NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Mata Ruby

Sesi latihan pertama di balkon utama Skyrosia berlangsung dalam ketegangan yang nyaris meledak. Angin menderu kencang, membawa aroma ozon dari awan-awan petir di bawah pulau.

Lysander berdiri tegak, jubah peraknya berkibar, sementara matanya yang secerah Ruby menatap tajam ke arah telapak tangan Sybilla. Di sana, berkat sihir Sinmi yang bersembunyi di balik bayangan gaun Sybilla, energi emas murni Elysianne terpancar keluar sebagai asap ungu kehitaman yang tampak redup dan tidak stabil.

"Hanya ini?" Lysander mendengus, suaranya mengandung nada merendah yang kental. "Kekuatan seorang Dewi Kayangan yang dibicarakan para Dewa... ternyata hanya sekadar asap pembuangan sihir yang kotor?"

Sybilla mengatur napasnya, berpura-pura terengah-engah. "Aku... aku tidak bisa mengeluarkan lebih dari ini. Tubuh Sybilla terlalu lemah untuk menahan kekuatanku, Pangeran."

Cyprian berdiri beberapa langkah di belakang, tangannya bersedekap, mengamati dengan wajah kaku yang tak terbaca. Di dalam hatinya, ia sedikit lega melihat Lysander tampak kecewa.

"Mengecewakan," ucap Lysander akhirnya. Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat bahwa latihan selesai untuk pagi ini. "Simpan tenagamu, Duchess. Darahmu saat ini pasti sepahit empedu jika kekuatannya sekacau ini. Kita lanjut besok."

Lysander berjalan pergi meninggalkan balkon dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Namun, begitu ia memasuki koridor pribadinya yang sepi, ketenangannya runtuh.

Brak!

Tangannya menghantam dinding marmer hingga retak. Wajahnya yang rupawan kini mengeras, otot rahangnya menegang hebat.

"Sialan," geram Lysander, suaranya rendah dan penuh kemarahan yang tertahan. "Dia pikir dia sedang berhadapan dengan siapa? Penjaga gerbang amatir?"

Mata Ruby-nya berkilat merah menyala, lebih terang dari sebelumnya. Lysander tidak tertipu. Sebagai seseorang yang telah mempelajari esensi sihir langit sejak kecil, ia tahu perbedaan antara energi yang melemah dan energi yang sengaja diselubungi.

Meskipun asap itu berwarna ungu, getaran di udara Skyrosia tidak bisa berbohong. Rantai Adamant tetap tenang, pertanda bahwa inti kekuatan yang menahannya sangat stabil dan murni dan bukan sihir gelap yang kacau.

Lysander sempat menangkap sekilas pendar biru elektrik di bayangan kaki Sybilla. Ia tahu itu bukan sihir Sybilla, melainkan makhluk lain—si kupu-kupu nakal, Sinmi.

"Kau ingin bermain sandiwara, Elysianne?" Lysander menyeringai licik, meski amarah masih membara di matanya. Ia meraba sebuah kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah benda yang ia ambil dari ruang rahasia ayahnya, Raja Zephyrus.

Itu adalah sebuah Lonceng Pemecah Tabir. Benda kuno yang dirancang khusus untuk menghancurkan penyamaran roh penjaga.

"Jika kau tidak mau memberiku darahmu secara sukarela," bisik Lysander pada kegelapan koridor, "maka aku akan memaksamu meledakkan seluruh cahaya emasmu hingga kau tidak punya pilihan selain memohon perlindunganku."

Di dalam kamar, Sinmi keluar dari persembunyiannya, wajah kecilnya tampak pucat. "Putri... Pangeran itu... aura kemarahannya terasa sampai ke ujung sayapku. Dia tahu. Dia pasti tahu kita menipunya!"

Cyprian, yang baru saja masuk setelah memastikan koridor aman, mengunci pintu dengan sihirnya. "Tentu saja dia tahu. Lysander bukan orang bodoh. Dia hanya sedang menunggu waktu untuk memojokkanmu, Sybilla."

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara dentang lonceng yang sangat halus, namun getarannya membuat telinga Sybilla berdenging menyakitkan.

