Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengakuan Raka.
"Jadi,,ini yang namanya Alyaaa?" ucap nenek Raka, saat pria tampan itu memperkenalkan Alya pada mereka. Wanita paruh baya itu tampak memperhatikan penampilan Alya dari atas hingga bawah. Tepat seperti yang dilakukan Raka, saat pertama kali mereka bertemu.
Alya tampak tersenyum kikuk, saat memperkenalkan dirinya pada wanita paruh baya itu. Berbeda dengan sang isteri. Aaron sang kakek, dan juga Max, ayah Raka menyambut hangat kedatangan Alya.
Max bahkan terus tersenyum melihat puteranya yang sepertinya benar-benar telah menerima Alya dalam hidupnya. Hal itu bisa dilihatnya dari cara Raka memperlakukan Alya.
Raka yang dengan sigap menarik kursi untuk Alya, dan juga mengambilkan makanan untuk wanita manis itu.
"jadi, kau telah bekerja selama tiga tahun pada Rany?" tanya nenek Raka.
"iya, nek." jawab Alya.
"Hebat yaa,,baru tiga tahun bekerja. Tapi, kau telah berhasil merebut hati puteriku, begitupun juga dengan cucuku."
"ibu,,," tegur Rany pada ibunya.
"yaa, benar dong Ran, kau sangat pemilih untuk Raka, tapi kali ini kau bahkan menjodohkan puteramu dengan seorang wanita yang baru kau kenal tiga tahun, dan bahkan akan menikahkan mereka dalam waktu dekat ini walau mereka baru saja saling mengenal dalam beberapa hari" ucap wanita paruh baya itu lagi.
tanpa menunggu respon dari yang lain, wanita paruh baya itu kembali mengangkat sudut bibirnya.
"ibu sedikit heran, mengapa kau lebih menyetujui Raka dan Alya yang baru saja saling mengenal ini, dibandingkan Rossa, yang sudah hampir enam tahun bersama Raka"
cusss...
Hati Alya seperti terjatuh saat mendengar ucapan nenek Raka. Ia bertanya-tanya, apa benar apa yang dikatakan wanita paruh baya itu.
"harusnya kau den,,,"
"Carrol, hentikan ucapan mu" tegur Aaron pada isterinya. Ia merasa ucapan isterinya sudah terlalu berlebihan.
Carrol, mencebikan bibirnya mendengar teguran suaminya itu.
Alya tersentak, saat sebuah tangan hangat menyentuh jemarinya. Ia berpaling dan melihat Raka, yang tersenyum tulus padanya.
"nggak usah dipikirkan. Namanya juga orang tua" bisik Raka lembut. Alya hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.
Alya mencoba untuk terlihat tenang, walau hatinya sedikit terusik, tentang siapa wanita yang pernah bersama Raka. Bahkan pernah menjalin hubungan cukup lama dengan pria.
Tak dibisa di pungkiri, Alya juga mulai penasaran mengapa Raka lebih memilihnya, dibandingkan dengan wanita yang sudah lama bersama dengannya. wanita itu juga penasaran mengapa Bu Rany, memilih untuk menjodohkannya dengan Raka, di bandingkan dengan wanita itu.
Makan malam berakhir dengan baik, walau ada sedikit ketegangan yang dilakukan oleh sang nenek. Namun, Raka tak mempersalahkan hal tersebut, karena baginya hubungan yang pernah ia jalani itu sudah berakhir cukup lama, Dan kini ia berhak untuk menata masa depan bersama Alya.
Raka mengantar Alya pulang. Alya ingin menanyakan tentang wanita itu, namun ia mengurungkan niatnya itu. Ia ingin, Raka lah yang berinisiatif untuk menceritakannya tanpa paksaan darinya.
Selama hidupnya Alya belum pernah berpacaran. Ia memang pernah dekat dengan beberapa pria namun hubungan mereka tak pernah berlanjut hingga ke tahap berpacaran. Mungkin karena penampilannya yang biasa saja dan sifatnya yang membosankan membuatnya tak disukai oleh pria.
Mungkin mereka mendekatinya hanya karena penasaran, dan setelah rasa penasaran mereka terpenuhi mereka akan pergi dengan diam-diam.
Beruntungnya karena Alya tak pernah menaruh harapan dan perasaan pada mereka sehingga ia tak pernah merasakan kekecewaan ataupun sakit hati.
Karena itulah Alya sedikit kebingungan dengan tahapan pekenalan ini.
^^^^
"jangan pikirkan ucapan nenek yang tadi," ucap Raka tiba-tiba, saat Alya hendak turun dari mobilnya.
"hmm. Aku nggak mikiran kok" jawab Alya. Alya mengurungkan niatnya untuk bertanya. Sepertinya ia harus mengubur rasa penasarannya terhadap wanita yang pernah bersama Raka.
