NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong sunyi di balik dinding

Kegelapan di dalam kamar pengantin itu terasa menyesakkan. Suara derap langkah kaki di luar pintu terdengar berat dan terburu-buru. Ghibran tidak membuang waktu; dengan satu gerakan mantap, ia menggeser lemari jati besar yang ternyata menutupi sebuah pintu kayu kecil yang lapuk.

"Ikut aku, Aira. Jangan lepaskan genggamanku," bisik Ghibran. Suaranya rendah namun penuh otoritas, memberikan jangkar bagi Aira yang hampir tenggelam dalam kepanikan.

Aira meraba udara, mencari jemari Ghibran. Begitu telapak tangan mereka bertaut, ia merasakan kehangatan yang kontras dengan udara malam yang dingin. Ghibran menariknya masuk ke dalam lorong sempit yang berbau tanah dan kayu tua. Ini adalah jalan rahasia yang dibangun mendiang Habib Fauzan untuk keadaan darurat, sebuah arsitektur perlindungan yang bahkan Azlan pun tidak tahu keberadaannya.

Di dalam lorong yang nyaris tanpa cahaya itu, indra Aira menjadi tajam. Ia bisa mendengar deru napas Ghibran yang teratur dan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.

"Kak... siapa mereka?" tanya Aira dengan suara bergetar, hampir tak terdengar di antara dinding-dinding batu.

"Orang-orang Abrisam. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka mau," jawab Ghibran tanpa menoleh. Langkahnya cepat namun waspada. "Mereka mengira aku menyimpan dokumen asli hasil autopsi mandiri Azlan di rumah ini. Mereka salah."

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah kamar mereka di atas. Brak! Pintu kamar mereka didobrak paksa. Aira tersentak, hampir saja ia memekik jika Ghibran tidak segera membalikkan badan dan membekap mulutnya dengan telapak tangan yang besar.

Punggung Aira terdorong ke dinding lorong yang dingin. Jarak mereka kini begitu rapat. Dalam kegelapan total, Aira bisa merasakan uap napas Ghibran di keningnya. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang khas dari suaminya menyeruak, menciptakan sensasi aneh yang menenangkan sekaligus menggetarkan di dadanya.

"Diam," bisik Ghibran tepat di telinga Aira. Hembusan napasnya membuat bulu kuduk Aira meremang. "Jangan bersuara sampai mereka pergi."

Aira mengangguk kecil dalam dekapan Ghibran. Ia bisa merasakan otot-otot lengan Ghibran yang tegang, siap melindunginya dari bahaya apa pun. Dalam momen itu, keraguan Aira tentang Ghibran sedikit memudar. Pria yang selama ini dianggapnya "dingin" dan "ambisius" itu kini menjadi satu-satunya pelindung yang ia miliki.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, suara kegaduhan di atas mereda. Ghibran perlahan melepaskan bekapannya, namun ia tidak segera menjauh. Ia menatap Aira—meski hanya berupa siluet di kegelapan.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Ghibran, nadanya sedikit melunak.

"Iya... hanya takut," jawab Aira lirih. "Kenapa mereka mengincar dokumen itu begitu hebat? Apa isinya sangat berbahaya bagi mereka?"

Ghibran menghela napas, jemarinya secara tidak sadar merapikan helai rambut Aira yang keluar dari jilbabnya. Sentuhan itu sangat lembut, hampir tidak terasa. "Dokumen itu membuktikan bahwa Azlan tidak meninggal karena serangan jantung biasa. Ada jejak racun yang identik dengan bahan kimia yang digunakan di pabrik pupuk milik Ayahmu. Jika dokumen itu sampai ke tangan polisi, kerajaan bisnis keluarga Al-Mubarok akan runtuh dalam semalam."

Aira memejamkan mata. Kenyataan bahwa keluarganya sendiri terlibat dalam kematian suaminya—atau saudara seayahnya, jika buku harian itu benar—terasa seperti racun yang merayapi jiwanya.

"Lalu kita mau ke mana sekarang?"

"Ke gudang tua di ujung pesantren. Azka sudah menunggu di sana dengan mobil," jawab Ghibran.

Mereka melanjutkan perjalanan di lorong bawah tanah yang panjangnya hampir seratus meter. Begitu keluar dari pintu rahasia di sebuah bangunan tua yang terbengkalai, udara malam yang segar menyambut mereka. Namun, ketenangan itu hanya sesaat.

