NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pecahnya Benteng

Malam di Ibukota terasa seperti belati es yang menghujam kulit. Di dalam mobil militernya, Matthew mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, hampir retak. Ia tidak menyalakan sirine, ia tidak ingin menarik perhatian kakak-kakak Daisy yang mungkin sedang mengawasi setiap pergerakan unit militer. Ia bergerak dalam senyap, namun dengan kecepatan yang akan membuat pembalap paling nekat sekalipun merasa ngeri.

"Lantai dua puluh... Menara Safir," gumamnya berulang-ulang, seolah kata-kata itu adalah mantra untuk menjaga jantungnya tetap berdetak.

Pikirannya terus terbayang pada wajah keluarganya tadi. Pukulan ibunya di dadanya masih terasa panas, bukan karena fisiknya yang terluka, tapi karena setiap hantaman itu seolah meneriakkan dosa-dosanya selama empat tahun ini.

“Apa yang kau lakukan sehingga dia meninggalkanmu?” Pertanyaan neneknya terngiang-ngiang, menghantam egonya yang setinggi gunung.

Matthew menyadari betapa jahatnya dia. Dia mengira dengan menjaga jarak, dia sedang melindungi Daisy dari sisi gelapnya. Dia mengira dengan diam, dia sedang menjaga martabat pernikahan mereka. Namun ternyata, diamnya adalah racun yang perlahan-lahan membunuh jiwa Daisy.

"Aku memang pengecut," desis Matthew. Air mata kembali mengaburkan pandangannya saat ia melihat Menara Safir menjulang tinggi di kejauhan. "Aku lebih berani menghadapi ribuan moncong senapan di Utara daripada menghadapi kenyataan bahwa aku mencintaimu, Daisy."

Mobilnya mengerem mendadak di depan lobi menara mewah itu. Matthew tidak memedulikan petugas valat yang mencoba menyapanya. Ia berlari masuk, menunjukkan lencana Jenderal Agungnya kepada petugas keamanan dengan wajah yang begitu menyeramkan hingga petugas itu hampir pingsan karena ketakutan.

"Akses ke lantai dua puluh! Sekarang!" Bentak Matthew.

Di dalam lift yang bergerak naik, Matthew menatap pantulan dirinya di cermin stainless steel. Ia melihat seorang pria yang hancur. Tidak ada lagi kebanggaan Jenderal. Yang ada hanyalah seorang suami yang ketakutan setengah mati akan kehilangan rumah yang sebenarnya—Daisy.

Ting!

Pintu lift terbuka. Lorong lantai dua puluh sangat sunyi, berlapis karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Matthew berjalan dengan napas memburu menuju unit nomor 2004. Nama di samping bel pintu itu kosong, namun Matthew tahu, di balik pintu inilah Daisy bersembunyi.

Ia mengangkat tangannya untuk mengetuk, namun tangannya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tangan yang terbiasa menarik pelatuk senjata itu tidak sanggup melakukan gerakan sederhana.

Bagaimana jika dia mengusirku? Bagaimana jika dia sudah mengemasi barang-barangnya?

"Daisy..." bisiknya pelan. Ia menekan bel.

Hening. Tidak ada jawaban.

Matthew menekan bel lagi, kali ini lebih lama. "Daisy, ini aku. Matthew. Tolong buka pintunya."

Masih tidak ada suara dari dalam. Ketakutan Matthew memuncak. Ia membayangkan skenario terburuk, Daisy sudah pergi melalui pintu darurat, atau lebih buruk lagi, Daisy sedang menangis sendirian di dalam sana dan tidak ingin melihat wajahnya lagi.

"Daisy! Aku tahu kau di dalam!" Matthew mulai memukul pintu kayu jati yang kokoh itu. "Tolong bicara padaku! Aku salah... aku bersumpah aku akan menjelaskan semuanya! Jangan pergi seperti ini, kumohon!"

Suara Matthew yang biasanya berwibawa kini pecah menjadi isakan yang tak terkontrol. Ia menyandarkan dahinya di pintu yang dingin itu, tubuhnya merosot hingga ia terduduk di lantai lorong. Sang Jenderal Agung, kebanggaan kerajaan Eisenberg, kini terduduk bersimpuh di depan pintu apartemen seperti peminta-minta.

