SMA-ku, dengan rutinitas mencekiknya yang tidak pernah berhenti.

​Ibu (Sri Wahyuni) masih bangun sebelum azan subuh berkumandang untuk membuka toko. Bapak masih berangkat ke sawah sebelum aku sempat duduk menyentuh sarapanku. Meja makan kami masih sesekali ramai dan sesekali sepi, tergantung siapa yang menang melawan rasa lelah hari itu.

​Dan kalimat-kalimat Ibu yang selalu datang tanpa jadwal, tanpa peringatan cuaca, dan dibungkus dalam nada 'nasihat' masih terus berjatuhan.

​Suatu malam di pertengahan semester satu, aku pulang sedikit terlambat karena ada tugas kelompok Geografi yang waktu pengerjaannya molor. Bukan terlambat yang ekstrem hanya tiga puluh menit dari jadwal normalku.

​Tapi durasi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat lampu ruang tamu menyala terang benderang, dan Ibu duduk tegak di sofa dengan ekspresi yang sudah berbicara lebih keras dari teriakan apa pun.

​"Dari mana?" todong Ibu begitu tanganku menyentuh kenop pintu.

​"Kerja kelompok, Bu. Kan aku udah bilang tadi pagi pas mau berangkat."

​"Bilangnya jam lima udah di rumah."

​"Bahasannya susah, Bu. Jadi molornya sedikit."

​Ibu tidak langsung menjawab. Ia melipat koran yang sedang dipegangnya dengan gerakan kasar padahal aku yakin seratus persen ia tidak benar-benar membaca berita di koran itu. Ia hanya butuh memegang sesuatu agar ada benda yang bisa ia banting atau lipat saat memarahiku untuk efek dramatis.

​"Kamu itu ya, Ra," kata Ibu dengan nada pasif-agresif yang polanya sudah sangat kuhafal. "Kadang nggak pernah mikirin perasaan Ibu di rumah."

​"Ibu, ini baru jam setengah enam sore."

​"Ibu kan nggak tahu kamu di jalan ada apa! Kalau kamu diculik gimana? Kalau kamu kecelakaan gimana?"

​"Ibu kan pegang HP, Ibu bisa WA aku."

​"Kamu itu anak perempuan, harusnya kamu yang inisiatif lapor duluan ke orang tua!"

​Aku menaruh tas punggungku di lantai, duduk di kursi plastik di seberang sofa Ibu, dan menghela napas yang kuusahakan agar tidak mengeluarkan suara sama sekali. Melawan saat ini tidak akan ada gunanya.

​"Iya, Bu. Maaf."

​"Kamu lihat tuh anak tetangga sebelah, si Rini. Pulang sekolah langsung ganti baju, langsung bantuin ibunya nyapu ngepel. Nggak ada tuh keluyuran ke mana-mana."

​Ah. Rini.

​Setelah dulu di masa SD ada nama Dinda yang selalu diagungkan karena ranking-nya tinggi, sekarang di masa SMA update nama terbarunya adalah Rini si anak berbakti yang langsung pulang dan membantu orang tua.

​Daftar nama anak tetangga sebagai pembanding itu terus bertambah setiap tahunnya seiring aku tumbuh besar. Dan setinggi apa pun nilaiku, aku tidak pernah berhasil menjadi versi yang 'cukup' untuk mengalahkan satu pun nama di dalam daftar hall of fame Ibu.

​"Aku kan bukan keluyuran main, Bu. Aku ada kegiatan sekolah. Tugasku banyak."

​"Ibu tahu kamu pinter. Ibu tahu sekolahmu bagus. Tapi tetep aja."

​Kalimat 'tetep aja' itu tidak pernah punya kelanjutan yang logis. Tetap apa? Tetap salah karena aku lahir? Tetap kurang ajar? Tetap tidak sebaik Rini yang menyapu rumah jam tiga sore?

​Aku tidak pernah punya cukup keberanian dan sisa energi untuk menanyakannya.

​"Iya, Bu. Besok-besok aku usahakan kasih tahu Ibu lebih awal kalau molor lagi," jawabku mekanis.

​Merasa sudah memenangkan perdebatan malam itu, Ibu berdiri. Ia melempar koran yang sudah terlipat kusut ke atas meja, lalu berjalan menuju dapur. Suaranya kembali normal, seolah tidak pernah ada ketegangan barusan.

​"Mandi sana, terus makan. Udah Ibu sisain di meja."

​Aku berjalan ke meja makan. Makanannya sangat enak.

​Ada tumis kangkung terasi dan tempe goreng tepung yang digoreng sangat renyah di bagian pinggirnya. Ibu sangat tahu aku benci tempe yang lembek, jadi ia selalu meluangkan waktu untuk menggoreng tempe bagianku lebih lama agar teksturnya garing sempurna.