Tiga pria berbadan besar dengan jaket hitam sudah berdiri di sana, menghalangi jalan mereka. Di tengah-tengah mereka berdiri Abrisam, dengan senyum miring yang memuakkan.

"Luar biasa, Ghibran. Kamu memang selalu punya jalan keluar cadangan," ujar Abrisam sambil memutar-mutar kunci mobil di jarinya. "Tapi sayangnya, malam ini pelarianmu berakhir di sini. Serahkan dokumen itu, dan aku akan membiarkan istrimu pergi."

Ghibran menarik Aira ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya. "Kamu meremehkanku, Abrisam. Kamu pikir aku akan membawa dokumen sepenting itu saat sedang bersama istriku?"

"Lalu di mana?" tanya Abrisam, suaranya mulai meninggi.

"Di tempat yang tidak akan pernah bisa kamu jangkau. Di tempat yang sudah aku atur agar otomatis terkirim ke dewan pembina pesantren jika terjadi sesuatu padaku malam ini," balas Ghibran dengan tenang, seolah ia sedang membicarakan cuaca.

Abrisam tertawa sinis. "Gebrakan yang bagus, Ghibran. Tapi mari kita lihat seberapa kuat nyalimu saat melihat istrimu terluka."

Atas isyarat dari Abrisam, dua anak buahnya merangsek maju. Ghibran bersiap dalam posisi bela diri. Meskipun ia seorang pengusaha, didikan keras Habib Fauzan di pesantren termasuk ilmu bela diri praktis.

Perkelahian tak terelakkan. Ghibran bergerak sangat efisien. Ia menepis pukulan pertama dan membalas dengan hantaman siku ke ulu hati lawan. Namun, lawan kedua membawa pisau lipat. Aira menjerit kecil saat melihat kilatan logam di bawah cahaya bulan.

Zret!

Lengan kemeja putih Ghibran robek, darah segar mulai merembes keluar.

"Kak Ghibran!" teriak Aira.

Ghibran tidak menghiraukan lukanya. Dengan gerakan cepat, ia memutar tangan lawan dan membantingnya ke tanah hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser. Abrisam yang melihat anak buahnya mulai terdesak, mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya. Sebuah senjata api.

"Cukup permainannya!" teriak Abrisam. Moncong pistol itu kini mengarah tepat ke arah Aira. "Serahkan dokumennya, atau aku tarik pelatuk ini sekarang juga!"

Ghibran mematung. Matanya berkilat marah. "Jangan berani-berani menyentuhnya, Abrisam."

"Pilihan ada di tanganmu, Sahabatku," ujar Abrisam dengan nada mengejek.

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba sebuah cahaya lampu mobil yang sangat terang menyorot dari kejauhan, diikuti suara sirine yang meraung-raung.

"Polisi?" gumam Abrisam panik.

"Bukan," bisik Ghibran dengan senyum tipis di sudut bibirnya. "Itu adalah pengawal pribadi dari keluarga Al-Husayn yang aku panggil sepuluh menit lalu lewat sinyal darurat di jam tanganku."

Melihat jumlah mobil yang datang cukup banyak, Abrisam terpaksa mundur. "Ini belum selesai, Ghibran! Kamu tidak akan bisa melindungi dia selamanya!" Abrisam dan anak buahnya segera masuk ke mobil mereka dan memacu kendaraan itu menghilang di kegelapan malam.

Ghibran langsung berbalik ke arah Aira begitu musuh menghilang. Wajahnya yang kaku kini menunjukkan kekhawatiran yang nyata.

"Kamu terluka?" tanya Ghibran, napasnya tersengal.

Aira menggeleng, air matanya jatuh melihat lengan Ghibran yang bersimbah darah. "Kakak... lengan Kakak berdarah banyak sekali."

"Hanya luka kecil," jawab Ghibran pelan. Ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan sedikit limbung. Aira dengan sigap menangkap tubuh Ghibran, membiarkan kepala suaminya itu bersandar di bahunya sejenak.

"Jangan bohong, Kak. Kita harus segera ke rumah sakit," ujar Aira tegas.

Ghibran menatap Aira dari jarak dekat. Di bawah cahaya lampu mobil pengawal yang mulai mendekat, ia melihat mata Aira yang sembab namun penuh kepedulian. Sesuatu di dalam hati Ghibran yang selama ini membeku, mulai terasa mencair.

"Terima kasih, Aira," bisik Ghibran sebelum ia memejamkan mata karena kelelahan dan kehilangan darah.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!