menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
BAB 13: Gema di Balik Deru Mesin
Debu-debu halus menari di bawah sorotan lampu neon yang berkedip di langit-langit bengkel Kuroda Motor. Aroma oli, bensin, dan besi tua yang bagi kebanyakan orang terasa menyesakkan, bagi Hana dan Ren adalah aroma kebebasan. Pintu besi besar itu telah terbuka sejak pagi buta, dan seolah-olah seluruh distrik Ota telah merindukan tangan dingin sang mekanik, antrean kendaraan sudah mengular di depan gerbang.
Ren kembali ke elemen aslinya. Ia mengenakan kaos kutang hitam yang sudah mulai ternoda bercak abu-abu, memperlihatkan otot-otot lengannya yang bekerja keras memutar kunci pas dan mengangkat blok mesin. Keringat mengalir di pelipisnya, namun ada binar di matanya yang tidak pernah Hana lihat saat pria itu mengenakan jas miliaran yen. Di sini, dia bukan Aurelius Sang Pewaris Hantu; dia hanyalah Ren, pria yang jatuh cinta pada presisi mesin.
Hana duduk di atas kursi kayu tinggi di sudut ruangan, memegang secangkir teh hijau yang sudah mendingin. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ren. Bagaimana mungkin pria yang semalam begitu dominan di ranjang, kini terlihat begitu membumi saat berbaring di bawah kolong mobil tua yang berkarat?
"Kau akan terus menontonku sampai baut ini bicara, atau kau mau membantu?" teriak Ren dari bawah kolong mobil, suaranya bergema di ruang mesin.
Hana tertawa kecil, meletakkan cangkirnya. "Aku tidak tahu cara membedakan obeng dan kunci inggris, Ren-san. Aku hanya akan mengganggumu."
"Kemarilah," perintah Ren.
Hana mendekat, melangkah hati-hati agar gaun kasual yang baru dibelikan Yoto tidak terkena kotoran. Ren merangkak keluar dari bawah mobil, wajahnya cemong oleh noda oli hitam. Ia menyodorkan sebuah lap bersih dan sebuah tang kecil. "Pegang ini. Dan jangan biarkan aku kehilangan konsentrasi."
Hana menerima alat itu dengan ragu. Ia mencoba membantu membersihkan bagian luar mesin yang bisa ia jangkau. Ia merasa berguna, merasakan tekstur logam yang keras di bawah jemarinya. Namun, saat ia sedang serius menggosok sebuah katup, ia merasakan sentuhan dingin di pipi kanannya.
"Eh?" Hana tersentak.
Ren berdiri di sampingnya, menyeringai nakal. Ujung jarinya yang berlumuran oli baru saja melukis garis hitam panjang di pipi mulus Hana.
"Ren-san! Ini baju baru!" seru Hana, mencoba membalas, namun Ren lebih cepat. Ia mengoleskan lebih banyak oli ke hidung Hana, membuatnya terlihat seperti kucing hutan yang tersesat di bengkel.
"Sekarang kau benar-benar menjadi asisten mekanik," goda Ren, tawanya pecah memenuhi ruangan.
Hana tidak tinggal diam. Ia mencelupkan jemarinya ke wadah pelumas di dekatnya dan mengejar Ren di sela-sela tumpukan ban bekas. Mereka kejar-kejaran seperti remaja, melupakan kasta, melupakan ancaman keluarga, dan melupakan bahwa dunia luar sedang mengintai mereka. Hana berhasil meraih kaos Ren dan meninggalkan noda tangan di punggung pria itu.
Mereka berhenti di tengah ruangan, napas terengah-engah, wajah penuh noda hitam, namun tawa mereka begitu tulus hingga air mata kebahagiaan nyaris jatuh. Di titik ini, Hana merasa bahwa jika waktu bisa berhenti, ia ingin berhenti di sini—di antara baut dan oli, bersama pria yang mencintainya tanpa topeng.
Namun, semesta punya cara kejam untuk mengingatkan kenyataan.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel Hana yang diletakkan di atas meja kerja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat tawa Hana seketika lenyap.
AYAH.
Hana menelan ludah. Ia menatap Ren, yang senyumnya juga perlahan memudar, digantikan oleh kewaspadaan tajam. Hana menarik napas panjang dan menekan tombol hijau.
"Halo, Ayah—"
"APA YANG KAU LAKUKAN, HANA?!" Suara Daichi Asuka meledak dari seberang telepon, begitu keras hingga Ren bisa mendengarnya tanpa perlu mendekat. "Kaito baru saja menelpon! Dia bilang pertunangan kalian batal! Dia bilang kau sekarang menjadi milik Hohenzollern secara pribadi! Kenapa kau tidak melaporkan ini padaku?! Kau pikir kau siapa bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa persetujuanku?!"
Hana gemetar. "Ayah, ini demi kebaikan Asuka Group. Kaito setuju karena—"
"KEBAIKAN APA?! Kau mempermalukanku! Kaito bilang sahamnya naik karena campur tangan Aurelius, tapi itu berarti kita berhutang nyawa pada pria itu! Kau menjual dirimu secara murah tanpa menegosiasikan posisi perusahaan kita!"
