"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Happy reading<<<<<<<
"Sialan, Imlie.. Lo lihat aja kali ini Lo menang, tapi Gue bakal buat Aryan kembali lagi sama Gue." batin Viona.
"Milik Gue harus tetap jadi milik," lanjut Viona dalam hati.
"Apa sih Bos. Kagak jadi aja sama Bu Bos, kan biar Gue sama Sam punya kesempatan buat PDKT." ujar Ravel dan mendapat tatapan tajam dari Aryan.
"Jangan macam macam." ujar Aryan.
"Ck, padahal tadi Saya sudah bersemengat buat jadi calon pacarnya Nona manis." ujar Sam yang memang benar tapi Aryan hanya diam saja tidak peduli lagi dengan celotehan celotehan dari sahabatnya..
"Ck, Kenapa nggak Lo putusin aja. Lihat saja Gue bakal buat sampai Lo putusin Imlie. Dan saat itu Gue bakal masuk dan mengambil yang seharusnya jadi milik Gue." batin salah satu di antara sahabatnya Aryan.
Saat pulang setelah bercerita dengan teman temannya Imlie pun menuju parkiran tadi dia juga mengembalikan kunci motor milik Yoyo.
"Pulang bareng ya." ujar Aryan di samping Imlie sehingga membuat Imlie kaget.
"Astagfirullah.. Kagetin ymtau nggak." ujar Imlie dan Aryan hanya tersenyum tipis sambil menggenggam tangannya Imlie.
"Wow! Udah putusin aja ya. Kalau Gue sih pasti udah putusin salah sebesar tadi hanya selesai dalam beberapa jam. Imlie terlalu baik atau kelewatan goblok sih." bisik beberapa siswi.
"Ya kan Cowoknya setampan itu." balas sebagian lagi.
"Heh, Imlie cantik dia bisa cari yang lain.. Tapi, ingat, tiga kalimat sakral. 'Cinta itu buta' jadi mau Lo di sakitin bagaimana pun itu. Kalau rasa cinta dan Sayang masih ada Lo bakal cepat luluh no komen." ujar salah satu di antara mereka dan semuanya mengangguk.
Saat Aryan sedang memasangkan helm ke kepala Imlie. Tiba tiba Viona datang.
"Ar, terus Aku pulangnya sama siapa?" tanya Viona membuat Imlie memutar bola matanya.
"Nanti di antar sama Bobop. Dan mulai besok Kamu sudah harus pakai supir aja." ujar Aryan masih fokus memasang helmnya Imlie.
"Tapi......
"Viona." tekan Aryan.
"Baiklah, tapi sesekalih pulang bareng ya.. Ya.. Boleh ya Li?" tanya Viona dan kembali bertanya pada Imlie.
"Nggak." jawab Imlie dan kemudian naik ke motornya Aryan setelah itu memeluk dengan erat. Imlie pun puas melihat wajah Viona.
"Awas aja ya Lo Imlie. Oke, sekarang Lo bersenang senang dulu, Sebelum Gue berhasil buat Aryan kembali kaya dulu lagi." batin Viona dengan senyuman liciknya.
Di perjalanan Imlie nampak menikmatinya Aryan sendiri tersenyum tipis melihat wajah cerianya Imlie.
"Sayang! Mau nggak kita makan dulu?" tanya Aryan.
"Nggak deh Kak, Aku masih kenyang." jawab Imlie padahal dia pengen cepat cepat ke tempat kerjanya.
"Oke." Aryan pun melajukan motornya hingga sampai di rumahnya Imlie.
"Makasih ya Kak." ujar Imlie setelah Aryan melepaskan helmnya. Aryan hanya mengangguk menanggapi.
"Mama sama Papa dan yang lainnnnya udah pulang?" tanya Aryan.
"Belum, mungkin besok Kak." jawab Imlie.
"Baiklah, Gue pulang ya.. Ingat! Kau lapar langsung makan." peringat Aryan mengusap rambutnya Imlie.
"Makasih Kak." jawab Imlie.
Aryan pun putar balik dan meninggalkan rumahnya Imlie karena memang rumah mereka tidak satu arah.
"Gue harus cepat ganti baju nih." gumam Imlie masuk dengan cepat ke rumahnya kemudian mengganti bajunya sehingga dia sudah nampak rapi. Imlie pun mengambil tasnya dan menyampirnya di bahunya kemudian turun kembali.
"Non, kok buru sekalih? Mau kemana? Ayo makan dulu." ujar Bik Pipit dan Imlie baru teringat.
"Bik, boleh nggak Aku minta tolong buat bikin bekal Aku?"
"Asiap Non, kenapa harus minta tolong lagi.. Sebentar Bibi tata dulu makanan ke dalam kotak makan." ujar Bik Pipit kemudian setelah itu memberikannya kepadanya.
"Terimakasih Bik. Terus Bik Ajeng kemana Bik?"
"Sama sama Non. Kalau Bik Ajeng lagi di taman belakang." jawab Bik pipit.
"Yasudah, nanti titip salam ya sama Bik Ajeng. Terus Aku pamit dulu ya Bik mau kerja, hehehe.. Assalamualaikum." salam Imlie mencium punggung tangan Bik Pipit yang tidak semua majikan bisa melakukan itu.
