NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Dalam Keheningan Malam

Jarum jam di dinding apartemen merayap perlahan menuju pukul dua dini hari. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh suara desis pendingin ruangan dan deru napas Liana yang masih terdengar berat. Morgan Bruggman, sang "Dewa Ekonomi" yang biasanya menguasai podium auditorium dengan teori-teori makro yang presisi, kini berdiri di tengah dapur mewahnya dengan raut wajah yang jauh lebih tegang daripada saat ia menghadapi krisis moneter simulasi.

Morgan telah melepaskan kacamata bacanya, meletakkannya sembarangan di atas konter, dan melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku dengan gerakan yang terburu-buru. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan karena ia terus-menerus menyisirnya dengan jari setiap kali rasa cemas melanda. Ia menatap layar ponsel yang tersandar di tumpukan kotak sereal, menampilkan laman web bertajuk "Cara Membuat Bubur Lembut untuk Pasien Demam".

"Satu cangkir beras, lima cangkir air ..." gumam Morgan parau. Ia memegang panci antikarat itu seolah-olah benda itu adalah instrumen laboratorium yang sangat sensitif.

Tangan yang biasanya stabil saat menulis rumus-rumus rumit di papan tulis itu kini tampak kikuk saat memegang sendok kayu. Ia menuangkan air dengan ketelitian yang berlebihan, menimbang setiap butir beras seolah-olah kesalahan satu miligram saja akan merusak seluruh efektivitas "obat" buatannya. Saat api kompor menyala, Morgan berdiri mematung di depan panci, terus mengaduk perlahan agar bagian bawahnya tidak hangus. Ia bolak-balik ke wastafel, mengganti air dingin di dalam baskom kecil untuk kompres Liana, lalu kembali lagi ke kompor dengan langkah yang ritmis namun gelisah.

Setelah bubur itu matang dan aromanya mulai tercium—meskipun ia tidak yakin rasanya akan seenak buatan koki profesional—Morgan mematikan api. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu membawa baskom air segar dan handuk bersih kembali ke kamar Liana.

Liana masih berada di tempat yang sama, meringkuk di bawah selimut tebal yang kini tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang rapuh. Wajahnya masih merona merah, dan bibirnya sedikit terbuka, memburu oksigen.

Morgan menarik kursi kayu berpunggung tegak ke samping ranjang, menempatkan dirinya sebagai penjaga yang tidak akan beranjak. Ia mencelupkan handuk ke air es, memerasnya hingga kering, lalu mengganti kompres di dahi Liana dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Panasnya belum turun," bisik Morgan pada kesunyian kamar.

Tiba-tiba, tubuh Liana tersentak. Kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan. "Tidak ... Derby, jangan ... tolong ...." igauan itu lolos dari bibir Liana yang kering, disusul oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Hati Morgan terasa seperti diremas. Ia segera mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke telinga Liana agar suaranya bisa menembus kabut delirium yang menyiksa gadis itu.

"Sshhh ... Liana, dengarkan aku. Tidak ada siapa-siapa di sini selain aku," bisik Morgan dengan nada yang sangat lembut, sebuah frekuensi suara yang tidak pernah didengar oleh mahasiswanya di kampus. Ia meraih tangan Liana yang mungil dan berkeringat, menggenggamnya dengan kedua tangannya sendiri yang besar dan hangat, seolah-olah ia sedang mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam tubuh Liana yang melemah. "Kau aman. Kau berada di rumah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke sini."

Liana perlahan-lahan mulai tenang. Sentuhan tangan Morgan sepertinya menjadi jangkar bagi kesadarannya yang sedang terapung-apung di tengah badai ingatan buruk.

