"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
..
...
Cahaya matahari pagi yang menembus gorden sutra di kamar mansion Jionel terasa seperti sembilu yang menyayat kulit. Kalea terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat, namun bukan rasa sakit itu yang membuatnya tersentak bangun. Melainkan deretan notifikasi di ponselnya yang meledak seperti bom waktu.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Layar itu menampilkan headline berita dari portal gosip paling tajam di ibu kota:
"SKANDAL JIONEL: CALON ISTRI SANG CEO ADALAH ANAK HARAM KELUARGA ADIWINATA?"
Di bawah judul itu, terpampang foto pernikahan lama yang usang dan sedikit buram. Di sana, seorang pria tampan dengan setelan mewah bersanding dengan wanita cantik berwajah sendu yang sangat mirip dengan Kalea. Pria itu adalah Adipati Adiwinata, salah satu pilar bisnis di negeri ini, dan wanita itu adalah Elena—ibu Kalea.
Artikel itu menguliti luka lama yang selama ini Kalea kunci rapat di dasar jiwanya. Tentang pernikahan singkat selama satu tahun yang tidak pernah diakui oleh keluarga Adiwinata. Tentang bagaimana nenek Kalea—sang matriark keluarga Adiwinata—memaksa Adipati menceraikan Elena saat Kalea masih dalam kandungan, hanya karena Elena hanyalah seorang gadis dari kalangan biasa.
Hati Kalea mencelos saat membaca bagian akhir berita itu: "Setelah membuang Elena, Adipati menikah lagi dengan wanita pilihan ibunya dan kini memiliki dua anak perempuan yang menjadi sosialita papan atas Jakarta."
"Tidak... jangan ibuku," bisik Kalea, air matanya jatuh tanpa permisi. Ia tidak peduli jika dirinya dihina, tapi melihat kisah tragis ibunya dijadikan konsumsi publik demi menjatuhkannya adalah siksaan yang tak tertahankan.
Brak!
Pintu kamar terbuka. Liam Jionel masuk dengan langkah yang membawa aura dingin yang sanggup membekukan ruangan. Di tangannya, ia memegang tablet yang menampilkan skandal yang sama.
"Kau sudah lihat?" suara Liam rendah, namun ada nada berbahaya di sana.
Kalea bangkit dari tempat tidur, menatap Liam dengan mata yang merah karena amarah dan duka. "Clarissa... dia yang melakukan ini, kan? Dia membongkar rahasia keluarga Adiwinata hanya untuk mempermalukanku!"
"Dia tidak hanya mempermalukanmu, Kalea. Dia baru saja menabuh genderang perang dengan keluarga Adiwinata," Liam melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Kalea yang tampak begitu rapuh. "Sekarang semua orang tahu bahwa kau adalah 'darah yang terbuang' dari keluarga paling angkuh di Jakarta. Dan ayahmu... dia sedang dalam perjalanan ke kantor Jionel Group untuk menuntut penjelasan."
Kalea tertawa getir, sebuah tawa yang pecah di tengah isak tangisnya. "Penjelasan? Untuk apa? Dia bahkan tidak pernah mencariku selama dua puluh tahun ini! Dia membiarkan ibuku mati dalam kemiskinan sementara dia hidup mewah dengan dua putri kesayangannya!"
Liam mencengkeram bahu Kalea, memaksa gadis itu untuk tetap tegak. "Dengarkan aku. Clarissa ingin kau terlihat seperti gadis yang mencoba masuk ke lingkaran elit untuk membalas dendam pada ayahmu. Dia ingin publik melihatmu sebagai ancaman bagi ketenangan keluarga Adiwinata."
"Lalu apa yang kau inginkan, Liam? Kau ingin aku bersembunyi?"
"Tidak," Liam menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang mematikan. "Aku ingin kau berdiri di sampingku. Kita akan menemui Adipati Adiwinata siang ini. Kau akan menunjukkan padanya bahwa 'darah yang dia buang' kini berdiri di puncak dunia bersamaku. Kita akan membuat Clarissa menyesal karena telah membongkar kotak pandora ini."
...----------------...
Satu jam kemudian, di ruang VVIP kantor Jionel Group yang kedap suara, suasana terasa begitu dingin hingga napas pun seolah membeku. Di balik meja marmer, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah. Adipati Adiwinata. Wajahnya tegas, namun ada garis keletihan yang dalam di matanya.
Di sampingnya, berdiri dua gadis cantik yang menatap Kalea dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa ingin tahu dan rasa jijik yang amat nyata. Mereka adalah Sharena dan Felicia, adik tiri Kalea.
Liam masuk terlebih dahulu, menggandeng tangan Kalea dengan begitu posesif. Ia menarik kursi untuk Kalea, menempatkan gadis itu tepat berhadapan dengan pria yang seharusnya ia panggil "Ayah".
"Jadi..." Adipati memulai, suaranya berat dan berwibawa. Matanya menatap wajah Kalea lekat-lekat. "Anak Elena benar-benar masih hidup. Dan sekarang kau berada di pelukan seorang Jionel."
Kalea mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. "Nama saya Kalea, Tuan Adipati. Dan jangan sebut nama ibu saya dengan mulut yang telah mengkhianatinya."