Walaupun ia tahu, rasa penasaran itu akan menghantuinya setiap saat. Alya hanya takut hatinya terluka, jika terlalu penasaran. "Rossa" nama wanita itu terus terngiang-ngiang dalam ingatannya.
"Alyaa,,,!!" panggil Raka, membuat wanita cantik itu yang sudah berada di depan pintu rumahnya seketika menoleh, belum sempat Alya berpikir jernih, ia telah berada dalam dekapan hangat Raka. Entah, bagaimana pria itu ikut turun dari mobilnya, Alya tak menyadarinya.
"wanita itu hanya masa lalu. Dia tak cukup pantas untuk kamu pikirkan" bisik Raka. Seolah mengetahui isi hati Alya, Raka terus mengatakan hal itu.
Ia hanya tak ingin Alya menebak-nebak sesuatu yang membuatnya tak nyaman.
"jika kau mau, aku akan menceritakannya. yaaa,,walau hanya garis besarnya saja" ucap Raka. Pria itu begitu yakin, jika Alya terus kepikiran dengan ucapan neneknya, karena itu ia mencoba untuk meyakinkan Alya jika apa yang dibicarakan oleh neneknya, tak harus dipikirkan oleh Alya.
"apa kau yakin?" Alya balik bertanya.
"yaaa,,kenapa enggak" jawab Raka cepat.
Alya mempersilahkan Raka untuk masuk ke rumahnya. Rumah yang Alya tempati tak terlalu besar. Rumah itu merupakan rumah, yang penuh kenangan, ia bersama ayah dan ibunya. Sebelum ibunya sakit-sakitan, dan akhirnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Begitu pun juga dengan ayahnya. Walau masih ada di dunia. Tapi bagi Alya, ayahnya itu juga telah tiada.
Ini merupakan pertama kalinya, Alya membawa laki-laki masuk ke rumahnya. Ia hanya berharap, orang seperti Raka akan betah dirumah sederhananya itu.
"Rumahmu sangat nyaman" puji Raka. Walaupun terlihat sederhana, namun Raka akui rumah yang Alya tempati sangat nyaman, itu merupakan kesan pertama yang ia rasakan.
Semuanya tertata dengan baik, dan sesuai pada tempatnya. Rumah itu juga terlihat begitu bersih. Dari sini, Raka bisa menilai wanita seperti apa Alya. Kali ini, ia benar-benar mengakui pilihan ibunya.
"kau mau kopi?" tawar Alya.
"yap, boleh" ucap Raka.
Tak menunggu lama, Alya kemudian muncul dengan secangkir kopi, yang aromanya dapat membuat Raka seketika merasa rileks.
"jadi,,mulai dari mana kita" tanya Raka, setelah meneguk kopi buatan Alya.
"terserah padamu" jawab Alya, lalu ikut duduk di depan pria itu.
"mmmm,,," Raka menjedah ucapannya.
"jadi, aku pernah berpacaran saat duduk di bangku kuliah. Dan yaaa,,seperti yang kau dengar tadi, aku berpacaran dengan wanita itu cukup lama. Hingga pada akhirnya kami harus berpisah, karena wanita itu lebih memilih untuk mengikuti kedua orang tuanya yang pindah keluar negeri dan dijodohkan disana,," Raka menjeda ucapannya dan meneguk kembali kopi buatan Alya.
"aku cukup terpuruk waktu itu. Tapi, berkat mama aku mampu melewati semuanya itu." tambah Raka.
Alya hanya terdiam mendengar ucapan Raka, karena tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak mempunyai pengalaman dalam hal percintaan untuk memberi sebuah nasehat atau saran pada Raka.
"aku cukup terluka waktu itu, tapi sepertinya nenek nggak menyadari hal itu sehingga masih terus mengaitkan ku dengan wanita itu. Aku, bahkan sudah melupakan wanita itu, namun nenek masih tetap saja mengingatnya"
"apa kau baik-baik saja sekarang?" tanpa aba-aba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Alya.
"yaaa,,tentu saja. Bahkan jauh dari kata baik. Aku benar-benar baik, dari beberapa tahun yang lalu" jawab Raka mantap. Pria itu kembali mengangkat sudut bibirnya.
"kau tahu, perasaanku beberapa hari terakhir ini juga sangat-sangat baik, setelah mengenal dirimu" jujur Raka.
Tanpa disadari, diam-diam Alya menarik nafas lega mendengar jawaban Raka. Ia benar-benar berharap Raka baik-baik saja setelah di sakiti oleh orang yang pernah ia cintai.
Alya juga berharap, hubungannya yang pertama ini juga akan menjadi hubungan terakhirnya dengan seorang pria. Dan ia juga berharap pria itu adalah Raka, yang kini tengah duduk di hadapannya saat ini.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