"Aku melihatmu di pusat kota minggu lalu," suara Daisy tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Sangat pelan, sangat dingin, namun cukup untuk membuat Matthew tersentak bangun. "Aku melihatmu bersama anak itu. Dan wanita itu, siapa dia?"

Matthew memejamkan mata erat-erat. Jantungnya terasa seperti diremas. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Daisy. Aku bersumpah demi nyawaku."

"Lalu seperti apa?" Tanya Daisy. "Kita menikah sudah hampir empat tahun, Matthew. Kau tidak pernah menyentuhku. Kau mengabaikanku seperti pajangan di paviliunmu. Dan sekarang kau membawa boneka raksasa untuk anak wanita lain? Apakah itu masa lalu yang kau maksud?"

Daisy tertawa pahit, suara tawanya terdengar sangat lelah melalui celah pintu. "Gengsiku mungkin besar, Matthew. Tapi aku bukan wanita bodoh yang mau berbagi suami dengan masa lalunya. Pergilah. Aku sudah menyiapkan surat lewat pengacaraku. Kakak-kakakku akan menjemputku fajar nanti."

Mendengar kata kakak-kakak, Matthew langsung tersadar. Waktunya tidak banyak. Arthur dan Julian pasti sedang dalam perjalanan. Jika mereka sampai di sini sebelum ia bisa masuk, semuanya berakhir.

"Daisy, dengarkan aku!" Matthew berteriak, suaranya mendesak. "Anak itu... Adelie... dia bukan anakku! Dia anak Friedrich! Pria yang membawa lari Maira lima tahun lalu!"

Keheningan kembali menyelimuti lorong.

"Maira?" Tanya Daisy dari dalam. Nama itu tidak asing baginya, wanita itu. Pelayan yang Lady Beatrice maksud. Namun ia bisa merasakan beban emosi yang luar biasa saat Matthew mengucapkannya.

"Maira adalah wanita yang dulu hampir kuhancurkan karena obsesiku yang gila. Aku mencarinya bukan karena aku mencintainya sekarang, Daisy. Aku mencarinya karena aku merasa bersalah telah merusak hidupnya!" Matthew bicara dengan sangat cepat, air mata terus mengalir di pipinya. "Dan Adelie... aku hanya ingin menebus dosaku karena ayahnya meninggal dalam pelarian karena aku! Tapi aku bersumpah, hatiku tidak ada pada mereka!"

Matthew memukul pintu lagi dengan keputusasaan yang murni. "Hatiku ada padamu, Daisy! Aku menjauhimu karena aku takut... aku takut jika aku terlalu mencintaimu, aku akan menjadi monster yang sama seperti dulu! Aku takut aku akan mengurungmu dan menghancurkan cahayamu!"

"Kau sudah melakukannya, Matthew," bisik Daisy di balik pintu. "Kau sudah mengurungku dalam kesepian selama hampir empat tahun. Bukankah itu lebih buruk?"

Matthew terdiam. Ia tidak punya jawaban untuk itu. Daisy benar. Dalam usahanya untuk tidak menjadi monster, ia justru menjadi suami yang paling kejam.

Di kejauhan, Matthew mendengar suara deru mesin mobil yang banyak berhenti di depan gedung. Jantungnya mencelus. Itu pasti keluarga Daisy.

"Daisy, kumohon... buka pintunya sekarang," Matthew memohon, suaranya nyaris hilang. "Kakak-kakakmu sudah di bawah. Jika kau tidak membukanya sekarang, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi suami yang kau inginkan. Tolong... beri aku satu kesempatan untuk mencintaimu dengan benar."

Tangannya mencengkram gagang pintu, berharap ada keajaiban. Ia tahu, di balik pintu itu, Daisy juga sedang memegang gagang pintu, bimbang antara gengsinya yang terluka atau rasa cintanya yang masih tersisa untuk pria menyebalkan yang sedang menangis di koridor apartemennya ini.

Fajar hampir menyingsing, dan nasib pernikahan Eisenberg kini bergantung pada satu putaran kunci.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!