​Aku duduk makan sendirian di meja makan. Dari kamar Bapak, terdengar suara sayup-sayup pembawa acara berita TV yang artinya Bapak sebenarnya sudah pulang lebih awal malam ini, tapi ia memilih bersembunyi di kamar dan tidak keluar untuk menetralisir keributan di ruang tamu tadi.

​Kenyataan bahwa Bapak kembali menggunakan jurus menghilangnya itu bukan lagi hal yang membuatku sedih. Luka itu sudah terlalu sering terjadi sampai kapalnya menebal, tidak lagi menghasilkan perasaan sakit yang tajam.

​Yang tersisa di dadaku hanyalah rasa lelah. Lelah yang berjalan konstan dan rendah. Persis seperti membiarkan bohlam lampu menyala di siang hari tidak memberi terang yang berarti, tidak membuat gelap, tapi secara perlahan menyedot habis kuota listrik meteranmu tanpa kau sadari.

​Hal yang paling menarik dari masa SMA hal yang sama sekali gagal kuprediksi dalam kalkulasi matematisku tentang teori 'tidak perlu teman' adalah kenyataan bahwa berteman dengan Sari itu sangat melegakan.

​Kenapa? Karena Sari tidak pernah menuntut banyak hal dariku.

​Ia tidak pernah mencecar pertanyaan terlalu dalam tentang kondisi rumahku setiap kali wajahku murung saat kami berpapasan di koridor. Ia tidak pernah mendesakku mengorek luka saat aku menolak bercerita. Ia tidak pernah memaksaku mengisi formulir persyaratan untuk membuktikan bahwa aku layak disebut sebagai "Sahabat Sari".

​Ia hanya hadir.

​Sari dengan segala keberisikannya, kedramatisannya, dan pasokan cerita barunya setiap hari yang skalanya bisa melompat ekstrem dari "Ra, jariku ketusuk stapler, darahnya setetes tapi sakit banget!" sampai ke "Ra, menurut kamu masuk akal nggak kalau alien itu sebenarnya cuma manusia dari masa depan?" dalam satu tarikan napas. Ia selalu ada di sana.

​Dan aku menemukan sebuah anomali psikologis yang tidak terduga dari interaksi kami.

​Bahwa ternyata, memiliki teman yang tidak pernah mengharuskanmu mengubah diri... justru tidak membuatmu diam di tempat. Kesabaran Sari justru membuatku pelan-pelan ingin keluar dari cangkangku.

​Aku mulai berbicara lebih banyak. Tentu, hitungannya masih tidak imbang Sari masih memegang rekor berbicara sembilan puluh persen dari total percakapan kami. Tapi aku merespons lebih panjang dari sekadar "Mm" atau "Iya". Aku memberikan pendapatku. Aku menjadi lebih hidup dari yang pernah kulakukan sejak Dito menghilang dari orbitku.

​Semester dua di kelas sepuluh berakhir, dan nilai-nilaiku tetap bertengger konsisten di peringkat atas kelasku.

​Ibu menerima rapor itu dengan ritme ekspresi yang sudah sangat kukenal dilihat sekilas angka-angkanya, dibaca kolom komentar wali kelas, diletakkan di atas meja, lalu ditutup dengan petuah yang intinya memuji tapi dibungkus ancaman: "Bagus. Tapi jangan lengah. Turun satu peringkat aja, beasiswamu ke kampus negeri nanti bisa lepas."

​Yang berbeda kali ini adalah hari pembagian rapornya. Dalam perjalanan pulang berjalan kaki dari sekolah, Sari merangkul lenganku dan melontarkan pertanyaan dengan wajah yang kelewat serius.

​"Ra, kira-kira... kalau aku mulai puasa ngomong dan belajarnya kayak mesin kayak kamu, aku bisa nggak ya dapat ranking tahun depan di kelasku?"

​Aku menoleh menatapnya. "Bisa."

​"Beneran?" matanya berbinar.

​"Sangat bisa. Asal kamu konsisten."

​Binar di mata Sari langsung padam seketika. "Nah, itu dia. Bagian 'konsisten'-nya itu yang nggak masuk akal buat manusia normal sepertiku."

​"Aku tahu."

​Sari menghela napas panjang dan dramatis, seolah ia baru saja diberitahu bahwa satu-satunya cara lulus SMA adalah dengan berenang menyeberangi Selat Sunda.

​"Susah ya hidup jadi kamu tuh, Ra," gumamnya tulus. "Harus mikir, harus konsisten, harus sedia plan A sampai Z."

​Aku tersenyum tipis menatap jalanan aspal di depan kami. "Lebih susah hidup jadi kamu, Sar. Terlalu banyak emosi yang harus diproses setiap menit."