"Jaga bicaramu, Gadis Kecil!" sela Sharena, adik tiri yang lebih tua, sambil melipat tangan di dada. "Kau pikir karena kau memakai baju mahal pemberian Liam, kau bisa menyamakan derajatmu dengan kami? Ibu kami adalah istri sah, sedangkan ibumu... hanyalah kesalahan satu tahun yang seharusnya sudah dihapus dari sejarah keluarga kami."
"Kesalahan?" Kalea tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia menatap Adipati dengan mata yang menyala. "Kesalahan karena dia mencintai pria pengecut seperti Anda? Pria yang membiarkan ibunya sendiri mengusir istrinya yang sedang hamil tua hanya karena dia tidak punya nama keluarga yang mentereng?"
Adipati terdiam, rahangnya mengeras. "Ibu saya—Nenekmu—memiliki standar tinggi untuk pewaris Adiwinata, Kalea. Pernikahan itu... adalah pemberontakan masa mudaku yang gagal. Aku sudah memberi ibumu uang pesangon yang cukup saat itu."
"UANG PESANGON?!" Kalea berdiri dengan sentakan yang membuat kursi kayunya berderit nyaring. "Kau menyebut nafkah untuk nyawa istrimu dan anakmu sebagai pesangon? Uang itu habis dalam sebulan untuk biaya persalinan dan pengobatan Ibu yang depresi! Selama dua puluh tahun, aku tumbuh melihat Ibu menangis setiap kali melihat namamu di koran! Dan kau duduk di sini bicara soal standar keluarga?!"
Liam mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Kalea untuk menenangkannya, namun tatapan matanya pada Adipati sangat mematikan. "Tuan Adipati, saya mengundang Anda ke sini bukan untuk bernostalgia tentang betapa buruknya Anda sebagai suami. Saya ingin Anda mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Kalea adalah putri sah Anda. Clarissa sudah mengacaukan berita ini, dan saya ingin Anda memperbaikinya."
Adipati memalingkan wajah. "Aku tidak bisa, Liam. Jika aku mengakuinya, saham Adiwinata akan anjlok karena skandal 'masa lalu' ini. Ibuku juga sedang sakit jantung, dia tidak boleh mendengar berita bahwa 'darah kotor' itu kembali menagih haknya."
Felicia, adik tiri yang paling muda, maju selangkah dan melemparkan selembar cek kosong ke atas meja di depan Kalea. "Sebutkan angkanya. Berapa yang kau butuhkan agar kau pergi dari hidup ayah kami? Jangan berpura-pura butuh pengakuan. Ujung-ujungnya kau hanya ingin bagian dari warisan Adiwinata, kan?"
Kalea menatap cek itu, lalu menatap Felicia dengan senyum paling meremehkan yang pernah ada. Ia mengambil cek itu, perlahan merobeknya menjadi serpihan kecil, dan melemparkannya tepat ke wajah Adipati.
"Simpan uangmu untuk membeli nisan yang lebih mewah bagi nuranimu yang sudah mati, Tuan Adipati," ucap Kalea dengan suara yang sangat tenang namun bertenaga. "Aku tidak butuh namamu. Aku tidak butuh hartamu. Aku sudah memiliki Liam Jionel, pria yang lebih berkuasa dari seluruh silsilah keluargamu yang membusuk itu."
Kalea berbalik menatap kedua adik tirinya. "Dan kalian... nikmatilah kemewahan kalian selagi bisa. Karena suatu saat nanti, kalian akan menyadari bahwa menjadi 'anak sah' di keluarga yang tidak punya hati itu jauh lebih rendah daripada menjadi 'anak haram' yang punya harga diri."
Kalea melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Liam berdiri, menatap Adipati untuk terakhir kalinya.
"Kau baru saja menyia-nyiakan kesempatan terakhirmu untuk dimaafkan, Adipati," ucap Liam dingin. "Mulai besok, bersiaplah. Karena Jionel Group akan menarik seluruh investasi dari perusahaanmu. Jika kau menganggap Kalea adalah noda, maka aku akan membuat seluruh keluargamu menjadi sejarah yang terlupakan."
Di dalam lift, Kalea akhirnya luruh di pelukan Liam. Ia menangis tanpa suara, melepaskan seluruh beban yang selama ini ia pikul sendiri. Liam memeluknya erat, mencium puncak kepala Kalea dengan posesif.
"Kau melakukannya dengan sangat hebat, Kalea," bisik Liam. "Sekarang, biarkan aku yang menghancurkan mereka satu per satu untukmu."
Di sisi lain, Clarissa meremas ponselnya dengan wajah yang pucat pasi. Rencananya kembali gagal. Ia tidak hanya gagal menghancurkan Kalea, tapi ia baru saja membangkitkan singa yang sedang marah di dalam diri Liam Jionel.
"Siapkan rencana selanjutnya," desis Clarissa pada asistennya. "Jika aku tidak bisa menyerang darahnya, aku akan menyerang jantungnya. Cari tahu di mana pemakaman ibunya. Aku ingin dia merasa hancur di tempat paling suci baginya."