Tepat pukul tiga pagi, kelopak mata Liana bergetar. Ia terbangun, namun tidak sepenuhnya sadar. Matanya yang sayu dan berkaca-kaca menatap kosong ke arah langit-langit sebelum akhirnya jatuh pada siluet pria yang duduk di sampingnya. Dalam kondisi delirium itu, Liana tidak melihat Morgan sebagai dosen yang kaku atau suami kontrak yang menyebalkan. Ia hanya melihat seorang pelindung. Sebuah pelabuhan.

Liana menarik tangannya dari genggaman Morgan, namun bukan untuk menjauh. Dengan gerakan yang lambat dan gemetar, ia meraih pinggang Morgan yang sedang membungkuk di dekatnya.

Morgan membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia merasakan lengan Liana melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh Morgan agar lebih dekat ke arah ranjang. Liana menyembunyikan wajahnya di perut Morgan, membenamkan hidungnya di kain kemeja pria itu yang kini beraroma sabun dan sedikit uap bubur.

"Jangan pergi ... kumohon, jangan pergi ..." isak Liana pecah, suaranya sangat kecil dan penuh keputusasaan. "Aku takut ... aku sangat takut, Morgan."

Jantung Morgan berdegup sangat kencang, hingga ia khawatir Liana bisa mendengarnya melalui kontak fisik mereka. Seluruh logika dan pertahanan dirinya sebagai pria yang rasional runtuh seketika. Selama hidupnya, Morgan selalu menjaga jarak, selalu membangun dinding untuk melindungi dirinya sendiri dari emosi yang tidak terduga. Namun melihat Liana yang hancur seperti ini—bergantung padanya seolah ia adalah satu-satunya oksigen yang tersisa—membuat dinding itu rata dengan tanah.

Morgan ragu-ragu sejenak. Tangannya menggantung di udara, antara ingin memeluk atau menarik diri untuk menjaga kesopanan. Namun, saat Liana semakin mengeratkan pelukannya dan tubuhnya kembali terguncang oleh tangisan, Morgan menyerah.

Ia perlahan menurunkan tangannya, mendaratkannya di atas kepala Liana. Morgan memberanikan diri mengelus rambut panjang Liana yang berantakan dengan gerakan yang sangat pelan dan protektif. Ibu jarinya mengusap lembut di balik telinga Liana, mencoba memberikan ketenangan yang paling murni.

"Aku tidak akan pergi, Liana," ucap Morgan, suaranya kini terdengar lebih dalam dan penuh janji. "Aku akan tetap di sini. Tidurlah."

Liana sepertinya menemukan kedamaian yang ia cari. Perlahan, pelukannya mengendur saat kantuk akibat demam kembali menyerangnya. Ia tertidur kembali dengan kepala yang masih bersandar dekat dengan tubuh Morgan.

Morgan tidak bergerak dari posisinya untuk waktu yang lama. Ia membiarkan Liana merasa aman, meski punggungnya mulai terasa kaku karena posisi duduk yang tidak nyaman. Setelah yakin Liana benar-benar terlelap, Morgan kembali memposisikan Liana dengan baik di atas bantal.

Sisa malam itu dihabiskan Morgan tanpa memejamkan mata sekejap pun. Setiap lima belas menit, ia mengganti air kompres. Setiap kali Liana bergerak, ia langsung siaga. Ia duduk di kursi itu, menatap wajah istrinya yang sedang berjuang melawan trauma, sambil terus memegang ujung jemari Liana agar gadis itu tahu bahwa ia tidak sendirian.

Dalam keheningan malam yang sunyi, Morgan menyadari satu hal yang menakutkan bagi pria sepertinya: tanggung jawab ini bukan lagi sekadar kontrak. Ia tidak lagi merawat Liana karena janji pada Liam Shine. Ia merawat Liana karena ia tidak bisa membayangkan dunia di mana mata indah itu kehilangan cahayanya.

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membiarkan cahaya biru pucat menyusup masuk melalui celah gorden. Morgan masih di sana, dengan mata yang merah karena kelelahan namun tetap waspada, menjadi penjaga setia bagi jiwa yang sedang berusaha bangkit dari kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!