"Waalakumsalam gadis baik." ujar Bik Pipit dan melihat Imlie keluar dari rumah dengan ceria.
Beberapa hari ini Imlie bebas tanpa ucapan perkataan kebencian dari keluarganya tapi mungkin besok tidak ada lagi setelah keluarganya kembali pulang.
"Semoga Non tetap kuat." batin Bik Pipit.
Imlie pun memilih untuk menaiki angkot.
"Mulai sekrang harus irit, biar uangnya tahan sampai berbulan bulan..tapi, besok? Yaaa pengeluaran pasti akan lebih banyak beli makan tiga kali sehari." batin Imlie.
Imlie pun sampai ke restoran tempatnya bekerja dia di sambut oleh Wace dengan semangat sedangkan Kiki menatap wajah sinis.
"Cih, anak paru waktu baru juga di gibahin eh udah nongol aja, ujar Kiki sinis.
"Heh, Lo itu ya memang kagak tau malu, udah gibahin orang.. Eh, malah bocorin lagi kagak malu ya.." sarkas Wace.
"Ya terserah Gue dong.. Mulut mulut Gue." ujar Kiki.
"Dih dasar Ratu Ghibah." celetuk Wace sinis.
"Lo berani berani ya sama Gue. Lo junior jangan sok sokan di sini." ancam Kiki unyuk saja mereka berada di sudut sepi.
"Iih, iya deh Suhuuuu." jawab Wace kemudian pergi bersama Imlie yang sudah mengambil pakaian kerjanya.
"Ck, rasanya pengen Gue geprek tuh mulut Wace." batin Kiki kesal.
Sedangkan pun mulai bekerja dia dengan tenang membawa pesanan dari meja ke meja. Sesampai di sebuah meja di mana itu milik seorang Pria berjas Imlie terdiam dia kenal dengan Pria itu. Yaitu Asisten Papanya.
"Eh, Nona?" ......
Imlie yang berniat berbalik jadi tidak bisa karena sudah di lihat.
"Eh, Nona? Nona anaknya Pak Mahen kan?" tanya sekertaris Papanya Imlie. Dengan cepat Imlie menggeleng.
"Mampu sampai dia tau pasti Gue rahain Papa. Gue harus meyakini Sekertarisnya Papa ini." batin Imlie.
"Sa- ya bukan Putrinya Tuan Mahen. Anda salah sangka Pak, Saya hanyalah anak dari penbantu yang bekerja di rumah Tuan Mahen Pak." ujar Imlie.
"Tapi wajahnya.. Ah, mungkin Saya salah." batin sekertaris itu.
"Ooh iya Saya lupa, Tuan Mahen satu Putra dan satu Putri ya. Maaf ya." ujar Sekertaris Papanya Imlie itu. Imlie sudah terbiasa jadi dia hanya bisa tersenyum pedih.
"Iya Pak.. Kalau gitu Saya permisi dulu, semoga hidangan Kami cocok ya dengan lidah Bapak." ujar Imlie.
"Udah cocok loh Ini, lagian Saya langganan di sini udah dari dulu loh." jawab Sekertaris itu.
"Eh berarti Saya salah dong.. maaf ya Pak soalnya Saya masih baru." ujar Imlie dan menunduk.
"Tak apa." jawab Pria itu kemudian Imlie pamit dan pergi dari situ.
Setelah selesai bekerja akhirnya Imlie pulang hari ini dia sangat lelah karena tadi pembelinya sangat banyak jadi Imlie harus extra kerja juga membantu yang lain.
"Aaaa, badan Gue pegel banget. Sampe rumah harus di pijit nih sama Emak Gue." ujar Wace yang juga merasa pegal karena saat ini mereka berdua sedang menunggu angkot.
"Pijit? Memangnya Emak Lo bisa ngerok ya?" tanya Imlie.
"Bisa dong, jago malah." ujar Wace.
"Beruntung banget ya Lo." lirih Imlie tatapannya berubah senduh kemudian dia menunduk.
"Lo kenapa?" tanya Wace yang paham situasi.
"Eh, kenapa? Nggak kok Gue k Papa. Gue cuman kaget aja Lo bisa mijit pasti enak banget." ujar Imlie dan Wace tau Imlie sedang tidak baik baik saja.
"Lo kenapa?" tanya Wace menatap lama wajah Imlie.
"Nggak Papa Kok." bantah Imlie lagi.
"Lo mau juga di pijit Emak Gue? Kalau iya Gue mau kok. Nanti Gue ajakin deh, Lo harus tau pijitan Emak Gue itu sangat enak bikin badan langsung seger lagi no pegel pegel. Apalagi di tambah sentuhan tangannya yang lembut oenuh kasih sayang itu. Aissssh rasabya Gue ingin terus berada di dekatnya." ujar Wace yang tak tau masalanya Imlie.
"Iya kasih Sayang seorang Ibu memang sangat hangat Lo beruntung banget." ujar Imlie.
"Lo juga beruntung emangnya Lo kagak punya Emak. Pasti ada kan tapi bedanya Emak pasti kagak bisa pijit aja. Heheheh." ujar Wace bercanda.
"Iya Gue punya Ibu, tapi kaya nggak punya." batin Imlie.