​Sari menghentikan langkahnya. Ia terdiam selama satu ketukan penuh mencerna kalimatku, lalu mendadak cekikikan geli.

​"Iya juga, sih."

​Masa SMA terus bergulir.

​Tiara dan hierarki palsunya perlahan memudar dari radar aktif kami. Mereka masih eksis, masih sesekali terlihat di kantin atau lapangan indoor, tapi energi beracun yang dulu diarahkan ke kami sekarang sudah berpindah mencari mangsa baru. Mungkin mereka lelah karena kami tidak memberikan reaksi memuaskan. Atau mungkin mereka sadar bahwa mem-bully dua orang batu itu membosankan. Aku tidak terlalu peduli alasan mana yang benar.

​Yang kupedulikan adalah fakta bahwa Sari kini bisa melakukan presentasi di depan kelas mana pun tanpa bahu yang menciut. Bahwa tidak ada lagi meja kantin yang dikosongkan ketika kami datang dari kelas masing-masing membawa nampan. Bahwa dinding tak kasatmata yang memagari kami perlahan runtuh, dan teman-teman dari kelas kami masing-masing mulai mengajak kami berinteraksi layaknya manusia normal.

​Hal-hal kecil.

​Tapi dari masa laluku, aku sudah belajar bahwa kumpulan kemenangan-kemenangan kecil yang benar... pada akhirnya bisa terasa jauh lebih besar dari sebuah penderitaan raksasa.

​Tentu saja, realita di rumah tetap tidak banyak berubah.

​Sri Wahyuni masih berdagang daster. Masih berangkat saat langit gelap, masih pulang dengan bahu pegal, dan masih memiliki cara mencintai yang sangat transaksional di mana sepiring tempe kering yang lezat selalu datang sepaket dengan ceramah tajam yang menyayat hati.

​Masih ada malam-malam menyesakkan di mana kalimat-kalimat itu membombardir telingaku. Soal Rini. Soal Dinda. Soal anak tetangga Pak RT. Soal ekspektasi yang bentuk dan namanya selalu berubah-ubah, tapi intisari tuntutannya selalu sama:

​Nara, kamu bisa lebih dari ini.

Nara, kamu harusnya lebih membanggakan.

Nara, kenapa kamu tidak bisa lebih bersyukur?

​Dan aku seperti mesin copy-paste yang sudah diprogram sejak kelas empat SD akan mendengarkan dalam diam, meminta maaf, masuk ke kamar, membuka buku pelajaran, lalu melanjutkan hidup.

​Tapi, sejauh apa pun aku berlari dalam rutinitas itu, ada sesuatu yang retak di dalam diriku.

​Setiap kali aku duduk menatap kosong ke arah buku catatan setelah malam-malam yang melelahkan itu, ada sebuah suara asing di kepalaku. Suara yang jauh lebih pelan dari bentakan Ibu, namun gaungnya jauh lebih persisten. Suara yang terdengar sangat kelelahan, bertanya di ujung ruang kesadaranku:

​Sampai kapan aku harus begini?

​Di usiaku yang keenam belas, aku belum punya jawaban untuk pertanyaan itu.

​Satu-satunya jangkar kewarasan yang kupunya saat ini hanyalah rutinitasku: bangku kayu di baris ketiga meja tengah, rentetan nilai sembilan di buku rapor yang menjagaku dari amukan Ibu, dan satu sahabat luar biasa yang volume tawanya bisa didengar dua meja jauhnya.

​Untuk seorang remaja bernama Nara, itu bukan hal yang sedikit. Itu sudah terasa seperti kemewahan.

​Tapi, ada bagian kecil dari instingku yang mulai menyadari sesuatu. Masa-masa damai di SMA ini bukanlah garis akhir pencarianku. Ini hanyalah ruang tunggu. Ini baru awal.

​Awal dari apa? Waktu itu aku belum tahu. Tapi aku bisa merasakan badainya sedang berkumpul di kejauhan.

​Enam tahun dari sekarang, masa sekolah akan benar-benar berakhir. Aku akan mengenakan kebaya, memakai toga sarjana, dan berdiri di atas panggung aula universitas dengan sebuah ijazah kelulusan di tangan. Dan pada hari itu, Ibu akan hadir. Semuanya akan terlihat sempurna dari luar. Semuanya akan terasa seperti sebuah garis finish yang melegakan.

​Tapi, yang tidak pernah kuketahui waktu itu garis finish kelulusan itu ternyata adalah garis start dari penderitaan yang sesungguhnya.

​Hari kelulusan itu akan meruntuhkan seluruh duniaku, menamparku dengan buku catatan pengeluaran, dan memaksaku untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang selama belasan tahun sengaja kukubur dalam-dalam demi bertahan hidup:

​Nara... siapa kamu, sebenarnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!