Dentang lonceng itu tidak terdengar oleh telinga manusia biasa, namun bagi makhluk surgawi, suaranya seperti hantaman godam pada kaca.

Di dalam kamar, Sinmi menjerit tanpa suara. Tubuh gadis kecilnya mulai transparan, memudar menjadi bintik-bintik cahaya biru yang tidak stabil. "Putri... suaranya... aku tidak kuat..." bisiknya sebelum akhirnya ia menciut kembali menjadi seekor kupu-kupu yang sayapnya terkulai lemas di atas bantal.

Penyamaran asap ungu itu pecah.

Dari pori-pori kulit Sybilla, Cahaya Astraea yang berwarna emas murni mulai bocor keluar. Cahaya itu begitu terang hingga menyinari seluruh sudut kamar, menembus celah pintu dan jendela. Sybilla mencengkeram dadanya, merasa jantungnya dipompa oleh api cair.

Di koridor istana, Raja Zephyrus Al-Qahhar menghentikan langkah putranya. Sang Raja berdiri dengan jubah kebesarannya yang memancarkan aura otoritas purba.

"Lysander! Hentikan bunyi lonceng itu sekarang juga!" gertak Raja Zephyrus. "Kau mempertaruhkan keseimbangan dimensi! Jika identitas Elysianne terungkap secara paksa, Erebus akan merobek langit Skyrosia!"

Lysander berhenti, namun ia tidak berlutut. Ia justru mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan mata Ruby yang menyala penuh ambisi gelap.

"Ayah sudah terlalu tua dan penakut," desis Lysander tajam. "Dewa-dewa itu memperlakukan kita seperti pelayan penjara untuk putri mereka. Aku tidak akan membiarkan kekuatan sebesar ini terbuang percuma hanya untuk menjaga 'keseimbangan' yang membosankan itu."

"Lysander, ini peringatan terakhir-"

"Tidak, Ayah. Ini adalah awal dari kekuasaanku." Dengan satu lambaian tangan, Lysander merapalkan mantra penghalau yang ia pelajari dari kitab terlarang, membuat sang Raja terpaku di tempat oleh rantai bayangan sesaat.

Cyprian, yang saat itu sedang berada di ruang persenjataan untuk menyiapkan perlindungan tambahan, tidak menyadari bahwa sihir isolasi di kamar Sybilla telah disabotase oleh Lysander.

Pintu kamar Sybilla terbuka tanpa suara. Lysander melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini dipenuhi pendar emas yang menyilaukan. Ia melihat Sybilla yang bersimpuh di lantai, berjuang menahan ledakan kekuatannya sendiri.

"Ikut denganku, Dewi-ku," bisik Lysander. Ia menyentuh pergelangan tangan Sybilla dengan lonceng kuno itu, seketika membuat Sybilla mati rasa.

Tanpa disadari oleh penjaga mana pun (karena Lysander menggunakan jalur rahasia para raja) ia membawa tubuh Sybilla yang terkulai lemas keluar dari istana. Mereka melesat menuju Tebing Penantian, tempat di mana sebuah kapal terbang kecil yang diselimuti sihir pengabur telah menunggu.

Malam itu, Skyrosia tetap melayang, namun intinya telah pergi.

Sybilla terbangun di atas dek kapal yang dingin. Ia melihat daratan Skyrosia semakin menjauh di bawah sinar bulan. Di depannya, Lysander berdiri memunggungi arah angin, menatap ke arah Perbatasan Bawah—wilayah yang dekat dengan kerajaan Erebus.

"Ke mana kau membawaku?" tanya Sybilla dengan suara serak. Cahaya emasnya kini meredup, namun terasa seperti bom yang siap meledak di dalam nadinya.

Lysander berbalik, senyumnya kini tampak tulus namun mengerikan. "Ke tempat di mana Cyprian tidak bisa menjangkaumu, dan di mana para Dewa tidak bisa memerintahmu. Kita akan menemui seseorang yang sangat ingin membedah cahaya di dalam dirimu, Elysianne."

Di bahu Lysander, Sinmi yang tertawan di dalam botol kaca kecil menangis, sayapnya tidak lagi bercahaya.

----------

Author mulai terbiasa pake (—) wkwk~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!