Sebelum Hana bisa menjawab, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya. Ren berdiri tegak, auranya berubah seketika menjadi Aurelius yang dingin.
"Tuan Asuka," suara Ren menggelegar, rendah namun mematikan. "Ini Aurelius Renzo. Mulai detik ini, Hana bukan lagi bidak di papan caturmu. Segala urusan mengenai hutang dan masa depan Asuka Group akan dibahas oleh pengacaraku. Jangan pernah berteriak padanya lagi, atau aku akan memastikan kau tidak akan punya perusahaan untuk diperdebatkan besok pagi."
Tanpa menunggu jawaban, Ren mematikan telepon itu dan melemparkannya kembali ke meja. Ia menatap Hana yang tampak pucat, lalu menariknya ke dalam pelukan hangat. "Maaf kau harus mendengar itu. Aku akan membereskannya."
Tiba-tiba, suara pintu mobil tertutup di depan bengkel. Yoto melangkah masuk dengan wajah yang lebih kaku dari biasanya. Ia membungkuk dalam, namun matanya memancarkan urgensi yang luar biasa.
"Tuan Muda Aurelius," ucap Yoto. "Tuan Besar Maximilian menunggu Anda di Mansion. Sekarang juga. Pesawat pribadinya akan berangkat ke Eropa dalam tiga jam, dan beliau bersikeras bertemu Anda sebelum lepas landas."
Ren menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah kembali hinggap di bahunya. Ia menatap jam di tangannya, lalu menatap Hana. "Yoto, antar Hana kembali ke apartemen. Pastikan dia aman di sana. Aku akan menyusul setelah urusan ini selesai."
"Ren-san, hati-hati," bisik Hana, memegang lengan jaket kulit Ren.
"Aku akan kembali," janji Ren.
Mansion Minato terasa seperti kuburan yang megah saat Ren melangkah masuk. Di aula utama, koper-koper mewah sudah tertata rapi. Elara dan Julian berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah tertunduk. Elara tampak habis menangis, sementara Julian terus menatap layar tabletnya tanpa fokus.
Maximilian duduk di kursi kebesaran, menghisap cerutu terakhirnya sebelum keberangkatan. Saat melihat Ren masuk dengan kaos penuh noda oli dan jaket kulit, mata Maximilian berkilat penuh amarah yang dingin.
"Kau berani datang menghadapku dengan kostum sampah itu, Aurelius?" desis Maximilian.
Ren berdiri tegak di tengah ruangan. "Ini adalah diriku yang sebenarnya, Ayah. Tidak ada gunanya memakai jas jika hatiku tidak di sana."
"OMONG KOSONG!" Maximilian berdiri, memukulkan tongkat peraknya ke lantai marmer hingga suaranya bergema. "Kau menjanjikan kehancuran Shimada! Kau bilang akan menyingkirkan mereka dari pasar Asia! Tapi apa yang kau lakukan semalam? Kau menyuntikkan dana ke perusahaan mereka hanya untuk membeli seorang wanita?! Kau menggunakan lima triliun yen untuk pelacur dari keluarga Asuka?!"
"Dia bukan pelacur!" Ren berteriak balik, suaranya menggetarkan ruangan. "Dia adalah alasan aku tetap waras di dunia gila yang kau ciptakan ini! Shimada akan hancur pada waktunya, tapi aku tidak akan membiarkan Hana menderita karenanya."
Maximilian melangkah mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Ren. "Kau telah gagal, Aurelius. Kau membiarkan emosi mengendalikan imperiummu. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan nama Hohenzollern di Jepang lebih lama lagi."
Maximilian memberikan isyarat pada asistennya. "Minggu ini, kau harus kembali ke Eropa. Aku sudah menyiapkan posisi direktur utama di Berlin. Kau akan menikah dengan putri keluarga Moretti untuk memperkuat aliansi kita. Jika kau tidak naik ke pesawat itu pada hari Minggu, aku akan menghapus nama Hana Asuka dan seluruh keluarganya dari muka bumi. Kau tahu aku tidak pernah menggertak."
Ren merasakan seluruh tubuhnya membeku. "Kau mengancam nyawanya?"
"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan pewarisku," jawab Maximilian datar. Ia kemudian menoleh pada Elara dan Julian. "Ayo. Kita berangkat sekarang. Aurelius, kau punya tujuh hari untuk mengucapkan selamat tinggal pada duniamu yang kecil ini. Jika kau mencoba melarikan diri dariku lagi... kau akan menyesal selamanya."
Maximilian berjalan pergi tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Elara yang memberikan tatapan memohon pada Ren, dan Julian yang hanya bisa mengangguk pasrah.
Ren berdiri sendirian di aula besar yang kosong. Raungan mesin pesawat di kejauhan seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasannya. Ia memiliki tujuh hari. Tujuh hari sebelum ia harus memilih: mengorbankan cintanya untuk menyelamatkan nyawa Hana, atau melawan ayahnya dan mempertaruhkan segalanya dalam perang yang mungkin tidak bisa ia menangkan.
Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam hatinya, sang mekanik sedang merencanakan sebuah mesin yang jauh lebih kompleks dari apa pun yang pernah ia buat—sebuah mesin revolusi melawan ayahnya sendiri.